
Rigel Altair tertawa terbahak-bahak di dalam ruang kerjanya saat ia telah berhasil menemukan boneka keduanya yang bersedia menjadi dirinya untuk menjalani hukuman yang semestinya untuk dirinya.
Seorang Office Boy yang bekerja di rumah sakit tempat Rigel Altair berdinas, memiliki seorang Ibu yang harus menjalani bedah digestik (saluran cerna) di mana ditemukan ada kanker stadium empat di sana. Office Boy itu tidak mampu membayar semua biaya pengobatan ibunya dan menemui Rigel Altair.
Rigel Altair yang mempelajari hipnotis langsung berkata, "Aku akan bebaskan semua biaya pengobatan ibu kamu, asal kamu bersedia aku hipnotis"
Office Boy yang sudah buntu pikirannya dan berpikir bahwa itu hanya sebuah hipnotis dan tanpa bertanya untuk apa hipnotis tersebut, ia langsung menganggukkan kepqnaya.
Begitu selesai dihipnotis, Rigel langsung menanamkan sugesti agar Office Boy tersebut ke kepolisian untuk mengaku sebagai the white mask dan Rigel menyerahkan ice box mini yang berisi koleksi pribadinya. Rigel Altair menyerahkan koleksi pribadinya itu, karena ia sudah memiliki selera baru. Rigel menyukai berburu wanita malam sejak ia membunuh istrinya sendiri.
Setelah Office Boy tersebut pergi keluar meninggalkan ruang kerjanya Rigel Altair, Rigel langsung bersandar ke sofa dan tertawa lepas, lalu bergumam, "Kalian para polisi, tidak akan pernah bisa menangkap. Selamanya tidak akan pernah bisa, hahahahahaha!"
Jenar menghela napas panjang, lalu ia menyetel radio untuk membunuh rasa sepi di tengah rintik hujan, untuk mengusir ketakutannya yang tidak jelas, dan untuk menghilangkan suara tangis wanita yang tidak kunjung hilang meskipun ia tiada putus-putusnya berdoa.
Gadis berparas manis itu, memencet asal tombol on dan gelombang radio berhenti di siaran berita, suara pengantar berita mengumandangkan berita ter-up to date, "Berita pertama, akhirnya pembunuh berantai yang memiliki julukan the white mask telah ditangkap. Pembunuh berantai yang sudah memakan korban puluhan orang tersebut akhirnya menyerahkan diri dengan membawa satu ice box mini yang berisi koleksi pribadinya berupa potongan tubuh para korbannya dan itu adalah bukti kejahatannya. The White Mask yang telah lama menjadi buronan polisi akhirnya ditangkap. Semoga ridak akan ada lagi The White Mask yang baru" Jenar langsung memukul kemudi mobilnya dengan menggeram penuh amarah, "Dia bukan Rigel Altair pastinya! Dasar pembunuh gila! Aku yang akan menjebloskanmu ke penjara nanti. Lihat saja!"
Suara pembaca berita kembali berkumandang, " Berita kedua, dikabarkan bahwa putra dari seorang menteri yang berinisial LS meninggal bunuh diri dengan cara melompat dari atas rooftop kantornya.........."Jenar langsung memencet tombol next dan gelombang radio langsung mengacak untuk mencari sinyal berikutnya, karena ia merinding mendengar berita tersebut. Gadis manis itu teringat kembali akan inisial LS yang adalah inisial dari nama laki-laki yang pernah diceritakan oleh Evita. Laki-laki yang membunuh mahasiswi yang pernah menempati kamar tiga belas di kost-an yang pernah ia tempati beberapa hari yang lalu.
Jenar sedikit bernapas lega di saat gelombang radio yang terus berputar maju, akhirnya berhenti di siaran musik tempo dulu.
