
"Iya, aku yang sudah mencium Jenar"
Buk! Ada langsung menyarangkan bogem mentah ke wajah tampannya Antares.
Buk! Antares membalas balik bogem mentahnya Alfa.
"Kenapa kau memukulku?"
"Karena kau pantas mendapatkannya" Pekik Antares dengan napas menderu.'
Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing hutan yang sangat keras dan membuat Rafael membuka kedua matanya.
Renata tersentak kaget dan seketika membeku saat kedua bola mata cantiknya bertatap dengan bola mata Rafael.
Rafael menunduk saat ia tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Namun, Rafael berhasil merebut gunting dari tangan Renata dan sambil berkata, "Ayah harus membawamu ke psikiater kenalan Ayah yang ada di kota, malam ini juga"
Mendengar kata psikiater, Renata langsung memekik seperti kesetanan, "Aku nggak mau!!!!!! Aku nggak gila!!!!!!" Lalu, gadis kecil berparas sangat cantik itu bangkit berdiri dan langsung melesat keluar dari kamar ayahnya.
Renata masuk ke dalam kamar mandi dan dia kunci pintu kamar mandi yang berada di dekat ruang tamu. Lalu, gadis cantik keturunannya Rigel Altair itu, duduk meringkuk di dalam bath-tub.
Rafael menggedor pintu kamar mandi dan berteriak, "Buka Rena! Ayah nggak akan menyakiti kamu. Ayah akan sembuhkan kamu. Ayah nggak akan......."
"Bohong!!!!!!! Pergi!!!! Tinggalkan aku!!!!!" Renata berteriak kencang dari dalam kamar mandi.
Rafael menghela napas panjang lalu ia berbalik badan untuk mengambil kunci cadangan kamar mandi yang dipakai oleh Renata untuk bersembunyi.
Rafael masih belum mengetahui dan menyadari seberapa mengerikannya Renata. Rasa sayangnya pada Renata membuat Rafael menutup mata untuk semua kekejian yang sudah Renata lakukan. Bahkan, Rafael mau memaafkan Renata yang sudah tega membunuh istri dan calon anaknya. Rafael yang naif dan terlalu baik itu, bahkan ingin membawa Renata ke Psikiater dan dia bertekad akan berusaha keras menyembuhkan Renata dari racun yang ada di darahnya Rigel Altair yang mengalir kental di dalam tubuhnya Renata.
Ketika tidak ada lagi terdengar bunyi gedoran pintu, Renata bangkit berdiri, berlari ke pintu, membuka pintu dan melesat ke dapur. Dia mengambil pisau buah yang ada di atas meja makan, lalu melesat masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar.
Rafael menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi, "Kok pintunya terbuka? Renata ke mana sekarang?" Rafael mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah, namun ia tidak menemukan keberadaannya Renata. Rafael mencoba ke dapur dan ke ruang keluarga dan di sana pun, tidak ia temukan keberadaannya Renata.
Rafael lalu bergumam, "Rena pasti masuk ke kamarnya lalu mengunci pintunya. Aku harus ambil kunci cadangan kamarnya Rena dulu"
Renata mendekap pisau buah dengan sikap waspada dan raut wajah seorang pembunuh yang sangat mengerikan. Tiba-tiba, bola mata Renata yang terus bergerak lincah ke kanan, ke kiri, dan ke seluruh penjuru ruangan, menangkap telepon genggamnya Rafael yang menggelepar manis di atas meja belajarnya. Renata bangkit berdiri dan sambil menyeringai penuh arti, dia berjalan ke meja belajar untuk mengambil telepon genggamnya Rafael.
__ADS_1
Nomer pertama yang dia pencet adalah nomer telepon genggamnya Antares.
Leo langsung melerai Alfa dan Antares sambil berteriak kencang, "Kalau kalian masih mau duel, aku akan panggil polisi!"
Alfa dan Antares seketika mematung saat di antara mereka terdengar bunyi nada dering telepon genggam yang cukup nyaring. Antares yang hapal kalau itu adalah bunyi dering telepon genggamnya langsung mengangkat panggilan masuk di telepon genggamnya itu, "Halo. Ada apa, Om?"
Terdengar isak tangis Renata.
