
Jam setengah lima pagi tepat, Jenar menyeret kaki kanannya yang masih dipasang deker ke teras depan dan dia sontak mundur ke belakang saking kagetnya saat ia melihat Antares sudah berdiri di depan pintu.
Antares berhasil menangkap tubuh Jenar yang hampir terjengkang ke belakang dan menariknya hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Lepaskan!" Jenar mendelik ke Antares.
Antares tersenyum, menggelengkan kepala dan mencium kening Jenar lalu berkata, "Selamat pagi, Manis" Dengan wajah semringah.
"Kau!" Jenar mengusap keningnya. "Kenapa kau cium keningku?" Jenar menyipitkan matanya
Antares tergelak geli lalu berucap, "Karena kamu manis banget. Kamu.........ouch!!!!!" Antares sontak melepaskan Jenar saat kaki kanannya diinjak oleh kaki kirinya Jenar.
"Kau masih bisa menginjak kaki orang, ya? Aku lupa kalau kamu itu orang yang gigih" Antares tersenyum lebar.
"Salah sendiri pas aku minta kamu melepaskan aku, nggak cepat-cepat kamu lepaskan. Emm, Aku ingin mendaratkan bogem ke wajah kamu tadi. Tapi, karena kita akan pergi ke rumah Om Rafael dan aku nggak ingin Om Rafael melihat wajah kamu biru, maka aku pilih injak kaki kamu akhirnya" Jenar berucap sembari menyeret kaki kanan menuju ke mobilnya Antares.
Antares menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu berlari kecil menyusul Jenar setelah ia menutup pintu rumah sambil bertanya, "Eyang Kakung masih sare (tidur)?"
"Eyang udah ke kebun pagi-pagi tadi. Om Handoko yang masih sare (tidur)"
Beberapa menit kemudian, mereka.sampai di kediamannya Rafael.
Rafael kebetulan ada di halaman gudang yang terbakar dan Jenar langsung melangkah pelan ke sana.
Antares yang tidak sabar dan tidak tega melihat Jenar berjalan dengan menyeret kaki kanan, langsung membopong Jenar dari arah belakang.
Jenar sontak memekik kaget dan Rafael menoleh.
Jenar merona malu dan mendelik, "Res! Kenapa kau bopong aku? Malu sama Om Rafael!"
Setelah sampai di depan Rafael, Antares menurunkan Jenar dengan pelan di atas rumput yang sebagian tampak hitam.
"Selamat pagi, Jenar, Res. Wah, kaki kamu sepetinya lumayan parah sampai dipasang deker kayak gitu" Rafael menunduk ke bawah sebentar untuk melihat kaki Jenar lalu mengangkat wajah tampannya untuk menatap Jenar untuk bertanya, "Ada apa sepagi ini datang kemari?"
"Sa........"
"Jenar adalah jaksa, Om. Dia ingin menyelidiki kebakaran gudangnya Om yang menelan korban jiwa. Apakah Om ijinkan? Dan maaf kalau kami udah menggangu kami sepagi ini" Antares memotong ucapannya Jenar karena ia tahu benar kalau Jenar tidak pandai berbasa-basi.
Jenar menoleh ke Antares dengan senyum terima kasih karena Antares sudah mewakili dia untuk berbicara dengan lebih halus dan sopan.
"Oh, boleh. Tentu saja boleh. Silakan! Om akan ke dalam dulu kalau gitu. Om akan siapkan sarapan untuk Renata dan kita"
"Wah, Om nggak usah repot-repot kita akan sarapan di ......."
"Nggak papa. Santai aja. Om ke dalam dulu,ya" Rafael menepuk pundak Antares lalu tersenyum ke Jenar dan melangkah pergi meninggalkan Jenar dan Antares.
__ADS_1
Jenar menoleh tajam ke Antares, "Aku bisa jalan sendiri. Jangan bopong aku dari arah belakang lagi kayak tadi!"
Antares terkekeh geli dan berkata, "Oke, Manis"
"Stop memanggilku manis! Aku bukan kucing" Jenar mendelik ke Antares dan Antares kembali terkekeh geli.
Jenar yang gigih dan teliti mencatat beberapa detail sekecil apapun di dalam buku catatan kecilnya.
Jenar menautkan kedua alisnya saat ia melihat kilauan benda tajam yang berada sekitar tiga meter di depannya. Jenar menyeret cepat kaki kanannya untuk melihat kilauan benda apa itu.
Jenar seketika mematung saat ia melihat benda itu adalah sebuah garpu. Saat ia hendak berjongkok untuk mengamati garpu tersebut, ia meringis kesakitan.
Antares langsung memeluk bahunya Jenar dan dengan wajah panik ia bertanya, "Kaki kamu kenapa?"
"Mungkin karena terlalu cepat aku seret ke sini barusan, jadi sekarang terasa sedikit nyeri"
"Kamu pengen lihat garpu itu, ya? Aku akan ambilkan"
"Pakai sarung tanganku. Ambil di dalam tasku. Sarung tangan dan plastik. Tolong kamu masukkan garpu itu ke plastik"Sahut Jenar.
