Jenar Ayu

Jenar Ayu
Menggoda


__ADS_3

Jenar berucap dengan kikuk dan wajah merona, "Itu karena aku, emm, hanya ingin menenangkan kamu"


"Benarkah begitu, Jen? Lalu kenapa kamu merona dan kenapa kamu tidak berani menatap aku?" Antares melangkah pelan mendekati Jenar dan Jenar melangkah mundur.


"Benar. Tentu saja benar" Tumit Jenar menyentuh tembok di belakang dan ia langsung menahan dada Antares sambi berucap, "Stop!"


Antares meletakkan tangan di kedua sisi kepala Jenar dan berkata, "Kenapa? Kenapa kalau aku sedekat ini denganmu?"


Jenar menunduk dan berkata, "Nggak papa. Hanya saja.........."


"Hanya saja apa?" Antares menunduk dan ia melihat dada Jenar naik turun dengan cepat.


Jenar diam tidak menjawab pertanyannya Antares dan terus menundukkan wajah.


Antares menggeram dan ia mencekal pergelangan tangan Jenar sambil berkata, "Ikut aku!" Antares menarik Jenar di balik pohon besar.


Antares menempelkan punggung Jenar di pohon itu dan dia kembali mengungkung tubuh Jenar sambi berkata, "Apakah sangat sulit untuk jujur pada diri kamu sendiri, Jen?"


"Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti" Jenar menatap Antares dengan sorot mata menantang untuk menyembunyikan rasa cinta yang sudah ada sejak Antares pergi meninggalkannya.


"Kamu mencintaiku. Aku bisa melihat dan merasakannya" Antares berucap sembari menunduk dan mencari bibir Jenar.


Alih-alih mendorong Antares, Jenar memejamkan kedua matanya.


Antares meneruskan aksinya mencari bibir Jenar untuk ia cium. Satu kali kecupan, Antares mengangkat wajahnya untuk melihat reaksinya Jenar.


Jenar semakin merapatkan matanya dan wajahnya tampak menengadah dan menuntut lebih.


Antares kembali mencium bibirnya Jenar. Dia memberikan kecupan-kecupan kecil yang tepat dan saat Jenar membuka bibir, Antares memejamkan kedua matanya dan menyusupkan lidahnya.


Jenar membalas ciuman hangatnya Antares yang lembut dan intens.


Antares melibatkan lidah. Namun, ia tidak menggunakan tangannya sama sekali. Antares masih menjaga Jenar walaupun degup jantungnya semakin cepat dan pikirannya berkabut dikuasai gairah.


Jenar mendorong dada Antares dengan pelan. Dan saat bibir dia dan bibirnya Antares terpisah, dia berucap dengan napas terengah-engah, "Ini salah. Maafkan aku" Jenar lalu berlari meninggalkan Antares.


Seketika Antares mematung. Ia memandang punggung Jenar yang berlari meninggalkannya dengan sorot mata sedih dan rasa campur aduk.


Antares mengusap bibirnya dengan ibu jari sambil berjalan pelan menuju ke mobil.


Leo bangun dan pindah ke jok depan saat Antares membuka pintu mobil.

__ADS_1


Leo bertanya sembari memasang sabuk pengamannya, "Kamu darimana? Kok jalan dari arah belakang?"


Antares melajukan mobil dan berkata, "Habis berpetualang ke Nirwana"


"Hah?! Kau gila, ya?" Leo sontak menoleh ke Antares dengan wajah bingung.


"Iya. Aku gila. Aku memang gila" Sahut Antares.


"Yeeaahhhh, lebih baik aku diam. Kita dengarkan musik saja" Leo langsung menghidupkan tape mobil dan terdengarlah lagu romantis tempo dulu. Lagu kesukaannya Antares.


Leo lalu bertanya, "Kamu itu bartender terkenal. Foto model idola kamu muda. Kamu juga masih muda. Tampan. Kenapa suka sama lagu kayak gini?"


Antares menghela napas panjang. Dia memilih untuk mengikuti penyanyi yang menyanyikan lagu tempo dulu kesukaannya, "Dosakah hamba bermimpi kasih dengan Puan? Ujung jarimu ku cium mesra tadi malam"


Leo mendengus kesal dan berkata, "Dasar gila"


Jenar berguling-guling di atas kasur dan bergumam, "Dasar gila kau Jenar! Kenapa kau biarkan Ares mencium kamu dan kamu balas mencium Ares? Ah! Aku harus gimana mana kalau ketemu Ares besok? Padahal kalau tinggal di sini, aku akan lebih sering ketemu Ares" Jenar lalu menutup wajahnya dengan bantal dan terus bergumam, "Gila, gila, gila!"


Sementara itu, Antares senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya. Lalu, ia merengut kemudian menghela napas panjang dan kembali senyum-senyum sendiri"


"Edyaaannnn!" Leo memekik kaget, saat Leo mengambil bukunya yang Antares pinjam dan lupa dikembalikan ke Leo.


