
Rigel Altair dengan tenangnya makan dan minum di ruangan sel VVIP-nya di saat semua pihak tengah kelimpungan mencari jejak kejahatannya dan di saat semua pihak tengah kebingungan mencari bukti atas kebiadabannya, Rigel Altair tertawa renyah di depan televisi yang ada di dalam sel VVIP-nya.
Uang yang berlimpah, membuat Rigel mampu menyewa pengacara yang handal dan dia yakin sekali, dua hari lagi, dia bisa menghirup udara bebas kembali. Karena, semua bukti kebiadabannya ada di rumah rahasia di rumahnya dan hanya dia yang tahu passwordnya.
Alisnya Antares miring ke atas dan mata terbuka lebar saat ia menuruni anak tangga dengan meraba tembok untuk menemukan saklar.
Byar! Lampu menyala dengan sangat terang saat Antares berhasil menemukan saklar dan memencetnya.
"Ruangan rahasianya Papa, kenapa dipenuhi dengan layar televisi dan alat elektronik canggih seperti ini? Untuk apa semua alat elektronik canggih ini?" Antares berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
Hidung Jenar yang berkerut adalah salah satu indikasi utama dari ekspresi jijik dan di saat yang bersamaan, alisnya juga menurun dan mulutnya terbuka lebar. Jenar juga melebarkan matanya ketika dia menunjuk ke sebuah meja yang ada di pojok ruangan. Jenar mematung berdiri tegak di anak tangga terakhir, sambil bergumam pelan, "A......apa....i.....itu? Ja.....jasad o....orang atau bo....neka?"
Antares spontan menoleh ke Jenar, lalu kedua bola matanya mengikuti arah jari telunjuknya Jenar. Akal sehatnya Antares menginginkan dirinya bisa berusaha untuk sembunyi atau menghindar, namun rasa penasarannya lebih kuat. Rasa penasarannya membuatnya melangkah lurus ke depan dengan langkah pendek tanpa menjawab pertanyannya Jenar dan seketika itu juga, Antares merasakan sekujur tubuhnya mendadak merinding tanpa sebab.
Jenar memilih untuk terus berdiam diri mematung di tempatnya dengan tubuh berkeringat diiringi detak jantung dan napas yang menjadi cepat
Jenar spontan merasakan perutnya seperti mual dan ingin muntah tepat di saat ia mendengar Antares berkata, "A..........aku akhirnya me........menemukan jasad Mamaku, Jen"
Antares kemudian mengeluarkan suara teriakan, "Apa maksud semua ini?!!!!!! Kenapa ada jasad Mama di sini???!!!!" Antares lalu menjerit, "Aaaaaaa!!!!!" Sambil menjambak sendiri rambutnya lalu pemuda tampan itu terengah-engah.
Antares tiba-tiba merasakan sesak napas dan pening di Kepalanya, ketika ia menemukan fakta aneh di depan mata kepalanya sendiri. Dia seharusnya merasa bahagia karena akhirnya dia bisa menemukan jasad mamanya, tapi yang ada, justru kedua lutut Antares melemas. Ketika Antares mulai limbung ke belakang, Jenar spontan berlari dan menangkap tubuh jangkungnya Antares.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian terjatuh di atas lantai dan Jenar langsung memeluk kepalanya Antares di saat Antares menangis histeris dengan wajah tertelungkup di atas pangkuannya Jenar.
Jenar menaikkan alis, melebarkan mata, dan membuka lebar mulutnya, saat ia melihat mamanya Antares menunjuk ke freezer box yang berbentuk persegi panjang sambil berkata ke Jenar, "Ada kaki seorang polisi di dalam freezer ini" Mamanya Antares melambaikan tangannya meminta Jenar membuka freezer box itu.
