
Renata terkejut saat melihat pintu kamarnya terbuka. Dia langsung berlari ke pojokan dan mengarahkan pisau buah ke depan sambil berteriak, "Jangan mendekat!"
Rafael terkesiap melihat Renata membawa pisau dan pisau tajam itu mengarah kepadanya. Rafael langsung menghentikan langkahnya dan berkata, "Rena, dengarkan Ayah! Kamu anak cantik dan baik. Jangan dengarkan bisikan Iblis! Jangan turuti napsu jahat kamu! Letakan pisaunya dan berlarilah ke pelukan ayah! Ayah akan bawa kamu ke kota. Kita akan menginap satu bulan di rumah teman Papa. Teman Papa bisa menghilangkan bisikan Iblis yang menguasai kamu selama ini"
Renata menggelengkan kepala sambil berteriak kencang, "Aku nggak mau!!!!"
"Kalau begitu, Papa akan mendekati kamu dan merebut pisau itu dari kamu. Tolong jangan melawan! Papa nggak ingin pisau itu melukai kamu"
Renata melihat langkah pertama ayahnya yang maju ke arahnya, langsung menyeringai penuh arti
"Tapi, perasaanku kok nggak enak, ya?" Antares nyeletuk.
"Aku juga. Aku dapat mimpi lagi beberapa hari yang lalu. Jenar dikejar oleh pria yang bernama Rafael itu. Aku, kan pernah ketemu dengan pria yang bernama Rafael pas aku anter anaknya pulang" Sahut Alfa.
"Sial!" Antares langsung memutar balik mobilnya.
"Apa? Kenapa? Kita nggak ke kantor polisi dulu? Kenapa kamu tampak panik waktu dia bicara soal mimpinya?" Tanya Leo dengan wajah penuh tanda tanya.
"Dia juga spesial. Sama seperti Jenar. Cuma bedanya, dia spesial di bidang mimpi. Mimpinya selalu jadi kenyataan di masa depan" Sahut Antares.
"Sial! Kok aku jadi merinding, nih" sahut Leo.
"Kau bisa telpon polisi sekarang. Aku rasa telepon genggam kamu yang kamu charge di mobil itu, udah cukup daya untuk melakukan panggilan keluar" Sahut Alfa.
"Ah, iya benar.Cerdas juga, Lo"Sahut Leo.
"Kalau nggak cerdas aku jadi satpam nggak jadi dokter" Sahut Alfa.
"Wah, sombong juga, Lo" Sahut Leo.
__ADS_1
Alfa langsung mendengus kesal dan Antares terkekeh geli.
Jenar bergumam kesal, "Kenapa Ares dan Leo nggak bisa aku telpon? Kalau gitu, aku telpon polisi aja"
"Iya. Tadi kami juga dapat telpon dari seseorang uang bernama Leo. Ini kami persiapan meluncur ke rumah Rafael"
"Baik, Pak. Terima kasih" Sahut Jenar.
Jenar melepas headset nirkabel dari telinganya, lalu memarkirkan mobilnya di halaman depan kediamannya Rafael. Rumah besar yang dikelilingi halaman yang sangat luas itu tampak sepi. Tanpa takut, Jenar melangkah turun dari mobil dan melanjutkan langkahnya ke pintu depan rumahnya Rafael
Jenar terkejut saat pintu itu terbuka dan ia melihat wajah Raffael berdarah dan Jenar spontan melangkah mundur beberapa langkah sambil berteriak, "Jangan mendekat Om!" Saat ia melihat Rafael membawa pisau yang ada darahnya.
Rafael terus melangkah ke depan dan sambil mendesis kesakitan, ia berkata, "Tolong telpon polisi! Renata ternyata.........."
"Di mana Renata? Om apakan dia?!" Jenar terus melangkah mundur.
Jenar langsung berputar badan dan berlari saat ia melihat Rafael memperlebar langkahnya.
Rafael berteriak, "Jangan lari ke sana! Renata.........." Bruk! Rafael jatuh pingsan.
