
Alfa duduk di meja kerjanya dengan menghela napas berat dan bergumam, "Maafkan aku, Jen. Menjadi dokter dengan bakat spesial di diriku membuatku menjadi pria egois. Aku lebih memikirkan keselamatan orang lain daripada memikirkan kebahagiaan kamu, kebahagiaan kita. Kenapa hubungan kita jadi dingin sedingin es kayak gini? Apa aku masih memiliki kesempatan untuk bisa menghangatkan kembali hubungan kita, Jen? Aku merindukan tawa kita, guyonan kita, dan keceriaan masa muda kita dulu. Di mana Jenar yang ceria dan di mana Alfa yang konyol? Semuanya lenyap ditelan waktu dan kesibukan kita, Jen. Maafkan aku!"
Antares tersenyum lebar saat ia melihat ada sebuah mobil sedan berwarna putih parkir di jalan depan apartemen. Antares mengelus dadanya dan berkata, "Itu pasti kamu, Jen. Aku bisa merasakannya.
Sejak peristiwa ditangkapnya Rigel Altair yang akhirnya dihukum tembak mati di tempat, Jenar sudah tidak pernah lagi diganggu oleh wong samar. Namun, di malam itu, Jenar dikejutkan dengan penampakan pria pucat pasi dengan kaos putih penuh bercak lumpur kering, saat ia selesai menutup pintu mobil dan berbalik badan. Jenar sontak kaget saat kedua bola matanya bertubrukan dengan kedua bola mata wong samar itu
Jenar mengelus dadanya dan bergumam, "Ternyata jantungku berdetak barusan, karena wong samar ini. Aku kira ada Akamu, eh, Antares di sekitar sini"
Antares memperhatikan gerak-geriknya Jenar dari kejauhan dengan mengerutkan keningnya dan bergumam, "Siapa yang dilihat Jenar kali ini? Kenapa Jenar bersandar di pintu mobil dan mematung di sana?"
Leon memperhatikan Antares, lalu ia mengikuti arah pandangnya Antares dan pria tampan itu sontak mengernyit dan bergumam, "Oooooo, gadis itu yang ditungguin Ares sejak tadi?"
Leon lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil untuk bisa mengamati gadis yang disukai oleh Ares dengan lebih jelas, Leon bersandar di pintu mobil dan bersedekap, lalu bergumam lirih "Gadis yang sama sekali tidak modis. Pakaian macam itu? Blazer cokelat, rok pias panjang dengan warna senada dan tas punggung? What?! Yang benar saja, Ares suka dengan gadis macam itu? Rambutnya hitam lurus biasa dan tidak berbentuk. Kenapa rambutnya nggak dicurly atau di potong pendek model Bob, atau dishaggy? Tzk! sama sekali nggak modis. Kenapa Ares bisa menyukai gadis model begitu?"
Lima tahun tidak pernah melihat wong samar, membuat Jenar sontak merasa gelisah, ketakutan, keluar keringat dingin dan ia mengalami sakit kepala yang cukup hebat. Jenar mengangkat tangannya dengan gemetar untuk memijit keningnya dan sambil mendesis pelan, ia menggeser langkahnya ke kanan. Terus menggeser langkahnya ke kanan saat sosok pria berwajah pucat pasi dengan kaos putih penuh dengan bercak lumpur kering ikutan menggeser langkahnya mengikut Jenar.
Antares sontak melangkah maju karena ia ingin menolong Jenar, namun di langkah ketiganya, ia berhenti dan mematung di tempatnya berdiri. Antares terus memperhatikan Jenar dan dengan kedua tangan mengepal ia bergumam, "Maafkan aku! Aku belum memiliki cukup keberanian untuk mendekatimu, Jen"
__ADS_1
Leon menautkan alisnya dan bergumam, "Hei! Dia bukan hanya gadis yang nggak modis, tapi juga gadis yang aneh. Kenapa dia menggeser terus langkahnya seperti itu?" Lalu, Leon menoleh untuk memperhatikan Antares, "Ares kenapa tampak tegang seperti itu? Ada apa sebenarnya?"
