
Antares beberapa kali keluar dari apartemennya untuk menoleh ke kanan ke apartemennya Jenar dan beberapa kali bergumam, "Kenapa ia belum pulang? Ini sudah jam delapan malam"
Antares duduk di sofa dan ia terus menatap kotak kado yang berisi pernyataan cintanya untuk Jenar Ayu.
Rigel masuk ke kafe Rainy yang dia pilih secara acak. Dia merasa belum pernah masuk ke kafe yang berkonsep Halloween dan memiliki pencahayaan yang remang-remang. Rigel masuk ke kafe itu karena menurut dia, kafe memliki pencahayaan yang remang-remang yang identik dengan kupu-kupu malam dan Rigel tertarik dengan kafe bergaya Halloween itu, karena ada banyak patung hantu dan monster yang terpasang di sana.
Rigel Altair duduk di depan mini bar karena ia tertarik dengan bartendernya. Mini bar di kafe Rainy, memiliki bartender seorang wanita muda yang mungil, lincah, ramah, dan manis. Rigel terpana melihat keunikan bartender itu dan dia ingin mencicipi bukan hanya minuman hasil dari racikan bartender itu, namun ia juga ingin mencicipi bartender itu dan ingin memilikinya. Dia menyeringai saat ia memiliki bayangan bahwa ia bakal menempatkan bartender itu di samping jasad istrinya.
"Sial! Kenapa kafe itu berkonsep Halloween dan banyak patung hantu dan monster di depan pintu masuknya?" Alfa mendengus kesal.
Jenar menoleh ke Alfa untuk bertanya, "Kenapa? Apa kau takut sama hantu? Apa kau pernah lihat hantu? Model yang seperti apa?"
"Ihhhh! Amit-amit!!!!! Jangan sampai aku melihat hantu" Alfa bergidik ngeri.
Jenar terkekeh geli lalu berkata, ""Belum pernah lihat kok takut"
"Emang hantu itu modelnya banyak, ya?" Tanya Alfa.
"Iya. Mereka muncul dengan banyak rupa dan model" Sahut Jenar.
"Ooooooo, aku kira hantu itu hanya ada Thuyul dan wanita berdaster putih, hehehehe" Sahut Alfa.
__ADS_1
"Aku malah belum pernah bertemu dengan Thuyul dan wanita berdaster putih" Sahut Jenar.
"Lho, kok aneh? Bukankah hantu di film-film itu kebanyakan Thuyul dan wanita berdaster putih?" Alfa menautkan kedua alisnya ke Jenar.
Jenar kembali terkekeh geli kemudian berkata, "Tapi, di real life-ku hantunya lebih complicated. Mereka lebih fashionable dengan make-up yang fantastis. Yakin, nggak pengen lihat?" Jenar meringis ke Alfa.
"Wow! Menarik sih, tapi aku tetap nggak mau lihat" Alfa meringis ke Jenar dan Jenar kembali tekekeh geli.
"Terus, kita masuk ke kafe barengan atau salah satu aja?" Tanya Jenar Ayu.
"Salah satu aja, kan, harus ada yang berjaga di depan untuk mengawasi The White Mask pas keluar, nanti" Alfa menggaruk pucuk kepalanya dan Jenar langsung menyahut, "Dan kamu yang ingin berjaga di luar, kan, karena kau takut hantu?"
Alfa tertawa kecil lalu berucap, "Nah, itu kau tahu"
Jenar memilih duduk di kursi yang ada di dekat pintu masuk saat ia sudah menemukan keberadaannya Rigel Altair. Jenar lalu bergumam, "Sial! Aku, kan, nggak tahu wanita itu seperti apa? Alfa, kan, yang lihat wanita itu di mimpinya Alfa. Dasar Alfa gila! Dia yang tahu wanita itu, kok aku yang disuruh masuk ke sini?" Jenar langsung bangkit berdiri dan keluar dari dalam kafe sambil berlari.
Dia membuka pintu mobilnya dan langsung menyemburkan tanya, "Wanita bakal korbannya Rigel itu ciri-cirinya seperti apa?"