Jenar mengabaikan teriakannya Rafael dan saat ia menoleh ke belakang dan melihat Rafael jatuh di atas rumput, Jenar juga tidak berbalik badan untuk menolong Rafael. "Aku harus cari Renata dan menyelamatkan anak malang itu. Untung saja Renata berhasil kabur dari Ayah tirinya yang jahat seperti Iblis" Jenar menghentikan laju larinya saat ia sampai di pintu masuk kebun kopi.
Renata bersembunyi dai balik salah satu pohon kopi yang berada di tengah sambil mendekap pisau buah. Renata mendesis sambil melihat telapak tangan kirinya yang terluka kena pisau buah saat ia dan Rafael berebut pisau itu. Renata berhasil melukai pipi kirinya Rafael, namun telapak tangan kirinya pun tergores. Saat pisau itu terlepas dari tangannya, Renata langsung berlari keluar kemar dan mengambil pisau buah lagi dari atas meja makan yang ia lalui. Kemudian, ia melesat keluar menuju ke kebun kopi milik Rafael.
Rafael mengambil pisau buah dari lantai kamar lalu bergegas berlari kencang menyusul Renata. Namun, sepetinya luka di pipi kirinya cukup dalam. Darah segar terus mengucur dan menyebabkan Rafael melemah dan akhirnya jatuh pingsan sebelum ia berhasil mengejar dan menangkap Renata.
Jenar masuk ke dalam kebun kopi dengan langkah pelan sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru, namun ia belum menangkap sosok Renata. Jenar mulai berteriak, "Rena! Ini Kak Jenar. Di mana kamu?"
Alfa, Antares, dan Leo turun dari dalam mobil secara bersamaan dan mereka sontak berteriak secara bersamaan pula, "Siapa itu?"
__ADS_1
"Apa itu Om Rafael?" Ucap Antares.
"Apa dia sudah mati?" Sahut Leo dengan suara bergetar ketakutan.
Alfa langsung berlari dan bersimpuh di depan sosok pria yang jatuh tertelungkup di atas rumput. Alfa mengecek kondisi pria itu dan berkata, "Ini Rafael. Dia masih hidup"
"Lalu, di mana Rena?" Tanya Leo.
"Sial! Bukankah itu mobilnya Eyang Jaya Dwipa? Apa Jenar ke sini tadi? Sekarang Jenar di mana?" Antares berkata sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dengan wajah panik.
"Ah, iya benar" Sahut Leo.
Antares memegang dadanya dan langsung berlari ke arah timur sambil berkata, "Jenar ada di sana. Aku bisa merasakannya"
"Sial! Kenapa aku harus berada di tengah manusia super kayak kalian. Bikin jantung deg-degan terus" Leo langsung berlari menyusul Antares.
Alfa langsung bangkit berdiri setelah ia selesai menelepon klinik terdekat untuk mengirim tenaga medis ke jalan Arjuna dua blok D. Kemudian, sambil mengumpat kesal, ia berlari kencang menyusul Leo dan Antares.
Jenar kembali berteriak, "Ayah kamu sudah tak berdaya. Keluarlah! Kamu sudah aman, Sayang" Jenar terus melangkah maju dengan pelan karena kebun itu gelap tidak ada pencahayaan sama sekali dan sinar rembulan tidak maksimal memberikan sinarnya. Jenar hanya mengandalkan lampu senter yang ada di telepon genggamnya.
Jenar berteriak, "Astaga!" Saat ia melihat Renata muncul dari balik pohon.
Lalu, Jenar tersenyum lebar dan berkata, "Syukurlah kamu selamat"
Renata berdiri berhadapan dengan Jenar di jarak dua meter. Renata menyembunyikan tangan kanannya yang memegang pisau ke punggungnya. Jadi, Jenar tidak melihat pisau itu.
Saat Jenar hendak melangkah mendekati Renata, ia melihat sosok wanita pucat pasi berdiri di belakangnya Renata dan yang membuat Jenar membeku, dia ingat kalau wanita pucat pasi itu adalah Mona yang beberapa hari yang lalu meninggal terbakar di gudangnya Raafaell.
Jenar seketika kelu saat wanita pucat pasi yang berdiri di belakangnya Renata itu berteriak ke Jenar, "Jangan mendekat!!!!! Anak ini adalah jelmaan Iblis!!!!"
__ADS_1