Jenar Ayu

Jenar Ayu
Teror Tanpa Jeda


__ADS_3

Alfa teman akrabnya Antares juga memiliki karunia rohani seperti Jenar, namun ada perbedaannya. Karunia rohani yang ada di diri Alfa adalah karunia mimpi. Alfa sering bermimpi dan mimpinya seringkali menjadi nyata. Alfa bisa melihat masa depan. Namun, sama seperti Jenar, di saat Alfa berumur tujuh belas tahun, Alfa masuk ke tahap denial (penyangkalan). Alfa mulai sering mengabaikan mimpinya karena, takut.


Namun, di malam itu, Alfa terbangun dari mimpinya.



Alfa tertegun beberapa detik lamanya di atas kasur kesayangannya dan dia mencoba mengingat kembali semua mimpinya. Di malam itu, dia bermimpi ada seorang gadis manis tengah ketakutan di dalam kamar kost yang ada di jalan Delima nomer lima di dekat kampus tempatnya kuliah di jurusan yang sama dengan Antares Altair. Gadis manis itu dicekik oleh sosok brrmabut panjang dengan lingerie kusut penuh darah dan gadis manis itu akhirnya mati lemas di dalam kamar tersebut


Alfa lalu bergegas bangun dan meraih jaketnya. Dia melompat dari jendela kamarnya yang ada di lantai satu, lalu merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan kunci sepeda motor lakinya saat ia sudah bertengger di atas sepeda motor kesayangannya itu. Alfa langsung melajukan sepeda motor dengan kecepatan di atas rata-rata menuju ke kamar kost yang ada di jalan delima nomer lima.


Jenar langsung melemparkan ponselnya di atas kasur dan melompat turun dari atas kasur sambil terus menatap ponselnya yang terus mengeluarkan suara seorang wanita, "Don't be afraid! Your Mother is calling, aaaaaaaa!!!!!!!" Dan suara wanita itu berulang-ulang menggema di dalam kamarnya.


Refleks Jenar terus melangkah mundur dengan alis yang terus terangkat ke atas dan tengkuk yang terus merasa dingin di saat kedua telapak tangannya berkeringat.


Jenar terus melangkah mundur sampai tumitnya menyentuh dinding dingin kamarnya. Seketika itu, ponselnya berhenti mengeluarkan suara. Kamar menjadi sunyi senyap dan Jenar merinding saat ia mendengar suara mobil yang berada di garasi mobil yang bersebelahan dengan kamarnya.

__ADS_1


Jenar merinding karena, dia tahu kalau ibu kostnya memberikan pengumuman tadi siang, kalau beliau akan pulang kampung selama seminggu dan ibu kostnya Jenar pergi dengan membawa mobil. "Garasi mobil kosong, tapi kenapa ada bunyi deru mesin mobil yang sangat kencang?" Jenar bergumam lirih dan terus merinding.


Ketidaknyamanan dan ketakutan mulai menguasai seluruh indranya Jenar termasuk Indra keenamnya.


Di saat suara deru mobil yang berulang-ulang dan cukup kencang itu akhirnya berhenti, Jenar mengumpat kesal saat ia mendengar suara wanita dan pria yang sedang bertengkar dengan sangat hebat sebagai gantinya. Suara pria dan wanita yang tengah bertengkar dengan sangat hebat itu membuat Jenar muak dan gadis manis itu sontak berbalik badan. Jenar refleks melompat kaget saat ia melihat bayangannya sendiri di depan cermin dinding yang memiliki ukuran berkisar di antara 60-90 cm dalam lebarnya, sedangkan tingginya berkisar di antara 150-180 cm itu, memantulkan bayangannya Jenar. Cermin itu terpasang rapi di dinding kamarnya dan Jenar terus menatap pantulan dirinya di cermin itu.


Alih-alih bergegas berlari keluar dari dalam kamarnya, Jenar justru mematung di depan cermin itu. Jenar menautkan alisnya saat ia melihat bayangan dirinya secara perlahan memiliki poni. Jenar langsung merinding dan sontak mengangkat kedua alisnya ke atas sambil menarik rahangnya ke bawah saat ia melihat pantulan bayangannya tak sesuai dengan dirinya yang asli.


Jenar sontak melangkah mundur dengan perlahan ke belakang, saat ia melihat pantulan bayangannya menyeringai padahal dia tidak sedang menyeringai. Jenar melotot dan dia refleks mengatupkan bibirnya sambil mengerem langkah mundurnya, saat ia melihat pantulan bayangannya justru memejamkan mata.


