Jenar Ayu

Jenar Ayu
Menikah


__ADS_3

Jenar sontak menaikan kedua alisnya ke atas dan bulu kuduknya langsung berdiri tanpa dikomando ketika ia melihat wanita pucat yang berdiri tidak jauh di belakangnya Renata, mendelik dan berteriak, "Iblis ini memegang pisau. Jangan mendekat! Dia melukai pipi Ayahnya dan mengakibatkan telapak tangan kirinya tergores pisau. Jangan dekati Iblis ini!!!!!"


Jenar merasakan keringat dingin mulai menetes di pelipisnya dan refleks ia mundur ke belakang lalu menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan kanannya.


"Kak? Kenapa mundur? Di sana ada Ayah. Ayah akan mencelakai Kakak. Ayo kita kabur bareng, Kak" Renata mengulurkan tangan kirinya.


Jenar mengarahkan lampu senter di ponselnya ke tangan kirinya Renata dan dia bisa melihat luka gores di telapak tangan kirinya Renata. Jenar bertanya dengan suara bergetar, "Tangan ka.....kamu kenapa?"


"Ayah yang melukaiku. Makanya aku lari ke sini. Aku takut Ayah menemukan aku di sini. Bawa aku pergi dari sini, Kak" Renata melangkah pelan mendekati Jenar.


Jenar menggelengkan kepalanya dan dengan cepat ia berbalik badan untuk berlari sekencang-kencangnya sambil memejamkan mata dan dia berteriak kencang ketakutan saat dirinya menubruk tubuh seseorang.


Jenar menangis dan dengan masih memejamkan kedua matanya ia berkata dengan suara gemetar, "Jangan bunuh aku!"


"Jen, ini aku. Ares. Buka mata kamu. Kamu kenapa berlari ketakutan seperti ini?"


Jenar sontak membuka kedua kelopak matanya dan langsung menoleh ke belakang, "Dia hilang. Kenapa dia tidak mengejarku?"


"Siapa? Siapa yang hilang?" Antares memegang kedua bahunya Jenar yang masih gemetar ketakutan.


Jenar menatap ke depan dan berkata ke Antares, "Rena pelakunya. Dia yang melukai Om Rafael dan dia pembunuhnya. Dia pembunuhnya" Jenar limbung ke depan dengan berderai air mata dan Antares langsung memeluk Jenar dan berkata, "Kita keluar dari sini dan kita suruh polisi untuk mencari Rena di sini. Ayo kita............"


"Arrrgghhh!" Terdengar lolongan kesakitan dari kejauhan dan Antares sontak menoleh ke belakang. Ia langsung berteriak panik, "Leo! Sial! Leo tadi mengikutiku kenapa ia nggak ada sekarang? Leo!!!!!"


Jenar menarik lengan Antares dan menggelengkan kepalanya saat Antares hendak berlari meninggalkannya.


Antares menoleh ke Jenar dan berkata, "Itu tadi suara Leo. Aku harus menolong Leo, Jen. Keluarlah dari sini dan ajak polisi ke sini. Aku akan cari Leo dan........"


Jenar langsung memeluk Antares dan berkata, "Aku nggak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi. Cukup sudah aku kehilangan Akamu dan kedua orangtuaku. Aku nggak mau kehilangan kamu. A......aku mencintaimu"


Alfa seketika mematung dan tertegun di belakang Jenar. Dia bersitatap dengan Antares dalam Kebisuannya.


Antares mencium pucuk kepalanya Jenar dan melepas pelukannya Jenar sambil berkata, "Aku akan baik-baik saja. Aku janji. Tetaplah di sini. Alfa akan menjagamu" Antares lalu berbalik badan dan melesat meninggalkan Jenar.


Jenar berputar badan dan berhadapan dengan Alfa.


Alfa tersenyum kecut lalu berkata, "Semua salahku. Aku yang memisahkan kalian saat itu. Namun, takdir tidak bisa memisahkan kalian. Aku ikhlas kalau kamu memilih Ares"


Jenar mengusap air matanya dan berkata, 'Maafkan aku. Kita bicarakan soal ini lagi nanti. Aku harus menolong Ares" Jenar berputar badan dan melesat meninggalkan Alfa.


Alfa berbalik badan dan berlari kencang saat ia sampai di tengah tanah lapang sambil berteriak ke petugas kepolisan yang berada tidak jauh dari dirinya, "Pak! Teman saya dalam bahaya. Tolong mereka, Pak!"


Lima orang petugas kepolisan langsung berlari mendekati Alfa dan dengan cepat mereka berlari masuk ke dalam kebun kopi.


