Jenar Ayu

Jenar Ayu
Jujur


__ADS_3

Renata bergumam di dalam selimut tebalnya, "Jenar Ayu. Kau akan rasakan pembalasan dariku karena kau, sudah menahan Kak Ares datang ke rumahku untuk menjagaku tadi siang. Lihat saja nanti. Aku akan temukan cara untuk membalas kamu, Jenar Ayu" Renata menyeringai di dalam selimutnya.


Antares senyum-senyum sendiri di atas kasurnya dan sambil mendekap erat telepon genggamnya, ia bergumam, "Jenar Ayu, dosakah hamba bermimpi kasih dengan Puan. Ujung jarimu, eh bibir manismu kucium mesra.....awwwww!!!!" Antares berteriak kaget saat kepalanya dilempar bantal oleh Leo.


Antares mendelik ke Leo, " Ngapain lagi kamu masuk ke kamarku? Budayakan ketuk pintu, napa?"


"Tanganku kena pisau. Nggak bisa buat ngetuk pintu. Minta plester luka" Leo menunjukkan jari telunjuknya yang terluka ke Antares.


"Ada di laci, tuh. Ambil sendiri" Sahut Antares dengan wajah kesal.


Leo membuka laci dan dia langsung menemukan plester luka di sana. Lalu, ia berjalan ke ranjangnya Antares dan sambil memasang plester luka di jari telunjuknya, dia bertanya ke Antares, "Aku rasa lirik lagu yang kamu nyanyikan tadi salah, Bro"


Antares langsung mendorong punggung Leo dengan kakinya sambil berkata kesal, "Bodo amat! Keluar sana!"


"Bentar, aku masih penasaran. Harusnya, liriknya, kan, ujung jarimu ku cium mesra tadi malam. Kenapa kamu nyanyinya tadi, bibir manismu...........what?!!!!!" Leo langsung mendelik ke Antares lalu meringis.


"Apa? Apa yang kau pikirkan?" Antares melotot ke Leo.


Leo menepuk bahu Antares sambil bertanya dengan wajah kegirangan, Kamu udah mencium bibir Jenar, ya? Iya, kan? Aku benar, kan? Aw!!!!!! So sweet, Bro!!!"


Antares langsung bangun dan menarik Leo keluar dari dalam kamarnya. Lalu, bam! Antares langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya sambil bergumam, "Dasar tukang ganggu"


Leo masih berteriak di luar kamarnya Antares, "Kamu merona tadi, Bro! Dugaanku pasti benar! Kamu udah cium Jena besok kamu harus traktir aku steak tenderloin sapi yang premium di porsi!!!!!!"


"Tidur! Dasar tukang ganggu!" Antares berteriak dari dalam kamarnya dengan senyum geli.


Alfa memarkirkan mobil milik wanita yang mengaku bernama Stephanie di halaman rumahnya.


"Rumah siapa, ini?" Tanya Stephanie.

__ADS_1


"Ini rumahku. Tapi, kita hanya akan ngobrol di dalam mobil. Aku nggak akan memasukkan kamu ke dalam rumah, karena aku nggak kenal sama kamu. Setelah obrolan kita selesai, aku akan keluar dari mobil kamu ini" Sahut Alfa dengan wajah serius.


"Oke. Aku juga nggak ingin masuk ke dalam rumah kamu. Nggak nyangka attitude seorang dokter, seperti ini" Stephanie mendelik ke Alfa.


"Jangan bawa-bawa gelar dokter di sini. Attitude aku emang seperti ini dan nggak ada kaitannya dengan gelar dokter yang aku sandang. Aku hanyalah Alfa saat ini. Aku nggak gampang percaya sama orang"


"Oke, fine"


"Oke, sebelum aku ambil keputusan. Aku nanya dulu apa mau kamu?" Tanya Alfa dengan wajah serius.


"Aku cuma pengen kamu bertanggung jawab karena kamu udah meniduri aku semalam" Sahut Stephanie.


"Aku akan bertanggung jawab. Aku akan membiayai kehamilan kamu kalau kamu hamil karena aku nggak pernah menyetujui aborsi. Aku akan akui anak kamu adalah anakku" Sahut Alfa.


"Tidak sesederhana itu. Aku butuh dihargai"


"Oke, berapa yang kamu mau?" Alfa mengeluarkan buku cek dari dalam tas kerjanya.


"Tidak bisa. Aku udah punya pacar dan aku sangat mencintai pacarku. Aku nggak mau berkencan dengan wanita lain selain pacarku"


"Dasar brengsek!"