Musik tempo dulu yang mengalun merdu dari radio yang tertanam di dashboard mobilnya dan kata tempo dulu mengingatkan Jenar di masa kecilnya. Jenar sering mendengar orang dewasa berkata kepadanya, jangan khawatir, jangan takut, jangan percaya adanya monster dan jangan percaya adanya hantu. Jenar kembali memukul kemudi mobilnya, kali ini dengan pelan. Dan dengan tegas ia mengatakan kalau mereka semua berkata bohong, karena Jenar telah benar-benar mengalami semuanya itu. Jenar masih saja selalu merasa khawatir, merasa takut saat dia masih mengetahui monster yang ada di diri Rigel Altair masih bebas berkeliaran di luar sana, dan Jenar masih bisa melihat hantu dalam berbagai macam bentuk dan rupa. Orang dewasa yang bisa memahami Jenar Ayu, hanyalah Eyang kakungnya.
Tiba-tiba, di tengah rintik hujan yang semakin deras, radio yang ada di mobilnya Jenar mengeluarkan bunyi mirip hujan deras saat radio itu mengacak gelombang radio dengan sendirinya. Jenar memukul radionya dan bergumam, "Ada apa dengan radionya? Jangan rusak di saat seperti ini, dong, please! Aku butuh kamu untuk menemaniku sampai ke apartemen" Jenar terus memukul radio yang tertanam di dalam dashboard mobilnya dengan wajah panik.
Jenar sontak mengangkat kedua alisnya ke atas saat ia mendengar suara tangis wanita Keluar dari radio yang layarnya masih terlihat mengacak gelombang radio dengan sangat kencang.
__ADS_1
Jenar langsung meminggirkan mobilnya di saat jantungnya mulai berdetak abnormal dan tengkuknya terasa dingin. Jenar mematikan mesin mobilnya dan saat ia hendak melepas sabuk pengamannya, radio yang tertanam di dalam dashboard mobilnya mendadak mati.
Jenar memencet tombol on beberapa kali dan tetap saja radio itu tidak menyala lagi. Jenar menghela napas panjang dan sambil menyugar kasar rambut indah panjang sebahunya dengan bergumam, "Sial! Kenapa beberapa hari ini mobil ini nggak beres. Ada apa sebenarnya dengan mobil ini?"
Di saat Jenar ingin mengecek arah belakang mobilnya lewat rear-mirror visionnya, ia sontak mengangkat kedua alisnya ke atas dan menoleh ke belakang. "Di mana sosok wanita berbaju putih yang ada di pantulan bayangan di rear-mirror vision, tadi?"
Jenar kembali menatap rear-mirror visionnya dan kembali melihat sosok wanita berbaju putih dengan wajah pucat dan ada bercak dara kering di depan hidung dan sudut kanan bibirnya. Jenar sontak menoleh lagi ke belakang dan dia bersitatap dengan kedua bola mata hitam kelam. Jenar sontak memundurkan wajahnya dan pemilik bola mata hitam kelam itu tiba-tiba menangis dengan suara yang sangat memilukan dan membuat bulu kuduknya Jenar berdiri semua.
Detak jantung Jenar kembali abnormal dan refleks, Jenar meraih handle pintu dan dengan mundur dia keluar dari dalam mobilnya dan ia langsung terjatuh di atas aspal di tengah hujan deras.
Antares mendatangi Alfa dengan wajah panik, "Di mana Jenar?"
"Lho, kok nanya aku? Aku, kan, bukan anak Hukum" Sahut Alfa dengan santainya
"Aku bisa merasakan kalau Jenar saat ini dalam bahaya. Aku bisa merasakan detak ketakutannya Jenar saat ini" Ucap Antares dengan wajah panik.
"Jangan banyak tanya! Cepat telpon Jenar! Cari tahu ia di mana sekarang?" Antares mencekal kedua bahunya Alfa dan langsung mengguncang kedua bahunya Alfa dengan wajah panik
Alfa langsung menepis kedua tangannya Antares dari bahunya dan langsung mencoba menelepon Jenar. Alfa menatap Antares setelah ia mencoba beberapa kali menghubungi nomer ponselnya Jenar Ayu, dan berkata, "Jenar tidak mengangkat telponku padahal tersambung"
"Sial! Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Jenar. Jenar tengah ketakutan saat ini, Fa! Aku bisa merasakannya" Antares mulai meninggikan suaranya.
