Jenar Ayu

Jenar Ayu
Terpeleset


__ADS_3

Karena bosan berdiam diri tanpa obrolan dan bosan dengan lagu tempo dulu yang diputar berulang-ulang di tape mobilnya, Antares bertanya ke Jenar dan dia memilih topik yang umum dan menarik buat Jenar, "Apakah kamu masih diganggu oleh wong samar?"


Jenar menoleh ke Antares, "Sejak aku tinggal di rumah Eyang, aku merasa damai. Wong samar nggak ada yang muncul di depan lagi. Satu pun nggak ada. Bahkan suaranya aja nggak ada.


"Kok aneh, ya? Kok bisa gitu? Apa karena Eyang Kakung kamu adalah seorang pendeta?"


"Dulu waktu aku tinggal di Jawa Timur, ku masih diganggu wong samar padahal aku juga tinggal dengan Eyang Kakung" Sahut Jenar.


"Benar juga, ya. Lalu kenapa bisa begitu?"


"Nggak tahu. Aku juga nggak mau tahu. Uang penting, hidupku tenang kembali nggak ada gangguan wong samar lagi" Sahut Jenar.


Renata diam saja dan mengabaikan teriakan histeris kedua orangtuanya Rio di saat putra mereka, berhasil ditemukan sudah tak bernyawa.


Ayah Renata menutup mata Renata dan berkata, "Kamu jangan lihat! Dia teman sekelas kamu, kan?"


Renata mematung dan tidak mengeluarkan komentar apapun.


Setelah sampai di rumah, Rafael mengelus rambut Renata, "Ayah pergi mengantar teh dan biji kopi ke toko sebentar, ya?! Ayah sudah nelpon Kak Antares untuk menemani kamu. Bentar lagi Kak Antares nyampe sini"


"Hmm" Renata menganggukkan kepala.


Lima menit setelah Rafael pergi meninggalkan Renata, Mona datang.


Renata yang tidak menyukai Mona karena Mona, sudah mulai genit sama ayahnya, membuat Renata sontak bertanya, "Untuk apa kemari? Ayah pergi ke toko"


"Sayang sekali. Kak Mona bawa spageti kesukaan kalian. Kakak pikir, kita bisa makan bareng di sini"


"Pulang sekarang atau kamu akan menyesal"


"A....apa maksud kamu Rena? Kalau Ayah kamu nggak ada, harusnya kamu senang ada Kak Mona di sini. Kakak akan temani kamu sampai Ayah kamu datang"


"Beneran mau nemenin aku sampai Ayah pulang?" Renata menatap Mona dengan wajah dingin.


"Iya" Mona tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kalau gitu, Kakak mau dong menolongku mengambil sesuatu" Renata tersenyum penuh arti.


"Ambil apa?"


"Ambil lilin terapi di gudang selatan. Gudang itu cukup jauh dan lampu yang menuju ke sana kebetulan mati. Aku takut ke sana karena gelap"


"Untuk apa lilin terapi?" Tanya Mona.


"Aku sama Ayah habis ikut lomba lari tadi. Kakiku capek dan aku ingin hangatkan kakiku ini pakai lilin terapi"


"Oke. Tunggu bentar, ya?" Sahut Mona.


Antares menelpon Rafael, "Om, maaf banget"


"Ada apa? Ada apa dengan Rena?" Tanya Rafael panik.


"Saya belum ke rumah Om. Saya nelpon justru mau kasih tahu Om kalau saya nggak bisa ke rumah Om untuk jaga Rena. Emm, Jenar teman saya kakinya jatuh dari tangga dan terkilir" Sahut Antares.


"Oooo, oke nggak papa. Om juga udah selesai kok. Om dalam perjalanan pulang, nih"


"Baik, Om. Sekali lagi maaf"


Renata mengikuti Mona pelan-pelan. Saat ia melihat Mona masuk ke dalam gudang bersih yang berada di bagian selatan rumah induk, Renata berlari kencang dan mengunci pintu gudang itu dengan pelan dari luar. Lalu, Renata melihat dari kaca. Dia menunggu Mona mengambil lilin terapi dan Prang! Renata memecahkan kaca dan menuangkan bensin dari dalam jeriken ke daun jendela yang terbuat dari kayu dan melemparkan jeriken ke dalam gudang. Bensin yang ada di dalam jeriken terciprat ke tubuh Mona.


Mona berteriak dari dalam gudang, "Apa yang kau lakukan Rena?!"


