
Jenar berjalan cukup jauh dan berputar-putar di saat ia butuh untuk menenangkan dirinya sejenak. Rigel terus mengikuti wanita bertopi dan berseragam bartender tanpa lelah dan tanpa mengeluh. Dia sudah terbiasa berburu dan dia memiliki tingkat kesabaran di atas rata-rata orang pada umumnya.
Jenar mengumpat di dalam hatinya di saat rasa takut secara tiba-tiba menyatakan keberadaannya. Jenar bergumam lirih sembari membetulkan letak topinya, "Kenapa aku bisa senekat ini? Apa keberanianku ini timbul karena, ada jantungnya Akamu di dekatku? Tuhan, Akamu, Ayah, Mama, tolong sertai dan lindungi Jenar"
Jenar terus melangkah ke depan dan dia bisa merasakan kalau masih ada orang yang mengikutinya dari belakang.
Eben Henizer, seorang pelukis yang memiliki sepasang bola mata indah pemberian dari almarhum ayahnya Jenar Ayu, termenung di dalam kamarnya. Dia terus didera rasa bersalah. Dia tahu siapa The White Mask yang sebenarnya. Dia tahu pria dibalik topeng putih berdarah yang sudah memakan banyak korban itu, namun dia hanya bisa diam saja selama bertahun-tahun. Dia diam karena dia tidak ingin keluarga kecilnya terancam keselamatannya. Tapi, hari nuraninya terus menjerit setiap kali dia melihat dan mendengar berita di layar televisinya, ada pria yang mengaku sebagai The White Mask dan nuraninya semakin merintih pedih saat mendengar dan melihat berita di televisinya, pria yang mengaku sebagai The White Mask akhirnya bunuh diri.
Istrinya Eben Henizer, pelukis yang tengah naik daun, yang tengah menyusui putri kecilnya yang masih berumur empat bulan, menoleh ke suaminya dan bertanya, "Mas, kamu memikirkan apa? Aku lihat kamu terus melamun dari tadi"
Eben Henizer tersentak kaget dan langsung menoleh ke istrinya, "Hah?! Oh! Nggak, kok. Aku cuma kepikiran pameran lukisanku nanti" Sahut Eben Henizer. Eben Henizer terpaksa berbohong agar istrinya tidak khawatir.
Jenar berjalan sembari celingukan mencari jalan atau lorong sepi yang gelap untuk semakin memancing langkahnya Rigel Altair yang masih mengikuti Jenar.
Rigel Altair menghentikan langkahnya di saat angin malam membelai hidungnya. Rigel yang hendak memakai topeng putih yang dia ambil dari balik jaket kulitnya, sontak menengadahkan wajah tampannya ke langit malam sambil bergumam, "Dia bukan bartender itu. Wanginya beda"
Rigel meragu dan dia berdiri cukup lama di ujung gang. Rigel memasang topeng putih kebanggaannya, sembari kembali bergumam lirih, "Siapa dia? Kenapa dia bisa memiliki pemikiran untuk menggantikan bartender itu dan memancingku ke sini?"
Rigel memakai tudung di jaketnya dan setelah menekuk kepalanya ke kiri dan ke kanan, dia kembali menggeram dan berkata, "Kalau dia polisi, aku akan menyiksanya terlebih dahulu sebelum aku cabut nyawanya. Berani-beraninya dia bermain-main denganku, cih!"
Antares memegang dadanya dan bergumam, "Akamu, berdebarlah biar aku bisa tahu apakah Jenar baik-baik saja atau tidak?" Antares terus mengusap dadanya sembari bergumam, "Ayo, berdebarlah!"
__ADS_1
Saah satu penghuni apartemen yang keluar dari lift, melihat Antares dan langsung bertanya, "Apa yang terjadi? Dada kamu sakit?"
Antares tersentak kaget dan sontak mundur selangkah ke belakang sambil berkata, "Sa.....saya baik-baik saja"
"Kamu yakin?" Tanya seorang bapak paruh baya yang masih berdiri di depannya Antares.
