Jenar Ayu

Jenar Ayu
Nyata


__ADS_3

"Kenapa Yoga nggak balik-balik ke sini?" Gumam Jaya Dwipa.


"Mungkin mobilnya belum ditemukan oleh Om Bayu, Eyang" Sahut Jenar Ayu.


"ngomong-ngomong pemirsa, Kakek yang kalian sebut tadi, apa masih ada di sekitar kita" Tanya bapak tukang tambal ban"


"Masih" Sahut Jaya Dwipa dan Jenar Ayu secara bersamaan.


"A.....apakah Kakek ma....masih menatap saya?" Tanya bapak tukang tambal ban itu


"Masih" Sahut Jaya Dwipa dan Jenar Ayu secara bersamaan.


Bapak yang berprofesi sebagai tukang tambal ban itu semakin erat mencekal lengan atasnya Jaya Dwipa dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan.


Jaya Dwipa menepis pelan tangan bapak tukang tambal ban itu dengan kata, "Maaf, Pak, saya harus menyusul teman saya si Yoga. Perasaan saya tiba-tiba nggak enak dan hati kecil saya menyuruh saya untuk menyusulnya"


"Sa......saya bo.....boleh ikut" Sahut bapak tukang tambal ban itu.


"Boleh. Kalau begitu, Jenar juga harus ikut. Eyang nggak tenang meninggalkan kamu sendirian di ruangan ini" sahut Jaya Dwipa.


Jenar akhirnya melompat turun dari bangku dan mengikuti langkah eyang kakungnya.


Jenar, Jaya Dwipa dan bapak tukang tambal ban, berjalan ke belakang dengan sikap waspada. Mereka mencari keberadaan mobil sedan berwarna oranye. Namun tiba-tiba, Jenar menarik ujung kaos putih yang dikenakan oleh eyang kakungnya di siang hari itu.


.

__ADS_1


Jaya Dwipa mengerem langkahnya dan menoleh ke Jenar dengan tanya, "Ada apa?"


"Anak kecil itu muncul lagi Eyang. Dia melambai-lambai meminta Jenar mengikutinya segera. Namun Kakek itu melambai-lambai mengajak Jenar ke arah yang lain. Gimana ini Eyang?" sahut Jenar.


"Iya, Eyang juga lihat" Sahut Jaya Dwipa.


Bapak tukang tambal ban yang berdiri di sisi kirinya Jaya Dwipa, kembali gemetar ketakutan dan langsung mencekal lengan atasnya Jaya Dwipa dengan kata, "Sa......saya takut"


"Apa Bapak bisa menjaga Cucu saya?" Jaya Dwipa menepis pelan tangan tukang tambal ban saat ia menoleh ke samping kirinya


"Bi....bisa" Sahut Bapak tukang tambal ban itu dengan suara gemetar.


"Kalau gitu, kita pisah, ya?! Saya mengikuti anak kecil itu dan Bapak menemani Cucu saya ke Kakek Anda" Sahut Jaya Dwipa.


Jaya Dwipa menghela napas panjang, laku berucap, "Oke, kita ikuti anak kecil itu dulu barulah kita ikuti Kakek itu" Jaya Dwipa menoleh ke sosok tak kasar mata yang berwujud kakek tua, "Kek, tunggu sebentar, ya?!"


Bapak tukang tambal ban semakin merinding dan gemetar ketakutan saat ia menoleh ke arah yang sama dengan Jaya Dwipa dan mendengar ucapannya Jaya Dwipa, karena dia tidak melihat apapun di sana"


Jenar Ayu lalu mengikuti langkah eyang kakungnya dengan waspada sementara bapak tukang tambal ban kembali mencekal lengan atasnya Jaya Dwipa dengan wajah ketakutan. Bapak tukang tambal ban itu terus menatap lurus ke depan dan tidak berani menoleh ke kanan atau ke kiri, karena dia takut jika tiba-tiba ada makhluk astral yang menampakkan diri di depannya.


Antares makan di depan papanya. Dia hanya makan susu dan sereal. Dia tidak sarapan dengan sayur dan lauk bergizi masakan mamanya, karena mamanya menghilang.


