Jenar Ayu

Jenar Ayu
Spesial


__ADS_3

Untuk waktu yang cukup lama, mereka melaju dalam kesunyian yang terpaksa mereka sebut nyaman di dalam benak mereka masing-masing. Jenar dan Antares terus membisu di sepanjang jalan berkerikil yang berbelok ke jalan-jalan dari batu pipih menuju ke jalan besar yang lebih sibuk sampai akhirnya mereka masuk ke jalan bebas hambatan.


Jenar memandang jendela mobil untuk memperhatikan pemandangan di gelapnya malam sementara Antares berulang kali mencuri pandang ke Jenar.


"Apa aku boleh hidupkan radionya?" Tanya Antares dan Jenar hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Antares.


Antares menyalakan radio, tidak keras, dan memilih gelombang radio yang mengalunkan musik rancak.


"GPS-nya mengatakan kalau kita menuju ke luar kota, nih" Ucap Antares.


"Hmm" Sahut Jenar.


"Kita akan sampai dalam waktu dua jam kalau lewat tol dengan kecepatan stabil seperti ini" Ucap Antares.


"Hmm" Jenar kembali menyahut singkat tanpa menoleh ke Antares.


Antares kemudian membisu dengan tanya di dalam hatinya, apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuat Jenar menatapku?


Antares melirik pangkuannya Jenar sekilas, lalu bertanya, "Untuk apa kau melukis wong samar itu?"


"Untuk aku tunjukkan ke polisi, wajah wong samar itu sebelum ia ditemukan di dalam keadaan yang sudah membusuk dan rusak" Sahut Jenar dengan wajah lelah dan Jenar masih enggan menoleh ke Antares.


Yeah! Paling nggak, Jenar masih mau menjawab pertanyaanku, ucap Antares di dalam hatinya.


Antares kembali melirik Jenar untuk berkata, "Tidurlah kalau kau lelah! Aku akan bangunkan kamu kalau kita sudah sampai. Perjalanan kita masih cukup panjang?"


Jenar kemudian menaikkan kedua kakinya ke atas dan meringkuk dengan memunggungi Antares. Tidak begitu lama kemudian, gadis manis itu tertidur pulas.


Antares memarkirkan mobilnya Jenar di sebuah lapangan luas saat GPS menunjukkan mereka sudah dekat dengan lokasi yang mereka tuju.


Antares melepas sabuk pengamannya dan dia kemudian menatap Jenar

__ADS_1


Jenar tidur dengan lemas di sampingnya, dengan kepala bersandar ke bagian belakang jok mobil, sebelah tangan Jenar ada.di Samling tubuh sementara tangan yang lain bertumpu ke pintu, di tempat sambungan ke jendela.


Antares bisa melihat kerutan di dahinya Jenar dan pria tampan itu refleks menyentuh salah satu alisnya Jenar, lalu mengelus alis itu dengan ibu jarinya sembari berkata lirih, "Jangan memikirkan apapun di dalam tidurmu, Jen! Tidurlah dengan santai dan letakkan semua beban kamu!"


Antares bisa melihat ketegangan di wajah Jenar dan dia juga bisa melihat kepedihan yang Jenar sembunyikan, untuk itulah tangan kanannya terangkat untuk mengelus rambutnya Jenar dengan sangat pelan dan penuh dengan kelembutan sambil berucap lirih, "Maafkan aku yang mengambil tindakan bodoh saat itu. Maafkan aku meninggalkanmu saat kamu butuh Akamu. Yeah! Walaupun kamu hanya butuh berada dekat dengan jantungnya Akamu alih-alih diriku, seharusnya aku tidak menjauh darimu"


Antares kemudian melepas jaket yang ia pakai untuk menyelimuti Jenar. Antares terus menatap Jenar dan memperhatikan wajah Jenar sambil bergumam lirih, "Kau makin manis, Jen. Makin dewasa dan makin manis"


Kemudian dengan mengulas senyum yang penuh dengan kerinduan, Antares memperhatikan kedua alisnya Jenar yang tebal dan membentuk bulan sabit secara alami, kemudian hidungnya Jenar yang mungil dan lancip. Lalu pandangannya Antares turun ke bibirnya Jenar yang tipis di bagian atas dan penuh di bibir bagian bawah yang sedikit terbuka saat Jenar tidur pulas, tampak sangat menggoda dengan sapuan lipstick nude, membuat kedua bola matanya Antares parkir cukup lama di depan bibirnya Jenar.


Tanpa Antares sadari, wajahnya terus maju dan dia nekat mengecup bibirnya Jenar. Mantan kekasihnya Jenar itu, kemudian tersentak kaget dengan sendirinya dan ia langsung menarik bibirnya, lalu duduk tegak. Pria tampan itu, menghela napas lega saat ia melihat Jenar masih tertidur pulas dan tidak menjadi terbangun karena kecupannya.


