
Alfa mendelik ke wanita yang menariknya keluar dari kantornya Jenar. "Kamu siapa?"
"Kau lupa? Kita kemarin malam minum berdua di kafe yang ada di sebuah hotel. Kita bertemu nggak sengaja dan kita akhirnya duduk satu meja. Aku Stephanie, ingat?"
Alfa menggeleng dan spontan menautkan alisnya.
Plak! Tamparan langsung mendarat di pipinya Alfa.
Alfa terkejut dan langsung menyemburkan protes, "Kenapa kau menamparku?"
"Dasar brengsek! Kau telah meniduriku dan melupakan aku begitu saja" Wanita yang mengaku bernama Stephanie itu berkacak pinggang dan mendelik ke Alfa.
Alfa sontak memundurkan langkahnya ke belakang sampai punggungnya membentur pintu mobil sambil terus berkata, "Nggak! Nggak mungkin. Aku bangun tadi pagi memang di hotel. Tapi, aku bangun sendiri. Nggak ada kamu di sampingku"
"Aku memang bangun duluan karena ada rapat penting di perusahaanku" Sahut Stephanie.
Alfa seketika mematung. Dokter muda berparas tampan itu refleks melongo saat ia mengingat kembali kejadian di pagi hari di saat ia terbangun dalam keadaan telanjang.
"Ingat kau sekarang?"
Alfa menatap wanita bernama Stephanie itu dengan wajah bingung. Hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah, "Aku sudah punya pacar dan aku sangat mencintai pacarku" Bukannya kata maaf.
"Kau! Dasar brengsek! Kau tidak meminta maaf malah ngomong seperti itu?" Stephanie menatap Alfa dengan sorot mata penuh amarah.
"Dengar! Oke, hal semacam itu memang selalu cowok yang disalahkan. Tapi, cewek juga ikut andil dan ........."
"Tentu saja cowok yang salah!" Wanita itu berteriak kencang ke Alfa.
"Dengarkan aku dulu!" Alfa tidak kalah berteriak kencang. "Emm, lebih baik kita ngobrol di tempat yang lebih private. Ini di tempat umum dan kamu selalu teriak-teriak! Semua orang yang lewat menoleh ke kita" Alfa menarik masuk wanita itu ke dalam mobilnya dan wanita itu menahan tangan Alfa sambil berucap, "Kita naik mobilku saja! Aku nggak mau ribet suruh supirku ambil mobilku di sini nanti"
"Oke, oke!" Alfa menghela napa panjang dan mengikuti langkah wanita itu sambil beberapa kali meraup kasar wajah tampannya.
Antares mendudukkan Jena di sofa ruang tamu. Lalu, ia mulai mengoleskan salep ke pergelangan kakinya Jenar dengan lembut dan sambil bertanya, "Alfa belum tahu kalau aku juga tinggal di sini?" Antares mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi di wajahnya Jenar.
Jenar menggelengkan kepala lalu mengalihkan pandangannya dari wajah Antares ke jendela ruang tamu yang ada di samping kirinya.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang ke Alfa kalau aku ada di sini? Ada di dekat kamu?" Antares menunduk untuk mulai memasang deker kaki.
"Kenapa kamu juga nggak menghubungi Alfa sejak kamu pulang dari Thailand?" Tanya Jenar.
"Karena, kau nggak ada urusan sama Alfa. Kalau aku sakit dan butuh dokter, aku akan temui dia" Sahut Antares dengan nada santai.
__ADS_1
"Dasar gila! Kalian,kan sahabatan dulu. Kenapa kamu ........."
"Sudah selesai" Antares memotong ucapannya Jenar. Lalu pria berparas tampan itu membuka suara kembali, "Sekarang, kamu Istirahat dulu! Nggak usah kebanyakan jalan dulu!"
Antares bersitatap dengan Jenar dalam diam.
Antares langsung berkata, "Apa aku nginap aja di sini untuk menjaga kamu? Kamu, kan, orangnya ngeyelan"? Dan sepertinya udah terlihat di mata kamu kalau kamu bakalan ngeyel bentar lagi" Ucap Antares sembari menunjuk-nunjukkan telunjuk tangan kanannya ke wajah manisnya Jenar.
Jenar spontan mendelik ke Antares dan langsung berkata, "Kalau kamu menginap di sini, kamu akan menderita"
"Kenapa?" Tanya Antares.
"Eyang kakungku akan mengajak kamu main catur semalaman" Jenar trsenyum geli.
"Nggak masalah bagiku. Aku suka main catur semalaman dengan Eyang Kakung kamu selama bisa melihat kamu terus" Antares menatap Jenar dengan penuh arti.
