
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Jaya Dwipa.
"Aku, sih, menggangapnya biasa. Entahlah kalau Alfa" Sahut Jenar tanpa ekspresi.
"Yeeaaahhh, Eyang nggak akan ikut campur urusan kalian. Tapi, Eyang rasa, kamu putusin aja, tuh, si Alfa. Eyang lihat, kamu juga udah nggak ada rasa sama si Alfa"
"Jenar masih belum bisa ambil keputusan saat ini, Eyang. Entahlah kalau nanti" Sahut Jenar.
"Okelah. Ayo makan! Eyang udah masak sayur kesukaan kamu. Om Handoko juga sebentar lagi pulang"
Jenar bangkit berdiri dan sambil menyeret kaki kanannya yang masih memakai deker, dia mengikuti langkah eyang Kakungnya menuju ke ruang makan.
"Ah! Akhirnya selesai juga kita menutupi tanaman buah kita dengan terpal" Sahut Leo.
Dan saat tidak ada sahutan dari Antares, Leo menoleh dan langsung menepuk bahunya Antares, "Kenapa melamun?"
Antares tersentak kaget, "Jangkrik! Ngagetin aja Lo"
Leo terkekeh geli dan bertanya lagi, "Kenapa melamun? Apa yang kamu pikirkan?"
"Entahlah. Aku merasa jantungku berdebar aneh. Aku merasa kalau bakalan ada peristiwa nggak menyenangkan dalam waktu dekat ini" Antares berucap sembari terus mengelus dadanya.
"Cakep kayak gini, kok, jadi kayak paranormal, Lo. Nggak cocok sama sekali!" Leo mencebikkan bibirnya ke Antares.
Antares mendelik ke Leo dan berkata, "Siapa yang kayak paranormal?"
"Ya, Elo, lah, dasar aneh" Sahut Leo sembari melenggang pergi meninggalkan Antares.
"Apa yang akan terjadi, ya?" Antares masih mengelus dadanya dan dia langsung mengambil telepon genggamnya yang dia letakkan di meja makan, "Halo? Kamu ada di rumah, kan?"
"Kakiku masih belum pulih. Untuk apa aku keliaran di luar hujan-hujan begini" Sahut Jenar.
"Aku cuma merasa aneh. Jantungku berdebar aneh dan aku langsung keinget sama kamu"
"Aku di kamar. Eyang dan Om Handoko juga ada di rumah" Sahut Jenar.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya. Aku baik-baik saja" Sahut Jenar. Jenar memutuskan untuk tidak menceritakan pertengkaran dia dan Alfa ke Antares untuk itulah ia mengucapkan kata aku baik-baik saja.
"Syukurlah. Selamat beristirahat. Aku mencintaimu" Sahut Antares.
Klik! Jenar langsung menutup panggilan telepon itu.
Antares menatap layar telepon genggamnya yang sudah menggelap dengan menghela napas berat dan berucap, "Kapan kamu akan jujur dengan perasaan kamu sendiri, Jen?"
Leo menemui Antares dan menyodorkan secangkir teh lemon hangat ke Antares sembari berucap, "Besok lusa kafe kita mulai buka. Aku nggak sabar ingin segera meracik kopi dan teh hasil kreasi kita. Nanti kalau kafe kita udah jalan, aku ingin beli sapi yang banyak. Aku ingin kita jual susu sapi juga dan membuat berbagai olahan makanan dari susu sapi"
Antares menenggak habis teh lemon hangatnya dan setelah meletakkan gelas di atas meja makan dia berkata, "Aku akan keluar sebentar. Dadaku masih terasa sesak. Aku butuh menghirup udara segar"
"Aku ikut" Leo langsung meletakkan gelasnya di atas meja makan dan berlari kecil menyusul Antares.
Jenar bersandar di ranjang dan melamun di sana. Pikirannya melayang ke semua hal yang telah terjadi di dalam hidupnya beberapa bulan terakhir dan pikiran itu membuat Jenar berulangkali menghela napas berat.
