
Jenar dan Antares sedikit bernapas lega saat ia mendengar Alfa berkata, "Aku baik-baik saja"
Antares dan Jenar segera memapah Alfa dan membawa Alfa ke mobilnya Jenar yang lebih dekat jaraknya. Bartender wanita yang masih ada di dalam mobil terpaksa ikut karena, ia masih takut untuk turun dari dalam mobil dan pulang menuju ke kost-nya di larut malam sendirian sementara The White Mask masih belum tertangkap.
Jenar dan Antares bisa benar-benar menghela napas lega saat dokter mengatakan bahwa Alfa tidak mengalami luka tusuk yang dala. dan Alfa masih sadar saat Alfa di bawa ke kamar rawat inap.
Saat Papanya Alfa, koleganya Rigel Altair datang bersama dengan istrinya ke kamarnya Alfa, Jenar dan Antares pamit untuk mengantarkan pulang Welas si bartender wanita ke kost-nya Welas.
Setelah pulang dari kost-nya Welas, Antares mengajak Jenar mengambil mobilnya yang masih ada di depan kafe Rainy. Dan di sana, Jenar dan Antares mendapatkan kabar dari Handoko dan Jaya Dwipa, bahwa The White Mask sudah berhasil ditangkap. Jenar menatap Antares dengan rasa bersalah saat Antares bertanya, "Siapa The White Mask? Siapa pria dibalik topeng putih itu?"
Jaya Dwipa menepuk pundaknya Antares dan berkata, "Kita tunggu berita besok saja! Kita pulang dulu untuk beristirahat"
"Kamu antar Jenar pulang ke apartemen dengan mobilnya Jenar! Biar aku yang bawa mobil kamu, karena mobilku dipakai oleh temanku mengikuti pihak berwajib mengawal The White Mask ke kantor polisi.
Jenar ingin pergi ke kantor polisi, namun dia tidak tega lalu Antares sampai melihat Rigel Altair ada di sana. Akhirnya dengan terpaksa, Jenar pulang ke apartemen bersama dengan Antares.
Sesampainya di apartemen, Jaya Dwipa dan Handoko langsung membuka lebar pintu masuk ke apartemennya Jenar, namun Jenar ditarik tangannya oleh Antares sambil berucap, "Om, Kek, saya boleh pinjam Jenar sebentar? Saya ingin memberikan sesuatu ke Jenar"
Jaya Dwipa dan Handoko menganggukkan kepalanya dan mereka masuk ke dalam dengan membiarkan pintu apartemen tetap terbuka lebar sementara Jenar masih berdiri di depan pintu apartemennya untuk menunggu Antares.
Beberapa menit berikutnya, Antares keluar dari dalam apartemennya dengan membawa sebuah kotak. Ia serahkan kotak itu ke Jenar dan berkata dengan wajah merona malu, "Happy Valentine. Terimalah! Bukalah, nanti! Jangan dibuka di depanku! Sekarang masuklah ke dalam dan selamat beristirahat, mimpi indah, ya!"
__ADS_1
Jenar mengucapkan, "Terima kasih", Lalu ia membawa masuk kotak pemberiannya Antares dan menutup seta mengunci pintu apartemennya.
Jenar meletakkan kotak pemberiannya Antares di meja belajarnya yang ada di dalam kamarnya, lalu ia keluar untuk menemui eyang kakung dan Om handokonya yang masih mengobrol di meja makan.
Jaya Dwipa memakan roti tawar, lalu menyeruput kopi instan bikinannya sendiri. Saat Jenar duduk di depannya, Jaya Dwipa langsung bertanya, "Dari mana kamu punya keberanian itu? Dan apakah kamu udah tahu kalau Rigel Altair adalah The White Mask?"
Jenar menuangkan air putih ke dalam gelas, meminumnya sampai habis, lalu berkata, "Dia adalah The White Mask yang asli dan dia juga yang sudah membunuh Ayah, Mama, dan Akamu. Aku tahu dari seseorang yang menerima transplantasi korneanya Ayah dan orang itu mendapatkan vision tentang Rigel Altair dari bola matanya Ayah. Sepertinya Ayah sempat melihat wajah pria dibalik topeng putih dan itu adalah Rigel Altair"
"Hah?!" Eyang kakung dan Om Handokonya Jenar langsung terhenyak di kursi mereka masing-masing secara bersamaan.