Jenar bergumam sambil mengusap air mata di pipinya, "Kamu ikut les taekwondo selama ini, tapi kenapa cemen begini? Sama anak kecil aja takut"

__ADS_1


Antares menemukan Leo bersandar di pohon dengan luka tusuk yang tidak begitu dalam di paha kanannya.


"Res! Kita salah sangka. Om Rafael nggak jahat. Justru anak kecil yang sangat. antik bak boneka, si Rena, pelakunya. Aku tadi mengejar dia yang mengarahkan pisau belati ke Jenar saat Jenar menubruk kamu. Tapi, sialnya dia sangat lincah dan bisa melihat di depan kegelapan dengan sangat baik Dia menusuk pahaku dan berlari menghilang" Leo terengah-engah dan Antares langsung melepas kaosnya untuk membebat paha Leo sambil berkata, "Kamu bisa jalan?"


"Bisa. Ini cuma luka kecil. Tapi, masalahnya adalah anak itu bisa tiba-tiba muncul dan menusuk kita. Kita di sini aja sampai bantuan tiba" Sahut Leo. "Hei! Kamu nggak kedinginan bertelanjang dada gitu? Habis hujan dan cuaca dingin lho ini"


"Nggak papa. Yang penting luka di paha kamu aman" Sahut Antares sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


Berapa detik kemudian, Antares menyentuh dadanya dan bergumam dengan wajah panik, "Jenar ada di dekat kita"


"Aduh! Kenapa Jenar kamu itu nekat banget, sih" Leo mendengus kesal.


"Kamu tetap di sini! Aku akan mencari Jenar. Aku nggak ingin Jenar kenapa-kenapa"


"Ati-ati Res!"


Antares menganggukkan kepala dan mengacungkan ibu jari ke Leo.


"Mati kau!" Renata berteriak kencang dan dengan sigap, Jenar menoleh ke belakang. Jenar berhasil menangkap tangan Renata yang memegang pisau, namun sialnya kakinya selip dan dia jatuh terlentang di atas tanah dan Renata ada di atas badannya.


Renata menyeringai di depan Jenar dan terus berusaha menusuk Jenar.


Dengan sekuat tenaga, Jenar menahan tangan Renata yang memegang pisau sambil berkata, "Kau sangat cantik kenapa kau bisa jadi anak sekejam ini?"


"Aku nggak suka sama wanita. Aku benci semua wanita. Apalagi wanita genit seperti kamu"


"Aku suka sama Kak Ares dan kau selalu menggagalkan waktu kebersamaanku dengan Kak Ares. Kau wanita genit yang selalu menggodanya dan menjauhkan Kak Ares dariku. Dasar wanita hina! Mati Kau!!!!!!"


Antares langsung mengangkat tubuh Renata saat ia melihat Jenar mulai kewalahan menahan Renata.


Namun, sialnya Antares lupa menahan tangan Renata yang masih menggenggam pisau. Renata berteriak, "Lepaskan aku!" Sambil mengarahkan pisau ke belakang dan saat pisau tertancap di dada atas sebelah kiri, Antares mengerang kesakitan dan langsung melepaskan Renata. Antares jatuh bersimpuh dan terus mengerang kesakitan.


Jenar yang masih terlentang di atas tanah, langsung berteriak, "Tidakkkkk!"


Dan di saat Renata menjatuhkan dirinya di atas tubuh Jenar dan mencekik Jenar, petugas kepolisian, Leo dan Alfa datang. Petugas kepolisan langsung meringkus Renata.


Jenar langsung bangun dan memeluk Antares dengan derai air mata dan terus berkata, "Jangan mati!"


Antares mengusap pipi Jenar dan berusaha tersenyum ke Jenar di tengah kesakitannya dan berkata lirih, "Ini hanya luka kecil. Jangan khawatir!"


Leo dan Alfa langsung menolong Antares.


Alfa melihat Jenar sangat mengkhawatrikan Antares yang tengah dioperasi. Hatinya terasa perih karena cemburu. Tapi, dia tidak bisa melawan takdir.


Alfa menghela napas panjang saat ia melihat Jenar bersandar di depan pintu kamar operasi. Dokter muda berparas tampan itu menepuk pundak Jenar dan berkata, "Aku ikhlaskan kamu bersatu dengan Antares. Huuufttt! Karena, sekeras apapun usahaku ingin memiliki kamu, kalau Tuhan tidak mengijinkan aku bersatu denganmu, maka aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Lagian, kamu tidak mencintaiku"

__ADS_1


Jenar berputar badan dan memeluk Alfa sambil berkata, "Maafkan aku"


"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku sudah memisahkan kamu dengan Ares dan sudah meniduri wanita lain di belakang kamu" Alfa menepuk-nepuk punggungnya Jenar.


