Jenar Ayu

Jenar Ayu
Amis Darah


__ADS_3

Antares Altair



Antares langsung bangun dan duduk di atas ranjangnya dengan wajah panik dan kebingungan saat degup jantungnya tiba-tiba menjadi abnormal. Antares, lalu memegang dadanya dan bergumam, "Akamu, apa jantung kamu ini berdetak, karena saudari kembar kamu tengah ketakutan saat ini? Tapi, apa yang tengah terjadi pada saudari kembar kamu?" Antares menyugar rambut lurus hitamnya dengan wajah frustasi sambil mengumpat, "Sial! Aku bahkan lupa meminta nomer ponsel saudarinya Akamu tadi"


Alfa sampai di tembok belakang kost-kostan berlantai dua dan dia langsung menghadap ke balkon lantai dua. Dia menemukan kamar yang balkonnya terdapat jemuran pakaian berwarna pink yang persis sama dengan yang ia lihat di dalam mimpinya. Alfa bergegas melepas helm mahalnya dan setelah ia menstandarkan motornya miring, ia melompat turun dari motor sport kesayangannya.


Alfa celingukan untuk mencari cara naik ke balkon lantai dua. Dia tersenyum lebar saat ia menemukan tangga portabel yang terbuat dari kayu yang disandarkan miring pada sebuah pohon jambu yang berada tidak jauh dari rumah kost di jalan delima nomer lima itu.


Tanpa menunggu lama, Alfa mengambil tangga itu dan meletakkan tangga itu ke tangga saat ia naik.


Meski panik dan tergesa-gesa, karena Alfa ingin segera menyelamatkan gadis manis dari jerat maut kematian, ia tetap fokus menggunakan metode tiga titik tumpu saat menaiki tangga tersebut. 3 titik tumpu artinya 2 kaki berpijak dengan satu tangan berpegang pada anak tangga dan satu tangan bergerak menanggapi tangga atau 2 tangan berpegang pada anak tangga dengan satu kaki berpijak dan kaki lain bergerak menggapai anak tangga di atasnya lagi.


Hingga akhirnya ia berhasil melompat sampai di balkon lantai dua dan ia langsung dikejutkan dengan teriakan seorang gadis manis yang tengah diseret oleh seseorang yang tak kasat mata.


"Hei! Jangan tarik dia! Siapapun kamu yang tidak bisa aku lihat, jangan tarik dia!!!!!" Alfa berteriak sekuat tenaga di tengah pintu balkon yang terbuka lebar dengan kepalan tangan.


Teriakannya Alfa membuat Jenar tersadar untuk berdoa. Jenar kemudian memejamkan kedua kelopak matanya untuk berdoa dan Jenar terus berdoa sampai akhirnya ia merasakan dirinya tidak lagi terseret, dan ia akhirnya mendengar suara jeritan yang sangat menakutkan, "Aaaarrrgghhhhh! Panas!!!!!!!" Lalu, wong samar yang mencekal kedua pergelangan kaki dan menyeret Jenar menuju ke balkon untuk menjatuhkan Jenar dari atas balkon, lenyap sudah dan berubah menjadi kepulan asap hitam.


Alfa langsung melemas dan jatuh terduduk di atas lantai balkon saat ia melihat asap hitam mengepul tebal di depan matanya.


Jenar membuka kedua kelopak matanya dan ia bersitatap dengan pemuda asing yang memiliki wajah cukup tampan.


Alfa masih duduk di atas lantai dengan tangan tegak lurus di samping badan, kedua telapak tangan menempel di lantai balkon, dan kedua kakinya selonjor ke arahnya Jenar. Alfa berasa mengaca pada sebuah cermin karena, pose gadis manis yang ada di depannya persis sama dengan posenya saat itu dan mereka bersitatap.


"Thank you" Ucap gadis manis di depannya Alfa sembari bangkit berdiri.


Alfa yang masih lemas dan masih kelelahan merasa malas untuk bangkit berdiri.


Jenar Ayu berjalan mendekati pria tampan yang masih duduk selonjor di tengah pintu balkon, lalu ia duduk bersila di depan pria tampan itu. Dan dengan peluh yang masih bercucuran disertai napas yang masih menderu kencang, Jenar bertanya, "Siapa kamu dan kenapa kamu bisa ke sini? Padahal aku tidak menelepon siapapun dan aku tidak mengenal kamu"


Alfa menarik kakinya yang masih selonjor untuk ia pakai bersila dan menarik tangannya untuk ia pakai bersedekap, lalu ia menjawab pertanyannya Jenar dengan pertanyaan pula, "Ada hitam tebal tadi, apa? Dan makhluk apa yang menyeretmu, tadi?"


