
"Maaf, Om. Kenapa Om, menatap saya seperti itu? Ada yang salah di wajah saya, Om?" Tanya Antares dengan menautkan alisnya.
"Maukah kamu ikut om ke rumah Om? Om akan beritahukan rahasia besar ke kamu" Sahut Rafael.
"Tapi, saya harus menjemput seseorang sekarang juga"
"Kalau begitu, apakah nanti sore kamu mau main ke rumah Om. Rumah Om nggak jauh dari sini. Om tinggal di blok V dari sini dan......."
"Lho, kita tetanggaan ternyata. Saya tinggal di blok IV, Om" Sahut Antares.
"Baguslah. Nanti, sore Om tunggu, ya. Ada rahasia besar yang harus kamu ketahui" Rafael menepuk pundaknya Antares dengan senyum hangat dan tulus.
"Baik, Om" Sahut Antares.
Antares tiba di pelataran parkir kantor pengadilan negeri dua jam kemudian. Tepat di saat ia mematikan mesin mobil, Jenar melenggang keluar dan langsung berlari kecil mendekati mobilnya Antares.
Antares melompat keluar dan tersenyum penuh cinta.
Jenar berdiri di depan Antares, "Sudah lama nunggunya?"
"Baru aja sampai" Sahut Antares.
Jenar berjalan mengitari bagian depan mobil ya Antares dan Antares langsung mengikuti Jenar untuk membukakan pintu.
Jenar tekekeh geli, "Aku bisa buka pintu sendiri. Kenapa harus kamu yang buka? Apa kamu takut kalau pintu mobil kamu lecet kena cincin di jariku?" Jenar memperlihatkan cincin indah yang melingkar di jari manis tangan kirinya.
Antares melihat cincin itu dan bertanya, "Apa itu dari Alfa?"
"Bukan. Ini cincin penghargaan dari kantor karena aku berhasil memecahkan kasus sulit dua tahun yang lalu" Sahut Jenar sembari masuk ke dalam mobil.
Antares masih memegang daun pintu mobilnya dan menghela napas lega. Dia kemudian menutup pintu dan melenggak ke jok kemudi dengan senyum semringah karena ia masih memiliki banyak harapan untuk memenangkan hatinya Jenar.
Jenar menoleh, "Kenapa dari tadi kamu tersenyum terus?"
"Aku senang karena cincin itu bukan dari Alfa. Jadi, aku masih punya harapan untuk........"
__ADS_1
"Aku tidak bisa" Sahut Jenar dengan cepat.
Antares mematikan kembali mesin mobilnya untuk menoleh ke Jenar dan bertanya, "Kenapa tidak bisa?"
"Aku tidak tega menyakiti Alfa. Dia sudah berkorban banyak hal untukku. Dia yang selalu mendampingi aku dalam suka maupun duka selama ini. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek" Jenar menghela napas panjang dan memandang ke depan.
Antares menatap Jenar sejenak dari arah samping lalu ia menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dan sambil melajukan mobilnya, ia berucap, "Kita biarkan semuanya mengalir aja kalau begitu. Aku nggak keberatan menunggu dan......."
"Nggak akan pernah ada kata menunggu di antara kita. Lupakan aku!" Sahut Jenar.
Antares menoleh sekilas ke Jenar lalu dia memilih untuk diam membisu.
Keheningan melanda mereka berdua selama mereka berada di perjalanan pulang.
"Kau sudah makan?" Jenar.
Antares tersentak kaget dan dengan senyum semringah ia berkata, "Belum"
"Kita mampir makan dulu kalau gitu. Aku akan traktir kamu sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah mengantar dan menjemputku hari ini" Sahut Jenar.
"Seharusnya tidak perlu ada kata terima kasih di antara kita. Aku tidak keberatan kalau harus mengantar dan menjemput kamu setiap hari" Antares berucap dengan nada lirih.
"Yeeeaahh, terserah kamu saja lah" Sahut Antares.
Renata pulang ke rumah dan ia langsung mengecek rumah tawon miliknya yang ada di pojok atap rumah ayahnya.
Rafael menoleh ke Renata, sebelum masuk ke dalam rumah, "Lho, sejak kapan ada rumah tawon di sini?"