Sekitar jam setengah tujuh malam, Alfa menggelindingkan ban mobilnya di pekarangan rumahnya Rafael. Dan saat ia hentikan mobilnya dan mematikan mesinnya, dia membuka sabuk pengaman dan menoleh ke anak gadis yang duduk di jok samping sambil bertanya, "Bisa buka sendiri sabuk pengamannya?"
Renata menganggukan kepala dan memberikan senyum yang sangat cantik. Lalu Renata berkata, "Om, mampir dulu yuk ke rumah saya. Saya akan kasih sesuatu untuk Om sebagai tanda terima kasih saya" Ucap Renata sambil menatap Alfa dengan binar indah di kedua bola matanya.
Renata memegang ujung kaosnya Alfa lalu menariknya sambil bertanya, "Om, mau nggak masuk dulu ke rumahku? Aku akan kenalkan Om ke Papaku juga. Papaku sangat baik dan ramah orangnya"
"Oke. Om turun sebentar aja, ya" Alfa menuruti permintaan anak cantik yang sangat cantik dan ramah yang dia antarkan pulang malam itu.
Beberapa detik berikutnya, Alfa tertegun saat ia berdiri berhadapan dengan pria yang membukakan pintu.
"Ayah, ini Om yang mengantarkan Rena pulang. Om ini namanya Om Alfa. Dia pacarnya Tante Jenar. Rena bertemu di kedai kopi dan camilan yang ada di ujung jalan"
Rafael tersenyum sangat ramah dan mengulurkan tangannya. Alfa menyambut uluran tangan itu dengan kaku. Alfa masih mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan ayahnya Renata dan benaknya terus bertanya-tanya, kenapa wajah ayahnya Renata tampak tidak asing baginya padahal dia yakin kalau dia baru pertama kali itu bertemu dengan ayahnya Renata.
"Terima kasih banyak, Nak Alfa udah mengantarkan Rena pulang. Nak Alfa mau masuk dulu? Hujan masih turun, tuh. Om akan buatkan teh jahe untuk Nak Alfa"
"Emm, nggak usah Om. Ini sudah cukup malam dan saya masih harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam lagi. Jadi, saya harus segera balik"
__ADS_1
Renata berlari kencang dari arah dalam rumah sambil berteriak, "Tunggu Om! Rena pengen kasih sesuatu untuk Om" Renata berdiri di depan Alfa dan berkata, "Ini untuk Om" Renata memberikan sebuah paper bag mini ke Alfa,
Alfa menerima paper bag mini itu sambil bertanya, "Apa ini? Kok pakai repot-repot segala. Om ikhlas anter kamu pulang, kok"
Rafael mengusap pucuk kepalanya Renata dan sambil tersenyum ia berkata, "Putri saya memang seperti ini. Dia anak yang manis dan selalu berterima kasih kepada siapa saja yang menolongnya dengan memberikan bingkisan seperti ini. Ya, apa kadarnya, sih, tapi tolong diterima biar baiknya Renata, ya, Nak"
"Ah, iya, Om. Saya yang justru merasa nggak enak, nih. Makasih, ya, Rena" Alfa mengelus pipinya Renata.
"Sama-sama Om. Itu camilan untuk Om. Om bisa buka di jalan pas Om ngantuk atau laper nanti" Sahut Renata.
Alfa tersenyum dan sambil menganggukan kepala ia melambaikan tangan, lalu berputar badan untuk masuk ke dalam mobil.
Jenar tiba-tiba merasa gelisah. Dia juga tiba-tiba merasa khawatir karena ia, membiarkan Alfa pergi dalam keadaan marah besar dan di tengah hujan yang sangat deras. Walaupun masih dihinggapi rasa kecewa dan amarah, Jenar memutuskan untuk menelepon telepon genggamnya Alfa, namun yang ada hanya sahutan, "Maaf, nomer yang Anda hubungi berada di luar service area" Jenar menghela napas panjang dan terus mencoba menelepon telepon genggamnya Alfa sambil bergumam, "Semoga kamu sampai di rumah kamu dengan selamat"
Dua jam menempuh perjalanan di tengah rintik hujan dan menyetir di jalanan yang tidak berkelok-kelok, membuat Alfa lama kelamaan merasa ngantuk.