Jenar menghela napas panjang dan berkata, "Makhluk tadi, seorang wanita yang pernah menghuni kamar ini dan mati karena dijatuhkan dari lantai dua kostan ini. Sekarang katakan ke aku, kenapa kamu bisa ke sini dan kamu siapa?"


Alfa tersenyum ramah, lalu ia mengulurkan tangannya. Alfa langsung berucap, "Namaku Alfa. Aku ke sini karena, aku memiliki bakat spesial. Aku punya mimpi dan mimpiku selalu menjadi nyata dan malam tadi, sebelum aku ke sini, aku bermimpi tentang kamu. Aku langsung ke sini tanpa pikir panjang karena, aku ingin bisa menyelamatkan kamu"


Jenar menarik tangannya dari genggaman tangan Alfa sambil berkata, "Aku Jenar. Aku juga punya bakat spesial. Aku bisa melihat makhluk tak kasat mata"

__ADS_1


"Wow! Kita sama-sama memiliki karunia rohani ternyata, cuma beda jenisnya. Senang bisa bertemu dengan kamu" Sahut Alfa dengan senyum lebar.


Jenar pun tersenyum lebar dan berkata, "Senang bisa bertemu dengan seseorang yang tidak takut saat ia tahu aku bisa melihat hantu"


Alfa tertawa lepas, lalu berucap, "Senang juga menemukan seorang gadis yang tidak takut padaku saat tahu kalau aku ini punya mimpi yang bisa menjadi kenyataan"


Jenar lalu bangkit berdiri dan Alfa pun ikutan bangkit berdiri sambil berkata, "Aku rasa, kamu harus pergi dari kamar ini"


"Aku rasa juga begitu, tapi jika aku pergi malam ini juga, aku pergi ke mana?"


"Kita pergi ke apartemen temanku. Apartemennya ada di dekat kampus. Ayo! Kita ke sana dulu! Masalah baju kamu dan barang-barang kamu, kamu tinggal aja dulu di sini, bawa aja seperlunya untuk besok kamu bernwgkat kuliah. Aku akan antarkan kamu ke sini besok untuk membereskan barang-barang kamu dan pindah dari kamar kost seram ini" Ucap Alfa.


Jenar menyetujui usulnya Alfa. Dia segera memasukkan kaos, rompi, dan celana jins ke dalam tas ranselnya yang sering ia bawa waktu kuliah. Lalu ia menutup pintu balkon dan menuruni tangga kayu dengan hati-hati. Alfa menyusul Jenar.


Setelah sampai di bawah, Alfa mengembalikan tangga kayu itu dan ia sandarkan miring tangga kayu itu di pohon jambu.


Alfa membawa Jenar ke apartemennya Antares Altair. Antares membuka pintu kamar apartemennya dengan wajah kaget, namun dengan cepat ia mengulas senyum lebar dan berkata, "Syukurlah kamu nggak papa, Jenar"


Jenar sontak melangkah mundur dan berkata, "Aku nggak mau masuk"


Alfa mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa?"


"Karena aku nggak suka sama dia?" Sahut Jenar Ayu.


Jenar dan Antares menganggukkan kepala mereka dengan kompak.


"Ini sudah jam dua belas malam. Kalau kamu tidak tidur di sini, kamu mau tidur di jalanan?" tanya Alfa.


"Tapi, kenapa harus di sini?" tanya Jenar


"Karena ini jarak terdekat dari kost kamu, dan dia adalah temanku yang bisa dipercaya. Dia nggak akan menyakiti kamu" Sahut Alfa.


"Aku mau masuk, tapi kamu juga harus masuk dan tidur di sini menemani aku" Jenar menatap Alfa.


Alfa mengenal napas panjang dan akhirnya berkata, "Oke. Aku temani kamu malam ini tidur di sini. Ayo masuk!"


Alfa tidur dengan Antares dan Jenar tidur sendirian di kamar tamu yang ada di dalam apartemen mewah miliknya Antares.


"Kenapa kamu bisa bertemu dengannya?" Tanya Antares. "Apa yang baru saja terjadi padanya?"

__ADS_1


Alfa memejamkan kedua kelopak matanya dan berucap, "Ceritanya besok aja. Aku capek banget"


Keesokan harinya, Alfa dan Antares terbangun saat kedua indra penciuman mereka mencium bau yang sangat sedap.


Kedua pria tampan itu langsung bergegas keluar dari dalam kamar dan menemukan Jenar yang sudah tampak rapi, tengah memasak di dapur.


Alfa dan Antares duduk di depan meja makan secara bersamaan dan bertanya dengan kompak, "Kamu masak apa, Jenar?"