"Emm, sial! Aku nggak bisa ngelukis. Emm, dia mungil, cantik, dan dia memakai seragam bartender. Dia ada di bar mini kafe itu" Sahut Alfa.
"Hmm, okelah!" Jenar tersenyum kesal ke Alfa dan Alfa langsung berkata, "Sori, aku beneran takut sama hantu walaupun itu cuma patung dan aku juga nggak suka berada di tengah lampu remang-remang"
__ADS_1
Jenar mendengus kesal, lalu ia menutup kembali pintu mobilnya dan berlari kembali ke dalam kafe Rainy.
Alfa mulai waspada dan dia mendapatkan insting untuk memindahkan mobilnya Jenar ke pintu belakang kafe itu dan Alfa langsung menggerakkan mobilnya Jenar dengan pelan ke tempat yang dekat dengan pintu belakang kafe tersebut. Setelah mematikan mesin mobil, ia mengirim pesan text ke Jenar yang memberitahukan kalau ia berpindah parkir di dekat pintu belakang kafe tersebut.
Jenar memesan jus nanas float dan minuman yang dia pesan tersaji dengan gaya Halloween. Nanasnya utuh dan dibentuk menyerupai monster dan saat ia membuka bagian atas nanas itu, ia menemukan sirupnya berwarna merah menyerupai darah dengan isian buah nanas yang dibentuk bulat-bulat kecil dengan yang dihias menyerupai kepala orang.
Jenar mendengus kesal dan bergumam, "Kenapa juga nanasnya harus dibentuk kayak kepala orang gini? Huuffttt! Jika aku tidak pernah melihat hantu, maka aku akan makan nanas ini dengan santai, tapi karena aku pernah melihat hantu, maka aku merasa mual kalau harus memakan nanas ini" Jenar lalu mendorong minuman pesanannya untuk jauh darinya, lalu ia memutuskan untuk memesan kembali dan di pesanan keduanya, Jenar memilih memesan air mineral dengan es batu.
Jenar terus mengawasi Rigel yang masih duduk di depan bar mini dan Jenar melihat Rigel tidak pernah melepaskan pandangannya dari bartender mungil yang cantik dan lincah itu.
Antares mondar-mandir di selasar apartemen sembari mencoba menghubungi ponselnya Jenar. Pria tampan itu mulai panik saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan Jenar belum tampak batang hidungnya.
"Kenapa Jenar nggak angkat telponnya? Dia kenapa?" Antares mengelus dadanya, lalu berucap, "Akamu, kamu tidak berdetak kali ini, berarti saudara perempuan kamu baik-baik saja, kan?"
Alfa melihat jam yang terpasang di dashboard mobil barunya Jenar dan langsung memencet nomernya Antares, "Halo? Res, aku dan Jenar masih ada di kafe. Aku akan nginep lagi di apartemen kamu, tapi aku akan pulang telat dan .........."
"Kenapa Jenar bisa bersama dengan kamu? Apa kalian merayakan valentine dan ......."
Klik! Alfa mematikan teleponnya, saat ia melihat wanita mungil dengan seragam bartender keluar dari pintu belakang. Alfa langsung waspada.
Antares menatap layar ponselnya dan sambil mengumpat "Sial! Kenapa Alfa menutup teleponnya sebelum aku selesai bicara dengannya?" Ia langsung mendaratkan bogem ke tembok. Ia dibakar cemburu dan dengan menggeram kesal dia berucap, "Apa Jenar dan Alfa udah jadian?"
__ADS_1
Alfa menghela napas lega saat ia melihat wanita itu keluar dari pintu belakang kafe hanya untuk membuang kantong plastik berwarna hitam ke tong sampah dan masuk kembali ke dalam kafe.
Rigel yang terbiasa berburu memiliki tingkat kesabaran sepeti seorang sniper (penembak jitu) Dia bisa dengan sabar menunggu waktu yang tepat untuk bisa mendekap bartender wanita yang menjadi incarannya itu