Tanpa berpikiran jelek dan yakin kalau isi paper bag mini pemberiannya Renata adalah camilan, Alfa merogoh paper bag mini yang ada di jok samping dengan tangan kiri dan saat ia meraba ada sebuah toples, dia membuka toples itu dan saat ia angkat tutup toples, dia terkejut dengan suara dengungan tawon yang cukup keras. Dan dia lumayan panik saat ia melihat seekor tawon berjenis aneh yang belum pernah ia lihat di lingkungan sekitarnya, hinggap di dasboard mobilnya.
Tawon itu adalah tawon yang dibawa pulang sarangnya oleh Renata untuk kemudian digantungkan di atap teras depan rumah ayahnya adalah jenis tawon soliter. Tawon soliter adalah tawon yang hidup sendirian di hampir seluruh hidupnya dan menyerang tanpa mengajak koloni.
Alfa seketika ingat akan semua mimpinya. Dia ingat rumah dengan sarang tawon dan ingat kalau wajah ayahnya Renata adalah wajah pria berdarah dengan memegang sebilah pisau yang mengejar Jenar di dalam mimpinya. Alfa langsung mengumpat lirih, "Sial!" Lalu, pria tampan kekasihnya Jenar Ayu itu bergumam lirih, "Kenapa aku bisa lupa tadi. Harusnya aku nggak masuk dan menerima bingkisan ini. Pria itu psikopat dan aku telat menyadarinya"
Alfa yang cerdas, mengetahui bahwa kalau ada tawon di dekat kita, lebih baik diam dan harus melakukan gerakan apapun secara perlahan dan pelan, Suara dan gerakan yang tidak membuat tawon kaget dan menjadi agresif dan jika tawon itu menyerang kita, kita usahakan untuk menghindar karena semakin kita melakukan perlawanan akan semakin membahayakan diri kita sendiri.
Alfa meminggirkan mobilnya di tepi jalan dengan perlahan dan tawon jenis aneh yang belum pernah Alfa lihat di sekitar lingkungannya masih tampak anteng bertengger di dashboard mobilnya.
Alfa kemudian membuka pintu mobil dengan sangat pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari tawon itu. Saat Alfa melihat tawon itu menggetarkan sayap dan tampak ingin terbang menyerangnya, Alfa langsung melompat keluar dari dalam mobil dan dengan cepat menutup kembali pintu mobilnya.
Alfa merinding saat ia melihat tawon aneh itu hinggap di kaca mobil dan seolah terus menatapnya.
Alfa menjambak kesal rambutnya dan mengumpat, "Sial! Semua dompet, uang cash, kartu kredit, kartu debit, dan kunci mobilku ada di dalam dan sekarang mobilku udah terkunci secara otomatis. Gimana caranya aku pulang, nih? Mana jalanan mulai sepi kayak gini. Sial! Dasar tawon sial! Dasar psikopat sial! Kenapa dia suruh putrinya kasih toples berisi tawon ke aku? Dasar pria nggak punya akhlak, dia didik Putri cantiknya mengikuti pemikiran jahatnya yang suka mencelakai orang"
Alfa lalu melangkah ke pinggir jalan dengan wajah kesal. Dia berharap masih ada mobil lewat di jalan itu sehingga dia bisa tertolong dari dinginnya udara yang mulai menusuk-nusuk kulitnya hingga sampai ke tulang-tulangnya.
Lima belas menit berdiri di pinggir jalan dengan sesekali berjongkok, Alfa menghela napas lega dan tersenyum lebar saat ia melihat ada sinar lampu mobil menuju ke arahnya. Alfa langsung melangkah agak ke tengah jalan dan langsung melambaikan kedua tangannya ke atas.
__ADS_1
Alfa tersenyum lega saat ia berhasil menghentikan mobil tersebut.
Namun, seketika ia mematung saat ia melihat sosok orang yang turun dari dalam mobil itu. Alfa justru ingin berlari menjauh alih-alih meminta pertolongan orang itu..................