
Jenar terus melangkah mundur dengan kedua tangan yang mulai berkeringat dan tengkuknya terasa begitu dingin. Gadis manis bertubuh ramping berambut hitam panjang sebahu dan lurus nan indah itu, mendapatkan kenyataan baru bahwa manusia bermarga Altair itu lebih menakutkan daripada hantu.
"Kamu ketakutan saat ini. Aku bisa merasakannya di sini" Antares kembali menunjuk dadanya.
Jenar mulai menitikkan air mata, di saat ia menatap anaknya Rigel Altair yang masih terus melangkah pelan ke arahnya.
Jenar menghentikan langkah mundurnya dan setelah mengusap ai matanya dengan punggung tangannya, Jenar bertanya, "Apa kau pernah menjalani operasi cangkok jantung?"
"Iya. Kenapa kau bisa tahu?" Antares menghentikan langkah majunya dan langsung menautkan kedua alisnya di depan Jenar.
"Se......sepertinya, jantung yang ada di dalam dada kamu itu adalah jantung Akamu. Akamu adalah saudara kembarku" Jenar kembali menitikkan air mata di depan Antares yang tampak shock dan membeku.
Jenar kemudian maju ke depan sampai wajahnya berada dekat dengan wajahnya Antares dan dia berucap dengan wajah penuh kebencian, "Kita nggak usah ketemu lagi. Kita nggak usah ketemu di kantin, aku berubah pikiran. Dan camkan baik-baik!" Jenar menusuk dadanya Antares dan kembali berkata, "Aku benci menerima kenyataan bahwa jantung Akamu ada di dalam sini. Kamu nggak pantas menerima jantungnya Akamu dan untuk kenyataan ini, aku membencimu. Aku sangat membencimu dan nggak mau melihatmu lagi" Jenar lalu berbalik badan meninggalkan Antares yang masih tertegun dan membeku. Jenar lalu berlari kecil sembari mengusap ingus dan air matanya dengan punggung tangannya.
Antares tanpa ia sadari, ikutan berlari mengikut arah larinya Jenar. Dia hanya mengikuti instingnya, dia hanya ingin berada di dekat gadis manis itu. Antares berdiri di depan gedung E, gedung Fakultas Hukum karena, ia tidak ingin Jenar berteriak kencang dan mengusirnya jika ia masuk ke dalam. Antares hanya bisa menatap punggungnya Jenar yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya dengan wajah sedih.
Pemuda tampan itu kemudian melengkungkan badannya dan berputar badan untuk kembali ke gedung D, gedung Fakultas Kedokteran. Banyak mahasiswi yang berjalan berpapasan dengan Antares, langsung mengarahkan pandangan mereka ke Antares karena, Antares memang sangat tampan.
Antares yang terbiasa hidup sendirian, kesepian, dan selalu merindukan mamanya yang tiba-tiba menghilang, tumbuh menjadi sosok yang dingin, jarang tersenyum, selain murung, dan tidak pandai bersosialisasi. Alhasil, dia hanya memiliki satu orang teman yakni Alfa. Alfa bisa berteman dengan Alfa karena, Alfa putra dari kolega papanya, karena Alfa juga merupakan nama bintang sama seperti namanya yang juga merupakan nama bintang, karena Alfa anak yang ceriwis dan selalu menempel sama Antares, dan karena Alfa juga anak tunggal. Bedanya, Alfa masih memiliki Mama dan Antares bisa semakin akrab dengan Alfa karena, mamanya Alfa sering mengajaknya makan siang di rumahnya. Antares bisa merasakan kembali kehangatan seorang mama dari mamanya Alfa
__ADS_1
Kamar 13 yang ditempati oleh Jenar memiliki julukan kamar, 'kamar no one gets out alive' dan teman satu kostnya Jenar yang tadi pagi diajak mengobrol sama Jenar, menepuk jidatnya dan bergumam di dalam kelasnya, "Sial! Aku lupa mengatakan ke Jenar soal julukan kamar 13 yang Jenar tempati saat ini. Aku rasa, Jenar harus pindah dari kamar itu sesegera mungkin. Aku harus mencari Jenar sekarang juga" Evita langsung bangku berdiri dari bangkunya dan melesat berlari keluar dari kelasnya untuk mencari Jenar.
Evita terus berlari ke gedung E, gedung Fakultas Hukum dan dia langsung berteriak memanggil Jenar saat ia melihat Jenar berjalan bersama dengan beberapa mahasiswi.