"Hei, Nona! Kau juga brengsek! Kenapa kau muncul di hotel? Kenapa kau menghampiriku? Kau yang bersalah di masalah ini. Kau yang menghampiri mejaku. Kenapa kau menyalahkan aku? Aku mabuk berat semalam, aku nggak sadar dengan yang aku lakukan. Kalau kamu pergi meninggalkan aku, hal seperti itu nggak akan terjadi"


"Kamu yang menyeretku ke kamar. Aku juga mabuk berat semalam. Kalau kamu nggak brengsek, semabuk apa dirimu, kamu nggak akan meniduriku" Stephanie mendelik ke Alfa.


"Kalau kamu wanita baik-baik, kamu nggak akan diam saja saat aku mabuk dan menyeretmu ke kamar" Alfa tersenyum mengejek.


"Kau........." Stephanie hendak menampar pipi Alfa lagi dan Alfa dengan sigap menepisnya. Alfa kemudian berkata, "Aku akan bertanggung jawab. Tapi, aku nggak akan berkencan denganmu dan nggak akan menikahimu" Alfa lalu melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Setelah menutup pintu mobil, dia melenggang masuk ke dalam rumahnya tanpa pamit ke Stephanie.

__ADS_1


Stephanie menatap punggung Alfa dan bergumam, "Sial! Kenapa dia udah punya pacar? Aku mencintainya sejak pertama kali melihat wajahnya semalam. Aku menyukai selera humornya. Tapi, dia ternyata dingin dan brengsek. Dan lebih parahnya lagi, dia udah punya pacar. Sial, sial, sial!!!!!!!"


Jenar meraih telepon genggamnya yang kembali berdering dan tanpa melihat siapa yang meneleponnya di jam satu dini hari, Jenar langsung menyemburkan kekesalannya, "Kenapa nelpon lagi? Ini jam satu. Emangnya kamu nggak bisa baca jam, ya, sekarang?"


Alfa menautkan alisnya dan bertanya, "Siapa yang kau maksud, Sayang?"


Jenar terkejut dan langsung menatap layar telepon genggamnya. Jenar sontak menegakkan badan saat ia melihat wajah Alfa di layar telepon genggam.


"Bukan siapa-siapa. Cuma, tadi sebelum kamu temanku nelpon aku dan dia orangnya reseh banget" Jenar tersenyum lebar ke Alfa.


"Siapa? Si Jane, ya?" Tanya Alfa.


"Yeeeaahhh" Jawab Jenar asal-asalan.


"Maaf aku mengganggu tidur kamu"


"Nggak papa. Maaf, aku salah pencet panggilan Vide Call" Sahut Jenar sambil merapikan rambut dan meraup kasar wajah manisnya yang masih tampak sangat mengantuk.


"Nggak papa. Aku malah senang kamu angkat panggilan teleponku ke Video Call. Aku jadi bisa menatap wajah pacarku yang manis dan sangat aku rindukan" Alfa menatap Jenar dengan penuh cinta.


"Ada apa? Apa ada hal yang sangat penting yang ingin kamu sampaikan? Kenapa nelpon di jam ini?" Jenar kembali meraup kasar wajahnya.


"Aku cuma ingin dengar suara kamu dan asyiknya aku dapat bonus. Kamu salah pencet ke VC jadinya aku dapat bonus bisa lihat wajah manis kamu" Alfa tersenyum penuh arti ke Jenar.


"Udah selesai ngegombalnya? Kalau udah selesai, aku mau tidur. Besok pagi jam lima aku harus ke lokasi kejadian. Ada kebakaran di salah satu rumah penduduk dan ada korban jiwa"


"Oke. Tidurlah! Aku mencintaimu" Ucap Alfa.


"Hmm" Jenar menjawab singkat dan mematikan telepon genggamnya sambil kembali rebahan dan langsung menutup mata untuk melanjutkan mimpinya.

__ADS_1


Alfa menatap layar telepon genggamnya yang menggelap dan setelah menghela napas beberapa kali ia berucap, "Kenapa Jenar hanya menjawab Hmm, setiap kali aku bilang aku mencintaimu. Apa Jenar tidak pernah benar-benar mencintaiku? Aku akan menemui Jenar besok malam dan aku rasa aku harus jujur soal kebodohan yang aku lakukan. Aku telah meniduri seorang gadis tanpa aku sengaja. Aku rasa hubungan itu harus dilandasi kejujuran dan aku rasa kalau aku jujur, Jenar akan memahamiku"


__ADS_2