Antares lalu mengusap sendiri bibirnya dengan ibu jarinya sembari bergumam lirih, "Begini ternyata rasanya mencuri sebuah ciuman"


Antares menunggu Jenar bangus dengan penuh kesabaran dan tanpa bosan, ia terus menatap wajah mantan pacar yang sangat ia rindukan itu


Selang satu jam kemudian, Jenar berdecak, menguap lebar-lebar, lalu membuka kedua kelopak matanya. Gadis manis itu sontak duduk tegak dan menoleh ke samping kanannya dengan panik. Antares sontak menyahut, "Jangan takut! Ini aku"


Jenar mendengus kesal dan spontan berkata, "Jangan senyum kayak gitu di depanku! Nggak mempan buatku" Lalu, gadis manis itu mengedarkan pandangannya sambil bertanya, "Kita sudah sampai?"


"Iya. Kita sudah sampai" Antares kembali mengulas senyum hangat di wajah tampannya.


"Berapa lama aku ketiduran?" Tanya Jenar sembari mengangkat jaket yang ada di atas pangkuannya dan menyerahkan jaket itu ke Antares.


Antares memakai kembali jaketnya sambil berkata, "Kau tidur selama satu jam"


Jenar sontak mendelik dan menyemburkan protes, "Kenapa kau tidak bangunkan aku begitu kita sampai di sini?!"


"Aku nggak tega membangunkan kamu. Kamu tampak sangat pulas dan aku nggak mau kehilangan kesempatan berharga menatap wajah cantik alami kamu saat kamu tidur, Jen" Antares kembali mengulas senyum indah di wajah tampannya.


Jenar mendengus kesal dan sambil berkata, "Dasar gila!" Jenar membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Antares bergegas keluar dari dalam mobil dan langsung mengunci pintu mobilnya Jenar sembari menyerahkan telepon genggamnya Jenar, "Ini ponsel kamu"

__ADS_1


Mobilnya Leo akhirnya sampai dan parkir di samping mobilnya Jenar saat Jenar dan Antares berjalan menuju ke rerimbunan daun teh


Ketika Jenar dan Antares telah berjalan di dalam perkebunan teh, Leo bergegas berlari kencang hingga akhirnya dia berhasil melewati Antares dan berjalan di sampingnya Jenar.


Jenar tersentak kaget dan saat ia menoleh ke Leo, gadis manis itu langsung menautkan alisnya untuk bertanya, "Kenapa kau ikut ke sini?"


"Aku takut pulang sendirian setelah melihat keanehan di diri kamu, hehehehe" Leo meringis ke Jenar.


Jenar menghela napas panjang dan memilih untuk tidak menanggapi ucapannya Leo.


Antares yang berjalan di belakangnya Jenar dan Leo, langsung menyahut, "Jenar tidak aneh dia spesial"


"Dan aku tidak butuh pembelaan darimu" Jenar menoleh sekilas ke belakang dan Leo ikutan menoleh ke belakang untuk menjulurkan lidahnya ke Antares.


Antares hanya bisa menghela napas panjang dan meneruskan langkah pendeknya mengikuti Jenar dan Leo.


Jenar berjalan ke arah yang sesuai dengan petunjuk wong samar yang berjalan pelan di depannya dan hanya Jenar yang bisa melihat wong samar itu.


Leo sontak melompat ke belakang dengan bergidik ngeri saat ia melihat jasad seorang laki-laki dengan kaos putih penuh dengan bercak lumpur kering, dengan kondisi wajah yang mulai membusuk dan saat bau busuk menusuk tajam hidungnya, Leo sontak menutup hidungnya rapat-rapat dengan telapak tangannya.


"Kita tunggu polisi sampai ke sini. Aku sudah kirim lokasi ini ke polisi saat kita berangkat tadi" Ucap Jenar.


"Oke. Tepi, lebih baik kita balik aja ke mobil dan menunggu kedatangannya tim polisi di dalam mobil" Sahut Antares.


Leo memegang erat kedua bahunya Antares dari arah belakang dan menyusupkan wajahnya di punggung Antares sembari berucap, "Setuju pakai banget! Kita balik aja ke mobil, yuk!"


Jenar menganggukkan kepalanya dan Leo segera berbalik badan dan dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan, Leo terus melangkah lebar sambil berkata, "Oke, aku nggak akan mengatakan kalau kamu aneh. Sekarang aku benar-benar mengakui kalau kamu itu spesial" Leo menoleh ke Jenar yang berjalan di samping kirinya.


Jenar tersenyum tipis, lalu berucap, "Bagiku nggak ada bedanya aneh dan spesial"


"Bagiku ada. Dan bagiku, kamu itu sangat spesial" Sahut Antares.

__ADS_1


__ADS_2