Jenar melepaskan kepalanya Antares dan berkata, "Kita harus segera memanggil polisi ke sini"
"A....apa? Kenapa?" Antares menatap Jenar dengan mata yang masih dipenuhi dengan air mata"
Jenar mengusap air matanya Antares sambil berkata, dengan sekujur tubuh merinding, "Mama kamu barusan mengatakan ke aku, kalau di dalam freezer box itu, ada kaki seorang polisi"
Mamanya Antares dengan cepat berpindah tempat dan berdiri di depan lemari es untuk berkata, "Di dalam lemari es juga ada banyak potongan tubuh manusia"
Antares refleks mengangkat kepalanya dari pangkuannya Jenar dengan berdesis, "Sssshhhh!!!" Karena pening masih menyerang kepalanya. Lalu, pira tampan itu bertanya, "A.....ada apa? Ma......mama, bilang apa lagi ke kamu?"
Jenar mengatupkan mulutnya untuk berkata, "Di lemari es juga ada potongan tubuh manusia"
Antares menatap Jenar dengan nanar selama dua detik, Kemudian dia bertanya, "A....apa Papaku...........?" Antares tidak sanggup melanjutkan pertanyannya.
Jenar menatap Antares dengan wajah prihatin dan setelah ia menghela napas panjang, Jenar berkata, "Iya. Papa kamu adalah The White Mask yang asli. Mama kamu saat ini memberitahu ke aku kalau topeng putih dan sarung tangan kebanggaan Papa kamu tersimpan di dalam lemari kecil yang ada di bawah peralatan-peralatan elektronik itu"
Antares bergumam lirih dengan wajah menunduk karena rasa kecewa, marah, terkejut, bingung, dan malu menjadi satu, "A....apa Papaku juga yang sudah membunuh Mamaku?"
__ADS_1
Jenar mengusap kepalanya Antares sambil berkata pelan, "Iya"
Antares langsung jatuh pingsan di dalam pelukannya Jenar.
Jenar menghela napas panjang sembari berkata, "Res! Kok malah pingsan? Tubuh kamu berat nih" Jenar lalu merogoh ponselnya Antares yang ada di saku bajunya Antares untuk menghubungi detektif polisi kenalannya Om Handokonya. Setelah menelepon detektif polisi tersebut, ia menelepon Om Handoko dan Eyang kakungnya. Setelah itu dia mengirim lokasinya saat itu via pesan text ke ponsel detektif polisi tersebut dan ke ponsel Eyang kakungnya.
Jenar meletakkan kepala Antares di atas pangkuannya dan dia membiarkan mamanya Antares yang sudah berubah menjadi wong samar mendekat dan mamanya Antares duduk bersila di depan Jenar dan Antares yang masih pingsan. Dengan berlinang air mata, mamanya Antares terus menatap wajah tampan putranya.
Detektif polisi kenalannya Handoko menggelengkan kepalanya setelah ia menerima telepon dari Jenar. Dia kemudian menyerahkan jasad wanita yang ada di danau ke tim forensik lalu ia mengajak timnya untuk menuju ke lokasi yang diberikan Jenar via pesan text.
Handoko dan Eyang kakungnya Jenar segera meluncur ke Lokasinya Jenar Ayu dan Eben Henizer ikut dengan mereka.
Jenar menunggu cukup lama dengan kepala Antares yang masih rebah di atas pangkuannya dan kakinya mulai kesemutan, detektif polisi berlari masuk ke ruang bawah tanah yang mewah itu dan detektif polisi itu tertegun sejenak melihat apa yang nampak di depan matanya.
Jenar langsung berkata, "Di meja pojok itu terbaring jasad Istrinya Rigel Altair dan di dalam freezer box dan lemari es, ada potongan tubuh manusia. Dan satu lagi, ada ponsel di kamar depan yang terbuka pintunya. Ponsel itu berisi bukti kejahatannya Rigel Altair yang telah membunuh Istrinya sendiri"
Detektif polisi segera memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa semuanya dan dia membantu Jenar menyadarkan Antares.
Setelah sadar, Antares dibawa oleh tim medis ke dalam mobil ambulans untuk diberikan. pertolongan oksigen. Jenar masih berdiri di ruang rahasianya Rigel Altair sambil menunggu Om Handoko dan Eyang kakungnya datang.
Jenar bersitatap dengan mamanya Antares dan kedua perempuan itu saling mengucapkan kata terima kasih lewat tatapan mata mereka. Jenar tersenyum lega, akhirnya setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan mengerikan, dia berhasil membalas perbuatan kejinya The White Mask.
__ADS_1