
Jenar menoleh ke Antares saat Antares sudah melajukan mobil menyusuri jalan perbukitan untuk berkata, "Aku rasa, kita jangan terlalu percaya sama Om Rafael. Feelingku nggak bagus, nih terkait Om Rafael"
Antares menoleh sekilas ke Jenar sambil berkata, "Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Pertama soal sarang tawon di rumahnya. Aku sudah punya firasat nggak enak soal sarang tawon itu saat kita datang pertama kali ke rumahnya Om Rafael. Lalu, soal kebakaran di gudangnya. Ada kaca pecah dan bau bensin di jendela. Aku rasa, kebakaran di gudang itu bukan kecelakaan"
Antares melirik Jenar, "Untuk apa Om Rafael membakar sendiri gudangnya?"
"Tujuan dia ku rasa wanita yang bernama Mona. Bisa kita ke rumahnya Mbak Mona, dulu?"
"Bisa"
"Lalu.........."
"Lalu, apa?" Sahut Antares sembari meminggirkan mobilnya.
Jenar menoleh ke Antares dan langsung menyemburkan tanya, "Kenapa kau pinggirkan mobilnya?"
"Kamu banyak berpikir saat ini dan aku ingin mendengar pemikiran kamu dengan baik. Kalau sambil nyetir, kan, aku nggak bisa fokus ke kamu"
"Fokus ke aku? Jangan aneh-aneh lagi, Res!" Jenar mendelik ke Antares.
Antares tersenyum geli dan sambil menyandarkan pipi kirinya ke jok mobil, ia berkata, "Aku nggak aneh-aneh. Aku cuma ingin fokus mendengarkan pemikiran kamu. Ayo, lanjutkan kata lalu yang tadi kamu ucapkan!
Jenar menghela napas panjang, lalu berkata, "Lalu, soal garpu dan tawon. Keduanya dipakai oleh pembunuh yang membunuh bocah laki-laki dan anjingnya. Kenapa bisa ada di rumahnya Om Rafael?"
"Kau tahu, Jen. Kamu terlihat sangat seksi kalau serius kayak gitu"
Jenar langsung memukul bahunya Antares dengan cukup keras.
"Aduh! Kok malah dipukul, sih?"
"Karena, kamu aneh-aneh lagi dan aku nggak suka" Jenar melotot ke Antares lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
Antares tergelak geli lalu berkata, "Oke, aku serius sekarang. Aku nggak akan aneh-aneh lagi. Aku rasa kecurigaan kamu sama Om Rafael masuk akal juga. Sekarang kita ke rumah Mbak Mona"
Jenar menoleh ke Antares, "Udah gitu aja?"
__ADS_1
Antares yang sudah melajukan mobilnya menoleh sekilas ke Jenar dan berkata, "Oh! Kamu pengen aku cium, ya? Bentar tak pinggirkan lagi mobilnya"
"Jangan mulai mikir yang aneh-aneh lagi! Maksudku bukan itu"
Antares tidak jadi meminggirkan mobilnya dan menoleh sekilas ke Jenar sambil bertanya, "Lha piye, to?" ( Lha gimana, to?).
"Kamu meminggirkan mobil tadi, itu cuma untuk bilang, aku rasa kecurigaan kamu ke Om Rafael masuk akal juga, ya. Udah gitu aja?" Jenar menatap heran Antares dari arah samping.
Antares sontak tergelak geli lalu berkata, "Lalu, aku kudu piye?" (Lalu, aku harus gimana?).
"Emboh, pikiren dewe!" (Nggak tahu. Pikir aja sendiri) Jenar mendengus kesal.
Antares kembali tergelak geli.
"Dasar gila" Jenar berucap sembari mengarahkan kembali pandangannya ke depan.
"Iya. Aku emang gila. Aku tergila-gila sama kamu" Sahut Antares.
Jenar kembali mendengus kesal.
Alfa terus menghindari wanita yang bernama Stephanie dan memilih terus mendekam di dalam ruangannya. Makan siang pun Alfa lakukan di dalam kantin rumah sakit sampai-sampai koleganya bertanya, "Tumben makan siang di sini. Katanya kamu nggak bis makan di area rumah sakit karena baunya aneh"
"Cewek cantik yang tadi mencari kamu, siapa sih? Aku kira itu pacar kamu"
"Aku nggak begitu kenal sama cewek tadi dan pacarku jauh lebih manis daripada cewek itu" Sahut Alfa sambil menggigit sandwichnya.
Setelah makan siang, Alfa kembali ke ruangannya dan dia memutuskan untuk tidur saat dia lihat jam istirahat masih cukup panjang karena dia cuma makan sandwich.
Alfa bermimpi Jenar datang ke sebuah rumah yang ada sarang tawonnya dan Jenar dikejar seorang pria yang tengah memegang pisau berlumuran darah. Alfa langsung terbangun dengan dada naik turun dan tubuh penuh dengan keringat.