"Sejak kemarin. Rena yang pindahkan rumah tawon ini ke sini dan ajaibnya, Rena nggak digigit"
"Ajaib bener. Berarti kamu itu penyayang hewan dan tawonnya bisa merasakan kalau kamu menyayangi tawon itu" Sahut Rafael sembari menenteng tas sekolahnya Renata dan melangkah masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan siang mereka.
Rafael lupa menanyakan tawon jenis apa yang Renata pindahkan ke pojok atap rumahnya menggantikan kentongan kayu yang sebelumnya berada di sana. Tawon yang Renata pindahkan ke rumah ayahnya itu adalah jenis tawon petir, tawon yang sangat berbahaya dan mematikan.
Renata kemudian berlari masuk ke dalam rumah menyusul ayahnya.
__ADS_1
Rafael berkata sambil mengunyah sayur sop yang sudah masuk ke dalam mulutnya, "Nanti sore, kita akan kedatangan tamu"
"Siapa?" Tanya Renata.
"Sepertinya kamu punya Kakak laki-laki. Dia sangat tampan. Wajahnya mirip dengan kamu" Sahut Rafael.
"Benarkah?" Kedua bola mata hitamnya Renata berpijar senang.
"Hmm. Nanti sore, dia akan ke sini. Namanya Antares Altair"
"Baguslah" Sahut Renata. Lalu, Renata berucap lagi, "Yah, besok ada lomba lari anak dan orangtua. Ayah bisa ikut mendampingi Rena, kan?"
"Tentu saja bisa. Apa, sih, yang nggak buat anak Ayah yang cantik" Rafael tersenyum lebar ke Renata.
Jenar tanpa sengaja menyentuh tangan Antares saat ia ingin mengambil sop buntut yang ada di depannya. Ada sengatan listrik kecil yang Jenar rasakan saat tangannya menyentuh tangan Antares, untuk itulah ia langsung menarik kembali tangannya.
Antares pun menarik tangannya karena ia juga merasakan ada sengatan listrik berdaya kecil di tangannya saat tangan Jenar menyentuh tangannya. Antares berdeham lalu berkata, "Mana mangkuk kamu? Biar aku ambilkan"
Jenar langsung menyodorkan mangkuk dan melamun. Dia mengingat-ingat kembali, apakah dia pernah merasakan sengatan listrik berdaya kecil saat ia bersentuhan dengan Alfa. Jenar menggelengkan kepalanya saat ia ingat bahwa ia belum pernah merasakan sengatan listrik yang serupa kalau ia bersentuhan dengan Alfa.
Antares meletakkan mangkuk berisi sop buntut di depannya Jenar sembari bertanya, "Kenapa kamu menggelengkan kepala kamu? Kamu nggak mau sop buntutnya?"
Jenar tersentak kaget dari lamunannya dan sontak bertanya, "Ada apa?"
"Kamu menggelengkan kepala barusan. Apa kamu nggak mau sop buntutnya?" Tanya Antares dengan nada dan wajah yang sangat sabar.
"Siapa yang menggelengkan kepala" Jenar langsung menyendok sop buntutnya dan berucap, "Hmm! Benar kata kamu! Sop buntut di sini enak banget"
Antares tersenyum lalu berkata, "Habiskan kalau gitu. Makan yang banyak. Kamu agak kurusan sekarang"
Jenar tersenyum semringah dan sambil mengangguk penuh semangat ia berucap, "Kayaknya aku benar-benar akan menghabiskannya. Ini enak banget"
Antares tersenyum senang dan berucap, "Syukurlah kamu suka"
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di pekarangan rumah Jaya Dwipa. Antares melepas sabuk pengaman dan saat ia menoleh ke kiri, ia melihat Jenar tidur pulas
__ADS_1
Antares mendekatkan wajahnya di saat ia sangat ingin mencuri ciuman lagi.
Antares mengelus pelan rambut indahnya Jenar. Lalu ia menundukkan wajahnya ke wajah Jenar. Pas Antares mendaratkan bibirnya di bibirnya Jenar, Jenar membuka kedua kelopak matanya. Antares dan Jenar bersitatap dan keduanya langsung membeku.