
Saat Alfa berputar badan hendak berlari, Antares langsung berteriak, "Fa! Kenapa kamu lari?"
Alfa meneruskan laju larinya dan Antares langsung melesat dan berhasil mencekal pundaknya Alfa sambil berkata, "Kenapa kamu lari?"
Alfa seketika mematung.
Antares menarik pundak Alfa sampai Alfa menghadap dia dan Antares memuntahkan rentetan pertanyaan, ""Kenapa kamu ingin menghindariku? Kenapa kamu berdiri di pinggir jalan? Ada apa dengan mobilmu?"
"A.....aku nggak menghindarimu"
"Lalu, kenapa kamu lari saat aku dan temanku Leo ini turun dari mobil?"
"A....aku....emm......i....itu karena, kamu pakai jaket Hoodie, aku kira kamu penjahat. Makanya aku lari"
"Oke. Lalu, kenapa dengan mobil kamu? Nggak mungkin mogok, kan? Mobil kamu mobil mewah keluaran terbaru" Tanya Leo dengan wajah penuh tanda tanya.
"Mobilku ada tawon yang aneh. Spesies yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku merasa takut maka aku keluar dari dalam mobil. Celakanya, semua barangku masih ada di dalam mobil dan mobilku terkunci.
"Kalau gitu, aku telpon temanku yang bekerja di bengkel mobil untuk menderek mobil kami" Sahut Leo.
"Terima kasih" Sahut Alfa dengan canggung.
Dua puluh menit kemudian, Alfa masuk ke dalam mobilnya Antares dan temannya Leo mengikuti di belakang dengan menderek mobilnya Alfa.
Rafael terkejut saat ia menemukan medali yang seharusnya menjadi milik temannya Renata. Rafael langsung bergumam, "Kenapa medali ini ada di sini?"
Rafael menaruh medali tersebut di atas meja saat ia menerima panggilan masuk di telepon genggamnya, "Halo? Siapa ini?"
"Kami dari tim forensik. Kami menemukan bahwa kebakaran di gudang Anda bukanlah kecelakaan, tapi sengaja dibakar dan sepetinya pelaku menginginkan kematiannya saudari Mona. Besok pagi, kami akan ke rumah Anda untuk meminta keterangan lebih lanjut dari Anda. Anda jangan pergi ke mana-mana!"
"Baik, Pak. Saya nggak akan pergi ke mana-mana"
"Lalu, satu lagi, emm, kenapa Anda memelihara tawon pembunuh di rumah Anda?"
__ADS_1
"Kalau soal tawon saya nggak tahu, Pak. Putri saya yang membawanya ke sini"
"Itu juga sesuatu yang janggal buat kami. Mana mungkin seorang anak berumur tujuh tahun mampu membawa pulang sarang yang berisi tawon pembunuh? Dan asal Anda tahu, anak yang ditemukan mati bersama dengan anjingnya beberapa hari yang lalu, mati karena gigitan tawon pembunuh bukan karena luka tusuk"
Rafael seketika mematung. Batinnya mulai bergejolak. Dia mulai merasakan kejanggalan di diri Renata. Putri yang dia asuh, besarkan, dan sangat ia sayangi, mulai membuat benaknya bertanya-tanya
Kedua pundak Rafael terangkat ke atas secara bersamaan saat Renata menyentuh punggungnya sambil bertanya, "Ayah kenapa melamun di kamarku?"
Rafael langsung meraih medali dan memutar badan secara perlahan. Setelah ia berjongkok dan berhadapan dengan Renata, ia bertanya dengan hati-hati, " Kenapa medali ini bisa ada di sini?"
Renata menatap ayahnya dengan tatapan dingin dan wajah datar. Lalu, dengan santainya Renata berkata, "Dia pantas mendapatkan balasan. Dia menyenggolku di lintasan lari sampai aku jatuh dan kalah. Dia pantas mati dan aku pantas memiliki medali itu"
Rafael sontak mengangkat kedua alisnya ke atas dan menarik rahangnya ke bawah. Dia menatap Renata dengan tatapan sedih.
"Apa Ayah marah sama aku saat ini?" Renata menatap Rafael dengan tatapan dingin.
Rafael menutup kembali mulutnya dan setelah menghela napas panjang, ia berkata, "Ayah merasa kasihan sama kamu. Ayah sungguh tidak menduga kalau kamu akan tumbuh seperti ini dan mirip sekali dengan Papa kandung kamu" Rafael keceplosan. Ia menjadi keceplosan karena keterkejutan dan rasa ketidakpercayaannya menemukan karakter Rigel Altair mendarah daging di Renata.
