
Leo langsung bergegas pergi karena ia takut kena sabetan tangan Jenar di bahunya lagi Leo berteriak, "Aku akan menata meja makan.
Antares dan Jenar masih bersitatap dalam kebisuan mereka.
Jenar kembali mereguk sisa kopi lalu meletakkan cangkir kopi kembali ke atas meja yang ada di depannya. Meskipun sudah mereguk habis satu cangkir kopi, bibirnya masih terasa kering. Dan tanpa Jenar sadari, bola matanya bergerak dari wajah tampannya Antares, turun ke dada, perut, menyapu sampai ke pinggul.
Antares sontak bersedekap tanpa mengeluarkan suara.
Tatapan Jenar kembali beralih ke wajah tampannya Antares dan melihat Antares memperhatikan dirinya dengan ketakjuban yang sama.
Merasa canggung dan sedikit kebingungan mencari alasan untuk ekspresi yang terpampang nyata di wajahnya, Jenar mendelik ke Antares dan bertanya dengan ketus, "Apa lihat-lihat?!"
"Hei! Siapa yang lihat-lihat" Dengan senyuman penuh arti, Antares menggeleng.
"Dan kenapa kau bertelanjang dada? Lalu, jins kamu.......Ehem!" Jenar sontak menoleh ke kiri untuk menutupi rona merah di wajahnya?"
"Ini rumahku. Aku terbiasa seperti ini di rumah. Lalu, kenapa dengan jins-ku?" Antares menunduk dan ia melihat celana jins yang ia pakai melorot rendah di pinggul.
Jenar langsung berjalan melewati Antares sembari berkata, "Aku akan membantu Leo menyiapkan meja makan. Aku akan nebeng makan di sini. Jadi, aku rasa aku harus melakukan sedikit bantuan di sini"
Antares terkekeh geli tanpa mengeluarkan suara, lalu ia berjalan ke meja bar mini yang bersebelahan dengan ruang tamu, sambil berteriak, "Kau suka kopi ternyata! Aku akan buatkan kopi yang baru untuk kamu!"
Jenar tidak menanggapi teriakannya Antares dia terus berjalan ke ruang makan rumah itu dan setelah ia menemukan Leo ia mendelik, "Kenapa kau tidak ingatkan aku kalau kamu tinggal serumah dengan Antares?" Sambil duduk.
"Aku pikir kamu sudah tahu. Jadi, untuk apa aku ingatkan lagi" Sahut Leo dengan santainya sambil duduk di meja makan.
Antares datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir kopi hitam bikinannya.
Antares meletakkan nampan itu di atas meja makan sambil berucap, "Aku suka meracik minuman, jadi aku akan buka kafe di halaman samping rumah ini dan pensiun dari dunia model. Aku bosan harus berpose di depan kamera"
Jenar memilih mengambil cangkir kopi dan menyesapnya alih-alih menanggapi ucapannya Antares.
Antares duduk di depannya Jenar dan sambil bersedekap dia terus menatap Jenar.
Jenar meletakkan cangkir kopi dan mendelik ke Antares, "Kenapa melihatku terus seperti itu?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma membalas kamu. Kamu menatapku terus, kan, tadi di depan" Antares tersenyum geli.
Leo menoleh ke kanan dan ke kiri dan sambil mengunyah makanannya, ia berucap, "Kenapa kalian nggak makan? Keburu dingin makanannya"
Antares mengambilkan nasi goreng untuk Jenar dan Jenar menerima piring berisi nasi goreng yang disodorkan oleh Antares dengan canggung.
__ADS_1
"Kau masih suka nasi goreng dengan telur mata sapi, kan? Aku ambilkan telur mata sapinya untukmu" Antares meletakkan telur mata sapi yang dia ambil dengan garpu di atas nasi goreng yang ada di depannya Jenar.
"Aku bisa ambil sendiri" Jenar menatap Antares dengan jengah.
Leo menoleh ke Jenar, "Kenapa kau malu-malu? Kau masih ada rasa sama Ares, ya?"
Jenar menoleh tajam ke Leo dan langsung menyemburkan protes, "Si......siapa yang masih ada rasa? Jangan sok tahu kamu!"
Leo tersedak makanan yang hendak ia telan saat Jenar berteriak di depannya. Leo langsung menenggak air putih dan mendelik ke Jenar. Setelah minum, Leo berkata, "Aku bisa lihat dari wajah kalian. Kalian masih saling suka. Jujur aja, gampang. Hidup kok dibikin ribet" Leo bangkit berdiri sambil membawa piring dan gelasnya yang sudah kosong ke wastafel.
Antares menatap Jenar, "Apa kau pernah ada rasa sama aku? Sedikit aja?"
Jenar langsung menunduk sambil berkata, "Kata Eyang Kakung aku, makan, tuh, nggak boleh banyak bicara. Nanti, tersedak*
Antares tersenyum geli menatap Jenar.
Leo berteriak setelah ia selesai mencuci piring dan gelasnya, "Aku mau tidur! Kalau mau pulang, minta Ares antarkan kamu!"
Jenar refleks mengangkat wajahnya dan saat ia akan meneriakkan protes ke Leo, Leo sudah menghilang. Jenar hanya bisa mendengus kesal.
Antares langsung bertanya, "Kenapa emangnya?"
"Hah? Apa?" Jenar tergagap kaget.
"Aish! Kenapa kau sangat menyebalkan?" Jenar melotot ke Antares.