Antares melompat dari atas kasur karena kaget dan ia langsung menoleh ke Leo, "Ada apa? Kenapa kau teriak edyaaannn!?"


Antares langsung menendang pantatnya Leo dan berteriak, "Keluar! Ganggu aja"


Leo keluar dari kamarnya Antares sambil tertawa ngakak dan berteriak, "Jangan senyum-senyum terus! Entar gigi Elo, kering! Hahahahahaha"


Antares terkejut geli mendengar teriakannya Leo. Dia lalu bergumam, "Aku akan tunggu Jenar. Berapa lama pun aku akan menunggunya. Dan mulai besok, aku hanya akan menjadi Antares yang penurut. Aku hanya akan menuruti apa maunya Jenar.


Keesokan harinya, Jenar terlonjak kaget saat ia melihat Antares berada di pelataran rumah eyang kakungnya.


Seketika Jenar mematung. Jenar terpana melihat ketampanannya Antares di pagi itu. Sweater Hoodie berwana navy dipadukan dengan celana jins belel berwarna biru Dongker, membuat Antares tampak sangat menawan.


"Air liur kamu menetes, tuh" Antares menatap Jenar dengan wajah datar.


Jenar refleks mengusap sudut bibirnya.


Antares sontak mengulum bibir menahan tawa dan Jenar langsung mencubit pinggang Antares saat ia sadar kalau Antares hanya menggodanya.


"Wah! Sekarang udah main cubit, nih setelah kemarin ..........."

__ADS_1


Jenar langsung membekap mulut Antares dan berkata, "Jangan bahas soal kemarin! Kalau kamu membahasnya, kita nggak usah bertemu lagi dan nggak usah berteman lagi!"


Antares mengangguk dan Jenar langsung menarik tangannya.


Lima belas menit di perjalanan, mobil Antares sunyi senyap.


Jenar lalu menghidupkan tape mobil tanpa minta ijin terlebih dahulu sama Antares dan Jenar sontak menoleh ke Antares saat ia mendengar lagu romantis tempo dulu.


Antares tersenyum geli dan melirik Jenar lalu berkata, "Itu lagu kesukaanku kalau kamu pengen tahu"


"Aku nggak pengen tahu, kok" Sahut Jenar sembari menyandarkan pelipisnya di jendela mobil dan bersedekap.


"Kalau kamu nggak pengen tahu soal lagu ini, berati tadi, kamu menoleh ke aku, karena masih terpesona dengan ketampananku pagi ini?" Antares kembali tersenyum geli


"Yeeaahhhh, terserah kamu aja" Sahut Jenar acuh tak acuh.


Antares kembali diam membisu.


Sementara itu, Renata dan ayahnya mengikuti lomba lari berpasangan. Murid dan walinya. Renata berkata ke ayahnya, "Yah, Rena pengen punya medali. Kita harus menang, ya?!"


"Kita harus berusaha sebaik mungkin agar dapat medali kalau begitu" Sahut Rafael.


Renata tersenyum senang saat ia dan ayahnya hampir mencapai garis *F**inish**. Namun, tiba-tiba teman Renata yang bernama Rio, menyikut lalu menjegalnya. Renata terjatuh dan Rio yang sampai ke garis Finish*** mendahului Renata.


Rafael membantu Renata berdiri sambil berkata, "Kita juara dua. Lumayan, kan?"


Renata mengabaikan Rafael dengan pandangan terhunus tajam ke Rio. Dia merasa kalau Rio curang dan dia sangat marah saat ia melihat Rio mendapatkan medali.


Saat Rio berjalan sendirian ke pinggir danau yang berada tidak jauh dari halaman belakang sekolahannya Renata, untuk mencari orangtuanya, Renata berlari menyusul Rio dan menarik lengan Rio sampai Rio menghadap ke arahnya.


"Ada apa? Kenapa kau hentikan langkahku?!" Rio tersentak kaget.


"Kau curang dan dengan penuh percaya diri, kau tunjukkan medali itu ke semua orang. Cih! Dasar pecundang!" Renata melotot ke Rio.


"Diamlah! Aku sedang mencari Mama dan Papaku. Tadi, aku lihat Mama dan Papaku berjalan ke danau. Tapi, kenapa sekarang nggak ada? di mana mereka?" Rio mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Renata langsung merebut medali yang ada di dalam genggaman tangan Rio dan mendorong Rio sampai Rio jatuh terjungkal ke dalam danau.


Renata meninggalkan Rio begitu saja saat Rio berteriak, "Tolong aku! Aku nggak bisa berenang!"


Renata terus melangkah kembali ke sekolahan. Dan sambil memasukkan medali yang dia rebut dari Rio, ke dalam saku jaketnya, ia bergumam, "Aku yang seharusnya mendapatkan medali ini bukan Rio"

__ADS_1


Teriakan Rio mulai hilang dan tangan Rio yang terjulur ke atas juga sudah tidak nampak lagi.


__ADS_2