
Alex dan Handoko menyambut kedatangannya Jenar Ayu dan Jaya Dwipa dengan wajah semringah.
"Nggak terasa kamu tiba-tiba sudah sebesar ini dan kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Mirip sama Mama kamu" Ucap Handoko
"Mana ada yang namanya tiba-tiba. Aku yang telah membesarkan Jenar tidak kau kasih selamat?" Jaya Dwipa bersedekap di depan Handoko.
Handoko langsung menepuk pundaknya Jaya Dwipa dan berkata, "Hahahahaha, bukan begitu. Saya cuma kaget melihat Jenar tubuh dengan baik dan tumbuh menjadi setinggi ini dan cantik"
Jenar mengulum bibir menahan senyum, lalu berucap, "Terima kasih, Om"
""Selamat datang Tuan Jaya dan Non Jenar. Saya telah menjaga semua aset Tuan Krisna dengan baik dan saya juga telah mengembangkan bisnis Tuan Krisna dengan baik" Sahut Alex.
"Terima kasih, Om Alex" Sahut Jenar.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan mereka di meja makan untuk menikmati makan siang.
"Kamu ingin ambil kuliah apa Jenar?" Tanya Handoko.
"Hukum. Saya ingin menjadi jaksa" Sahut Jenar.
"Kenapa nggak pengacara seperti aku?" Tanya Handoko.
"Nggak, Om. Saya lebih tertarik menjadi Jaksa" Jawab Jenar
__ADS_1
"Bagus. Kami semua akan mendukung kamu sampai kamu sukses menjadi jaksa"
"Lalu siapa yang akan meneruskan bisnis Tuan Krisna" Sahut Alex.
"Aku akan meneruskan bisnis Papa sekaligus menjadi Jaksa. Aku mohon bimbingannya, Om" Sahut Jenar.
"Siap, Non" Sahut Alex dengan wajah semringah.
Keesokan harinya, Handoko mengantarkan Jenar mendaftar ke Universitas Negeri ternama dan menemani Jenar mendaftar di Fakultas Hukum. Karena jarak rumah ke Universitas cukup jauh dan akan memakan banyak waktu kalau harus bolak-balik, maka Handoko menyarankan Jenar untuk kost.
Jenar menyetujui saran Handoko dan Handoko langsung menemani Jenar mencari kost.
Mereka memilih tempat kost yang mewah. Berlantai tiga, luas dan bergaya modern. Jenar mau tidak mau menempati kamar di lantai dua di bagian tengah karena hanya tersisa kamar itu. Kamarnya luas, ada dapur dan kamar mandi dalam, mirip seperti ruangan sebuah apartemen.
"Terima kasih, Om" Setelah Handoko pergi, Jenar kembali ke kamarnya.
Antares Altair juga masuk ke universitas yang sama dengan Jenar Ayu, namun ia mengambil jurusan kedokteran. Ia ingin menjadi dokter bedah yang hebat seperti papanya. Antares tumbuh menjadi anak yang pendiam, egois dan selalu dingin kepada siapapun. Antares tidak perlu mencari kost, karena ia memiliki apartemen di sekitar kampus.
Jenar Ayu menatap layar laptopnya dan bergumam, "Aku akan cepat lulus dan menjadi jaksa untuk bisa menjebloskanmu ke dalam penjara, Rigel Altair. Tunggu saja!"
Malam hari pun tiba, sepeninggalnya Handoko dan Jaya Dwipa, Jenar kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di atas kasurnya. Di tengah malam, Jenar terbangun saat ia merasakan kembali kesedihannya Akamu. Jenar lalu bangun dan duduk di atas kasur. Ia merenung cukup lama tentang keanehan yang ia rasakan sejak ia masih berumur lima tahun sambil terus mengelus-elus dadanya. Jenar kecil mengira kalau Akamu masih hidup, namun sejak ia mengetahui bahwa Akamu juga menjadi korban kebrutalannya Rigel Altair, Jenar bergumam, "Siapa yang menerima donor jantungnya Akamu? Aku harus mencari orang itu"
Tiba-tiba Jenar tersentak dari lamunannya saat ia mendengar ada suara seorang pria tengah bertengkar dengan seorang wanita. Suara mereka cukup keras, Jenar bergumam, "Siapa yang bertengkar? Ibu kost adalah seorang janda dan tidak memiliki anak. Apakah ada anak kost yang membawa masuk seorang laki-laki ke sini? Padahal, kan, itu dilarang" Pikiran Jenar itu membuat Jenar melompat turun dari atas kasurnya dan langsung melesat berlari keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Jenar menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak melihat apapun di setiap lorong yang ada di lantai dua. Seketika itu pula Jenar merinding dan tengkuknya terasa dingin dengan tiba-tiba saat ia mendengar suara lolongan anjing yang sangat panjang dan begitu memilukan. Jenar sontak bergumam sambil mengelus tengkuknya, "Sial! Kenapa sejak aku menginjak umur tujuh belas tahun dan sampai sekarang ini, aku menjadi penakut? Padahal saat aku kecil aku justru sangat pemberani. Apakah karena, semakin besar semakin banyak dosa yang aku lakukan?" Jenar lalu berputar badan untuk bergegas masuk kembali ke dalam kamar, namun ia sontak mengerem langkahnya dan melepaskan handle pintu kamarnya untuk kembali menghadap ke depan saat ia kembali mendengar suara pria dan wanita bertengkar.