Jenar mulai terengah-engah saat ia menangkap pantulan bayangannya tiba-tiba memiliki poni yang dengan perlahan, makin lama semakin memanjang dan semakin lama semakin lebat sampai rambut hitam itu, menutupi semua wajahnya. Jenar refleks.menyentuh wajahnua dan dia tidak mendapati ada rambut sehelai pun didepan wajahnya Gadis manis itu mengusap keningnya yang terus berkeringat saat bayangan di cermin, pantulan dirinya yang berambut panjang menutupi wajah itu, melangkah maju di saat Jenar tengah diam mematung.


Saat pantulan bayangannya semakin bergerak maju, Jenar refleks berputar badan dan ia sempat menoleh ke belakang, pantulan dirinya tidak berbalik badan. Pantulan bayangannya terus melangkah maju. Jenar sontak menatap ke depan kembali dan berlari cepat ke pintu kamarnya.


Jenar terisak menangis saat ia tidak bisa membuka pintu kamarnya dan bergumam lirih, "Tolong, biarkan aku keluar!"

__ADS_1


Jenar sontak berputar badan untuk menghadap ke depan saat ia mendengar suara wanita dan pria bertengkar dengan sangat keras di dalam kamarnya. Suara pertengkaran pria dan wanita yang semula ia dengar berada di luar kamar, telah berpindah masuk ke dalam kamarnya dan Jenar semakin terisak menangis dengan punggung menempel ke daun pintu kamarnya, saat ia melihat ada seorang pria yang terus berteriak dan memukuli seroang wanita dengan teriak yang cukup kencang. Jenar melemas kakinya dan saat ia akhirnya terjatuh di atas lantai kamarnya, Jenar langsung memejamkan kedua kelopak matanya dan menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya sambil berteriak kencang, "Hentikan!!!!!!!!Hentikan kalian semua!!!!!!!! Jangan ganggu aku!!!!!!!!!"


Alfa terus menambah gas di tangan kanannya sambil bergumam dibalik helm mahalnya, "Sial! Kenapa aku harus mimpi hal mengerikan dan kenapa aku harus peduli padahal biasanya aku abaikan. Sial! Semoga aku belum terlambat"


Antares Altair tidur di atas lengannya dan sambil terus menatap langit-langit apartemen mewahnya, dia mengelus dadanya dan bergumam lirih, "Akamu, salam kenal. Makasih kamu udah kasih jantung kamu untukku dan makasih kamu menuntunku untuk bisa bertemu kembaran kamu, jadi aku bisa berterima kasih dengan benar nanti di kesempatan kedua. Karena, kembaran kamu galak banget dan aku belum sempat bertema kasih dengan benar di perjumpaan pertama kita tadi"


Jenar Ayu sontak membuka kedua kelopak matanya, saat ia merasakan sesuatu yang sangat dingin sedingin es batu, menyentuh kedua pergelangan kakinya. Jenar langsung berteriak, "Lepaskan kedua kakiku!" sambil menjejak wajah wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya.


Mendapatkan jejakkan kakinya Jenar di wajahnya, membuat wong samar itu semakin mencengkeram erat kedua pergelangan kakinya Jenar dan berkata dengan suara serak, "Kamu tidak mau menolongku menghukum pria yang sudah membunuhku, maka kau harus menemaniku di neraka! Hihihihihihi!!!!!!!"


Jenar berteriak kencang, "Tidaaaakkk!!!!! Lepaskan aku!!!!!! Pergi Kau!!!!!! Enyahlah!!!!!" Dengan isak tangis dan sambil terus menjejak wajah wanita yang wajahnya tertutup penuh rambut panjang berwana hitam.


Teror dari wong samar yang beruntun dan tanpa jeda itu membuat Jenar kelelahan baik secara fisik dan psikis. Rasa lelah yang melemaskan jiwa dan raganya itu, membuat Jenar lupa berdoa.


Wong samar dengan rambut panjang hitam menutupi wajah dan kuku jari yang panjang dan penuh dengan noda darah yang sudah mengering itu, semakin berkuasa atas jiwanya Jenar dan dengan kekuatan penuh, ia menarik kedua pergelangan kakinya Jenar menuju ke balkon kamar. Pintu balkon dengan model digeser itu membuka lebar dengan sendirinya di saat Jenar terus meronta, menjejakkan kakinya ke wajah wong samar itu dengan terus berteriak, "Lepaskan aku!!!!!! Tidak! Jangan tarik aku ke sana! Tidaaakkkk!!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2