Jenar menoleh ke arah suara dan melambaikan tangannya ke Evita dan temannya langsung pamit meninggalkan Jenar.
Evita langsung membungkukkan badannya dan terengah-engah di depannya Jenar. Jenar langsung membantu Evita untuk menegakkan tubuh sambil bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu berlari kencang banget? Ada yang mengejar kamu?"
Evita mengusap peluh di keningnya, lalu berkata, "Aku lupa kasih tahu kamu soal julukan kamar yang kamu tempati saat ini"
"Oalah Biyung! Cuma lupa kasih tahu julukan kamarku aja, kamu sampai berlari kencang banget" Ucap Jenar dengan senyum geli.
"Kamar tiga belas? Kamar no one gets out alive'? Apa yang pernah terjadi di kamar itu?" Tanya Jenar kemudian dan kali ini, tidak ada senyum geli lagi di wajah manisnya dan Jenar menatap Evita dengan wajah serius.
"Semua mahasiswi yang pernah menempati kamar itu, mati bunuh diri dengan model luka yang beragam. Ada yang lehernya merah karena gantung diri, ada yang pergelangan disayat benda tajam dan.........."
Jenar mengibaskan tangannya di depan Evita sambil berkata, "Ah, itu mungkin karena kebetulan aja penghuni kamar itu adalah mahasiswi yang tengah frustasi. Aku nggak akan bunuh diri, karena aku nggak sedang frustasi, aku waras, aku sehat baik secara jasmani dan rohani. Jadi, tenang saja! Aku nggak akan bunuh diri"
"Tapi............."
__ADS_1
Jenar langsung merangkul bahunya Evita dan berkata sambil mengajak Evita jalan, "Daripada ngobrolin hal yang tidak jelas, kita cari makan siang aja, yuk! Aku traktir kamu karena, kamu udah baik mau berteman denganku dan mau kasih tahu soal kamar kost tiga belas yang aku tempati saat ini"
Evita menoleh ke Jenar dan sambil terus berjalan mengikuti langkahnya Jenar dia bertanya, "Kamu tidak takut?"
"Tidak" Sahut Jenar.
"Kalau kamu menemukan hal yang aneh di dalam kamar kamu, cepatlah berlari keluar ke kamarku!" Evita masih menoleh ke Jenar.
"Oke. Walaupun jarak kamar kita cukup jauh, aku akan berlari kencang ke kamar kamu"
"Iya, kamar kita dipisahkan oleh lima kamar mandi luar dan dapur. Emang cukup jauh, tapi aku minta jangan hentikan laju lari kamu untuk bisa ke kamarku kalau kamu menemukan hal yang aneh di kamar kamu, nanti malam!" Ucap Evita.
"Siap!" Sahut Jenar.
Malam pun tiba, Jenar merebahkan diri di atas kasur setelah ia selesai menyelesaikan semua tugas kuliahnya di hari itu dan menutup laptopnya. Jenar dengan cepat tertidur akibat dari rasa penat di badannya.
Di jam sebelas, ada suara anjing melolong dengan suara yang cukup memilukan, lalu terdengar bunyi alarm di ponselnya Jenar, "Don't be afraid! Your Mother is calling. Aaaaaaaa!" Bunyi alarm suara wanita yang berkata, "Don't be afraid! Your Mother is calling. Aaaaaaaa!" Terdengar menggema berulang-ulang di dalam kamarnya Jenar Ayu dengan sangat keras.
Jenar Ayu akhirnya terbangun dan meraih ponsel yang ada di atas bantal. Jenar langsung mematikan alarm di ponselnya itu, kemudian ia tertegun dan langsung bergumam, "Kenapa ponsel ini bisa pindah ke sini? Aku ingat betul kalau tadi, sebelum tidur, ponsel ini aku ces di atas meja belajar. Aku ingat betul kalau aku tidak memiliki alarm mengerikan di ponselku kayak tadi dan aku tidak memasang alarm. Kalau aku ces, nggak mungkin ponsel ini nyala dan ada alarmnya" Jenar lalu menatap ponselnya dan dia langsung membeku ketika ponselnya yang masih berada di dalam genggaman tangannya tiba-tiba bergetar dan kembali mengeluarkan suara wanita, "Don't be afraid! Your Mother is calling, aaaaaaaa!!!!!!!"
__ADS_1