
Saat Office Boy mulai sadarkan diri dari pengaruh hipnotisnya Rigel Altair, dokter yang bertugas di lapas yang sudah lama menjadi anak buahnya Rigel Altair itu langsung menyuntikkan cairan bening ke Office Boy tersebut dan lima menit kemudian, Office Boy itu mendelik, memegang dadanya, kejang-kejang, lalu melemas dan mati.
Dokter lapas anak buahnya Rigel Altair langsung keluar dari sel dan berteriak, "Tolong aku! Tahanan di sel ini bunuh diri!"
Hantu wanita berbaju putih lusuh dan berwajah pucat penuh darah kering, terus melotot ke Jenar dan berteriak dengan mata melotot, "Bunuh Rigel! Bunuh Dia! Cepat bunuh dia!"
Jenar Ayu terus menggelengkan kepalanya ke pojok ruangan. Rigel spontan menoleh ke belakang, lalu ia menoleh kembali ke depan untuk bertanya ke Jenar, "Apa yang kau lihat?" Untuk sejenak Rigel menghentikan kegiatan tangannya yang tengah mengobati lukanya Jenar.
Jenar tersentak kaget dan refleks berkata, "Iblis!"
Rigel sontak melotot ke Jenar dan berteriak, "Berani benar kamu mengataiku Iblis?!"
Jenar sontak bangkit berdiri dan menarik lengannya sambil berkata, "Sudah cukup!" Lalu ia berputar badan dan keluar dari dalam ruangannya Dokter Rigel Altair. Alfa langsung menyusul Jenar.
Rigel tersulut amarahnya dan ikutan bangkit berdiri dan berteriak, "Hei! Kembali kau! Dasar gadis tidak sopan!"
Antares langsung menyahut, "Pa, Jenar nggak bermaksud mengatai Papa dan membentak Papa. Jenar hanya kaget karena,........."
Rigel menoleh tajam ke Antares untuk menyemburkan amarahnya, "karena apa, hah?!"
"Karena, Jenar, karena, Jenar, emm.........".Antares ragu untuk menyatakan ke papanya bahwa Jenar bisa melihat hantu.
Rigel menggebrak meja dan Antares mulai merasakan jantungnya berdetak abnormal. Rigel melotot, "Karena apa?!"
__ADS_1
"Karena Jenar, selalu berkata Iblis kalau dia merasa kesakitan" Sahut Antares sekenanya.
"Heh! Alasan macam apa itu?" Rigel tersenyum kesal.
"Itu benar, Pa. Buktinya Jenar langsung menarik lengannya dan berlari keluar, kan? Temanku itu tidak tahan sakit, Pa. Maafkan dia" Sahut Antares sambil megang dadanya yang terus berdetak abnormal.
Melihat putranya memegang dada dan tampak terengah-engah, Rigel langsung menepuk pundak putranya dan berkata, "Baiklah Papa percaya sama kamu. Susul teman kamu dan berikan obat ini! Ini obat antibiotik dan per da nyeri"
"Makasih, Pa" Setelah menerima obat yang diberikan oleh papanya, Antares langsung berputar badan dan berlari kecil untuk menyusul Jenar dan Alfa.
Jenar dan Alfa bersandar ke tembok yang ada di depan pintu masuk ruangannya Rigel Altair dan Antares langsung menyerahkan kantong plastik berisi obat nyeri dan antibiotik ke Jenar dan berkata, "Ini obat kamu. Kamu minum sehari satu kali dan antibiotiknya harus habis"
Jenar menepis kantong obat yang disodorkan oleh Antares dan ia langsung melangkah pergi meninggalkan Antares dan Alfa.
Alfa mengangkat kedua pundaknya dan berkata, "Entahlah baru PMS, mungkin" Alfa lalu berlari kecil untuk menyusul Jenar. Antares menghela napas panjang dan ikut berlari kecil untuk menyusul Jenar dan Alfa.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Jenar memilih duduk di jok belakang dan langsung menyandarkan kepala di jendela mobil untuk memejamkan mata. Gadis manis itu malas berbicara dengan siapapun saat itu.
Alfa menoleh ke jok belakang untuk melihat Jenar dan Antares menjulurkan kepalanya sedikit untuk melihat Jenar lewat rear-mirror vision.
