
Antares terkejut bukan main. Pria tampan itu langsung menarik wajahnya dan duduk tegak.
Jenar duduk tegak dan menoleh ke Antares untuk bertanya, "Kenapa kau........"
Antares yang masih menatap Jenar, langsung memotong ucapannya Jenar, "Aku bisa saja mencari alasan bahwa aku tergelincir saat ingin melepas sabuk pengaman, atau memakai alasan masuk akal lainnya. Tapi, aku lebih memilih untuk jujur. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium kamu. Kamu sangat imut dan menggemaskan saat kamu tidur. Maafkan aku!"
Jenar berdeham dan mengalihkan wajahnya ke depan untuk menutupi wajahnya yang merona. Hati Jenar berdesir dan jantungnya berdegup kencang saat otaknya mengirimkan sinyal bahwa ia menyukai ciumannya Antares dan sangat menyukai kejujurannya Antares. Namun, Antares tidak boleh tahu. Dia harus menjaga martabatnya sebagai kekasihnya Alfa.
Antares merapatkan bibirnya sambil menghela napas panjang, lalu ia memberanikan diri untuk bertanya, "Apa kau marah? Apa kau akan menjauhiku dan tidak mau berbicara lagi denganku setelah ini?"
Jenar menggelengkan kepalanya dan tanpa menoleh ke Antares, ia berucap, "Lupakan saja! Ciuman kamu nggak ada efeknya juga buatku" Jenar lalu membuka pintu dan di saat Jenar hendak turun, Antares menahan lengannya Jenar.
Jenar menarik lengannya dan menoleh ke Antares dengan sorot mata tajam.
"Maafkan aku!"
"Aku bilang lupakan saja" Sahut Jenar ketus.
"Emm, berarti kita masih berteman, kan?"
"Hmm" Jenar berucap sambil berdiri di depan pintu mobilnya Antares yang jendelanya terbuka.
"Berarti aku boleh minta tolong sama kamu?"
"Tergantung pertolongan macam apa?" Jenar menatap Antares yang masih duduk di belakang kemudi.
"Aku akan menemui seseorang nanti sore. Aku udah janji. Tapi, yeeaahh, kau tahu, kan, aku nggak pandai bersosialisasi. Maukah kamu menemaniku nanti sore?"
"Baiklah. Jam berapa?" Tanya Jenar.
Antares hampir saja terbang ke udara saking gembiranya saat ia mendengar Jenar berkata baiklah. Antares kemudian tersenyum lebar dan berkata, "Aku akan jemput kamu jam lima"
"Oke" Sahut Jenar.
Antares memperlebar senyumannya dan berucap, "Terima kasih" sambil melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya Jaya Dwipa.
Jenar masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamarnya. Dia merebahkan diri di atas kasur dan melempar begitu saja tas kerjanya di atas kasur. Dan sambil menyalakan AC, ia meraih telepon genggamnya yang berdering sangat kencang, "Halo, ada apa?"
Alfa menautkan alisnya dan sontak menyemburkan protes, "Kok ada apa? Seorang pacar nelpon ceweknya itu berarti ia kangen"
"Hmm" Sahut Jenar dengan nada lelah.
"Kamu sakit? Kok terdengar lemas kayak gitu?" Tanya Alfa.
"Aku baru pulang kerja. Aku capek banget"
"Nah, kan, bener kata aku. Perjalanan pulang pergi dari sana akan banyak menyita waktu dan tenaga kamu. Kenapa kamu nggak balik aja ke sini lagi? Kita bisa ketemu di sela-sela waktu longgar kita kamu kamu tinggal di sini Kalau kamu tinggal di sana, aku harus nunggu malam Minggu baru bisa ketemu sama kamu"
"Lagian, malam Minggu juga, belum bisa dipastikan kalau kamu nggak akan lembur. Jadi, nggak ada bedanya aku tinggal di sini atau di sana" Jawab Jenar ketus.
__ADS_1
"Lho kok gitu sih ngomongnya. Emangnya kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Alfa
Kangen? Aku sudah lupa apa itu kangen di tahun kedua pacaran kita, Fa. Ucap Jenar di dalam batinnya.
