Jenar Ayu

Jenar Ayu
Ilusi


__ADS_3

Di saat Antares berhasil keluar dari kebekuannya, dia memeluk erat Jenar dan berkata, "Aku juga sangat merindukan kamu, Jen"


Antares lalu mendorong pelan bahunya Jenar untuk bertanya, "Kamu tadi mengatakan, aku merindukanmu atau aku merindukan Akamu?"


Jenar tersenyum manis, lalu ia mengeluarkan suara, "Aku tadi mengatakan kalau aku merindukanmu. Kamu, bukan Akamu"


Antares sontak mengulas senyum semringah dan di saat hatinya membuncah bahagia, ia bertanya, "Serius? Kamu merindukan.....a......aku?"


Jenar menganggukkan kepalanya dan dengan rona malu di wajahnya ia berucap, "Aku gadis yang tidak tahu malu, ya? Mengucapkan kata rindu begitu saja dan........"


Antares langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya Jenar sambil berkata, "Sssttttt! Jangan katakan itu. Kamu gadis yang bermartabat dan manis"


Jenar tersenyum dan berkata, "Aku tahu tanggal ulang tahun kamu dari Papa kamu. Rigel Altair yang memberikan foto kamu ke aku dan dia menyuruh aku menulis tanggal ulang tahun kamu di balik foto kamu itu. Rigel Altair kemudian memintaku untuk terus mengingat tanggal ulang tahun kamu dan memintaku untuk merayakannya. Karena kata Papa kamu, kamu suka kue ulang tahun dan Papa kamu selalu merayakan ulang tahun kamu. Saat aku hendak menemui kamu, kamu menghilang saat itu dan menghilang untuk selamanya. Kamu............"


Jenar menghentikan ucapannya saat ia merasakan Antares melepaskan bahunya dan ia melihat Antares menundukkan wajahnya.


Jenar segera memegang kedua bahunya Antares untuk berkata, "Maafkan aku. Aku membuka kembali luka lama kamu dan.......,"


Antares mengangkat kembali wajahnya untuk berkata dengan pelan, "ni hari Minggu. Mumpung ini hari libur, kamu tidur aja seharian, ya" Antares merebahkan kepalanya Jenar dengan pelan di atas bantal, menyelimuti Jenar dan setelah merapikan rambutnya Jenar, dia bangkit berdiri.


Jenar mencekal lengan Antares dan menarik Antares. Antares jatuh rebah di samping Jenar. Pria tampan itu menahan napas saat ia tidur berhadapan dengan Jenar.


"Jen?" Antares memanggil Jenar dengan suara serak di saat fantasi liarnya akan Jenar, kembali menyusup di benaknya. Fantasi ia berciuman dengan Jenar. Hal yang sangat ingin ia lakukan saat ia bertemu kembali dengan Jenar adalah mengajak Jenar berciuman dan keinginan itu membuatnya terus berfantasi liar akan Jenar. Namun, selama lima tahun, itu hanyalah sebuah fantasi sampai akhirnya dia dihadapkan pada situasi seperti ini. Tidur berhadapan dengan Jenar dengan jarak wajah yang begitu dekat.


"Hmm?" Jenar menatap Antares dengan sorot mata meredup.


"Kenapa kau menarikku? Aku ingin ke dapur membuat teh hangat untuk kamu" Antares masih bersuara serak menahan fantasi liar yang terus menggoda untuk diwujudnyatakan.

__ADS_1


"Temani aku sampai aku tidur. Itu, emm, tidak merepotkan kamu, kan?" Tanya Jenar.


"Tidak. Tapi, posisi kita ini cukup membahayakan. Aku takut kalau aku.........."


"Kau takut Kalau kau menciumku?" Tanya Jenar.


"Kau bisa baca pikiran juga selain bisa melihat wong samar?" Antares menatap Jenar dengan ekspresi kaget sekaligus malu karena pikirannya bisa dibaca oleh Jenar.


Jenar terkekeh geli melihat ekspresinya Antares yang campur aduk. Lalu, gadis manis itu berkata, "Aku tidak bisa baca pikiran orang"


"Ta....tapi kenapa kau bisa tahu apa yang ada di pikiranku barusan?" Antares menautkan alisnya.