"Aku? Menyebalkan?"
"Iya! Kau menyebalkan! Kenapa kau muncul dengan badan sebagus itu dan sangat tampan. Kenapa kau tidak muncul dengan tubuh gemuk, perut gendut dan kepala botak?" Jenar mendengus kesal.
Antares sontak tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa tertawa? Nggak ada yang lucu. Dan kenapa kau muncul lagi di depanku setelah apa yang kau........." Jenar tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Antares langsung menghentikan tawanya untuk berkata, "Oke. Aku akan minta maaf lagi untuk semua kebodohanku di masa lalu. Aku janji akan membayar semua kebodohonku itu dengan kebaikan berkali-kali lipat ke kamu" Sahut Antares dengan senyum penuh arti.
"Lalu kenapa kau pergi dari apartemenku, tadi?" Jenar menatap Antares dengan wajah bingung.
"Karena, aku kira itu terkahir kalinya kita bertemu. Aku nggak nyangka kita akan bertemu lagi di sini. Untuk itulah aku akan berjuang mendapatkanmu lagi, Jen. Aku........"
"Kau punya pacar? Atau jangan-jangan kau sudah menikah?" Jenar lanahing memotong ucapannya Antares.
__ADS_1
Antares kembali tergelak geli, dan sambil menggeleng ia berkata, "Aku masih jomblo. Aku tidak pernah berpacaran sejak pergi meninggalkan kamu"
Jenar tersentak kaget, "Jangan bercanda kamu! Nggak lucu, tahu?!"
"Aku serius. Aku selalu menolak wanita yang menyatakan cinta ke aku secantik dan secantik apapun" Sahut Antares.
"Jangan bilang kalau kau masih jomblo dan tidak pernah berpacaran karena kamu........"
"Masih mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu" Sahut Antares.
Jenar langsung bangkit berdiri dan berkata, "Antarkan aku pulang sekarang juga! Maaf aku nggak cuci piring dan gelasnya karena......"
"Oke. Aku mengerti. Aku akan antarkan kamu pulang sekarang juga" Antares berjalan dan menyambar kaosnya yang tersampir di kursi makan.
"Kenapa kau ke sini?" Tanya Antares sembari terus mengemudikan mobil pickup mewahnya.
"Aku ketakutan tinggal di apartemen sendirian. Wong samar yang ada di apartemenku terus jahil dan mereka sangat mengganggu"
"Oh. Lalu, tentang kasus ditemukannya jasad anak kecil dengan anjingnya? Kau sudah menganalisanya?" Tanya Antares.
"Hmm. Aku nggak nyangka kalau akan ada kasus pembunuhan di hari kedatanganku dan kenapa harus ada pembunuh di tempat seindah dan senyaman ini?" Sahut Jenar.
"Iya kamu benar. Semoga pihak berwajib dan timnya bisa segera menemukan pembunuhnya dan membuat penduduk di sini hidup tenang dan damai kembali" Sahut Antares.
Antares melirik Jenar dan berkata di dalam hatinya, aku akan pelan-pelan mendekatimu lagi, Jen. Kalau kamu tidak muncul di sini, aku akan menyerah.Tapi, kamu ada di sini sekarang. Maka aku nggak akan menyerah.Aku akan perjuangkan cintaku.
Antares mengantarkan Jenar sampai ke dalam rumah karena ia ingin bersilaturahmi dengan Eyang kakungnya Jenar dan Om Handoko. Antares yang masih ingin berlama-lama menatap Jenar, meminta diajari ilmu menanam kopi dan teh.Dengan senang hati Eyang Kakungnya Jenar mengajari Antares lewat obrolan panjang dan Antares tersenyum senang. Dia menikmati obrolannya dengan Eyang kakungnya Jenar sembari sesekali melirik Jenar.
Sementara itu, Renata menatap wanita muda yang mulai dekat dengan ayahnya saat wanita muda itu mencuci perabot makan di wastafel
Renata lanahing bertanya dengan sorot mata dingin, "Kau menyukai Ayahku, ya?"
Wanita muda itu terkejut dan sontak berputar badan untuk berkata, "Astaga! Kau mengangetkan Tante Rena"
"Jangan panggil aku semanis itu dasar wanita munafik dan jawab pertanyaanku tadi!" Pekik Renata dengan melotot tajam ke wanita muda itu.
Wanita muda itu mulai merasakan aura aneh di diri Renata dan dia segera berkata, "A...aku tidak menyukai Ayah kamu?"
"Bohong! Kau ingin jadi ibu tiriku, kan? Jangan harap kau akan bisa menjadi ibu tiriku! Aku nggak mau punya ibu tiri! Aku hanya mau hidup dengan Ayahku!!!!!!" Renata berteriak kencang dengan sorot mata siap membunuh.
Rafael yang sedang mengelap meja makan bergegas ke dapur dan bertanya, "Ada apa ini? Kenapa Rena menangis?" Rafael bergegas membuka Renata dan menoleh ke wanita muda yang beberapa hari mulai akrab dengannya.
__ADS_1
Wanita muda itu hendak membuka suara, namun kalah cepat dengan teriakannya Renata, "Dia menyukai kamu Ayah! Dia ingin jadi ibu tiriku! Dia ingin memisahkan aku darimu setelah ia menjadi ibu tiriku"
Wanita muda itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan saat ia hendak membuka suara Rafael yang masih memeluk Renata, langsung berteriak, "Keluar dari rumahku dan jangan pernah ke sini lagi!"