Perasaan Jenar campur aduk setelah ia bertemu dengan Rigel Altair. Dia ingin membalas dendam ke Rigel Altair dengan cara melukai Antares, dia sungguh-sungguh ingin melakukannya, namun Jenar seringkali mengurungkan niatnya itu saat ia teringat kembali bahwa ada jantungnya Akamu di dalam tubuhnya Antares Altair.
Begitu sampai di apartemen, Jenar langsung masuk ke unit apartemennya tanpa pamit ke Alfa dan Antares. Bahkan Jenar lupa mengucapkan terima kasih ke Alfa dan Antares.
__ADS_1
Alfa dan Antares secara bersamaan mengangkat bahu mereka saat Jenar masuk ke dalam unit apartemennya dengan membanting pintu, braaaakkk!!!! Alfa dan Altair tertegun melihat pintu apartemennya Jenar, lalu mereka bersitatap dengan berucap secara bersamaan, "PMS" Lalu kedua pemuda tampan itu saling menganggukkan kepala mereka dan melangkah masuk ke dalam unit apartemennya Antares.
Alfa masuk ke kamar tamu sambil berkata dengan nada santai, "Aku tidur di sini malam ini"
Begitu melangkah masuk ke dalam apartemennya dan sampai ke ruang tamu, Jenar langsung mendapatkan tatapan panik dari Eyang Kakungnya Jenar dan Handoko. Kedua pria yang sangat menyayangi Jenar itu.
Eyang kakung dan Handoko langsung bangkit berdiri secara bersamaan dan langsung memeluk Jenar.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Eyang Kakung dan Handoko secara bersamaan.
Jenar hanya mampu menganggukkan kepalanya dan langsung menarik diri dari pelukan Handoko dan eyang Kakungnya, lalu segera berkata, "Maaf Om, maaf Eyang, Jenar lelah. Jenar mau langsung masuk ke kamar"
Ketika dilanda angin, topan, badai dan gelombang persoalan hidup yang begitu besar, kebanyakan orang semakin tenggelam di dalamnya. Pikiran menjadi kacau, panik, dan semakin terperosok ke dalam pikirannya yang kacau balau. Itulah yang dialami oleh Jenar. Bahkan untuk berdoa pun, Jenar sudah tidak bisa fokus lagi. Bibirnya hanya bisa mengeluarkan isak tangis dan keluhan karena ia sudah merasa sangat lelah dengan semua yang telah ia alami. Jenar meringkuk di dalam selimut dan menangis terisak di sana.
Eyang kakungnya Jenar dan Handoko memutuskan untuk tidur di apartemennya Jenar untuk menjaga Jenar.
Antares memegang dadanya saat ia tiba-tiba terisak menangis. Antares mengelus dadanya sambil berucap, "Akamu? Saat ini saudari kembar kamu pasti tengah menangis sendirian di kamarnya. Aku ingin menghiburnya, tapi saudari kembar kamu tidak mengijinkan aku menjadi dekat dengannya. Saudari kembar kamu, membenciku tanpa aku tahu sebabnya kenapa ia membenciku" Antares menangis terisak sambil terus mengelus dadanya dan akhirnya dia dan Jenar tertidur secara bersamaan di kamar mereka masing-masing.
Sementara itu, Rigel Altair duduk di sisi meja operasi yang ada di ruang rahasianya. Dia menatap jasad istrinya yang masih ada di atas meja operasi yang ada di ruang rahasianya. Rigel merapikan rambut istirnya dengan tatapan tanpa ekspresi dan tanpa mengucapkan kata apapun.
Rigel lalu bangkit berdiri dan melangkah intim duduk di depan peralatan elektroniknya untuk melihat situasi di luar. Rigel mengangkat sambungan telepon yang masuk ke ponselnya dan setelah mematikan sambungan ponselnya itu Rigel melepas tawa puasnya, lalu ia berteriak, "Dasar bodoh kalian semua!!!!!!! Hahahaha!!!!!!! Bodoh!!!!!!!!!"
Alfa terbangun dari tidur malamnya dengan keringat bercucuran dan dia bergumam, "Siapa pria bertopeng yang membunuh wanita yang bekerja di kedai kopi? Bukankah The White Mask udah menyerahkan diri? Apa ada The White Mask yang baru?" Alfa termenung di atas kasur dengan keringat yang masih bercucuran dan napas yang masih menderu.
__ADS_1