Jenar Ayu

Jenar Ayu
Merindukanmu


__ADS_3

"Aku akan menemuimu nanti. Kita bisa makan malam bareng, kan, nanti?" Tanya Jenar.


"Bisa. Hari ini bisa. Aku akan jemput kamu. Aku mencintaimu" Sahut Alfa dari seberang sana.


"Hmm" Sahut Jenar.


"Kenapa kamu nggak katakan kalau kamu juga mencintaiku? Apa kamu marah sama aku?" Alfa bertanya dengan nada bingung.


"Nggak" Sahut Jenar sembari pelan-pelan mengarahkan pandangannya ke Antares. Jenar tersentak kaget saat ia melihat Antares menatapnya sangat tajam dan klik! Tanpa Jenar sadari, ia mematikan panggilan teleponnya Alfa, lalu menggerakkan kedua bola matanya dengan canggung di depan Antares.


Antares refleks bertanya, "Kenapa kau menatapku seperti itu dan tampak canggung di depanku?"


"Iya benar. Kamu kok jadi salah tingkah kayak gitu? Barusan yang nelpon kamu, pacar kamu, ya?" Sahut Leo dan Antares langsung menyenggol kaki Leo dengan kakinya. Leo sontak menoleh ke Antares dengan melotot dan bertanya, "Kenapa kau........" Antares langsung membungkam mulutnya Leo dan mendelik ke Leo.


Saat Jenar hendak membuka suara, telepon genggamnya kembali berbunyi dan saat Jenar mengangkat panggilan telepon itu, suara Alfa kembali menggema di telinganya, "Kenapa kamu tiba-tiba menutup telepon? Kamu beneran marah sama aku, ya?"


Leo menepis tangan Antares dari mulutnya dengan helaan napas kesal.


Antares mengabaikan Leo dan terus menatap Jenar.


"Nggak" Sahut Jenar singkat.


"Lalu kenapa kamu nggak balas aku saat aku katakan kalau aku mencintaimu dan malah menutup teleponnya?" Tanya Alfa.


"Aku mencintaimu. Puas?" Ucap Jenar Ayu dengan suara lelah.


Antares masih terus menatap Jenar dengan perasaan campur aduk dan Jenar semakin merasa canggung.


"Kenapa harus ada kata puas?" Alfa bertanya untuk dirinya sendiri sebenarnya, namun Jenar terlanjur mendengar gumamannya. Jenar menghela napas panjang dan kemudian berkata, "Kamu nelpon di saat yang nggak tepat. Aku tidak tidur semalaman dan capek banget. Aku tutup telponnya, nanti kita bicara lagi" Dan klik! Jenar menutup panggilan teleponnya Alfa begitu saja.


Alfa menatap layar telepon genggamnya dan dia bergumam, "Kenapa hubungan kita semakin hari semakin dingin, Jen?"


"Itu, Alfa, kan? Nggak usah ngeles dan nggak perlu berbohong!" Tanya Antares dengan wajah datar.


"Bagaimana kau bisa tahu? Perasaan aku nggak sebut nama tadi" Sahut Jenar.

__ADS_1


"Kau pencet pengeras suara sehingga aku bisa dengan suara peneleponnya dan aku sangat hapal dengan suaranya Alfa" Sahut Antares.


Jenar hanya diam dan menghela napas panjang, lalu berkata sambil bangkit berdiri, "Aku sudah selesai makan. Aku akan tunggu kalian di mobil"


"Kamu pulang dulu, ya! Please! Ada yang ingin aku bicarakan empat mata dengan Jenar" Antares menepuk pundak Leo.


"Oke. Semoga sukses merebut kembali hati mantan kamu" Sahut Leo dengan senyum lebarnya dan Antares hanya membalas Leo dengan senyuman ambigu.


Antares dan Leo memilih tinggal di daerah pegunungan. Mereka berdua membeli rumah di sana yang sekaligus akan mereka jadikan. kafe. Karena prospek kafe di daerah pegunungan lebih menjanjikan.


Antares masuk ke dalam mobilnya Jenar dan dia melihat Jenar berpindah duduk di jok belakang. Antares sontak bertanya sambil menoleh ke belakang dan memasang sabuk pengamannya, "Kenapa kau pindah duduk di jok belakang?"


"Entahlah. Aku hanya mengikuti naluriku untuk pindah" Sahut Jenar sambil menyandarkan kepalanya ke jok.


"Oke. Terserah kamu saja lah" Antares berucap sembari menjalankan mobilnya Jenar.


Antares sesekali melihat rear-mirror vision dan dia tersenyum saat ia melihat Jenar meringkuk dan tidur pulas. Antares bergumam, dia hobinya tidur, ya, sekarang.


Beberapa jam kemudian, Antares terpaksa membopong Jenar karena, Jenar susah dibangunkan. Saat ia sampai di depan pintu apartemennya Jenar, dia bergumam lirih, "Berapa passwordnya?" Antares menunduk dan dia melihat Jenar masih tidur.


Antares lalu bergegas berjalan menuju ke kamarnya Jenar untuk segera merebahkan Jenar sebelum Jenar bangun.