Sebelum Mona sempat menyadari niat jahatnya Renata, Renata melemparkan satu batang korek api yang menyala ke.dalam gudang dan Mona berteriak panik saat api dengan cepat membesar.dan menyambar bajunya. Renata melihat Mona berlarian ke sana kemari dengan teriakan kesakitan saat tubuhnya terbakar. Renata menyeringai lalu ia menyalakan satu batang lagi korek api untuk ia letakkan di daun jendela. Lalu, ia mundur ke belakang dengan setengah berlari menjauhi gudang yang mulai terbakar hebat.


Teriakan Mona yang begitu menyayat hati, disambut gelak tawa puas oleh Renata.


Rafael segera turun dari mobilnya dan masuk ke pekarangan rumahnya dengan wajah terkejut setengah mati saat ia melihat ada satu mobil polisi, satu mobil ambulans, dan dua mobil pemadam kebakaran dan banyak berkerumun di sana. Rafael bertanya, "Ada apa ini?"


"Gudang di sebelah selatan rumah Anda terbakar, Pak Rafael"Sahut Salah satu warga.


Rafael langsung panik dan sontak berlari masuk sambil berteriak, "Rena! Renata! Kamu di mana?"

__ADS_1


Salah satu petugas kepolisian mendekati Rafael dan berkata, "Tenang, Pak. Putri Anda selamat. Dia ada di ruang makan bersama dengan rekan saya. Tapi, rekan kerja Anda, Mona. Meninggal. Mona hangus di dalam gudang yang terbakar hebat"


Rafael melongo sesaat. Lalu, ia langsung berlari masuk ke rung makan dan langsung memeluk Renata sambil berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja, Sayang"


Renata pura-pura menangis ketakutan di dalam pelukan ayahnya.


Setelah menemani Renata di.kamar sampai Renata tertidur, Rafael keluar dari dalam kamar untuk berbicara dengan petugas kepolisan yang masih menunggunya di ruang tamu


"Apa yang terjadi? Kenapa gudang saya bisa terbakar? Itu adalah gudang bersih. Saya hanya menyimpan barang pecah belah di sana"


"Masih kami selidiki. Kata Renata, Mona bilang kalau dia akan ambil lilin dan korek api. Dia akan mengajak Renata membuat api unggun dan menyalakan lilin terapi. Ada bau bensin di sana dan ada jeriken juga di sana" Sahut petugas kepolisian.


"Saya mohon selidiki lebih jauh lagi soal ini, Pak" Sahut Rafael.


"Baiklah, Pak. Kami permisi dulu" Petugas kepolisian menyalami Rafael dan pamit pulang.


"Gimana? Masih sakit?" Tanya Antares setelah ia selesai menarik dan memijit pergelangan kaki Jenar yang terkilir.


Jenar menggerakkan pergelangan kaki kanannya dan tersenyum, "Kamu pinter. Udah nggak begitu sakit"


Hap! Antares membopong Jenar dan Jenar langsung berteriak, "Res! turunkan aku!"


"Walupun udah nggak begitu sakit. Tapi, itu baru pertolongan pertama dan kaki kamu belum boleh buat jalan dulu!. Makanya aku gendong" Antares berjalan ke parkiran mobil.


"Jangan sok tahu! Ini bukan modus kamu, kan?" Jenar mendelik ke Antares.


"Aku dulu pernah kuliah kedokteran. Aku sedikit tahu soal otot dan jangan Ge-Er! Aku nggak sedang modusin kamu" Antares mendudukkan Jenar ke jok mobil dengan perlahan.


Jenar mendengus kesal dan saat Antares masuk ke mobil, Jenar menoleh, "Lalu, kita ke mana? Jangan ke rumah sakit! Aku nggak mau ke rumah sakit"


"Kalau ke rumahku, mau?" Antares memasang sabuk pengaman sembari menoleh ke Jenar dengan senyum jahil.


"Jangan bercanda!".Jenar menepuk bahu Antares.denhan cukup keras.


"Aku akan ke apotik kalau gitu. Beli deker kaki dan salep juga obat anti memar. Otot kamu cuma memar. Untungnya nggak parah. Kok bisa, sih, kamu terpeleset di tangga?"

__ADS_1


Jenar diam mematung dan memilih menatap ke depan.


Jenar tidak ingin Antares tahu kalau ia mengejar Alfa yang ditarik pergi oleh seorang wanita cantik. Namun, karena terpeleset, ia gagal mengejar Alfa.


__ADS_2