Jenar menjawab tanpa menoleh ke belakang, "Masak omelet dan ayam goreng tepung. Aku juga udah menanak nasi di rice cooker dan sepetinya nasinya telah matang" Saat Jenar menata omelet dan ayam goreng tepung di atas meja makan, dia menatap Antares dan berkata, "Maaf aku lancang memasak karena, aku nggak bisa tidur nyenyak semalam, jadinya aku masak aja"


"Nggak apa-apa" Sahut Antares dengan senyum lebar dan Alfa langsung menepuk bahunya Antares dengan tanya, "Kenapa kamu bisa senyum di depan Jenar? Kamu, kan, jarang banget tersenyum selama ini? Cie, cie, cie, kamu naksir Jenar, ya?"


Jenar dan Antares langsung mendelik ke Alfa dan Alfa langsung menggemakan tawa renyahnya.


Setelah mandi dan sarapan, Alfa mengantarkan Jenar ke kantor pemasaran apartemen mewah itu untuk membeli satu unit apartemen di sana. Handoko dan Jaya Dwipa sudah berada di kantor pemasaran apartemen tersebut sebelum Jenar tiba.


Jaya Dwipa dan Handoko menyetujui permintaan Jenar untuk membeli atau unit apartemen setelah mendengar cerita mengerikan yang dialami Jenar semalam. Dan sejak hari itu, Jenar bertetangga dengan Antares Altair.


Tanpa terasa musim penghujan pun tiba di hari itu. Musim penghujan membuat Jenar tiba-tiba memutuskan untuk membeli mobil bekas. Dan dari apartemen mewah tersebut, Jaya Dwipa dan Handoko mengantarkan Jenar pergi ke showroom mobil bekas. Mobil matic keluaran Eropa berwarna putih menjadi pilihannya Jenar. Handoko dan Jaya Dwipa menyetujui pilihannya Jenar.


Sebenarnya Handoko dan Jaya Dwipa menyarankan Jenar untuk membeli mobil baru, namun Jenar berpikir dia baru saja membeli satu unit apartemen jika harus membeli mobil baru maka itu adalah suatu pemborosan dan ia berpikir akan membeli mobil baru, nanti kalau dia sudah bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri.


Jenar membawa mobil bekas pilihannya ke apartemen dengan dikawal Handoko dan Jaya Dwipa.


Jenar senang bukan main karena, ia jadi bisa leluasa pergi ke mana saja tanpa kehujanan dengan mobil pilihannya sendiri walaupun, bekas.


Namun, baru beberapa hari di garasi apartemen, si putih (panggilan Jenar untuk mobil kesayangannya yang baru saja ia miliki) berbau amis seperti bau darah.


"Kenapa bau amis darah?" Gumam Jenar sembari mencari-cari di sela-sela mobil untuk mengetahui sumber dari bau amis tersebut.


Jenar berpikir ada hewan mati di dalam mobilnya seperti cicak, tikus atau ular karena, mobil itu mobil bekas dan sudah berada sangat lama di showroom mobil bekas. Hal itu yang lebih ditakutkan oleh Jenar, ada binatang yang mati dan masih berdarah di dalam mobilnya


Tapi, Jenar menemukan tak ada satu pun binatang mati di sela-sela jok depan dan jok belakang mobilnya ataupun di mesin dan bagasi mobilnya.


Bau amis darah itu semakin menyengat ketika sore menjelang malam hari dan membuat Jenar menyetir mobilnya dengan masker berlapis dua.


Jenar akhirnya membawa si putih ke tempat cucian mobil dan ia meminta mobilnya diberi pewangi yang lebih banyak.


Jenar mengerutkan keningnya saat ia sedang mengendarai mobil kembali ke apartemen, terdengar suara tangisan seorang wanita muda, samar-samar. Meski tak begitu jelas, suara tangisan wanita muda itu cukup mengganggu Jenar. Namun, Jenar tidak begitu mengambil pusing soal itu saat ia sudah kembali ke apartemen.

__ADS_1


Sampai pada kejadian suatu malam di tengah rintik hujan, Jenar pulang jam sembilan malam, karena harus lembur mengerjakan tugas kuliahnya. Di sepanjang jalan pulang menuju ke apartemennya, ia terus mencium bau amis darah.


Ketika jarak untuk sampai ke apartemennya tinggal 3 kilometer lagi, entah mengapa, tiba-tiba bulu kuduk Jenar menegang. Sambil menyetir, ia membaca doa tiada henti-hentinya saat ia kembali mencium bau amis darah. Beberapa menit berikutnya, ia kembali mendengar suara tangisan wanita muda itu terus terdengar.............


__ADS_2