Jenar Ayu

Jenar Ayu
Kenyataan Mengerikan


__ADS_3

Eben Henizer menundukkan kepalanya dengan kedua tangan selonjor di atas meja kerjanya, lalu ia berucap, "Jika saya bersaksi atas semua kejahatannya Rigel Altair, apakah akan valid? saya menyaksikan semua kekejamannya Rigel yang merenggut nyawa Putra, Putri, dan cucu laki-laki Anda dengan sadis, Pak Jaya Dwipa, lewat mimpi saya dan mimpi saya itu saya peroleh karena saya memiliki kedua bola mata ini. Lewat cara di luar nalar manusia, saya mengetahui siapa The White Mask yang sebenarnya"


"Benar juga" Sahut Jaya Dwipa.


"Tapi, jika Anda didampingi seorang Psikolog, maka saya rasa akan valid" Sahut Handoko. "Ada beberapa hal di luar nalar manusia yang bisa diterima jika ada pernyataan pendukung dari seorang psikolog" Tambah Handoko.


Eben Henizer mengangkat wajahnya untuk menatap Handoko dan Jaya Dwipa kembali, lalu ia menghela napas panjang dan sangat berat, untuk bisa berkata, "Saya juga sudah sangat lelah didera perasaan bersalah ini. Saya tahu siapa The White Mask yang sebenarnya, tapi saya tak punya cara untuk menjebloskannya ke penjara. Selain itu, saya juga khawatir kalau saya nekat mencari cara untuk menjebloskan Rigel Altair ke penjara, bagaimana dengan anak dan Istri saya?"


'Kalau Anda ingin terbebas dari rasa bersalah yang sudah menghantui Anda selama bertahun-tahun dan mau mendukung langkah kami untuk menjebloskan Rigel Altair ke penjara, maka saya akan menjamin keselamatan Anda beserta dengan Istri dan anak Anda" Sahut Handoko.


"Tapi, kami juga nggak akan memaksa Anda. Saya paham dengan kondisi Anda" Sahut Jaya Dwipa.


Eben Henizer kembali menghela napas panjang dan berat, lalu akhirnya ia berkata, "Baiklah saya bersedia melakukan cara apapun untuk bisa menjebloskan Rigel Altair ke penjara.


Jenar bergumam lirih untuk dirinya sendiri, "Wanita ini juga korbannya The White Mask brengsek itu"


Wajah Antares menatap nanar jasad wanita dengan kondisi yang sangat mengenaskan itu dan wajahnya lambat laun memucat pasi dan secara refleks dia terus melangkah mundur dan di langkah mundurnya yang kelima, dia segera berputar badan untuk membungkukkan badan dan, "Hoooeeekkkk, Hoooeeekkkk, hooeeekkkkk!!!!" Antares muntah-muntah di sana.


Sementara itu, Jenar Ayu terus menatap jasad wanita yang tidak ia kenal itu dengan wajah dan perasaan datar. Jenar juga mengabaikan Antares yang tengah muntah-muntah di belakangnya.


Antares sontak menegakkan badannya dan memutar badannya untuk menatap punggungnya Lintang di saat ia mendengar Lintang berkata, "Halo, apa saya bisa bicara dengan Bapak Ronald?"

__ADS_1


Antares mematung di tempatnya saat ia mendengar Jenar berkata, "Saya menemukan jasad putri Bapak yang sudah hilang selama dua pekan. Anda ikuti saya map yang akan saya bagi di pesan text Anda" Dan klik. Jenar mematikan sambungan telepon itu.


Antares masih membeku di tempatnya dan dia sontak mundur ke belakang dengan wajah kaget ketika Jenar tiba-tiba berbalik badan dan menatapnya lekat.


"Kau takut padaku?" Jenar menatap Antares dengan wajah kaku dan datar.


Antares menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian berkata, "Aku hanya shock karena aku, belum pernah melihat hal yang beginian sebelumnya. Aku percaya kalau bisa melihat makhluk tak kasat mata, tapi aku sungguh tidak menyangka kalau karunia rohani kamu, benar-benar sedahsyat ini"


Jenar menatap Antares masih dengan wajah kaku dan datar. Lalu, tanpa menanggapi ucapannya Antares yang panjang lebar, Jenar memencet layar ponselnya dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya, "Halo, saya menemukan jasad seorang wanita di sini. Tolong Anda segera ke sini! Saya akan share lokasi saya saat ini dan ini bukan main-main dan bukan hoax" Klik. Tanpa menunggu jawaban dari detektif kenalannya Handoko dan Jaya Dwipa, Jenar langsung berkata ke Antares, "Urusan di sini udah kelar. Bisa kita ke rumah kamu sekarang?"


