
Yoga tiba-tiba menjerit, "Sakiiitttt! Jangan cakar aku!!!!" Dia spontan mendelik ke Jaya Dwipa dan Jenar.
"Kenapa kamu berteriak? Aku dan Jenar tidak mencakamu" Jaya Dwipa menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya.
Jaya Dwipa dan Jenar bersitatap karena, baru pertama kali itu, keduanya tidak bisa melihat wong samar yang menganggu Yoga.
Yoga sontak melepaskan lengan atasnya Jaya Dwipa dan wajahnya tampak semakin ketakutan, alisnya terangkat ke atas, kedua bola matanya melotot dan napasnya terengah-engah saat ia melihat bayangan hitam mengitari dirinya dan terus mencakar lengan bawah, punggung tangan, dan lengan atasnya. Yoga menjerit, lalu melangkah lebar mundur ke belakang untuk berusaha menjauh dari bayangan hitam itu sambil berteriak, "Lepaskan aku! Aaahhhhhhh sakit, sakiiiittttt!!!!! Jangan cakar aku!!!!!!"
Bayangan hitam itu terus mengejar Yoga dan terus berlari cepat mengitari Yoga sambil mendaratkan beberapa cakaran yang terasa sangat pedih dan perih. Yoga mulai berlari kecil mundur ke belakang tanpa memperhatikan apa yang ada di belakangnya karena, ia masih fokus menepis bayangan hitam yang terus mencakarnya sambi menjerit tiada henti, "Pergi!!!!!! Jangan ikuti aku!!!!!! Aaahhhhh, jangan cakar aku!!!!!!!!" Sakiiiittttt!"
Jaya Dwipa terus mengejar Yoga dan berteriak, "Yoga jangan lari! Berhenti dan dengarkan aku!"
Namun, Yoga tidak bisa mendengar suaranya Jaya Dwipa dan dia terus berlari mundur dan di saat Yoga hendak jatuh tercebur ke air, Jaya Dwipa langaung menari tangan sahabatnya dan dia langsung memeluk erat sahabatnya itu saat Yoga meronta dan terus berteriak, "Lepaskan aku! Jangan sakiti aku!Lepaskan aku!" Jaya Dwipa mengelus punggungnya Yoga dengan terus berbisik, "Jangan takut! Sadarlah! Ini aku, sahabatku. Aku Jaya Dwipa"
Jenar Ayu yang berhasil menyusul eyang kakungnya, langsung menggenggam tangannya Yoga sambil berteriak, "Om Yoga! Ini Jenar Ayu!" Yoga langsung tersadar. Yoga memeluk erat Jaya Dwipa dan menangis sesenggukan di sana sambil bergumam lirih, "Tolong aku, Jaya! Tolong!" saat ia melihat bayangan hitam berlari kencang ke arahnya.
"Mintalah maaf dengan tulus! Ucapkan kata maaf dan bilang kalau kamu tidak akan mengulanginya lagi! Aku tidak bisa menolongmu karena, aku tidak bisa melihat makhluk apa yang kamu lihat. Cepat mintalah maaf!" perintah Jaya Dwipa.
Yoga yang terpaut lima belas tahun dengan Jaya Dwipa itu, langsung bersimpuh di atas rumput dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu segera berucap,"Maafkan saya! Saya tidak akan main-main lagi! Saya tidak akan penasaran lagi! Saya tidak akan mengulang kebodohan say lagi!" Dan bayangan hitam yang tengah berlari cepat ke arahnya langsung menguap hilang.
Yoga langsung bernapas lega saat ia bangkit berdiri.
Jaya Dwipa langsung mendelik dan bersedekap di depan Yoga, "Untuk ke depannya, jangan main-main lagi di sembarang tempat!"
Yoga yang masih berkeringat deras dan masih terengah-engah, hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk menanggapi nasehatnya Kaya Dwipa.
Saat melihat putra tunggalnya akhirnya tertidur lelap, The White Mask, Rigel Altair merasa kesepian. Dia merindukan Istrinya Dia menatap jasad Istrinya yang sudah ia dandani dengan cantik. Rigel terus menatap jasad istrinya dengan wajah datar dan sorot mata dingin. Kemudian, tepat di jam sebelas malam, predator yang lebih buas daripada hewan liar di luar sana itu, memutar badan untuk masuk ke dalam lorong. Dia berlari dan melesat keluar dari dalam lorong ruang rahasianya untuk masuk ke dalam mobil pickup-nya.
