
Jenar tanpa sadar menopangkan tangan di atas tangan Antares yang ada di atas pahanya Antares.
Antares menoleh ke Jenar dan Jenar menoleh ke Antares, "Aku mengirim kekuatan ke kamu"
Antares tersenyum tipis, lalu ia menoleh ke Rafael untuk kembali bertanya, "Terus terang saya sangat kaget, Om. Saya tidak tahu harus bagaimana karena tiba-tiba saja, saya punya adik perempuan yang satu Ayah dengan saya, tapi beda Ibu"
"Sayangi Renata. Dia hadir di dunia ini karena dosa Papa kamu, tapi Renata tidak berdosa. Dia ada karena kesalahan yang diperbuat oleh Papa kamu, tapi Renata tidak bersalah. Renata butuh teman untuk menghilangkan kesedihannya. Dia baru saja kehilangan Mamanya" Rafael menghela napas panjang untuk mengusir kesedihannya.
Antares menunduk sebentar saat ia merasakan punggung tangannya dielus oleh Jenar.
Antares lalu menoleh ke Jenar saat Jenar melemparkan tanya ke Rafael, "Maaf, Om. Kalau boleh kita tahu, Mamanya Renata meninggal karena apa?"
"Istriku. Wanita kuat, manis, dan baik hati itu, meninggalkan aku dan Renata karena tenggelam di kolam renang di saat ia hamil anakku. Istriku dan calon anakku meninggal di kolam renang rumahku. Untuk itulah aku memutuskan untuk pindah ke sini" Rafael tersenyum sedih di depan Antares, Leo, dan Jenar.
"Aku sudah dengar cerita Antares soal Papa kandungnya yang bernama Rigel Altair. Aku tahu betapa kejam dan mengerikannya Rigel Altair. Harusnya aku nggak kaget mendengar dosa yang dilakukan oleh Rigel Altair karena dia bisa melakukan dosa apapun. Tapi, tetap saja aku terpana mendengar fakta baru ini" Sahut Leo.
"Aku juga sama" Sahut Jenar dengan masih mengelus punggung tangannya Antares tanpa ia sadari.
Antares kembali menunduk untuk melihat tangannya yang masih terus dielus oleh Jenar dan dia langsung tersenyum senang tanpa mengeluarkan komentar apapun.
"Om mohon, mulai detik ini, kalian bisa mengakrabkan diri kalian sama Renata. Karena, Renata butuh teman" Ucap Rafael dengan wajah penuh harap.
"Apa Renata tahu kalau saya adalah kakaknya tapi beda Ibu? Apa Renata tahu kalau dia anak kandungnya Rigel Altair?" Tanya Antares.
"Om sudah kasih tahu kalau dia punya seorang Kakak laki-laki. Tapi, Om belum pernah kasih tahu siapa Papa kandungnya Renata. Om sudah terlanjur sangat menyayangi Renata dan tidak tega kalau Renata sampai tahu, ia bukan putri kandungnya Om" Sahut Rafael.
"Lalu, kalau nanti ia tanya, Kakak, kok, bisa jadi kakaknya Renata? Saya harus jawab apa, Om?" Tanya Antares.
"Jawab saja kalau kamu dikirim Tuhan untuk menjadi Kakak laki-lakinya Renata. Sementara begitu dulu aja jawabannya. Om akan cari waktu yang tepat untuk mengatakan ke Renata, siapa Papa kandungnya" Rafael lalu mengambil map yang Antares taruh di atas meja dan sambil bangkit berdiri, ia berkata, "Om harus segera masukkan map ini ke tempatnya karena sebentar lagi, Rena pulang"
Rafael bergegas keluar dari dalam kamarnya dan berjalan kembali ke ruang tamu bertepatan dengan masuknya Renata ke dalam ruang tamu.
__ADS_1
Renata menyapa ramah semuanya, "Hai, semuanya. Aku Renata"
Antares, Jenar, dan Leo sontak bangkit berdiri secara bersamaan dan berputar badan secara bersamaan pula untuk melihat wajah Renata.
Leo dan Jenar saling pandang untuk berkata, "Dia versi ceweknya Ares"
Sementara itu, Antares dan Renata bersitatap di dalam kebekuan mereka.