"Jen? Kamu masih di sana? Kok diam?"
"Hmm" Sahut Jenar singkat.
"Kenapa aku merasa teleponku ini hanya formalitas saja? Kenapa........."
"Aku capek banget. Aku mau mandi. Kita sambung nanti, ya?" Sahut Jenar dengan cepat.
"Baiklah. Met istirahat, ya. Aku merindukanmu dan selalu mencintaimu" Sahut Alfa.
"Hmm" Jenar menjawab singkat dan langsung mematikan telepon genggamnya. Lalu, ia lempar begitu saja telepon genggamnya di atas kasur dan ia pejamkan kedua matanya.
Sementara itu, Alfa menatap layar telepon genggamnya yang sudah menggelap dengan bergumam, "Apa selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan? Apakah Jenar benar-benar mencintaiku?"
Antares masuk ke dalam rumah sambil bersiul. Setelah mencantolkan kunci mobil di tempat yang sudah disediakan, Antares menuju ke lemari es. Saat Pria tampan itu membuka lemari es hendak mengambil satu botol air mineral dingin, Leo menepuk punggungnya sambil bertanya, "Tumben bersiul? Ada apa nih? Siulan kamu mencurigakan bagiku"
Antares memilih menenggak botol air mineral dingin alih-alih menjawab pertanyaannya Leo. Lalu, ia melenggang masuk ke dalam kamar mengabaikan Leo.
Leo melongo lalu ia menghela napas panjang dan berkata, "Jatuh cinta berjuta rasanya"
Tepat jam empat sore, Antares muncul di depannya Leo yang tengah asyik menikmati kopi hasil kebun dan racikannya sendiri di teras depan.
"Mau mengunjungi tetangga baru. Aku bertemu tadi di toko pupuk dan benih" Sahut Antares.
"Aku ikut, boleh? Aku bosan di rumah. Kita baru akan buka kafe kita ini, Minggu depan, kan? Dan semua bahan udah kita siapkan. Kita nggak ngapa-ngapain selama seminggu ini. Bisa mati kaku aku" Leo bangkit berdiri dengan penuh semangat.
"Boleh. Tapi, ada syaratnya" Sahut Antares.
"Apa.syaratnya?" Leo berkacak pinggang.
"Kamu harus mengunci semua pintu rumah dan duduk di jok belakang" Sahut Antares.
"Kenapa harus duduk di jok belakang?" Leo langsung menautkan alisnya dan merengut.
"Aku udah ajak Jenar tadi. Dan........."
"Oooooo. Oke, Bro! Aku paham. Aku akan kunci pintu rumah dulu. Tunggu bentar" Leo menepuk pundaknya Antares.
Beberapa menit kemudian, Leo dan Antares sudah duduk di ruang tamu rumahnya Jaya Dwipa dengan ditemani teh manis hangat dan pisang goreng. Jaya Dwipa masih sibuk menyiapkan hasil panen yang akan dia setorkan ke pengepul dan tidak bisa menemani Antares dan Leo mengobrol. Sedangkan Jenar masuk kembali ke dalam kamar untuk berganti baju. Sementara Handoko belum pulang.
Jenar keluar dari dalam kamar dengan rambut dikepang satu, memakai kaos sweater berwarna hijau pupus berlengan pendek, yang pas melekat di tubuh rampingnya dan dipadukan dengan celana jins belel panjang selutut yang pas melekat di bagian pinggul ke bawah,. membuat tubuh Jenar yang terbiasa terbungkus blazer longgar dan rok pias panjang, tampak sangat memesona di sore itu.
Leo dan Antares sontak bangkit berdiri dan terbius keindahan bentuk tubuh Jenar.
"Kenapa kalian menatapku sampai melongo kayak gitu? Aku aneh, ya, pakai ini? Aku nggak pernah pakai baju ini. Jadi, aku pikir, aku........"
__ADS_1
"Cantik, kok" Sahut Leo dengan cepat.
"Sempurna. Kamu sangat sempurna, Jen" Sahut Antares.
"Terima kasih atas pujiannya. Kita berangkat sekarang?"
"Ah, iya" Sahut Antares dengan kikuk dan pria tampan itu segera berlari kecil keluar dari rumahnya Jaya Dwipa dengan diikuti Jenar dan Leo.