"Maafkan Ayah, Ayah keceplosan. Itu karena, Ayah terkejut melihat reaksi dan ucapan kamu. Asal kamu tahu, Ayah bukan Ayah kandung kamu, tapi jangan salah paham, Ayah sangat menyayangi kamu"
"Lalu, siapa Ayah kandungku?" Kedua bola mata Renata membulat dan tampak menggelap.
Rafael sontak merinding ketakutan dan bergegas bangkit berdiri lalu melangkah mundur ke belakang pelan-pelan.
Renata melangkah maju selangkah dan ia kembali bertanya, "Siapa Ayah kandungku, Yah?"
Rafael kembali mundur ke belakang sebanyak tiga langkah, lalu ia bertanya, "A....apa jangan-jangan, kamu juga yang membunuh anak kecil dan anjingnya, lalu kamu bawa pulang sarang tawonnya?"
Renata menyeringai menakutkan dan baru kali pertama itu, Rafael melihat wajah Renata tampak sangat mengerikan. Renata kemudian berkata dengan nada bicara dan wajah datar, "Anjingnya mencabik-cabik boneka kesayanganku. Dia tidak membela aku malah membela anjingnya. Mereka pun pantas mendapatkan balasan. Aku bawa sarang tawon karena hanya tawon yang mau mengerti diriku maka aku pikir aku harus balas budi"
Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya dan Rafael kembali bertanya, "Ba......bagaimana dengan Mo.......Mona?"
"Mona suka bohong. Dia cewek yang suka berpura-pura manis di depan Ayah karena, ia menyukai Ayah dan ingin merebut Ayah dariku. Aku nggak ingin pisah dengan Ayah. Maka aku singkirkan saja dia"
__ADS_1
Rafael menutup mulutnya yang kembali ternganga dengan telapak tangan kirinya.Tubuhnya mulai bergetar dan jantungnya mulai berdebar abnormal.
"Mama juga"
Rafael menarik tangannya dengan perlahan untuk melontarkan tanya, "A.....apa maksud kamu?"
"Mama akan memiliki adik dan adikku nanti akan merebut Ayah pastinya. Maka sebelum ia dilahirkan ke dunia ini, aku melenyapkannya"
Rafael langsung bersimpuh lemas di atas lantai dan dengan napas terengah-engah lama kelamaan pandangannya buram dan ia jatuh pingsan.
"Rumah kamu dekat dengan rumah Eyang Jaya ternyata" Alfa turun dari dalam mobilnya Antares sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Hmm" Sahut Antares.
"Kapan kamu tiba di Indonesia? Apa karena kamu, Jenar minta pindah ke sini dengan alasan apartemennya banyak hantu jahat yang mengganggunya?"
Antares menoleh ke Leo, "Masuklah dulu! Aku perlu bicara empat mata dengan Alfa.
"Oke" Sahut Leo sambil melenggang santai masuk ke dalam rumah.
"Sebenarnya yang harus meminta penjelasan di sini adalah aku. Kenapa justru kamu yang banyak nanya?" Antares bersedekap di depan Alfa.
Alfa mulai salah tingkah dan dengan cepat ia berkata, "Kamu yang menjauhi Jenar saat itu. Aku nggak salah apa-apa"
"Lalu, kenapa kamu berkata ke aku kalau Jenar tidak mencintaiku. Dia dekat sama aku karena ia butuh berada dekat dengan jantung Akamu. Dan kenapa kamu bilang ke aku kalau Jenar sangat membenciku dan ingin aku pergi jauh darinya. Sejauh-jauhnya, karena aku ini anaknya Rigel Altair. Padahal Jenar nggak seperti itu" Antares menatap lekat kedua bola matanya Alfa.
"Itu karena kamu menjauh dari Jenar. Aku hanya mempertegas situasi kalian saja dan aku ........."
"Mencintainya. Kamu mencintai Jenar maka kamu menikungku. Dan atas hak apa kamu berhak ikut campur dan berhak mempertegas situasi yang ada di antara aku dan Jenar saat itu? Untuk itulah kamu terus didera rasa bersalah dan saat kamu ketemu sama aku setelah sekian lama kita nggak bertemu, kamu langsung lari"
"Apa kamu yang sudah membuat Jenar pindah ke sini? Dan......sial! Apa kamu juga yang sudah mencium Jenar?" Alfa langsung melotot ke Antares.
Renata menarik kaki kanan Rafael sampai ke dalam kamar Rafael. Lalu, ia mengambil tali dari halaman belakang dan ia ikat erat tubuhnya Rafael sambil bergumam, "Ayah nggak akan aku bunuh. Aku hanya akan ikat badan Ayah agar Ayah tahu apa kesalahan Ayah"
__ADS_1