"Pa, Antares libur hari ini. Antares boleh ikut Papa ke kantor Papa? Antares takut sendirian di rumah"


Rigel Altair menganggukkan. kepalanya tanpa mengeluarkan. suara. Dia menyetujui permintaannya Antares, karena ia juga tidak ingin Antares mencari mamanya di seluruh penjuru rumah dan berkahir di ruang rahasianya Rigel menyimpan jasad istri mungilnya yang berwajah lembut di dalam ruang rahasianya. Sementara itu, bukti kejahatannya Rigel Altair yang ada di dalam ponselnya Maria, belum dijamah oleh siapapun. Ponselnya Maria masih aman berada di tempat tersembunyinya

__ADS_1


Antares ikut papanya ke kantor papanya dan duduk sendirian di ruang kerja papanya saat papanya pergi ke ruang operasi. Operasi yang memakan waktu cukup lama, membuat Antares yang menunggu cukup lama di ruang kerja papanya kembali teringat akan mamanya dan dia menangis sesenggukkan di saat ia merindukan mamanya dan dia tidak mengetahui ke mana mamanya pergi dan kenapa mamanya pergi meninggalkannya. Anak tampan yang masih berumur dua belas tahun itu merasa kalau dia anak yang nakal da rewel dan oleh karena itu, mamanya pergi meninggalkan dia.


Jenar tiba-tiba mencekal dadanya dan menangis sesenggukkan. Jaya Dwipa langsung berjongkok di depan Jenar dan bertanya, "Ada apa? Kenapa cucu cantiknya Eyang menangis dengan tiba-tiba seperti ini?" Jaya Dwipa berucap sembari mengusap air mata di kedua pipinya Jenar


Bapak tukang tambal ban langsung ikutan berjongkok dan bertanya, "Apa ada sosok lainnya lagi selain anak kecil dan Kakek saya di sekitar kita?"


Jenar menggelengkan kepalanya dan berkata, "Akamu menangis, Kek dan Jenar bisa merasakannya"


Jaya Dwipa langsung memeluk cucu cantiknya itu dan berkata sambil mengelus punggungnya Jenar, "Kita doakan Akamu tenang dan tidak menangis lagi"


Tiba-tiba bapak tukang tambal ban berteriak, "Di sana! Ada mobil sedan berwarna oranye di sana!"


Jenar mengusap air mata di pipinya dan dengan masih terisak, dia mengikuti lagu lari eyang kakungnya yang disusul oleh bapak tukang tambal ban


Di sana Jaya Dwipa menemukan bagasi mobil terbuka lebar, namun kosong. Jaya Dwipa langsung menelepon polisi dan saat Jaya Dwipa menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya, ayang Kakungnya Jenar Ayu itu, melihat sosok anak kecil melambaikan tangan dan Jaya Dwipa langsung berlari mengikuti sosok anak kecil yang tak kasat mata itu. Jenar dan Bapak tukang tambal ban ikutan berlari kencang menyusul Kaya Dwipa.


Mereka tertegun saat mereka melihat ada seorang pria jangkung berdiri di depan sebuah bangku kayu dan di atas bangku kayu tersebut, Yoga diikat kencang. Jaya Dwipa langsung berteriak, "Lepaskan temanku!"


Sosok pria jangkung yang berdiri di depan Yoga dengan memegang balon kayu yang cukup enak dan panjang, langsung menoleh ke belakang dan segera berputar badan untuk menghadapi Jaya Dwipa


Teriakannya Jaya Dwipa membuat Yoga terbangun dari pingsannya. Dan di sebelah Yoga, tergeletak kain kafan putih dan ada sosok anak kecil di dalamnya.


Bapak tukang tambal ban semakin merinding saat ia.melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa apa yang diucapkan oleh Jaya Dwipa dan Jenar Ayu terbukti nyata. Ada jasad anak kecil disembunyikan di bengkel tersebut. Bapak tukang tambal ban itu langsung berteriak, "Apa kamu juga yang sudah membunuh kakekku?"


Pria jangkung itu mematung di depan Jenar, Jaya Dwipa dan bapak tukang tambal ban.

__ADS_1


__ADS_2