Dokter IGD yang tampan itu langsung membuka tutup gelas dan mengangkat gelas untuk ia tenggak habis air putih bening yang ada di dalam gelas itu. Setelah ia letakkan kembali gelasnya di atas meja, dia mengelus dadanya dengan tangan kiri dan mengelap dahinya yang penuh keringat dengan tangan kanan sambil bergumam, "Kenapa sekarang ini aku kembali bermimpi aneh-aneh?" Alfa lalu mengusap tengkuknya yang juga penuh keringat dan kembali bergumam, "Namun, bedanya sekarang, aku nggak tahu apakah mimpiku akan jadi nyata atau tidak. Kalau dulu, aku tahu mimpiku akan jadi nyata dan aku tahu kapan mimpiku akan jadi nyata"
Alfa kemudian bangkit berdiri dan memilih untuk menangani pasien daripada ketiduran lagi dan bermimpi yang aneh-aneh lagi.
Jenar tertegun di depan mamanya Mona saat mamanya mOna berkata, "Mona pernah pulang dengan keadaan kesal dan saat saya tanya, Mona menjawab kalau Pak Rafael membentak dia dan menyuruhnya pulang"
Jenar melompat masuk ke dalam mobilnya Antares dan bergumam, "Aku takut kalau feelingku benar bahwa Om Rafael kemungkinan besar adalah pelaku semua pembunuhan itu"
__ADS_1
Antares menoleh ke Jenar saat ia memasang sabuk pengaman dan berkata, "Kalau feeling kamu benar kalau Om Rafael kemungkinan besar pelaku semua kejahatan itu, semua pembunuhan itu, lalu kenapa Om Rafael, mempersilakan kita masuk ke dalam gudang dan menyambut kita dengan sangat baik tadi?" Antares lalu melajukan mobilnya saat ia telah menyelesaikan kalimatnya yang cukup panjang.
Jenar spontan berkata, "Kita nggak tahu pola pikirnya seorang psikopat"
Suasana di dalam mobil seketika sunyi dan Jenar langsung menoleh ke Antares saat ia menyadari kalau ia mengucapkan kata psikopat, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud........."
"Nggak papa" Antares menyahut dengan cepat.
"Kamu tidak tersinggung, kan?"
Antares melirik pangkuannya Jenar dan melihat kedua tangan Jenar terkait erat di atas pangkuan. Antares menghela napas panjang laku berkata, "Aku senang kamu peduli dengan perasaanku"
Jenar masih menatap Antares dari arah samping dan bertanya, "Berarti kamu tersinggung, ya?"
"Kalau aku tersinggung, kamu mau bayar rasa bersalah kamu pakai apa?"
"Sial! Kamu beneran tersinggung, ya?" Nada suara Jenar benar-benar merasa bersalah.
Antares meminggirkan mobilnya dan menoleh Jenar untuk berkata, "Aku tidak tersinggung. Cuma, merasa aneh aja ada kata psikopat tadi. Perasaanku selaku aneh kalau aku teringat kembali dengan almarhum Papaku. Dia seorang psikopat. Tapi, sesungguhnya dia mencintaiku. Cuma, dia sakit. Andai saja dulu aku tahu dia bermasalah sejak awal, aku pasti cari cara untuk menyembuhkannya. Jadi, setiap kali dengan kata psikopat, aku selalu teringat sama Papaku dan perasaanku kembali merasa aneh"
Tanpa Antares duga, Jenar mencium pipinya Antares dan saat ia menarik wajahnya dari pipi Antares, gadis manis itu berkata, "Itu tanda maaf dariku"
"Satu kali lagi dong" Sahut Antares sambil mengetuk pipinya.
"Nggak mau. Untuk apa aku cium pipi kamu sekali lagi?"
"Tadi untuk minta maaf. Satu lagi dong untuk meredakan rasa aneh di hatiku, please"
Jenar bisa merasakan kesedihan di dalam dirinya Antares karena di dalam tubuhnya Antares, ada jantungnya Akamu.
Lalu, Jenar menghela napas panjang dan memajukan kembali wajahnya ke pipi Antares dengan perlahan.
Tanpa Jenar duga, saat bibirnya hampir saja mendarat di pipinya Antares, Antares menoleh dan bibir Jenar menubruk bibirnya Antares.
Saat Jenar hendak menarik wajahnya, Antares menahan tengkuknya Jenar untuk mulai mencium lembut bibirnya Jenar dengan penuh rasa cinta.
Jenar terlena dengan ciuman lembut yang diiringi debaran jantung yang sangat indah.
__ADS_1
Antares tidak berlama-lama mencium Jenar. Dia kemudian menarik bibirnya dan mendaratkan bibirnya di kening Jenar sambil berkata di sana, "Kenapa kamu tidak putus saja dengan Alfa. Aku bisa merasakan kalau kamu mencintaiku, Jen"
Jenar seketika mematung.