Rafael langsung berkata, "Rena, ini Kakak laki-laki yang wajahnya mirip dengan kamu"
Renata lalu mendekati Antares dan berkata sambil tersenyum cantik, "Aku senang punya Kakak laki-laki setampan kamu"
"aku juga senang bisa bertemu dengan adik perempuan secantik kamu" Antares berucap sembari mengelus tengkuknya dengan kikuk
Jenar dan Leo terkekeh geli mendengar obrolan pertamanya Antares dan Renata dan melihat Antares yang masih kaku di depan Renata.
Rafael tersenyum senang dan dia langsung mempersilakan tamunya makan malam.
Rafael berkata, "Dulu Om pernah beternak tawon madu. Jadi, Om tahu cara menangani tawon"
"Tawon nggak akan mengusik kita kalau kita nggak mengusik mereka" Sahut Renata.
"Kalau Kak Jenar boleh tahu, jenis tawon apa yang ada di teras depan? Kenapa sarangnya besar banget?"
Renata hanya mengangkat kedua bahunya ke atas dan memasang wajah dingin ke Jenar.
Jenar sontak menautkan kedua alisnya dan bertanya, "Kenapa sepertinya kamu nggak suka sama Kak Jenar?"
"Karena kamu ceriwis" Sahut Renata dengan nada ketus.
Antares dan Leo tersentak kaget mendengar ucapannya Renata ke Jenar.
__ADS_1
Rafael langsung tersenyum dan mengeluarkan suara, "Maafkan Rena. Dia memang tidak begitu suka ditanya-tanya"
"O, begitu. Maafkan Kak Jenar kalau terlalu ceriwis, ya?" Jenar tersenyum ke Renata dan Renata menoleh ke Jenar dengan senyum palsunya.
Antares dan Leo langsung tersenyum lega melihat Renata mau tersenyum ke Jenar dan berguru juga sebaliknya, Jenar mau tersenyum ke Renata.
Renata menahan ujung kaosnya Antares saat Antares hendak masuk ke dalam mobil. Antares menoleh dan bertanya, "Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan ke Kakak?"
"Apa Rena boleh memeluk Kakak?" Renata mendongak dan menampakkan wajah penuh harap yang lugu.
Antares langsung berjongkok dan sambil tersenyum ia langsung memeluk Renata dan berkata, "Kakak akan sering main ke sini untuk menemani kamu. Kakak senang banget punya adik semanis kamu"
Renata menyeringai bukannya tersenyum dan seringaian itu tertangkap oleh kedua bola matanya Jenar. Jenar sontak menautkan alisnya dan berkata di dalam hatinya, Kenapa Renata menyeringai bukannya tersenyum? Ah, mungkin aku salah lihat.
Sementara itu, di tidur pendeknya, Alfa terbangun dengan terengah-engah di atas meja kerjanya. Dia bermimpi dikejar ratusan atau mungkin bahkan ribuan tawon pembunuh yang sangat mematikan .Lalu, di mimpi itu, Alfa terjun ke sebuah danau dan saat ia kehabisan napas, dia terbangun.
Alfa langsung menenggak habis air putih di dalam gelas, lalu bergumam, "Apakah mimpiku kali ini akan jadi kenyataan? Karena entah kenapa, sejak aku jauh dari Jenar dan terus kepikiran hubunganku dengan Jenar lalu, aku sibuk bekerja, aku tidak pernah bermimpi dan kalau toh bermimpi, mimpinya nggak pernah jadi kenyataan"
"Kita antarkan Jenar pulang dulu, ya?" Tanya Antares sambil melihat ke rear-mirror vision.
"Hmm" Sahut Leo yang sudah mulai memejamkan mata karena mengantuk.
Beberapa menit kemudian, Antares memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya Jaya Dwipa dan menemani Jenar masuk.Dan Leo sudah tertidur pulas di jok belakang Saat Jenar membuka pintu dan hendak masuk ke dalam rumah, Antares menahan lengan Jenar untuk bertanya, "Untuk apa tadi?"
Jenar menautkan aslinya, "Apa maksud kamu?"
"Kenapa kau gangguan tanganku dan kamu elus terus tadi?" Antares menatap tajam ke Jenar
.Dan di saat Jenar diam mematung dan membisu, Antares nekat memeluk pinggangnya Jenar dan berkata, "Kenapa kau selalu membuatku bingung dengan sikap kamu ke Aku, Jen?"
.
__ADS_1