Jenar Ayu

Jenar Ayu
Lukisan


__ADS_3

Jenar berkeinginan keras untuk pergi ke Jakarta, karena seminggu sebelum keberangkatannya ke Jakarta, dia bertemu dengan seorang pria berumur tiga puluh lima tahun yang datang jauh-jauh dari ibukota hanya untuk mencari Jenar Ayu.


Pria itu dulunya tuna netra dan menjadi guru di Sekolah Luar Biasa dan mengajar huruf braille untuk para anak-anak penyandang tuna netra yang bersekolah di sana. Pengajuannya ke rumah sakit untuk mendapatkan donor mata, karena dia jatuh cinta dengan seorang gadis dan ingin melihat wajah gadis yang ia cintai itu, akhirnya membuahkan hasil. Pihak rumah sakit menghubunginya dan dia berhasil menjalani operasi mata. Dan sejak tiga belas tahun yang lalu, saat Jenar Ayu masih berumur lima tahun,pria itu bahagia bukan main, saat ia akhirnya bisa melihat warna-warni dunia dan bisa melihat wajah cantik tunangannya.


Pria itu pandai melukis, dan sejak ia bisa melihat kembali, ia memutuskan untuk kuliah lagi mengambil jurusan design interior di sela-sela aktivitasnya mengajar di Sekolah Luar Biasa. Dia berkuliah pagi mengambil jurusan design interior karena Ayahnya yang memiliki bisnis sukses di bidang design interior meminta putranya itu untuk meneruskan usahanya.


Namun, kebahagiaan pria itu menjadi mimpi buruk di malam hari. Seminggu setelah ia bisa melihat, di malam hari, di dalam mimpinya dia dikejar-kejar oleh penjahat memakai topeng putih, bertopi, dan membawa gergaji besi. Dia melihat sosok pria tampan saat topeng putih itu terjatuh di atas tanah dan dia selalu terbangun di tengah malam dengan keringat bercucuran dan dengan napas yang terengah-engah.


Pria itu terus mengalami mimpi yang serupa di setiap malam sejak seminggu setelah ia berhasil menjalani operasi mata. Setiap pagi dia bahkan terus merinding seolah ia masih dikejar oleh sosok bertopeng dan membawa gergaji mesin yang hadi di setiap mimpinya di malam hari.


Dan di saat Jenar berumur tujuh belas tahun, pria yang akhirnya berhasil menyabet gelar sarjana di bidang design interior itu mendapatkan penglihatan lewat mimpinya. Seorang pria tampan dengan wajah berniat dan tampak sangat bijak bersahaja, berkata padanya, "Tolong Putri saya. Tolong cari Jenar Ayu! Saya sudah memberikan mata saya kepada Anda, jadi saya berani meminta tolong kepada Anda untuk menolong Jenar Ayu"


Pria yang telah bergelar sarja di bidang design interior itu bertanya di dalam mimpinya, "Terima kasih Anda sudah memberikan sepasang bola mata indah Anda kepada saya, jadi saya bisa melihat dunia ini. Sekarang, apa yang bisa saya lakukan untuk membalas budi baik Anda, Pak?"


Pria dengan wajah bersinar dan tampak bijak bersahaja itu kembali berkata, "Tolong cari Jenar Ayu di desa Pelem-Pare-Kediri-Jawa Timur. Dia tinggal dengan Eyang kakungnya yang bernama Jaya Dwipa. Tolong beritahu Jenar Ayu untuk tidak membalas dendam dan berhati-hati dengan sosok bertopeng yang telah membunuh saya, Isti saya, dan Putra saya. Anda bisa melukis, kan, tolong lukis wajah pria bertopeng yang Anda lihat selama ini di dalam setiap mimpi Anda dan berikan lukisan pria itu kepada Jenar Ayu agar dia bisa menghindari pria jahat itu jika tanpa sengaja ia bertemu dengan pria jahat itu!"


Di saat sosok pria dengan wajah bersinar dan tampak bijak bersahaja itu lenyap dari pandangannya, Eben Henizer nama pria yang pernah menjalani cangkok kornea tiga belas tahun silam itu, terbangun dari mimpinya di jam lima pagi, dengan keringat bercucuran, tengkuk merinding dan napas terengah-engah.


Dia bergegas berlari untuk duduk di depan meja kerjanya dan mulai melukis sosok pria tampan dengan gergaji mesin yang sering muncul di dalam mimpinya. Lalu ia mencoba mencari tahu identitas pria yang ada di lama lukisannya melalui aplikasi canggih yang ada di dalam laptopnya.


Kedua alis Eben Henizer sontak terangkat ke atas,ia membeliak dan terhenyak kaget dan punggungnya langsung membentur sandaran kursi kerjanya saat ia melihat nama pria yang ada di dalam lukisannya. Eben Henizer membaca hasil temuannya dengan nada bergetar dan seluruh tubuhnya merinding, "Dokter Spesialis Bedah yang termasyur dan terhormat, Dokter Rigel Altair"


Eben Henizer langsung menutup mulutnya yang ternganga saat ia bangkit berdiri. Dia kemudian berjalan mondar-mandir di dalam kamar mewahnya dan saat akhirnya ia duduk di tepi ranjang bergaya klasik yang selalu setia menemaninya tidur itu, ia termenung cukup lama, lalu bergumam lirih, "Jika dia seorang dokter yang sangat terkenal, berarti dia berbahaya bagi semua orang bukan hanya bagi Jenar Ayu. Apa yang harus aku lakukan dengan temuanku ini?"

__ADS_1


Dan akhirnya, Eben Henizer berdiri di depannya Jenar Ayu. Dia menemui Jenar Ayu terlebih dahulu untuk menyelamatkan Jenar Ayu terlebih dahulu dari Iblis yang bernama Rigel Altair, di saat ia masih belum memiliki keberanian untuk melaporkan hasil temuannya ke pihak kepolisian. Eben Henizer menemui Jenar Ayu, di sekolahannya Jenar Ayu.