Setelah merebahkan Jenar, dia menyelimuti Jenar. Lalu ia berjalan di dalam kamarnya Jenar untuk melihat-lihat isi kamarnya Jenar. Antares tertegun saat ia menemukan foto dirinya tertempel di meja belajar Jenar. "Kapan Jenar mengambil fotoku ini? Dan kenapa? Dia, kan, nggak pernah mencintaiku?"


Antares lalu duduk di depan meja belajarnya Jenar dan menarik lepas foto dirinya dan saat ia membalik iseng foto dirinya itu, dia tersentak kaget dan kembali bergumam, "Kenapa Jenar bisa menulis tanggal lahirku di balik foto ini? Padahal, seingatku, aku nggak pernah kasih tahu ke Jenar tanggal lahirku. Apa Alfa yang kasih tahu ke Jenar?" Antares lalu menempelkan kembali foto itu di atas meja belajarnya Jenar.


Antares tertegun saat ia melihat kotak yang tampak familier. Antares meraih kotak itu dan bergumam, "Ini kotak yang aku berikan ke Jenar saat Valentine dan saat aku jadian dengan Jenar. Ternyata ia masih menyimpan dengan baik kotak ini dan semua isinya" Senyum bahagia langsung terlukis di wajah tampannya Antares.


Lalu, saat ia menoleh ke sisi kiri, ia melihat foto Jenar dan Alfa di dalam bingkai foto berbentuk hati. Di dalam foto itu, Alfa memeluk bahunya Jenar dengan senyum penuh cinta. Jenar juga tampak tersenyum lebar dan tampak sangat bahagia di dalam foto itu.


Antares kemudian bergumam, "Aku datang sangat terlambat ternyata. Jenar dan Alfa saling mencintai dan aku nggak mau merebut Jenar dari Alfa kalau mereka berdua saling mencintai. Lebih baik aku pergi dan nggak pernah muncul lagi di depannya Jenar"


Antares kemudian menghela napas panjang untuk membuang kesedihan dan kekecewaannya. Lalu ia bangkit berdiri dengan lemas. Dan di saat Antares sudah keluar dari dalam kamarnya Jenar dan hendak menutup pintu, ia mendengar Jenar berteriak sangat kencang, "Jangan dekati aku!!!!"


Antares spontan berlari masuk kembali ke dalam kamarnya Jenar dan dia tertegun sejenak saat melihat Jenar.duduk di atas ranjang dan menatap pojok kamar dengan wajah nanar.

__ADS_1


Jenar melihat sosok wong samar yang sangat mengerikan Kulit di wajah wong samar itu berkerut dan matanya putih semua.


Antares langsung mendekap Jenar saat Jenar kembali berteriak kencang, "Jangan dekati aku!!!!!" Dan Jenar langsung membenamkan wajah manisnya di dada bidangnya Antares dan menangis terisak di sana.


"Ssssttt! Ada aku. Jangan takut lagi, ya!?" Antares berucap sembari mengelus pelan punggungnya Jenar.


Sepuluh menit kemudian, Jenar menarik diri dari dalam pelukannya Antares dan dia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.


Antares mengusap rambutnya Jenar sambil bertanya, "Apakah wong samar itu masih ada terlihat?"


Jenar menggelengkan kepalanya dan langsung menghela napas. Lalu, ia menatap Antares dan berkata, "Maaf, aku spontan memeluk kamu, tadi"


"Nggak papa. Santai aja" Sahut Antares.


"Terima kasih masih ada di sini menemaniku" Sahut Jenar dengan wajah tulus.


"Aku akan sangat senang kalau saja aku bisa punya kesempatan untuk menemani kamu terus, Jen" Sahut Antares lirih dengan wajah sedih.


Alih-alih merespons ucapan lirihnya Antares, Jenar bertanya, "Bagaimana kau masuk ke sini tadi?"


"Aku iseng memasukkan tanggal lahir kamu dan pintu langsung terbuka" Sahut Antares.


"Kau tahu tanggal lahirku?" Tanya Jenar.


"Hmm. Aku tahu semua tentang kamu, Jen. Dan kau juga tahu tanggal lahirku?" Antares balik bertanya.


Jenar menatap Antares dengan heran.


"Aku lihat di balik fotoku ada tulisan tanggal lahirku. Apa Alfa yang kasih tahu kamu?"


Jenar membeku di depan Antares dan entah apa yang merasukinya, alih-alih menjawab pertanyaannya Antares, Jenar memeluk Antares dan kembali menangis di dada bidangnya Antares.


Antares terkejut dengan sikap Jenar dan sambil mengelus punggungnya Jenar, ia bertanya, "Ada apa? Apa wong samar yang tadi kamu lihat muncul lagi?"


Jenar menggelengkan kepalanya dan dengan masih memeluk Antares dan menangis, ia berucap, "Ijinkan aku memeluk kamu lebih lama lagi, Res. Aku sangat merindukan kamu"

__ADS_1


Antares sontak mematung mendengar ucapannya Jenar.


__ADS_2