"Oke" Antares membuka tas rajut model selempang yang Jenar pakai di pagi itu untuk mengambil sarung tangan dan plastik yang cukup panjang dan ada zip-nya di bagian atas.
Setelah memasukkan garpu itu ke dalam plastik, Antares memberikannya ke Jenar dan bertanya, "Kenapa kamu sangat tertarik dengan garpu ini?"
"Bau amis?" Antares menautkan kedua alisnya.
"Hmm" Sahut Jenar. "Kau ingat kasus anak yang ditemukan meninggal bersama anak anjingnya? Dia ditusuk garpu tapi ia mati karena gigitan tawon pembunuh"
"Tawon petir?" Antares semakin menautkan kedua alisnya.
"Iya" Lalu, Jenar menatap Antares dengan senyum penuh arti.
"Ada apa? Kenapa?" Antares menatap Jenar dengan tatapan curiga.
"Tolong bopong aku ke sarang tawon yang ada di atas teras depan rumahnya Om Rafael"
Antares tersenyum semringah dan dia langsung membopong Jenar dengan melebarkan senyum tampannya.
"Biasa aja kenapa? Nggak usah lebay!" Jenar langsung mengalihkan pandangannya ke depan untuk menutupi wajahnya yang merona malu.
"Jangan terlalu dekat! Di pagi hari, tawon keluar dari sarangnya untuk bekerja mencari bunga"
Di jarak tiga meter, Antares menurunkan Jenar saat Jenar meminta untuk diturunkan. Jenar lalu mengambil stick selfie atau lebih dikenal dengan nama tongsis.
Antares membantu Jenar memasang telepin genggam di tongsis itu sambil berkata, "Kamu ingin ambil gambar tawon itu dengan tongsis ini?"
__ADS_1
"Hu um" Sahut Jenar.
"Aku akan bantu" Sahut Antares.
"Agak cepat sebelum Om Rafael datang" Bisik Jenar.
Tiga jepretan tawon yang tengah terbang di sekitar sarang, berhasil Antares dapatkan. Lalu ia bantu Jenar memasukkan kembali tongsis dan telepon genggam ke dalam tas selempang rajutnya Jenar.
"Kita pamit pulang aja. Bilang kalau ada hal mendadak yang harus kita tangani" Bisik Jenar.
"Oke. Aku akan bilang ke Om Rafael. Kamu tunggu di sini, ya?" Antares mengusap rambut Jenar dan Jenar langsung menyemburkan protes, "Kenapa harus elus rambutku?!"
Antares menoleh ke Jenar dan sambil meringis ia berkata, "Tanganku suka nggak tahan lihat hal yang indah"
"Dasar gila" Jenar tersenyum geli dan ada rona merah di wajahnya karena malu.
Saat Antares masuk ke dalam rumah untuk mencari Rafael, Bahu Jenar ditepuk seseorang dari arah belakang dan Jenar tersentak kaget.
Jenar mengelus dada dan menghela napas lega saat ia melihat yang menepuk bahunya dari arah belakang adalah Renata
"Kak Jenar kok nggak masuk? Sejak kapan Kak Jenar berdiri di sini?" Tanya Renata dengan wajah penuh senyum.
Jenar seperti orang lain, ia terpikat akan senyum dan kecantikannya Renata. Jenar tersenyum dan berkata, "Maaf kaki Kakak sakit jadi Kakak nggak bisa Berjongkok untuk memeluk kamu. Kakak nggak masuk ke dalam juga karena kaki kakak ini"
Renata menunduk dan ia melihat pergelangan kaki kanannya Jenar dipasang deker kaki.
Renata mengangkat wajahnya kembali untuk bertanya, "Apa Kak Ares pacar Kakak?"
Jenar sebenarnya merasakan keanehan di sini. Renata menanyakan hubungannya dengan Antares alih-alih kondisi kakinya.
Namun, karena senyum Reanta sangat cantik, dengan cepat Jenar menepis keanehan itu dan berkata, "Kak Ares bukan pacar Kakak. Pacar Kakak namanya Alfa. Dia seorang dokter"
"Apa aku boleh lihat fotonya?"
"Untuk apa?" Jenar kembali merasakan keanehan di sini.
"Kakak, kan, manis. Aku pengen lihat pacar Kakak seperti apa orangnya. Apakah ia tampan seperti Kak Ares?" Renata melebarkan senyumannya.
Jenar mengambil telepon genggamnya dan mencari foto Alfa bersama dirinya. Lalu, ia tunjukkan telepon genggamnya ke Renata.
Renata menatap wajah Alfa dan berkata, "Dia tampan. Tapi, masih lebih tampan Kak Ares"
Jenar memasukkan kembali telepon genggamnya dan tanpa sadar ia berucap, "Yeaaahhh. Kau benar"
Kata Yeahhhh, kau benar yang meluncur dari mulut Jenar membuat Renata sontak berkata di dalam hatinya, Kau menyimpan rasa sama Kakakku. Aku nggak akan biarkan kau merebut kakakku.
__ADS_1