
"Mamaku sudah meninggal. Lalu, di mana jasadnya dikuburkan?" Antares bergumam sedih untuk dirinya sendiri.
Jenar menatap mamanya Antares untuk meminta jawaban atas pertanyannya Antares, namun mamanya Antares berkata, "Sebentar lagi, kalian akan tahu di mana jasadku berada.
Jenar menghela pelan dan menatap Antares.
"Apa Mamaku masih duduk di situ?" Antares bertanya dengan masih menatap bangku teras di sisi kanannya.
Jenar menganggukkan kepalanya dengan pelan dan menatap Antares dengan wajah sendu.
Antares melepaskan kedua bahunya Jenar dengan perlahan, lalu ia memutar badan, menghadap ke bangku teras. Antares semakin deras tangisannya saat ia dengan perlahan duduk bersimpuh di depan bangku teras dan di tengah isak tangisnya ia memanggil lirih mamanya, "Ma, ini Ares, Ma"
Jenar menghapus titik air mata yang menetes di kedua pipinya dengan punggung tangannya dan setelah menghela napas panjang, ia berkata, "Mama kamu mengelus kepala kamu saat ini, Res. Mama kamu juga menangis dan Mama kamu berkata, kalau beliau sangat menyayangi, mencintai, dan sangat merindukan kamu. Mama kamu juga berkata, kalau beliau bahagia kamu tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang baik"
Antares semakin terisak-isak dan ia menyentuh pinggir bangku teras, menundukkan wajahnya dan mencengkram erat ujung bangku teras itu sambil berucap, "Ares juga sangat menyayangi,mencintai dan merindukan Mama" Antares berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata kembali, "Maafkan Ares kalau Ares pernah mengira Mama meninggalkan Ares karena, Ares anak yang susah diatur dan nakal"
Jenar ikutan bersimpuh di sebelahnya Ares karena terharu mendengar ucapannya Ares. Jenar menyentuh pundaknya Ares.
Ares menoleh ke Jenar, lalu ia memeluk Jenar dengan sangat erat dan berkata, "Ijinkan aku memelukmu sebentar saja" dengan masih terisak-isak.
Jenar berkata, "Kamu boleh memelukku selama yang kamu mau" Jenar berucap sembari terus mengelus-elus pelan punggungnya Antares.
Jenar menoleh ke samping kirinya dan refleks dia terisak menangis saat ia melihat mamanya Antares yang sudah menjadi wong samar, ikutan memeluk Jenar dan Antares sambil berkata ke Jenar, "Tolong, jaga Antares!"
Jenar yang masih mengelus-elus pelan punggungnya Antares spontan menjawab, "Baik, Tante"
Antares terkejut saat ia mendengar ucapannya Jenar. Pria tampan itu kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Jenar untuk bertanya, "Apa yang dikatakan Mamaku barusan?" Antares berucap sembari mengusap air mata di kedua pipinya Jenar.
Jenar tersenyum dan sambil mengusap air mata di kedua pipinya Antares, ia berkata, "Mama kamu memintaku untuk menjaga kamu"
__ADS_1
Antares spontan mencium keningnya Jenar dan berkata di sana, "Terima kasih, kamu menjawab baik, Tante"
Jenar merona malu dan membeku saat napas hangat yang keluar dari mulutnya Ares menyentuh keningnya.
Mamanya Ares tersenyum bahagia melihat kasih sayang yang tampak di Antares dan Jenar. Lalu Mamanya Ares berkata, "Ayo ikut aku! Ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu"
Jenar tersentak kaget dari kebekuannya dan spontan ia mengajak Antares bangkit berdiri sambil berkata, "Mama kamu meminta kita mengikutinya"
Antares refleks menggenggam tangannya Jenar dan Jenar membiarkannya karena, dia harus bergegas mengikuti mamanya Antares. Jenar lalu menarik tangannya Antares dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam kediaman mewahnya Rigel Altair.
"Pelan-pelan, Jen! jatuh kamu nanti kalau jalan dengan sangat cepat kayak gini" Antares mencoba menahan tangan Jenar yang masih ia genggam untuk sedikit mengerem langkahnya Jenar, namun Jenar justru mempercepat laju langkahnya dan terus menarik Antares sambil berkata, "Mama kamu berlari saat ini dan beliau berhenti di depan sebuah kamar itu" Jenar menunjukkan jari telunjuk tangan kirinya ke depan.