Antares melepas dadanya dengan canggung, lalu tersenyum ragu, karena Antares memang tidak pandai memberikan senyum ke orang asing, lalu ia menganggukkan kepalanya dengan cepat agar pria asing yang masih berdiri di depannya cepat pergi meninggalkannya.
"Baiklah. Aku tinggal, ya? Kalau ada apa-apa ketuk pintu apartemenku" Sahut pria paruh baya itu dan Antares kembali mengangukkan kepalanya dengan cepat.
Setelah mematung beberapa detik, Antares akhirnya memutuskan masuk ke dalam lift. Dia memutuskan untuk mencari keberadaannya Alfa yang katanya tengah bersama dengan Jenar.
"Siapa ini?" Wanita yang terdengar asing itu balik bertanya dan Antares langsung menggeram kesal lalu menyahut dengan nada kesal dan tidak sabar, "Di mana Alfa dan Jenar?"
"Saya tidak tahu. Saya di suruh di mobil ini" Sahut wanita yang terdengar asing bagi Antares.
"Di mana Anda?" Tanya Antares.
"Di kafe Rainy" Sahut wanita di seberang sana dan klik! Antares langsung mematikan sambungan ponselnya itu dan bergegas melajukan mobilnya untuk menuju kafe Rainy.
Eyang kakungnya Jenar menemui Handoko di depan kafe Rainy dan sontak menyemburkan protes, "Apa kamu yang kasih tahu Jenar soal The White Mask?"
__ADS_1
Handoko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu? Kenapa Jenar bisa tahu tentang The White Mask dan kenapa Jenar bisa tahu siapa pria dibalik topeng putih itu?" Handoko dicecar pertanyaan dari eyang kakungnya Jenar.
"Aku juga nggak tahu, Om. Aku aja nggak tahu siapa pria dibalik topeng putih menyeramkan itu" Sahut Handoko singkat.
Jaya Dwipa melengkungkan badannya ke depan dengan berucap, "Aku juga nggak tahu siapa pria dibalik topeng putih itu"
"Yang aku tahu, The White Mask sudah ditangkap dan dia bunuh diri di dalam selnya, Om" Sahut Handoko dengan wajah penuh tanda tanya dan kerutan di kening.
"Sekarang Jenar di mana?" Tanya Jaya Dwipa.
"Polisi sedang mencari keberadaannya Jenar dengan melacak sinyal ponselnya Jenar dan semoga Jenar baik-baik saja" Sahut Handoko.
"Aku tidak bisa diam saja di sini. Aku akan mencari Jenar" Jaya Dwipa langsung berbalik badan untuk berlari ke arah yang sesuai dengan instingnya.
Handoko mengumpat, "Sial!" Lalu, ia bergegas mengikuti laju larinya Jaya Dwipa.
Alfa menemukan sinyal ponselnya Jenar dan dia sontak mengumpat, "Sial! Kenapa Jenar memilih masuk ke dalam hang sempit dan gelap itu? Hiihhhh! Aku kok merinding, nih. Aku masuk nggak, ya?" Alfa lalu menunduk untuk menyentuh kancing di kemejanya dengan berucap, "Masuk, nggak, masuk, nggak, masuk! Wah, kok masuk? Sial!" Akhirnya dengan langkah yang sangat terpaksa, pemuda tampan itu, melangkah maju dan masuk ke dalam gang sempit dan gelap itu.
Di saat Jenar bisa merasakan langkah kaki yang ia yakini itu adalah langkah kakinya Rigel Altair semakin dekat, Jenar nekat berbalik badan. Dia bisa melihat siluetnya Rigel Altair di keremangan. Jenar berbisik kepada dirinya sendiri, "Aku harus berhasil membuatnya masuk penjara malam ini juga" Deg,deg,deg,deg! Jantung Jenar mulai berdegup abnormal dan Antares yang tengah melangkah keluar dari dalam mobilnya, sontak memegang dadanya saat ia merasakan jantungnya berdegup sangat kencang dan pemuda tampan itu segera berlari sambil berkata, "Akamu, tuntun aku ke saudari kembar kamu sekarang juga, Tolong!"
__ADS_1