Jenar Ayu

Jenar Ayu
Jangan Ngawur!


__ADS_3

Pria jangkung yang semula panik, langsung meringis dan memamerkan deretan giginya yang hitam di bagian atas depan, lalu pria jangkung itu mengeluarkan kata, "Aku tidak sengaja melakukannya. Aku tidak sengaja menabrak anak itu" Dia menunjuk ke kain kafan putih yang di dalamnya ada jasad anak kecil. "Tapi, aku merawatnya dengan baik. Lihatlah! Dia tidak mengeluarkan bau busuk, kan?"


Yoga, Jaya Dwipa, tukang tambal ban dan Jenar Ayu langsung merinding mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria jangkung itu.


Pria jangkung itu kembali berkata, "Aku akan menguburnya setelah kalian semua mati dan aku juga akan mengubur kalian dengan baik. Jangan khawatir! Karena, anak itu selalu menggangguku di malam hari. Dia selalu menangis di malam hari. Aku akan menguburnya, tapi teman kamu menganggu pekerjaanku, tadi. Dia lancang membuka bagasi mobil"


"Dia gila" Gumam bapak tukang tambal ban sembari melangkah mundur untuk bersembunyi di balik badannya Jaya Dwipa sambil menarik Jenar Ayu dan kemudian berbisik ke Jenar Ayu, "Kita harus bersembunyi di balik Eyang Kakung kamu, Nak! Orang itu gila dan berbahaya. Di balik badan eyang kakungnya, Jenar kembali mencengkeram dadanya saat ia merasakan kesedihannya Akamu. Jenar semakin penasaran dengan apa yang dia alami dan bertekad akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Akamu, pada papa dan mamanya. Karena, Jenar hanya tahu kalau Akamu, papa dan mamanya meninggal setelah mengalami kecelakaan.


Eyang kakungnya mengatakan begitu, karena dia tidak ingin Jenar merasa sedih dan timbul dendam di hati Jenar. Walaupun ada seseorang yang mengakui pembunuhan atas cucu, menantu, dan putri tunggalnya, Jaya Dwipa merasa yakin kalau pembunuh yang sebenarnya masih berkeliaran di luar sana dan dia tidak ingin Jenar mencari tahu soal pembunuh itu. Jaya Dwipa ridak ingin Jenar berada di dalam bahaya. Jaya Dwipa hanya ingin Jenar hidup aman dan bahagia tanpa dendam.


"Lalu bagaimana dengan Kakek tua?" Tanya Jaya Dwipa.


"Ke....kenapa kau bisa tahu soal Kakek tua? Kakek tua itu memergoki aku memasukkan anak itu ke dalam bagasi mobil maka dengan sangat terpaksa aku memukulinya sampai mati" Pria jangkung itu Kembali memamerkan deretan giginya yang hitam di bagian atas.


Yoga langsung menjatuhkan bangku yang ia duduki ke belakang dan brak! bangku kayu itu langsung rusak dan ikatan di tangan Yoga menjadi longgar. Yoga langsung meronta dan berhasil bangkit berdiri untuk berlari menangkap pria jangkung yang membawa balok kayu dan hendak menyerang Jaya Dwipa.


Yoga berhasil menggelungkan lengannya di perut pria jangkung itu dari arah belakang dan langsung menariknya mundur. Jaya Dwipa langsung merebut balok kayu dari genggaman pria jangkung itu lalu ia melemparkan jauh-jauh balok kayu itu sementara Yoga menjatuhkan pria jangkung itu ke lantai yang belum berkeramik dan langsung melumpuhkan pria jangkung itu.


Yoga lalu bangkit berdiri untuk mencari borgolnya dan saat ia berhasil menemukan borgolnya yang selalu ia letakkan di balik jaket kulit hitamnya, dia langsung memborgol tangan pria jangkung itu.


Kakek tua kembali melambaikan tangannya ke Jaya Dwipa dan Jenar Ayu. Jaya Dwipa langsung menepuk pundaknya Yoga dan berkata, "aku serahkan orang itu dan jasad anak kecil itu ke kamu. Aku sudah telpon polisi. Aku akan mencari jasad Kakek tua itu"


"Oke. Langsung telpon aku kalau sudah menemukannya" Sahut Yoga dan jaya Dwipa langsung mengangguk.

__ADS_1


"Sa....saya masih lemas, nih. Tunggu sebentar!" Bapak tukang tambal ban tiba-tiba bersimpuh di atas lantai semen.


"Kalau begitu, Bapak di sini aja sama teman saya! Saya akan segera kabari saat saya sudah menemukan Kakek Anda"


"Jenar juga di sini aja! Kasihan Jenar kalau harus berjalan cukup jauh di siang hari" Sahut Yoga.


