
Karunia rohaninya Jenar Kembali timbul bersamaan dengan menguatnya insting membunuh yang ada di dalam diri seorang anak gadis berumur tujuh tahun.
Adalah seorang wanita muda bernama Tina. Dia dulunya adalah pegawai kafe dan dia mengalami peristiwa mengerikan saat ia disekap dari arah belakang dan dipaksa melayani nafsu nekat seorang pria yang memakai topeng putih. Namun, dia masih bernasib baik. Berkat keberaniannya, dia berhasil melarikan diri dan berhasil berlari masuk ke kantor polisi terdekat sebelum pria bertopeng itu menangkapnya lagi untuk membunuhnya.
Wanita yang bernama Tina itu berhasil lolos dari tangan kejamnya The White Mask yang telah memperkosanya. Namun, dia tidak bisa lolos dari benih yang ditanam oleh Rigel Altair. Wanita itu akhirnya mengandung benihnya Rigel Altair.
Tunangannya Tina yang bernama Rafael yang sangat mencintai Tina adalah seorang polisi berpangkat rendah yang sangat lugu, selalu berpikiran bersih dan baik hati. Rafael tetap memutuskan untuk menikahi Tina dan membesarkan anak hasil dari perkosaan yang lahir dari rahimnya Tina.
Tina dan Rafael memberi nama anak perempuan yang dilahirkan oleh Tina, Renata yang artinya terlahir kembali karena di awal saat Tina tahu ia hamil, Tina ingin menggugurkan kandungannya dan hampir saja ia mati bunuh diri bersama dengan janin yang ada di dalam perutnya, namun Rafael berhasil menyelamatkan Tina dan janinnya.
Renata terlahir sangat cantik karena, wajahnya sangat mirip dengan Rigel Altair. Tina mengetahui wajah bayinya mirip dengan pria yang memperkosanya saat ia melihat berita di televisi. Wajah The White Mask yang memperkosanya terpampang nyata di layar kaya televisinya saat The White Mask menjalani hukuman tembak mati di tempat.
Tina menoleh ke Rafael saat ia mengikuti berita detik-detik The White Mask menjalani hukuman tembak mati di tempat dan sambil menunduk untuk melihat bayi yang sedang ia susui, ia bergumam, "Bayi ini mirip sekali wajahnya dengan The White Mask" Dan seketika itu juga, tubuh Tina bergetar hebat dan bayinya sontak menangis kencang.
Rafael sontak mematikan televisi dan segera memeluk istrinya sambil berkata, "Kamu sedang menyusui, kamu harus tenang kalau sedang menyusui, kasihan Rena menangis terus, tuh"
Rafael sangat mencintai Renata seperti putrinya sendiri karena sejak Renata lahir, karirnya meningkat pesat dan dia akhirnya bisa memiliki rumah besar yang sangat bagus. Rafael tidak pernah menyangka bahwa sesungguhnya dia tengah membesarkan seorang monster.
Renata yang sudah menginjak umur tujuh tahun, tidak terlihat aneh. Dia tumbuh menjadi anak gadis yang cantik dengan rambut hitam panjang lurus sebahu, dia mampu menyihir semua orang dengan senyuman manisnya.
Hingga di suatu senja yang cerah, Renata seperti biasanya duduk di depan kolam renang bersama dengan ayah dan ibunya. Renata tersenyum lebar dengan pandangan kosong saat Rafael mengelus perut Tina.yang masih tampak rata dengan berkata, "Kamu akan punya adik, Sayang. Semoga adik kamu laki-laki, jadi lengkap anak Ayah. Kamu suka, kan, punya adik?"
Renata terus tersenyum lebar di saat ia menganggu-anggukkan kepalanya dan Rafael langsung memeluk Tina dan Renata dengan tawa bahagia kala itu dan Rafael sangat bersyukur karena Renata mau memiliki seorang adik.
Namun, kebahagiaannya Rafael tidak berlangsung lama. Satu minggu kemudian, ia menemukan istrinya yang tengah hamil muda mengapung di kolam renang.
Rafael menyangka kematian istrinya itu adalah sebuah kecelakaan. Namun, sesungguhnya itu adalah perbuatannya Renata. Renata tidak ingin memiliki adik dan Renata mendorong ibunya yang tengah hamil muda dan tidak bisa berenang itu, saat ibunya berdiri di tepi kolam renang untuk mengambilkan bolanya Renata yang sengaja Renata lempar ke kolam renang. Ibunya Renata segera berlari ke kolam renang saat Renata berteriak, "Ibu, tolong ambilkan bolaku!" Dan Renata tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia mendorong ibunya di saat ibunya berjongkok dengan membawa tongkat penyaring daun untuk mengambil bolanya Renata. Renata mendorong ibunya dari arah belakang.
__ADS_1
Di saat ibunya berteriak minta tolong karena, ia tidak bisa berenang dan mulai gelagapan, lalu perlahan-lahan tenggelam, Renata hanya diam mematung di tepi kolam renang sambil berkata dengan wajah dingin sedingin es, "Mati saja kau dengan anak yang ada di perutmu itu. Aku tidak ingin punya adik. Aku tidak ingin berbagi Ayah dengan anak yang ada di perutmu itu"
Renata terus berdiri mematung di tepi kolam sampai ibunya terapung dan tak bernyawa lagi. Di saat itulah, Renata berlari masuk ke dalam dan menelepon ayahnya dengan suara menangis ketakutan.