"Itu kamarku dulu. Kamar masa kecilku. Sejak Mamaku pergi meninggalkan aku, aku pindah kamar ke kamarnya Papa karena aku takut tidur sendirian di sana" Sahut Antares.
Jenar dan Antares menghentikan langkah mereka di depan pintu kamar masa kecilnya Antares.
Antares mencoba membuka pintu kamar itu dan terkejut, "Ternyata Papa tidak pernah mengunci kamar ini"
Mamanya Antares berdiri di depan meja kecil yang ada di bawah televisi LED. Meja mungil yang tampak kokoh dan masih bagus itu memiliki banyak rak kecil-kecil. Mamanya Antares melambaikan tangannya ke Jenar dan berkata, "Buka laci yang paling bawah yang ada di sebelah kanan kamu!"
Jenar menganggukkan kepalanya dan melangkah pelan ke depan. Antares mengikuti langkahnya Jenar dengan bertanya, "Mama bilang apa ke kamu?"
Jenar berjongkok di depan lemari mungil itu dan berkata, "Mama kamu memintaku membuka laci sebelah kanan yang paling bawah"
Antares menunggu Jenar membuka laci itu dan dia langsung tersentak kaget, "Ponsel Mama? I.....itu ponselnya Mama"
Jenar menyerahkan telepon genggam itu ke Antares.
Antares menerimanya dan sambil mengerutkan alisnya dia berkata, "Ponsel ini mati. Di mana chargernya, ya? Aku ingin melihat isi ponsel ini dan kenapa Mama meminta kita untuk menemukan ponsel ini"
__ADS_1
Mamanya Antares melambaikan tangannya kembali ke Jenar sambil berkata, "Chargernya ada di bawah nakas di samping ranjang ini"
"Ada di sana chargernya" Sahut Jenar sembari bangkit berdiri.
Antares spontan berjalan lebar ke nakas dan ia mengambil charger yang ada di sana untuk mengisi daya telepon genggam mamanya.
Mamanya Antares tersenyum lega, lalu ia melambaikan tangannya kembali ke Jenar sembari berkata, "Ikut aku!"
Jenar menoleh ke Antares, "Kita tinggalkan ponsel itu di sini dulu sampai penuh baterenya. Kita ikuti lagi Mama kamu. Beliau mengajak kita mengikutinya lagi saat ini"
Antares kembali menggenggam tangan Jenar dan Jenar kembali membiarkannya. Jenar dan Antares berjalan mengikuti langkahnya Jenar tanpa melepaskan tangannya Jenar. Antares terus menggenggam tangan pujaan hatinya dengan hati yang hangat. Dan lewat kehangatan tangannya Jenar, Antares mendapatkan kembali kekuatannya untuk menghadapi kenyataan bahwa mamanya sudah meninggal dunia dan dia belum mengetahui di mana jasad mamanya dikuburkan.
Jenar menghentikan langkahnya di depan pintu besi yang ada di ujung lantai dapur.
Antares semakin erat menggenggam tangannya Jenar untuk bertanya, "Ini ruang rahasianya Papa. Nggak ada yang pernah masuk ke sini selain Papa. Aku nggak tahu kode masuknya. Kenapa Mamaku meminta kita ke sini? A......apa Mama pernah masuk ke sini?"
Jenar menatap mamanya Antares yang berdiri di depannya dan mamanya Antares langsung menganggukkan kepalanya.Jenar kemudian menoleh ke Antares dan berkata, "Mama kamu pernah masuk ke sini"
Antares meletakkan tangan Jenar yang masih ia genggam erat di atas dadanya dan berkata, "A.....aku shock banget saat ini, Jen"
Jenar berkata, "Apa tanganku masih kamu butuhkan?"
"Ke.....kenapa?" Tanya Antares.
"Kamu harus lepaskan tanganku agar aku bisa memasukkan kodenya. Mama kamu sudah beritahu ke aku kodenya" sahut Jenar.
Antares dengan sangat terpaksa melepaskan tangannya Jenar dan ia melihat Jenar berjongkok di depan pintu besi dan memasukkan deretan angka.
Antares tersentak kaget dan refleks bertanya, "Kok kamu bisa tahu angka favoritnya Papaku?"
__ADS_1
"Mama kamu yang kasih tahu" Sahut Jenar.
Antares membantu Jenar membuka pintu besi itu dengan degup jantung yang cukup kencang.