"Kita nggak pamit sama Eyang Kakung kamu dulu?" Tanya Antares saat ia membuka pintu mobil.
"Nggak usah. Eyang udah tahu aku akan pergi ke mana" Sahut Jenar.
Antares lalu masuk ke dalam mobil, memakai sabuk pengaman dan langsung tancap gas.
Beberapa menit kemudian, Antares memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah yang cukup luas. Sama luasnya dengan rumah dia dan rumah eyang kakungnya Jenar. Cuma, rumah di pekarangan itu bergaya Eropa modern yang klasik dan rumah itu dekat dengan sungai.
Saat Leo dan Jenar menyusul Antares keluar dari dalam mobil, Mereka spontan bertanya secara bersamaan, "Rumah siapa ini?"
"Kenalanku. Aku bertemu dengan pemilik rumah ini tadi siang di toko pupuk dan benih dan beliau orangnya sangat ramah. Beliau mengundangku datang ke rumahnya. Beliau ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting padaku" Sahut Antares sambil melangkah terus ke teras rumah itu.
Saat Antares mengangkat tangan hendak mengetuk pintu rumah itu, rumah itu tiba-tiba terbuka dan wajah ramahnya Rafael langsung menyapa Antares, Leo, dan Jenar.
"Masuklah! Wah, Om nggak menyangka kalau kamu akan ajak teman kamu" Ucap Rafael dengan senyum hangat.
Jenar mengedarkan pandangannya dan penglihatannya yang tajam menangkap ada sarang tawon di atas atap teras.
Antares masuk dengan diikuti Jenar dan Leo. Setelah duduk di sofa, antares berucap, "Emm, maafkan saya kalau saya ajak sahabat-sahabat saya. Saya belum begitu mengenal Anda dan saya nggak pandai bersosialisasi"
"Nggak papa. Santai aja! Mumpung Putri Om masih les di rumah tetangga, Om akan tunjukkan sesuatu ke kamu sebelum Putri On pulang" Rafael berbalik badan dan langit g berlari masuk ke sebuah kamar yang letaknya berhadapan dengan ruang tamu. Tidak begitu lama, Rafael muncul lagi depan Antares, Jenar, dan Leo. Ia langsung duduk dan menyodorkan sebuah map tebal ke Antares sembari berkata, "Bukalah!"
Saat Antares hendak membuka map itu, Rafael langsung menyemburkan tanya, "Tapi, apakah kamu tidak akan keberatan kalau membuka map itu di depan sahabat-sahabat kamu?"
"Nggak papa, Om. Jenar dan Leo udah seperti keluarga bagi saya" Sahut Antares.
"Ah, iya. Om belum perkenalkan diri Om. Nama Om, Rafael"
"Senang berkenalan" Sahut Jenar dan Leo secara bersamaan.
Antares melanjutkan gerakan tangannya untuk membuka map tersebut. Ia melihat ada kertas hasil tes DNA dan ada tulisan nama Rigel Altair di sana dan nama seorang anak perempuan. Tulisan 98,99 persen di bagian paling bawah, membuat Antares mengangkat wajahnya untuk bertanya ke Rafael, "Apa ini berarti, Papa saya punya anak lain selain saya?"
Rafael tersentak kaget dan langsung berkata, "Om nggak nyangka kalau kamu anak yang sangat cerdas. Kamu bisa dengan cepat menebaknya"
"Dan, a......apakah putri Papa saya yang namanya tertera di surat hasil trs DNA ini, adalah Putri Om yang Om katakan sedang les saat ini?" Tanya Antares.
Rafael menganggukkan kepalanya dan berkata, "Itu adalah hal penting yang ingin Om sampaikan ke kamu saat pagi tadi Om mendengar nama Altair meluncur dari mulut kamu dan Om amati, wajah kamu mirip dengan Renata. Nama Adik perempuan kamu adalah Renata"
Jenar dan Leo saling pandang di dalam kebisuan mereka.
Kedua tangan Antares terkulai lemas saat ia bergumam, "Aku punya adik perempuan? aku harus bersikap bagaimana?"
__ADS_1