Tiba-tiba ponselnya Handoko berbunyi cukup nyaring dan Handoko langsung menjawab panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Setelah beberapa menit Handoko melakukan obrolan di ponselnya, Dia menatap Jaya Dwipa dan Jenar dengan sorot mata kecewa dan helaan napas panjang.
"Temanku mengatakan jika dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam, tidak ada bukti bahwa Rigel Altair adalah The White Mask yang asli, maka Rigel Altair akan dibebaskan dengan uang jaminan" Handoko kembali menghela napas berat karena, kecewa.
"Dia ditangkap pas dia tidak memakai topeng putih dan tidak ada pisau lipat di tangannya" Sahut Jaya Dwipa.
"Dia memang sangat cerdas" Sahut Handoko.
"Kita harus menemui Om Eben Henizer. Aku punya nomer ponselnya dan ........"
"Siapa dia?" Tanya Jaya Dwipa dan Handoko secara bersamaan.
__ADS_1
"Dia orang yang menerima bola matanya Ayah dan menemui Jenar saat Jenar masih di Pare-Kediri. Dia orang sini dan ia pelukis terkenal" Sahut Jenar sembari memperlihatkan nomer Eben Henizer yang ada di dalam ponselnya ke Handoko.
Handoko menyalin nomer ponsel itu ke dalam ponselnya, lalu berkata, "Besok, aku dan Eyang Kakung kamu akan menemuinya. Semoga dia bersedia menjadi saksi untuk melawan Rigel Altair"
"Semoga. Dan sekarang kita harus tidur" Sahut Jaya Dwipa.
Jenar masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di depan meja belajarnya untuk membuka kotak pemberiannya Antares. Jenar tertegun saat ia melihat isi di dalam kotak tersebut. Dia tersenyum haru sekaligus mengagumi kreativitasnya Antares. Jenar menitikkan air mata dan bergumam, "Kenapa kamu jatuh cinta padaku? Kenapa harus aku? Mana bisa aku mencintaimu dengan adanya kenyataan mengerikan di antara kita. Kamu anak Rigel Altair dan ada jantung Akamu di dalam dada kamu"
Jenar mengambil buku dari dalam kotak itu dan berkata sambil mendekap buku itu, "Bahkan kamu tahu buku kesukaanku. Apa Akamu yang memberitahu kamu? Berarti Akamu selama ini ada di dekatku dan bisa mengawasi semua kegiatanku, buktinya ia tahu soal buku ini. Aku sering meminjam buku ini di perpustakaan, tapi kenapa Akamu tidak bisa menampakkan dirinya di depanku seperti makhluk astral lainnya?"
Setelah termenung cukup lama di depan meja belajarnya, Jenar akhirnya bertekad untuk berpura-pura menerima cinta Antares, karena Jenar ingin pergi ke rumahnya Antares untuk mencari bukti kejahatannya Rigel Altair di sana. Kalau dia menjadi pacarnya Antares maka akan sangat wajar kalau dia bilang ingin melihat rumahnya Antares.
Rigel Altair berkata ke pihak berwajib dan pengacaranya untuk tidak menyebarluaskan berita penangkapannya dan untuk tidak memberitahukan ke putra tunggalnya sebelum bukti-bukti diserahkan.
Mentari pagi di hari yang baru pun tiba, Jenar mengetuk pintu apartemennya Antares dengan tidak sabar.
Antares membuka pintu apartemennya dan terkejut saat melihat Jenar berdiri di depannya. Dengan ragu dan rona merah di wajahnya, dia bertanya, "Apa kau menerima pernyataan cintaku?Aku sangat menyukaimu. Bukan karena ada jantung Akamu di dalam dadaku. Tapi, rasa debaran jantungku untukmu, beda. Ini sungguh ........"
Jenar langsung membungkam bibirnya Antares dan berkata, "Aku mau jadi pacar kamu, tapi ada syaratnya"
Antares menarik tangan Jenar dari mulutnya dan menggenggam tangan itu dengan tanya, "Apa syaratnya?"
__ADS_1
"Apa aku boleh mengunjungi rumah kamu? Aku ingin mengenal kamu lebih dekat sebelum kita berkencan dan mengenal seseorang itu diawali dari rumah masa kecilnya,kan? Rumah di mana dia dilahirkan dan dibesarkan" Jenar tersenyum ke Antares, namun ia berkata di dalam hatinya, maaf aku memanfaatkanmu.
Antares langsung mengulas senyum semringah di wajah tampannya dan ia berkata, "Aku akan bawa kamu ke rumahku, sekarang"