Jenar lalu berputar badan untuk berlari menuju ke tengah taman dan Antares sontak berbalik badan memunggungi Jenar dan menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya.
Jenar mengehentikan laju larinya di saat ia menoleh ke belakang da sosok pria pacar pasi dengan kaos putih penuh bercak lumpur kering sudah menghilang. Jenar segera membungkuk, memegang kedua lututnya dengan napas terengah-engah di tengah taman.
Antares tidak berani menoleh ke belakang saat ia mendengar suara napas menderunya Jenar. Dia bisa merasakan Jenar berada beberapa langkah saja di belakangnya. Alih-alih berputar badan untuk menyapa Jenar, Antares memilih berlari menjauh dan menuju ke mobilnya.
Sementara Leon memilih berlari maju dan melewati Antares saat ia melihat Jenar berlari dengan wajah panik dan ketakutan.
Antares menghentikan laju larinya saat Leon berlari melewatinya. Antares berbalik badan dan melihat Leon menepuk pelan pundaknya Jenar.
Jenar mundur satu langkah ke belakang sambil berkata, "Maaf. Kepalaku mengenai hidung kamu, ya? Maafkan, aku!" Jenar segera mengucapkan kata maaf saat gadis manis itu melihat seorang pria tinggi dan tampan mengusap hidung mancungnya.
Laki-laki berbadan tegap, tinggi dan tampan itu kemudian tersenyum dan berkata, "Nggak papa, kok. Hidungnya sangat mancung, jadi salahkan saja hidungku, hehehehehe"
Jenar terkejut geli dan itu membuat Antares terbakar cemburu. Dia tidak menyukai saat Jenar tertawa begitu manis di depannya Leon.
__ADS_1
Leon tertegun di depannya Jenar dan sontak bergumam lirih, "Pantas kalau Ares suka sama dia. Dia ternyata manis banget"
Jenar menautkan alisnya dan bertanya, "Iya? Apa yang kau katakan?"
Leon tersenyum lebar dan berkata, "Kenapa kamu berlari ketakutan barusan? Ada preman yang mengejarmu? Tapi........" Leon mengedarkan pandangannya sejenak ke seluruh taman secara acak, lalu kembali menatap Jenar untuk melanjutkan ucapannya, "Tapi, aku tidak melihat siapapun di taman ini"
Alih-alih menjawab pertanyannya laki-laki tampan yang berdiri tegap di depannya, Jenar justru menunjukkan jari telunjuknya ke samping kanannya Leon dan dengan wajah pucat Jenar berteriak, "Apa yang kau inginkan?!
Antares sontak berlari maju saat ia melihat Jenar menunjukkan jari dan berteriak kencang dengan wajah pucat pasi.
Leon sontak menoleh ke samping kanannya dengan heran lalu dengan cepat ia menoleh ke Jenar untuk bertanya dengan manautkan alisnya, "Hei, Nona! Apa yang kau lihat? Tidak ada siapa-siapa di sini selain aku dan kamu. A.......apa kamu....gi.....gila?" Leon bergidik ngeri dan menatap Jenar dengan tatapan aneh.
Antares tiba-tiba berdiri di samping kirinya Leon dan berkata, "Jaga ucapan kamu! Dia tidak gila. Dia spesial"
Jenar menurunkan jari telunjuknya dan menoleh ke kirinya laki-laki berwajah tampan. Jenar tertegun saat ia melihat laki-laki tinggi tegap yang telah melepas topinya. Jenar melihat wajah yang sangat tampan yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan. Seketika itu pula ia menyentuh dadanya saat dadanya mulai berdegup abnormal.
Leon menoleh ke Jenar dan dia semakin menautkan alisnya saat Jenar berkata, "Jadi, detak jantung yang aku rasakan sedari tadi adalah benar, karena Akamu"
__ADS_1
Leon lalu menoleh ke Antares untuk bertanya, "Siapa Akamu?"
Alih-alih menjawab rasa penasarannya Leon, Antares menatap lekat wajah manisnya Jenar dan berkata dengan senyum canggung, "Hai, apa kabar?"