Jenar menoleh ke kanan, ke arah asal suara dengan perlahan dan dia langsung membeku saat ia melihat di ujung lorong ada seorang wanita memakai lingerie berwarna putih, rambut panjang awut-awutan dan menutupi semua wajahnya, dan kedua tangannya menyilang di depan dadanya tengah bersimpuh di depan sosok pria yang berdiri menjulang dengan membawa sapu lidi.
"Jangan percaya pada Cleo!!!!! Tolong, jangan hukum aku!!!!!!! Aku tidak pernah selingkuh" pekik wanita itu dengan masih menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Jerit pilu wanita itu cukup kencang, namun tidak ada satu pun penghuni kost yang keluar dari dalam kamar kecuali, Jenar Ayu.
Jenar Ayu merasakan tengkuknya terasa dingin dan merinding. Namun, Jenar enggan untuk meninggalkan wanita itu. Ia melangkah maju dengan pelan untuk menolong wanita itu. Namun, Jenar sontak mengerem langkahnya, menarik kedua alisnya ke atas dengan rahang tertarik ke bawah saat ia melihat pria itu menyeret kasar wanita itu dengan cepat pria itu mengangkat tubuh wanita dengan rambut awut-awutan, lalu ia jatuhkan tubuh wanita itu ke lantai bawah begitu saja. Lalu pria itu menoleh ke Jenar dengan seringai yang sangat menakutkan. Bau busuk langsung menusuk kedua lubang hidungnya Jenar.
Jenar sontak berbalik badan dan berlari ke anak tangga. Dia menuruni anak tangga dengan setengah berlari karena, ia ingin segera menolong wanita malang yang dijatuhkan ke lantai satu. Jenar sampai di lantai satu dan dia langsung membeku saat ia tidak menemukan apapun atau siapapun di lantai satu dan tangannya langsung berkeringat saat ia mendongak ke lantai dua dan dia juga tidak menemukan siapapun di sana.
Jantung Jenar berdegup sangat kencang saat Jenar kembali mendengar suara wanita dan pria bertengkar dengan sangat hebat. Jenar langsung menutup kedua telinganya dan berlari naik ke lantai dua. Dia tidak menoleh ke kanan dan ke kiri saat ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Jenar langsung mengunci pintu kamarnya, lalu melompat ke atas kasurnya dan meringkuk ketakutan di dalam selimutnya dengan degup jantung yang abnormal dan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.
Jenar terus berdoa dan dia kemudian ketiduran di tengah doanya.
Keesokan paginya, Jenar bertanya ke teman kost yang ia temui di depan pintu kamarnya, "Maaf, apa kamu mendengar sesuatu semalam?"
Teman kostnya Jenar menggelengkan kepalanya dan berucap, "Kenapa kamu berani menempati kamar itu? Emm, sebelumnya maaf, perkenalkan diri kita dulu. Namaku Evita, aku ambil jurusan komputer"
"Aku Jenar Ayu. Aku ambil jurusan hukum. Dan ada apa dengan kamar ini?" Tanya Jenar sembari menarik Evita berjalan turun menuju ke lantai satu.
"Kamar yang kamu tempati jarang laku karena, kamar itu konon dulunya ditempati seorang mahasiswi yang dihamili oleh pria yang sudah menikah dan di saat wanita itu ingin lepas dari pria itu, pria itu justru mengira kalau wanita itu selingkuh darinya, lalu wanita malang itu dihajar habis-habisan oleh pria itu, kemudian dijatuhkan ke lantai satu sampai mati dan pria itu tidak dipenjara. Dia selamat karena, dia adalah anak Menteri"
Jenar Ayu kembali merinding dan bergumam di dalam hatinya, sial! Kenapa kejadiannya persis sama dengan yang aku lihat kemarin malam. Apa aku bisa tidur nyenyak nanti malam?
__ADS_1