Di detik itu juga, karunia rohani yang pernah Jenar miliki, kembali timbul. Jenar mulai merasakan ada yang mengawasinya dan puncaknya adalah di taman di depan apartemennya. Dia bisa melihat kembali wong samar.
Jenar menatap Antares sebentar dengan tatapan dingin dan penuh dengan kebencian. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke sisi kanannya Leo dan berkata, "Apa yang kau mau dariku?"
Leo kembali menatap sisi kanannya dengan berkata, "Ada apa ini?" Lalu Leo, menoleh ke Antares, "Dia melihat apa?"
"Dia melihat makhluk tak kasat mata dan itu adalah karunia rohani yang Jenar miliki sejak lahir dan........." Wuuuuuzzzzz!!!! Leo sontak berputar badan untuk berlari kencang dan bergegas masuk ke dalam mobilnya dengan bergidik ngeri.
Kepala Antares sontak berputar mengikuti arah larinya Leo, kemudian dia memutar kepalanya kembali ke depan untuk bertanya ke Jenar, "Apa yang kau lihat kali ini?"
Jenar mengabaikan Antares dan melangkah lebar menuju ke mobilnya.
Jenar menghela napas berat saat ia menyerahkan kunci mobilnya Ke Antares dan ia bergegas mengitari mobilnya untuk masuk ke dalam.
Antares menoleh ke samping kirinya dan saat ia melihat Jenar telah memasang sabuk pengamannya, Antares bertanya, "Kita ke mana?"
"Hantu pria yang kini duduk di jok belakang, memintaku datang ke alamat ini" Jenar berkata sembari memasang ponselnya di dudukan telepon genggam yang menempel di dashboard mobil, lalu kembali berkata dengan bersandar ke jok mobil, "Ikuti map itu!"
Antares melihat ke layar telepon genggamnya Jenar dan sambil berkata, "Oke" Dia mulai menjalankan mobilnya Jenar.
Leo sontak memasang sabuk pengamannya dan sambil mengumpat kesal, dia segera menjalankan mobilnya mengikuti mobilnya Jenar yang dikemudikan oleh Antares.
"Sial! Ares mau ke mana malam-malam begini. Sial! kenapa juga wanita itu bisa melihat hantu, hiihhhhh! Ngeri banget" Gumam Leo sembari fokus mengikuti mobilnya Jenar yang dikemudikan oleh Antares.
__ADS_1
Jenar mengambil buku sketsa gambar dari dalam tas punggungnya dan dia mulai menarikan pensil gambarnya di atas buku sketsa gambar itu.
Antares melirik pangkuannya Jenar, lalu ia bertanya, "Kamu bisa melukis? Sejak kapan?"
Jenar menjawab pertanyannya Antares dengan terus menarikan pensil gambarnya di atas buku sketsa gambarnya, "Sejak pria brengsek yang tidak bertanggung jawab pergi meninggalkan aku tanpa pamit"
Antares menoleh sekilas ke Jenar untuk melemparkan tanya, "Apa pria brengsek yang kau maksud itu aku?"
"Jawab saja sendiri!" Jenar menyahut tanpa menoleh ke Antares.
"Siapa yang mengajarimu melukis?"
"Om Eben Henizer* Sahut Jenar singkat tanpa menoleh ke Antares.
"Apa kau melukis wong samar yang ada di jok belakang mobil saat ini?
"Hmm" Sahut Jenar singkat dan masih dengan sikap acuh tak acuh.
Antares menghela napas panjang, lalu ia memberikan diri untuk bertanya, "Apakah sudah sangat terlambat bagiku kalau aku meminta maaf padamu sekarang?"
"Pria pengecut seperti kamu, apa bisa meminta maaf dengan baik dan benar" Jenar menyahut dengan terus melanjutkan kegiatannya melukis.
Antares kembali menghela napas panjang dan kemudian berkata, "Maafkan aku membawa pergi Akamu jauh darimu. Kalau kamu hanya memikirkan jantung Akamu, aku minta maaf kalau aku membawa pergi jantung Akamu jauh dari kamu. Kamu tidak pernah mencintaiku, kan? Alfa yang bilang kalau kamu menerima pernyataan cintaku karena kamu hanya ingin dekat dengan jantungnya Akamu. Kamu hanya memikirkan Akamu"
Jenar diam tidak menyahut. Dia memilih menelan seribu kata yang ingin dia semburkan dan menyandarkan kepalanya di jok mobil lalu memejamkan kedua kelopak matanya.
Antares menoleh sekilas ke Jenar dan setelah ia menghela napas panjang, ia pun diam seribu bahasa.
__ADS_1
Jantung Jenar dan Antares berdetak abnormal secara bersamaan saat itu juga, namun mereka berdua memilih untuk mengabaikan degup jantung itu.