
Sementara itu, Rafael mengalami shock dan kesedihan yang luar biasa di acara pemakaman istri tercintanya yang meninggal dengan janin, calon anaknya yang masih bersemayam di dalam perut istri tercintanya.
Renata berpura-pura menangis dan kehilangan di pojok ruang pemakaman. Renata mengundang banyak rasa prihatin dari para tamu yang melayat. Gadis kecil berumur tujuh tahun itu memang gadis kecil yang sangat cantik dan tampak manis, namun semuanya tidak mengetahui ada monster yang bersemayam di dalam jiwa gadis kecil nan cantik dan manis itu.
Rafael kemudian memutuskan untuk pindah kota. Dia mengajak Renata pindah ke rumah yang ada di pinggiran kota. Rafael membutuhkan udara segar dan membutuhkan suasana baru, untuk itulah ia memilih pindah ke daerah sejuk yang dekat dengan pegunungan. Rafael pun beralih profesi menjadi petani teh. Rafael membeli rumah yang ada kebun tehnya dan dia belajar untuk menggarap dan mengembangkannya.
Dan dengan uang sisa hasil pembelian rumah di dekat pegunungan itu, Rafael memulai bisnisnya dan ia juga memakai uang sisa tersebut untuk biaya hidup sehari-hari.
Renata sangat bahagia bisa tinggal di daerah yang sunyi, segar, dan luas bersama dengan ayah yang sangat ia sayangi. Renata bahkan bersedia membantu ayahnya membersihkan rumah saat ayahnya sibuk bekerja di kebun.
Dan sikap manisnya Renata, membuat Rafael semakin menyayangi Renata. Renata pun bahagia karena ia dan ayahnya bisa menjadi partner yang sempurna di dalam segala hal.
Jenar mendengus kesal, "Kalau kau rasa aku ini spesial, kenapa kau meninggalkan aku waktu itu?"
"Banyak alasannya. Kalau kau ingin dengar semuanya, aku akan ajak kamu ke suatu tempat berdua aja, mau?" Antares menoleh ke Jenar dan Jenar diam seribu bahasa.
Leo menyahut, "Kalian hanya berpacaran sehari, kan, kenapa aku lihat masalah di antara kalian besar banget? Aneh"
Jenar dan Antares sontak menoleh ke Leo dan menyemburkan kekesalan mereka secara bersamaan, "Kau yang aneh!"
Leo tersenyum tipis, lalu ia berkata, "Oke, aku bersedia dikatain aneh, tapi habis ini, kalian harus traktir aku sarapan. Ini sudah hampir subuh"
Antares dan Jenar menghela napas panjang dan memilih melanjutkan langkah mereka alih-alih menanggapi ucapannya Leo.
Saat mereka sampai di parkiran mobil mereka, tiga buah mobil dinas kepolisian dan satu buah mobil ambulans, parkir di dekat mobilnya Jenar dan Leo.
Seorang detektif dari kepolisian yang sudah kenal dekat dengan Jenar karena mereka sering bekerja sama di dalam berbagai kasus sebelumnya, segera berlari menemui Jenar begitu ia turun dari mobil dinasnya.
"Jaksa Jenar Ayu. Maaf, sudah menunggu lama" Sahut detektif polisi yang memakai nametag bertuliskan Charlie.
__ADS_1
"Nggak papa. Emm, saya akan antarkan kalian semua ke jasad itu dan kita akan menganalisanya bareng-bareng" Jenar berucap sembari berbalik badan dan melangkah lebar menuju ke jasad temuannya.
Detektif polisi yang bernama Charlie itu segera mengajak anak buahnya untuk mengikuti langkahnya Jaksa Jenar Ayu.
Di saat Antares hendak melangkah untuk mengikuti Jenar, Leo menahan lengannya Antares sembari berkata, "Temani aku di sini! Ngapain kamu ikuti Jenar? Kamu juga nggak bisa bantu apa-apa di sana"
Antares mendengus kesal dan bersandar ke mobil untuk menuruti permintaannya Leo.
Leo kemudian menatap Antares untuk bertanya, "Jenar tadi, aku dengarkan ada dia bilang Berang-berang. Emang kita ketemu Berang-berang, tadi? Nggak ada, kan?"
Antares menghembuskan napas kesalnya, lalu berkata, "Bukan Berang-berang, tapi bareng-bareng. Artinya bareng-bareng, tuh, bersamaan. Kita lakukan secara bersamaan, gitu. Sepertinya telinga kamu perlu dilap dan dipel"
"Hei! Emangnya telingaku lantai? Itu bahasa apa? Bareng-bareng?"