Eben Henizer mengajak Jenar Ayu makan siang di sebuah warung bakso yang menjamur di desa Pelem. Di sana, Eben Henizer memperkenalkan dirinya dan mulai menceritakan keanehan yang ia alami setelah ia menerima cangkok kornea mata. Lalu, ia memberikan lukisan pertama ke Jenar Ayu. Jenar Ayu menerima lukisan itu dan langsung mendekap lukisan itu, dan sambil menatap pria di depannya ia berkata dengan air mata menggenang di kedua pelupuk matanya, "Bagaimana Anda bisa bertemu dengan Ayah saya, Om?"


"Saya bertemu dengan Ayah adik yang baik hati itu, lewat mimpi. Saya menemui Adik, karena ingin membalas budi kebaikan beliau yang sudah mendonorkan kornea beliau untuk saya" Sahut Eben Henizer.


Jenar terus mendekap lukisan ayahnya dan berkata dengan air mata yang mulai menitik di kedua pipinya, "Terima kasih, Om sudah melukis Ayah saya dan memberikan lukisan ini ke saya"


"Sama-sama Dik. Dan ada satu lagi lukisan yang harus Adik lihat, tapi setelah melihat lukisan ini, Adik jangan berniat untuk membalas dendam" Eben memberikan lukisannya yang kedua ke Jenar Ayu.


Jenar Ayu menunduk ke meja untuk menatap lukisan pria tampan dengan gergaji mesin sambil mengusap air mata di kedua pipinya.


Lalu, ia mengangkat wajah ayunya untuk melihat ke pria di depannya dan bertanya, "Ini lukisan siapa, Om?"


"Tapi, kenapa saya harus menghindarinya, Om?" Tanya Jenar Ayu.


"Karena, dia berbahaya. Sangat berbahaya" Sahut Eben Henizer.


"Kenapa berbahaya dan apa hubungannya dengan saya?" Jenar Ayu yang masih mendekap erat lukisan ayahnya, menautkan alisnya di depan pria yang memiliki nama Eben Henizer.


Eben Henizer menghela napas panjang, lalu berkata, "Kalau Om katakan semuanya, apakah Adik mau berjanji, adik tidak akan pingsan dan tidak akan mendendam?"


Jenar Ayu yang masih menautkan alisnya, menganggukkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


Eben Henizer kembali menghela napas panjang sebelum berucap, "Rigel Altair adalah pria yang sudah membunuh Ayah Adik, Mama Adik, dan Kakak kembarnya Adik"


Jenar Ayu langsung mengangkat kedua alisnya ke atas dan menarik rahang bawahnya lebar-lebar, degup jantungnya tiba-tiba menjadi abnormal, kemudian ia jatuh pingsan.


Eben Henizer terkejut setengah mati dan setelah membayar baksonya, dia mencangklong tas sekolahnya Jenar, memasukkan semua lukisannya ke dalam tasnya Jenar, lalu ia membopong Jenar dan segera berlari ke mobilnya. Dia membawa Jenar pulang ke rumah Jaya Dwipa.


Jaya Dwipa kaget setengah mati saat ia melihat Jenar dibopong oleh pria asing di dalam keadaan pingsan. Jaya Dwipa langsung menggendong cucu kesayangannya itu dan setelah merebahkan Jenar di kamar dan memastikan Jenar baik-baik saja, ia berjalan keluar dari dalam kamar menuju ke ruang tamu untuk menemui pria asing yang telah membawa Jenar pulang.


Namun, dia kaget saat mendapati pria asing itu telah pergi tanpa pamit. Jaya Dwipa lalu membawa tas sekolahnya yang tergeletak di bangku ruang tamu ke kamarnya Jenar. Jenar telah membuka kedua matanya dan bersandar di ranjang untuk berkata, "Aku ingin balik dan berkuliah di Jakarta, Eyang"


"Kenapa kamu pingsan? Dan apa yang telah dilakukan oleh pria asing yang membawamu pulang?" Tanya Jaya Dwipa sambil duduk di tepi ranjang.


"Dia temannya Ayah. Dia memberikan lukisan Ayah ke Jenar. Jenar pingsan karena terlalu bahagia melihat lukisannya Ayah dan terlalu merindukan Ayah"


"Di mana lukisannya?" Tanya Jaya Dwipa.


"Ada di dalam tas Jenar" Sahut Jenar saat ia melihat ada gulungan kertas nongol di tas sekolahnya


Jaya Dwipa mengambil lukisan di tasnya Jenar dan melihat wajah menantunya. Jaya Dwipa menghela napas untuk melepas kerinduan kepada menantunya dan melepas kesedihannya saat ia teringat kembali akan peristiwa tragis yang menimpa menantu, putrinya, dan cucu laki-lakinya.


Dan Jaya Dwipa mengerutkan keningnya saat ia membuka lukisan kedua. Dia menoleh ke Jenar dan bertanya, "Ini lukisan siapa?"


"Oh, itu lukisan Om tadi. Om tadi pasti secara tidak sengaja memasukkan lukisan itu ke dalam tasnya Jenar begitu saja saat ia melihat Jenar pingsan" sahut Jenar. Jenar terpaksa berbohong karena, ia tidak ingin membuat eyang kakungnya kaget dan khawatir saat tahu kebenaran dari lukisan pria tampan dengan gergaji mesin itu.

__ADS_1


Akhirnya Jenar Ayu dan Jaya Dwipa menginjakkan kaki mereka kembali di lantai marmer kediaman mewah milik ayahnya Jenar Ayu.


__ADS_2