"Iya! Nggak usah teriak-teriak! Kita langsung susul aja! Aku punya aplikasi pelacak sinyal ponsel" Alfa menarik pergelangan tangannya Antares untuk ia ajak berlari.
Jenar mencoba menghentikan mobil yang melaluinya, namun karena hujan deras, tidak ada satu pun mobil yang berkenan berhenti. Jenar mengumpat kesal dan di bawah hujan deras ia melihat dari arah luar, di dalam mobilnya, sosok wanita berambut putih dengan wajah pucat penuh darah yang sudah mengering masih duduk di jok belakang dan sosok itu tengah menatap Jenar dengan seringai yang sangat menakutkan. Jenar meraup wajahnya yang basah kuyup terkena guyuran air hujan.
__ADS_1
Jenar kembali mencoba menghentikan mobil yang lalu lalang di jalan besar itu, namun tetap saja tidak ada satu pun pengemudi yang berkenan meminggirkan mobilnya.
Jenar berteriak, "Aaaaaaaa!" dengan sangat kerasnya di saat ia melihat pintu jok belakang mobilnya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya dan sosok wanita berbaju putih itu merangkak keluar dari dalam mobilnya Jenar. Jenar sontak mengakar kedua alisnya ke atas dan menarik rahang bawahnya.
Saat sosok wanita berambut putih itu merangkak di atas aspal, Jenar refleks berbalik badan dan berlari kencang.
Jenar jatuh di atas aspal saat kakinya terantuk batu karena ia berlari di tengah hujan deras dan dikejar makhluk yang sangat mengerikan. Jenar jatuh tersungkur dan saat ia hendak bangkit, ia merasakan kakinya ditarik oleh seseorang. Sontak Jenar membalik tubuhnya dan dia langsung berteriak, "Lepaskan aku makhluk jelek!!!!" Saat ia melihat kakinya dicekal oleh wanita berbaju putih dengan wajah pucat dan tampak ada darah mengering di sana.
Jenar berteriak, "Lepaskan aku!!!!!!"
Wong samar yang ganas dan menakutkan itu langsung melepaskan kakinya Jenar, tapi ia kemudian terbang dan dengan kuku panjangnya, ia merobek baju kanannya Jenar.
Jenar berteriak kesakitan, "Aaarrrghhh!" Dan refleks menyentuh bahu kanannya yang berdenyut nyeri. Jenar membeliak kaget saat ia menyentuh ada cairan lengket dan Jenar mulai terisak menangis saat ia melihat ada darah di telapak tangannya yang ia dapatkan dari bahu kanannya yang berdenyut nyeri.
Jenar kembali menyentuh bahu kanannya dan mencengkeram bahu kanannya untuk menghentikan kucuran darah di sana sambil mendesis kesakitan.
Di saat sosok wong samar yang ganas itu terbang di atas tubuhnya Jenar, alih-alih bangkit untuk berlari, Jenar justru jatuh pingsan karena ia sudah terlalu lama berada di bawah guyuran hujan deras.
Jenar terbangun di dalam mobil dan dia langsung menoleh ke pengemudi mobil tersebut.
Antares melirik Jenar dan berkata "Udah bangun?"
"Untunglah aku selamat" Ucap Jenar dengan suara lemah.
"jika cinta bisa menyelamatkanmu maka kau akan hidup selamanya" Ucap Antares sambil terus mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Jenar duduk lemas di jok mobil sambil memegang bahu kanannya yang terluka cukup parah dan dibebat dengan sapu tangannya Antares, terus menatap Antares dari arah samping dengan bergumam di dalam hatinya, apa maksud Antares? Cinta? Cinta apa? Dasar orang aneh!