"Itu bahasa Jawa. Lintang orang Jawa. Almarhum Mamanya dari Pare-Kediri-Jawa Timur" Sahut Antares.
"Jauh" Sahut Antares singkat sembari bersedekap.
"Aku tahunya Pare-Pare yang ada di Sulawesi Selatan" Sahut Leo.
"Yeeaahhhh" Sahut Antares acuh tak acuh.
Jenar kembali ke parkiran mobil tepat di saat sinar matahari mulai menampakan sinarnya dengan malu-malu.
Leo langsung keluar dari dalam mobilnya, begitu juga dengan Antares. Leo langsung menyemburkan protes, "Kok lama banget? Aku udah sangat ngantuk dan laper, nih"
"Kamu udah minum kopi instan dan roti bekalku. Mana ada ngantuk dan laper" Antares mendelik ke Leo dan Leo langsung meringis.
Antares menoleh ke Jenar, "Sudah selesai? Mau minum kopi instan dan makan roti dulu? Bekalku masih sisa dua"
__ADS_1
Jenar menggelengkan kepalanya dan sambil melangkah masuk ke dalam mobilnya, ia berkata lemas, "Antarkan aku pulang. Aku nggak punya kekuatan untuk nyetir sendiri"
"Dengan senang hati" Sahut Antares sambil bergegas masuk ke jok kemudi.
Antares melajukan mobilnya Jenar dengan pelan dan Leo segera mengikutinya.
Di saat Antares menoleh ke Jenar untuk bertanya, mau sarapan apa, dia melihat Jenar sudah pulas tertidur dengan kepala bersandar ke pintu mobil.
Antares tersenyum dan dia meminggirkan mobil sebentar untuk melepas jaketnya dan setelah ia lipat jaketnya, ia meletakkan jaketnya di bawah kepalanya Jenar, agar kepala Jenar tidak terantuk pintu mobil saat mobil melaju di jalan raya.
Setelah berhasil keluar dari jalan bebas hambatan, Antares menoleh sekilas ke Jenar saat ia mendengar Jenar bertanya, "Sudah sampai?"
"Belum" Sahut Antares.
"Kita mampir sarapan di warung soto depan. Aku ingin makan yang seger-seger kalau badan terasa remuk redam kayak gini. Dua kilometer di depan, warung sotonya. Emm, kiri jalan, jadi kita nggak perlu nyebrang" Ucap Jenar.
"Siap" Sahut Antares.
Beberapa menit kemudian, Antares, Jenar dan Leo sudah bisa menikmati soto daging sapi pesanan mereka dengan lauk pauk pilihan mereka. Jenar merogoh tas kerjanya saat ponselnya berdering cukup nyaring dan karena lelah, tanpa sadar ia mengaktifkan tombol pengeras suara. Antares menghentikan sendoknya di udara saat ia mendengar suaranya Alfa yang masih ia hapal dengan sangat baik, Alfa berkata, "Sayang, kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku ke apartemen kamu ingin ajak kamu sarapan, tapi kata tetangga kamu, kamu nggak pulang semalam"
Antares menatap Jenar dalam kebekuannya, namun benaknya aktif bertanya-tanya, kenapa Alfa menyebut Jenar dengan kata sayang? Ada hubungan apa di antara mereka?
Antares menautkan alisnya saat Jenar berkata, "Aku kemarin dapat kasus dan harus pergi ke luar kota dengan seorang teman"
Benak Antares kembali bertanya-tanya, kenapa Jenar tidak katakan ke Alfa kalau dia
pergi denganku?
Satu bulan tinggal di perkebunan teh, bisnisnya Rafael mulai berkembang secara signifikan dan membuat Rafael bisa berkenalan dengan seorang wanita yang lebih dulu berkecimpung di bisnis teh. Wanita itu lebih muda lima tahun darinya. Wanita berparas biasa, namun sangat baik, ramah itu, bisa cepat akrab dengan Rafael yang sedikit pendiam dan kaku. Wanita yang memiliki nama Mega itu, juga bisa cepat akrab dengan Renata. Namun, tanpa Mega sadari, Renata sering menatap tajam ke Mega dengan penuh kebencian karena di hati Renata, mulai timbul kecemburuan saat Mega mulai sering bertandang ke rumahnya dan mengobrol dengan ayahnya.
__ADS_1