"Aku ikut Eyang aja!" Jenar langsung berlari kecil menyusul Eyang kakungnya.


Kakek tua itu menuntun langkah Jenar dan Jaya Dwipa ke kebun kosong di seberang pom bensin. Kakek tua itu mengentikan langkahnya di depan gundukan tanah dan menghilang.


"Di sana Eyang" Jenar Ayu menunjuk ke depan. Jaya Dwipa mengangukkan kepala sambil mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.


Di saat Jaya Dwipa hendak menelepon Yoga, Yoga menepuk pundaknya sampai membuat Jaya Dwipa terlonjak kaget. Yoga terkekeh geli dan berucap, "Kau bisa kaget juga, ya? Hahahahaha"


Jaya Dwipa menoleh dengan wajah kesal dan berucap, "Kok kamu bisa sampai di sini? Padahal aku belum kasih tahu lokasinya"


Jaya Dwipa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Yoga lalu memerintahkan anak buahnya untuk menggali gundukan tanah itu dan setelah menggali selama satu jam lebih, mereka menemukan jasad seorang kakek tua. Bapak tukang tambal ban yang mengikuti langkahnya Yoga langsung bersimpuh di atas tanah dan menangis sesenggukkan di sana, lalu menjerit pilu, "Kakek!!!!!"


Semua yang ada.di sana langsung merinding melihat kenyataan yang berada di luar nalar manusia.


Setelah jasad Kakek tersebut dipindah, Jalan di depan pom bensin di dekat patung Garuda di desa Pelem-Pare, menjadi tenang kembali dan tidak ada lagi peristiwa kecelakaan yang menelan korban jiwa.

__ADS_1


Karena, masih berada di musim liburan sekolah, Yoga mengajak Jenar dan Jaya Dwipa piknik. Dia ingin mentraktir Jaya Dwipa dan Jenar karena berkat Jenar dan Jaya Dwipa, dia berhasil mendapatkan bonus.


Yoga mengajak Jenar dan Jaya Dwipa ke Kediri, ke Air Terjun Dolo. Di Air Terjun Dolo, para pengunjung akan dimanjakan dengan aliran air yang deras dan jernih serta panorama sekitar yang sangat menakjubkan.


Tidak hanya dikenal indah, Air Terjun Dolo juga dikenal sebagai salah satu tempat angker di Kediri, namun Yoga tidak pernah mempercayainya. Yoga berjalan di sekitar air terjun dan berkata ke Jaya Dwipa yang tengah menggandeng tangan Jenar Ayu,"Konon katanya, jika ada pengunjung yang sengaja bersiul dan bertepuk tangan di kawasan ini akan selalu mendapatkan kesialan. Tapi, aku tidak percaya akan hal itu"


"Kalau tidak percaya, jangan usil dan jangan coba-coba melanggar larangan itu!" Sahut Jaya Dwipa.


"Tapi, aku penasaran. Aku pikir aku akan melakukannya karena, ada kamu di sini. Bagaimana menurut kamu?" Tanya Yoga dengan wajah penuh rasa penasaran dan sangat antusias untuk mencoba bersiul dan bertepuk tangan"


"Jangan ngawur! Aku tidak bisa........"


"Suuuiitttt!!!! Prok, prok!!!!!" Yoga memotong ucapannya Jaya Dwipa dengan siulan dan tepuk tangannya.


Jaya Dwipa langsung melongo melihat kenekatan temannya dan kemudian ia berucap, "Aku tidak bisa ikut campur jika kamu melanggar aturan yang ada di suatu wilayah. Tanggung sendiri akibatnya nanti!"


"Kau! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Sahut Yoga.


"Dan kenapa kau tidak sabar menungguku menyelesaikan kalimatku, tadi?" Sahut Jaya Dwipa dengan mendelik.


"Ah! Sial!" Saat Yoga mengucapkan kata sial, tiba-tiba kepalanya dilempar kerikil. Yoga mengaduh, mengelus bagian belakang kepalanya sambil celingukkan, tapi dia tidak menemukan seorang pun di sekitarnya kecuali Jaya Dwipa dan Jenar.


Jaya Dwipa menoleh ke Yoga, "Sepertinya kesialan untuk kamu sudah dimulai"

__ADS_1


"Hah?! Jaya! Bantu aku!" Yoga langsung menangkup lengan atasnya Jaya Dwipa saat di detik berikutnya dia merasakan tangannya digaruk oleh seseorang padahal dia tidak melihat siapa yang menggaruknya..............


#Air Terjun Dolo bisa Anda datangi di dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.


__ADS_2