Rigel memutuskan untuk mencoba pergi ke sebuah klub malam Dia ingin melihat kehidupan di klub malam yang belum pernah ia lihat sebelumnya. DIa pria yang sangat tampan dan outfit mahal yang dia kenakan mengundang seorang wanita muda mendekati mejanya. Rigel meringis kegirangan melihat seorang wanita muda duduk di depannya.
__ADS_1
"Hai, tampan! Kamu sendirian di sini?" Tanya wanita muda dengan balutan dress mini seksi berwarna merah menyala. Dengan makeup tebal, wanita muda itu mengulas senyum menggodanya.
"Apa pekerjaanmu?" Rigel bertanya dengan wajah dingin dan datar.
"Aku primadona di sini. Aku penyanyi, tapi bisa dibawa pulang jika kau menginginkan aku"
Tidak bisa dipungkiri kerinduannya akan istrinya yang belum bisa dia cerna dengan baik, membuatnya merasa haus akan kehangatan seorang wanita.
"Apakah kau bersedia ikut aku pulang?" Tanya Rigel kemudian.
"Katakan dulu apa pekerjaanmu dan apakah kamu punya Istri! Karena, aku nggak ingin dijambak oleh Istri kamu kalau kamu membawaku pulang ke rumahmu malam ini dan aku perlu tahu pekerjaanmu karena, aku takut kalau kamu nggak akan mampu membayarku. Hargaku sangat mahal" Sahut wanita muda itu.
"Aku dokter spesialis bedah di rumah sakit ternama" Sahut Rigel Altair.
"Boleh aku lihat tanda pengenalmu? Aku hanya ingin memastikan kalau kamu bukan orang kere" sahut wanita seksi itu.
Seketika itu pula,.Rigel membenci wanita di depannya. Dia menatap tajam wanita itu, lalu ia keluarkan tanda pengenalnya.
Lalu, Rigel mengajak wanita seksi itu bangkit berdiri dan wanita seksi dengan makeup tebal itu tersenyum lebar saat ia melihat mobil pickup-nya Rigel, "Wah, mobil kamu bagus banget. Mobil mahal,.nih"
Rigel mengabaikan ocehan wanita malam itu karena, dia ingin segera membawa wanita itu pergi ke tempat yang sepi.
Rigel menghentikan mobil kesayangannya yang selalu setia menemaninya berkarya itu, di tengah kebun pohon jati.
Wanita muda itu menoleh ke Rigel dan langsung menyemburkan protes, "Kenapa berhenti di sini? Katanya mau mengajakku pulang?"
"Aku lupa bilang kalau aku punya Istri dan Istriku menungguku di rumah. Aku tidak ingin Istriku melihat kamu" Sahut Rigel dengan sorot mata dingin dan tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Rigel melepaskan sabuk pengamannya dengan kasar, lalu ia mengambil sarung tangan dari dalam kotak dashboard.
Wanita seksi itu langsung bertanya, "Kenapa kamu memakai sarung tangan?"
__ADS_1
Rigel menoleh ke wanita seksi yang duduk di sebelahnya, lalu ia menyeringai dan berucap, "Aku ridak pernah menyentuh wanita seperti kamu, jadi aku rasa aku harus memakai sarung tangan"
Wanita muda itu langsung melompat naik ke atas pangkuannya Rigel dan berkata sambil membelai wajah tampannya Rigel, "Kamu unik. Aku suka. Kamu juga tampan, sangat tampan. Baru kali ini aku punya klien yang sangat tampan" Lalu ia mulai mencium bibirnya Rigel dengan lipstick murahannya.
Rigel diam membeku, dia tidak menyukai rasa lipstick karena, Maria istrinya tidak pernah memakai lipstick setiap kali mereka bercinta dan Maria tidak pernah memakai lipstick setiap kali mereka berciuman. Rigel merasa mual dengan rasa lipstick di bibir wanita itu dan sontak ia mendorong kasar wanita yang ada di atas pangkuannya.
Wanita itu tersentak gaet dan bertanya, "Kenapa? Kamu lupa bawa alat pengaman? Aku bawa di dalam tasku"
Alih-alih menjawab pertanyaan wanita dengan lipstick merah menyala itu, Rigel mengusap kasar bibir wanita seksi itu dengan wajah kesal.
Wanita seksi itu tersenyum lebar. Dia justru senang diperlakukan kasar dan bertanya, "Kamu benar-benar unik. Kamu tidak suka rasa lipstick yang aku pakai, ya?"