Antares yang masih keheranan melihat kedahsyatan karunia rohaninya Jenar langsung tergagap kaget dan sontak menjawab, "Bisa. Tentu saja bisa. Kebetulan rumahku jaraknya dekat sekali dengan danau ini"


Setengah jam kemudian setelah memutari danau, Antares dan Jenar memasuki halaman luas kediaman megahnya Rigel Altair.


Antares menutup pintu mobil sembari berucap, "Ini rumah Papaku, megah dan sangat luas, tapi aku tidak nyaman tinggal di sini. Dan aku akhirnya bisa menghela napas lega ketika aku bisa meninggalkan rumah ini dan diijinkan oleh Papaku untuk tinggal di apartemen" Antares menoleh ke Jenar saat ia tidak mendengar respons dari Jenar.


Jenar terus melangkah pelan ke depan dan tiba-tiba, ia melihat Jenar tersenyum.


Antares kembali merinding dan sontak bertanya, "Siapa yang kau ajak senyum? Hanya ada aku dan kamu di sini? Apa yang, emm, siapa maksudku, siapa yang kau lihat kali ini?"


"Sebenarnya lebih tepat apa. Karena, mereka bukan lagi manusia. Mereka hanya roh. Semua makhluk tak kasat mata itu hanyalah roh" Sahut Jenar tanpa menoleh ke Antares.

__ADS_1


"Oke" Antares masih mampu mengeluarkan kata di saat ia mulai bergidik ngeri.


Jenar Ayu terus melangkah pelan menuju ke teras dan di sana, Jenar masih melihat sosok wanita mungil berwajah keibuan yang duduk di bangku teras dengan pandangan terus terarah ke Antares.


Jenar menoleh ke Antares dengan berkata ,"Wong samar yang ada di depanku dan tengah duduk di bangku teras, terus menatap kamu dengan sorot mata sendu penuh dengan kasih sayang dan kerinduan. Aku rasa, wong samar yang ini, kenal baik sama kamu"


Antares menatap kedua bola matanya Jenar dalam kebekuannya. Setelah beberapa detik membeku di depannya Jenar, Antares kemudian berhasil mengeluarkan suara, "A....apa? Emm, mak........maksudku, ba.....bagaimana ciri-ciri wong samar yang saat ini duduk di bangku teras dan yang sedang menatapku dengan penuh kasih sayang dan kerinduan saat ini?"


Jenar menatap Antares dengan sorot mata sendu penuh keprihatinan saat ia mendengar wong samar itu berkata ke Jenar, "Dia putraku"


"Jenar, kenapa diam dan menatapku seperti itu? Ada apa? A......apa wong samar itu mengatakan sesuatu padamu?" Antares menatap Jenar dengan gugup karena, Antares berharap, wong samar yang ada di depan Jenar adalah mamanya, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih berharap mamanya masih berada di luar sana dan masih hidup.


Jenar bertanya sebelum ia menjawab pertanyaannya Antares, "Apa Mama kamu, ada di dalam rumah?"


Antares menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat dan berkata, "Mama hilang di saat aku masih kecil. Aku terus berharap mama masih hidup dan bahagia di luar sana"


Jenar sontak menoleh ke sisi kirinya ketika ia mendengar wong samar yang masih duduk di bangku teras, menangis terisak dan tangisannya itu terdengar sangat menyayat hati. Kemudian wong samar itu berkata, "Papanya yang sudah membunuhku dengan sangat kejam"


Jenar tersentak kaget dan menatap bangku teras dengan nanar saat ia mendengar kenyataan mengerikan bahwa Rigel Altair, tega membunuh istrinya sendiri.


Antares sontak memegang kedua bahunya Jenar dan bertanya, "Ada apa?"

__ADS_1


Jenar menoleh ke Antares dan setelah menghela napas berat, ia berkata, "Wong samar yang duduk di bangku teras saat ini, adalah Mama kamu. Kamu memiliki Mama bertubuh ramping, mungil, imut, dan berwajah keibuan. Maaf kalau harus aku katakan ke kamu, Mama kamu sudah meninggal dunia"


Antares sontak menoleh ke sisi kanannya dengan derai air mata dan dia semakin erat mencekal kedua bahunya Jenar untuk meminta kekuatan di saat sekujur tubuhnya bergetar dengan sangat hebat.


__ADS_2