Antares menatap Alfa sambil bertanya ke telepon genggamnya, "Ada apa, Ren? Apa yang terjadi? Kenapa menangis? Kenapa kamu telpon Om pakai ponsel Ayah kamu? Kamu punya ponsel sendiri, kan? Apa yang terjadi sama Ayah kamu?"
"Ayah ternyata gila, Kak. Ayah seorang pembunuh ternyata. Dan sekarang ini, Ayah ingin membunuhku. Tolong, aku! Aku takut, Kak"
"Sekarang kamu masuk ke kamar kamu dan kunci pintunya!" Pekik Antares sambil berlari menuju ke mobilnya.
Alfa dan Leo, spontan mengikuti laju larinya Antares.
"Aku sudah masuk kamar dan mengunci pintu kamarku"
Antares memasang sabuk pengaman lalu menyalakan mesin mobil sambil berkata, "Bagus! Tunggu Kakak!"
"Lha iya, lah. Ngapain kami bengong aja di rumah" Sahut Leo.
"Siapa yang nelpon?" Tanya Alfa.
Antares menghela napas panjang dan sambil melajukan mobilnya ia berkata, "Renata yang nelpon. Dia bilang kalau Ayahnya ternyata seorang pembunuh"
"Hah?!" Leo sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.
"Sudah kuduga kalau pria itu aneh. Dia juga yang menyuruh Putrinya memberikan toples berisi tawon aneh yang ada di dalam mobilku tadi"
Leo menoleh ke Alfa, temenku ngirimi pesan text, kata dia, "Tas kerja, dompet dan ponsel kamu, akan diantarkan ke rumahnya Ares besok pagi. Temenku orang baik, dia nggak akan mencuri apapun dari dompet kamu atau tas kerja kamu"
"Iya. Aku percaya" Sahut Alfa dari jok belakang.
Lalu, Renata menelepon Jenar Ayu.
__ADS_1
Jenar Ayu yang masih berusaha menelepon Alfa dan masih belum berhasil terhubung, terkejut saat telepon genggamnya menerima panggilan masuk, "Halo? Siapa ini?"
Suara isak tangisnya Renata menyusup masuk ke telinganya Jenar
Jenar tersentak kaget dan spontan bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu menangis malam-malam begini? Di mana Ayah kamu?"
"Ayah jahat, Kak. Tolong aku!" Ucap Renata di antara isak tangisnya.
"Kenapa? Ada apa?" Jenar langsung bangkit berdiri.
"Ayah ternyata seorang pembunuh"
Deg! Seketika Jenar Ayu mematung. Dia selalu membenci dirinya sendiri saat ia menemukan instingnya ternyata benar.
"Apa yang terjadi?"
"Ayah ingin membunuhku. Aku sekarang ada di dalam kamarku"
"Kunci pintunya!" Pekik Jenar dengan nada panik.
"Sudah Kak. Tapi, aku takut" Renata berkata dengan suara gemetar dan isak tangisnya masih terdengar jelas.
"Tunggu Kakak. Kakak akan ke sana" Jenar berucap sembari menyambar kunci mobil lalu menyeret kaki kanannya dengan cepat menuju ke halaman depan.
Jenar berdiri agak lama di depan pintu mobil dan sambil celingukkan dia bergumam, "Eyang dan Om masih memuat barang di gudang. Ah! Aku pergi aja sendiri ke sana. Kasihan Rena ketakutan saat ini. Lagian, kakiku juga udah mendingan, kok. Aku rasa buat nyetir bentar ke rumahnya Rena, nggak papa"
Antares mendengus kesal saat ia melihat telepon genggamnya menggelap, "Sial! Batere ponselku habis. Bagaimana dengan punya kamu?" Antares menoleh ke Leo.
"Yeeaaahhh, sama. Tadi pas hujan, kan, emang listrik mati. Jadi, kita belum isi daya ke batere kita" Sahut Leo.
"Kalau begitu, kita meluncur ke kantor polisi dulu. Kalau kita datang ke rumah Om Rafael tanpa mengajak polisi"
"Setuju!" Sahut Alfa.
"Yeeeaahh, semoga Rena cukup pintar untuk terus bersembunyi dari Ayahnya yang kejam itu" Sahut Leo.
__ADS_1