Rigel diam membisu saat ia bersitatap dengan wanita yang masih duduk di atas pangkuannya
Wanita muda nan seksi itu tergelak geli dan tawanya membuat Rigel spontan menggeram kesal. Rigel langsung membanting wanita itu ke jok di sampingnya dan dengan kasar dia memperkosa wanita itu. Dia mengabaikan teriakan, "Jangan seperti ini! Sakit! Hentikan! Jangan begini! sakiiiittttt!" Isak tangis mulai terdengar di dalam mobil pickup-nya Rigel.
Setelah puas melampiaskan kerinduannya akan kehangatan seorang wanita, Rigel langsung membungkam mulut wanita yang masih ia tindih sambil mengambil pisau lipat yang selalu dia simpan di dalam saku celananya. Wanita muda itu mengangkat kedua alisnya ke atas, Kedua bola matanya melotot tajam, degup jantungnya berdetak sangat kencang, dan dia mulai meronta-ronta dan berteriak di dalam bungkaman tangan kekarnya Rigel, saat Rigel menghujamkan pisau lipatnya di lehernya, lalu menyayat wajahnya, dan terus menghujamkan pisau lipat itu dengan membabi buta sampai wanita yang ia tindih terkulai lemas dan akhirnya mati.
Rigel membuka pintu mobil pickup-nya dan melempar keluar begitu saja jasad wanita yang bersimbah darah itu. Lalu ia menutup kembali pintu mobilnya dan ia segera pindah ke jok kemudi setelah ia melepas alat pengaman dan mengikatnya. Rigel menjalankan mobil pickup-nya menuju ke jalan besar dan dia turun sebentar untuk membuang alat pengamannya ke parit.
Dia kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar kawasan sepi itu. Berjalan sendirian di gelapnya malam membuat Rigel berpikir apa yang akan dia lakukan pada putra tunggalnya. Dia ingin Antares meneruskan karya seninya, namun insting alami yang ada di dirinya sebagai seorang ayah, .melarangnya melakukan hal mengerikan itu ke Antares. Di saat ia melihat ke seberang jalan dan melihat ada seorang wanita muda berjalan sendirian di sana, Iblis yang bersemayam di dalam dirinya Rigel melonjak girang. The White Mask menjadi benci pada wanita yang berjalan di malam hari sejak dia bercinta dengan wanita malam yang telah ia bunuh beberapa jam yang lalu Karena, bagi dia, wanita itu adalah wanita yang menjijikkan. Rigel menyeringai sambil mengambil topeng putih yang ada di balik jaket Hoodie hitamnya. Dia memakai topeng putih itu, lalu menaikkan tudung di jaketnya untuk menutupi wajahnya yang bertopeng. Dia menyebrang jalan dan terus mengikuti wanita muda yang berjalan sendirian di tempat yang sepi.
Wanita muda itu bisa merasakan kalau dia diikuti oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang dan tersentak kaget saat ia melihat topeng putih di balik tudung Hoodie. Wanita itu berputar badan untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah manusia dan ujian hantu. Saat ia melihat sosok bertopeng putih dengan tudung Hoodie semakin dekat, ia segera berputar badan kembali dan berlari kencang, sekencang-kencangnya.
Sejak meninggalnya Maria dan sejak ia bercinta dengan wanita malam, Rigel Altair di beberapa menit yang lalu, memiliki selera baru. Dia menjadi haus akan sosok wanita malam.
Di jalan setapak yang sepi dan hanya terdengar suara jangkrik disertai hembusan angin malam, The White Mask yang berhasil mengejar wanita muda itu, langsung melingkarkan lengannya di leher wanita muda itu dari arah belakang, lalu mencekik leher wanita muda yang bernasib sial itu, dengan lengan kekarnya. Setelah wanita muda yang ia temukan berjalan sendirian di sepinya malam terkapar lemah di atas tanah. The White Mask melampiaskan rasa jijiknya pada wanita yang berjalan di tengah malam dengan menyiksa wanita itu. Dia hujamkan pisau lipat yang selalu ia bawa dan selalu dia simpan di dalam saku celananya ke seluruh tubuh wanita itu sampai wanita itu meregang nyawa dan mati.
Rigel mengusap pisau lipatnya dengan sarung tangannya, lalu ia berjalan menuju ke mobilnya kembali dan membuang sarung tangannya di tempat yang cukup jauh dari kedua jasad wanita malam yang sudah menjadi mangsa karya seninya
__ADS_1
Jenar Ayu memutuskan untuk kembali ke Jakarta saat usianya menginjak delapan belas tahun. Dia ingin berkuliah di Jakarta. Jaya Dwipa akhirnya mengantarkan Jenar Ayu ke Jakarta