Jenar langsung merasa canggung dan sambil mendorong dadanya Antares, ia berkata, "Pulanglah! Aku malah nggak bisa ngapa-ngapain kalau kamu nginap di sini. Nggak enak juga sama tetangga"
Antares bangkit berdiri sambil berkata, "Tapi, ingat, ya, jangan dipakai jalan sering-sering dulu. Takutnya nanti tambah parah"
"Eyang akan jaga Jenar dengan baik. Makasih, ya, Nak Ares" Jaya Dwipa muncul dari pintu depan.
Antares mencium punggung tangan eyang kakungnya Jenar dan berkata, "Baik, Eyang. Saya permisi dulu"
Antares memutuskan untuk mundur ke rumahnya Rafael. Dia merasa nggak enak karena tadi siang dia tidak bisa memenuhi permintaan tolong ya Rafael.
Sesampainya di rumah Rafael, Antares menautkan alisnya saat ia melihat ada mobil ambulans dan mobil polisi di pekarangan luas rumahnya Rafael.
Antares terus berjalan ke pintu utama dan langsung tersnrtka kaget saat melihat Renata berlari kencang ke arahnya. Antares refleks berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, Renata langsung masuk ke dalam pelukannya Antares.
Antares menggendong Renata dan sambil bangkit berdiri, dia menatap Rafael untuk bertanya, "Ada apa, Om? Kenapa ada mobil polisi dan mobil ambulans di pekarangan rumahnya Om?"
"Gudang bersihnya Om yang ada di sana, terbakar" Rafael menunjukkan jari telunjuknya ke arah gudangnya yang sudah hangus terbakar
Pandangannya Antares mengikuti arah jari telunjuknya Rafael dan spontan berkata, "Astaga! Kok, bisa Om?"
"Itu karena Kakak nggak datang. Kenapa Kakak nggak datang?" Renata menatap wajah Antares.
Rafael mengelus kepala Renata dari arah belakang sambil berkata, "Rena, Kak Ares menolong Kak Jenar. Kak Jenar terpeleset tadi"
"Maafkan Kakak" Sahut Antares.
__ADS_1
Renata diam membisu lalu merosot turun dari gendongannya Antares dan langsung berlari kencang masuk ke dalam kamar.
"Maafkan Rena" Rafael menepuk pundaknya Antares.
"Iya, Om. Nggak papa. Saya paham kok. Rena juga pasti syok saat ini. Tapi, nggak ada korban jiwa, kan, Om?"
Rafael menghela napas panjang dan meraup wajah tampannya, lalu berkata, "Ada satu. Dia Mona. Teman Om"
"Astaga! Saya ikut prihatin, Om. Sekali lagi maafkan saya. Saya benar-benar menyesal nggak bisa secepatnya datang kemari tadi. Kaki Jenar lumayan parah bahkan butuh dipasang deker. Jadi, saya ........."
"Nggak papa. Santai aja. Justru Om yang seharusnya minta maaf karena Om, menelepon kamu dan menempatkan kamu di posisi sulit tadi" Sahut Rafael.
"Santai aja Om" Sahut Antares.
Setelah mengobrol beberapa saat, Antares pamit pulang.
Antares menelepon Jenar saat ia sudah sampai di rumah, "Lagi ngapain?"
"Tiduran. Puas, kan, kamu sekarang. Eyang nggak ijinkan aku turun dari kasur. Semua dilayani sama Eyang" Sahut Jenar.
"Aku juga mau gantiin tugas Eyang kamu. Aku ke sana sekarang juga, ya?"
"Jangan ngawur! Kalau kamu ke sini, aku akan lemparkan sandalku ke kamu"
Antares langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa nelpon?"
"Pengen denger suara kamu. Masih kurang banyak dengerin suara kamu tadi. Kamu, kan, pelit keluarin suara kamu seharian ini" Sahut Antares.
"Kalau masih bercanda kayak gini, aku akan tutup telponnya" Jenar menyahut ketus.
"Oke. Aku nggak akan bercanda lagi. Om Rafael gudangnya terbakar dan ada satu korban wanita namanya Mona dan........."
"Aku pengen ke sana pagi-pagi besok. Kamu bisa jemput aku dan antarkan aku ke sana jam lima pagi?" Tanya Jenar dengan tidak sabar.
Antares terkejut geli lalu berkata, "Kamu sekangen itu, ya, sama aku. Sampai ingin lihat wajahku di jam lima pagi"
"Kalau nggak mau ya sudah. Aku akan minta tolong sama......."
"Iya, baiklah Tuan putriku yang manis" Sahut Antares dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Oke. Aku tunggu kamu besok jam lima pagi" Klik! Jenar mematikan begitu saja telepon genggamnya
Antares menatap layar telepon genggamnya yang sudah menggelap dengan wajah semringah.