Satu tahun kemudian, Alfa, Stephanie dan bayi mereka yang masih berumur dua bulan, datang ke pernikahannya Antares dan Jenar.


Alfa akhirnya menikahi Stephanie karena ia akhirnya sadar bahwa bayi di dalam kandungannya Stephanie tidak bersalah. Alfa dan Stephanie dikaruniai putri yang sangat cantik


Antares Altair menuju ke vila bersama dengan Jenar Ayu, istri yang baru saja ia nikahi. Mereka langsung melesat ke Pulau Lombok untuk berbulan madu.


Jenar tertegun menatap rumah mungil nan cantik dan sangat indah. Dari depan pintu rumah dia bisa mendengar bunyi deburan ombak pantai


Jenar lalu menoleh ke Antares dengan rona merah di wajahnya, "terima kasih kejutannya"


Antares menatap Jenar dan rona di wajah Jenar membuat Antares mengumpat pelan karena, rona itu sontak membangkitkan api gairah di dalam dirinya. Antares langsung membopong Jenar. Jenar tersentak kaget dan sontak memekik, "Res! koper-koper kita belum diturunkan dari mobil dan hhmmmmppppt....."


Antares langsung membungkam bibir Jenar dengan bibirnya. Mereka berciuman sembari terus melangkah masuk ke dalam vila. Rumah mungil bergaya klasik yang membelakangi pantai itu memberikan sensasi tersendiri bagi Antares dan deburan ombak memberikan lirik indah di debaran jantung Jenar.


Antares melepaskan ciumannya lalu ia menurunkan Jenar di lantai marmer vila itu. Antares mengusap bibir Jenar dengan ibu jarinya. Bibir yang masih basah karena ulahnya kembali mengundang Antares untuk mengecapnya lagi. Antares mencium lembut bibir ranum bagaikan buah apel itu dan terasa sangat manis bagaikan gulali itu dengan intens dan semakin menuntut.


Jenar mendorong pelan tubuhnya Antares dan sambil terengah-engah ia berkata, "Res! koper kita"


"Koper kita bisa menunggu nanti" Sahut Antares sambil membopong Jenar dan merebahkan Jenar di atas ranjang.


Jenar Ayu yang lugu, polos di luar terasa sangat manis ketika akhirnya Antares menyatukan raga dan cinta mereka berdua.


Jenar memekik kencang dan mengeluarkan setetes air mata berbarengan dengan masuknya Antares ke dalam segel yang pelan-pelan dibuka oleh Antares.


Antares tersenyum bangga dan bahagia karena, ia laki-laki pertama dan untuk selama-lamanya yang diijinkan menyatu dengan Jenar Ayu.


Seolah tidak puas, Antares terus bergerak dengan bermacam gaya ringan untuk menyatukan panasnya gairah di rasa manisnya Jenar.


Antares berhenti di saat Jenar melepas kepuasannya berbarengan dengan lenguhan suaminya untuk yang ketiga kalinya di udara bebas.


Jenar berdesah lirih, "Aku lelah, Res"


Antares mencium keningnya Jenar lalu bangkit dan menyelimuti tubuh polos istrinya. Lalu, ia menyusup masuk ke dalam selimut dan memeluk erat tubuh ramping istrinya. Antares mencium pelipisnya Jenar, "terima kasih kau jaga kesucianmu hanya untukku"


Jenar tersenyum bahagia, "makasih udah kasih aku manisnya cinta" Dan tidak begitu lama ia pun tertidur pulas di dalam pelukan hangat suami tercintanya.


Renata yang sudah berumur enam tahun, menyeringai di dalam kamarnya saat ide gila menyusup di otaknya. Renata yang masih berada di bawah umur tidak dipenjara di penjara reguler melainkan dimasukkan ke rumah sakit jiwa yang khusus menangani anak-anak penderita ADHD dan anak-anak yang tingkah lakunya mengarah ke psikopat.


Sedangkan Rafael menikah lagi dengan seorang polisi dan hidup bahagia di kota kelahirannya.


...❤️❤️❤️❤️The End❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan para pembaca setia dan teman-teman Author selama ini🙏 Dengan terseok-seok saya membuat cerita ini, karena lack of idea about horror. Terus terang saya penakut, nggak pernah lihat film horor, jadi maaf kalau horor-nya kurang nendang, ya🙈 Namun, berkat dukungan kalian semua, saya akhirnya bisa menamatkan kisah Jenar Ayu dengan baik. Semoga ending kisah Jenar, sesuai dengan ekspektasi kalian semua, ya❤️🤗


Tuhan memberkati kalian semua😘❤️🤗


__ADS_2