Jenar kembali terkekeh geli dan berucap, "Semua tergambar nyata di sorot mata dan wajah kamu"


Antares menghela napas panjang dan setelah ia tersenyum malu, ia berkata, "Aku ingin mencium kamu sejak pertemuan pertama kita di taman setelah lima tahun tidak pernah bertemu denganmu. Tapi, sekarang aku harus menahan diri. Aku tidak boleh mencium kamu, karena kamu udah memiliki Alfa. Aku nggak mau merusak hubungan kamu dan Alfa"


Jenar tersentak kaget. Dia tersadar dari semua impian indahnya untuk bisa kembali bersama dengan Antares. Jenar kemudian mengangkat badannya untuk memunggungi Antares, lalu ia berkata, "Kamu benar. Aku sudah memiliki Alfa. Tidak seharusnya aku mengatakan kata merindukanmu tadi. Maafkan aku"


Jenar yang masih memunggungi Antares, menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan kata apapun.


Antares berjalan keluar dari dalam kamarnya Jenar dengan perasaan campur aduk.


Setelah memuat teh hangat untuk Jenar, ia meletakkan teh tersebut di atas meja makan dan ia kemudian keluar dari dalam apartemennya Jenar tanpa pamit.


Saat Antares hendak membuka pintu, Jenar menubruk punggungnya dan memeluk erat Antares dari arah belakang.


Antares menghela napas panjang dan berkata, "Jen, kenapa kamu menyiksaku seperti ini? Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Kenapa kamu........."

__ADS_1


"Aku mencintaimu" Jenar berkata dengan menempelkan wajahnya di punggungnya Antares.


Antares terkejut bukan main dan dia kemudian bertanya dengan hati-hati, "Apa kamu barusan berkata kalau kamu mencintaiku, Jen?"


Dan jawaban dari Jenar tidak Antares dapatkan. Antares menunduk sedih dan kecewa saat ia sadar bawah itu hanyalah ilusinya. Ilusi itu timbul karena Antares masih sangat mengharapkan Jenar, namun kenyataan yang ada di depan kedua matanya mengharuskan dia harus merelakan Jenar Ayu untuk Alfa. Antares kemudian menghela napas berat sambil membuka pintu apartemennya Jenar dan langsung memesan taksi online untuk pulang.


Jenar kemudian bangun dan melangkah keluar dari dalam kamarnya saat suasana mulai hening. Jenar menuju ke ruang makan dan sambil duduk di depan meja makan, ia menyesap teh hangat buatannya Antares.


Beberapa jam kemudian, Antares sampai di rumahnya dan Leo langsung menyambutnya dengan makanan dan minuman hangat. Leo langsung bertanya, "Kok lesu? Kenapa?"


"Aku harus lupakan Jenar untuk selamanya. Dia sudah memiliki pacar" Sahut Antares.


"Hei,.Bro! Sebelum ada janur melengkung, Jenar masih bisa kau perjuangkan. Kau lihat, kan, tadi Jenar tidak begitu bersemangat menerima telepon dari pacarnya" Sahut Leo.


"Itu karena ia capek. Dia semalaman di jalan sampai pagi tiba masih ada di jalan".sahut Antares.


"Tapi, feelingku mengatakan kalau Jenar tidak begitu mencintai pacarnya. Tunggu saja waktu yang tepat dan rebut dia, Bro!" Sahut Leo. "Kalau kamu lesu dan menyerah kayak gini, aku yang akan bergerak merebut Jenar. Dia gadis yang sangat manis dan aku........."


Antares mendelik ke Leo dan Leo sontak ngakak, lalu berkata, "Aku cuma bercanda, Res"


Jenar yang sendirian di apartemen, mulai diganggu hal-hal aneh. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi cukup nyaring dan saat Jenar mengangkatnya, ada suara, "Kamu benar. Ibukku gila. Tolong aku!.Tolong aku!!!!!"


"Halo siapa ini? Sepertinya Anda.salah sambung" Sahut Jenar.


Dan klik! Orang yang menelepon Jenar mematikan teleponnya sebelum Jenar tahu siapa yang menelponnya.


Lalu ia mendengar bunyi bel pintu. Dia bergegas berlari membuka pintu dan saat pintu terbuka, ia tidak menemukan siapa pun di depan pintu.

__ADS_1


Jenar menutup kembali pintu apartemennya dan ia sontak mencekal erat pegangan pintu berbentuk bulat, di saat ponselnya Kembali berbunyi dan menampakkan nomer yang sama dengan yang sebelumnya menelepon dirinya di beberapa detik yang lalu.


Jenar menatap nanar layar ponselnya dengan degup jantung yang mulai abnormal dan dia semakin tegang saat ia mendengar ada suara.air mengucur deras dari arah kamar mandi yang ada di dekat ruang tamu. Lalu ia mendengar televisi menyala dengan sendirinya di ruang tamu. Jenar menutup kedua telinganya sambil berteriak histeris, "Hentikan!!!"


__ADS_2