Jenar Ayu

Jenar Ayu
Ketemu


__ADS_3

Antares dan Jenar bersitatap sepersekian detik dengan degup jantung yang sangat kencang. Jenar lalu mendorong pelan dadanya Antares dan Antares sontak bangun sembari memegang kedua tangannya Jenar untuk membantu Jenar bangkit berdiri sambil berkata, "Maafkan aku! Aku nggak sengaja mencium bibir kamu. Kamu nggak papa? Ada yang luka? Ada lecet?" Antares menunduk untuk memeriksa lutut dan memegang bagian belakang kepalanya Jenar sembari berucap, "Apa kepala kamu terasa pusing?" Antares kemudian mengelus pelan belakang kepalanya Jenar dan berkata, "Untunglah nggak ada benjolan dan ........"


Jenar sontak menepis tangan Antares dan dengan degup jantung yang masih sangat kencang Jenar segera berbalik badan untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Jenar kemudian melangkah maju ke depan dengan pelan sembari berkata, "Aku baik-baik saja"


Antares yang masih berdiri di belakangnya Jenar, berputar badan untuk mengambil dua mangkok bubur ayam dan Abang penjual bubur ayam membantu Antares membawakan dua gelas berisi teh panas. Dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh panas tersaji di atas meja taman yang terbuat dari batang pohon Mahoni.


"Makasih, Bang" Antares menganggukkan kepalanya ke Abang penjual bubur ayam dan Abang penjual bubur ayam menganggukkan kepalanya, tersenyum lebar dan berkata, "Sama-sama, Mas"


"Kamu minum dulu tehnya" Antares mengambil satu gelas berisi teh panas dan meniup teh yang ada di dalam gelas tersebut, lalu ia sodorkan ke Jenar.


Jenar hendak memegang gelas yang disodorkan Antares, namun Antares langsung berkata, "Gelasnya panas. Biar aku yang pegang gelasnya. Minumlah tehnya dengan pelan-pelan karena, masih sangat panas"


Jenar menyeruput tehnya dengan pelan-pelan sambil menatap kedua bola matanya Antares dari jarak yang sangat dekat. Jenar langsung memundurkan wajahnya saat ia merasakan ada desiran aneh di hatinya. Jenar kemudian berdeham sembari mengambil mangkok bubur ayam.


Antares bertanya, "Sudah baikan?"


Jenar menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Antares.


"Masih mau minum?" Antares bertanya lagi dan Jenar menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke Antares.


Antares menaruh kembali gelas yang berisi teh panas di atas meja taman, lalu ia mengambil mangkok buburnya. Antares mengunyah buburnya sembari menoleh ke Jenar untuk bertanya, "Kenapa kamu berlari kencang tadi? Apa ada orang jahat yang mengejar kamu?" Antares lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman kota itu dan menatap Jenar kembali saat ia tidak menemukan seseorang yang mencurigakan.


Jenar menggelengkan kepalanya dan sambil mengunyah bubur ayamnya, dia berkata dengan pandangan yang terus menunduk dan menatap lekat mangkok bubur ayamnya, "Ada hantu wanita berwajah pucat meminta pertolongan dan hantu itu masih ada di dekatku. Dia berdiri di sebelah kananku saat ini dan terus meminta pertolongan"

__ADS_1


Antares bergidik ngeri dan di saat bulu kuduknya mulai berdiri, ia sontak berkata, "Jangan menakutiku, Jen! Hanya ada kita berdua di bangku ini"


"Memang hanya aku yang bisa melihatnya" sahut Jenar dengan helaan napas yang sangat berat. "Aku berusaha mengabaikannya dan lari menjauh dari wong samar ini karena aku Idha merasa lelah dengan karunia rohani yang aku miliki ini dan aku sedang memilih untuk egois beberapa jam saja tanpa peduli dengan wong samar yang muncul di depanku"


Antares yang masih menatap Jenar dari arah samping, menghela napas panjang. Dia prihatin mendengar ucapannya Jenar dan ia sedih melihat wajah kusutnya Jenar. Lalu ia mencoba untuk mengalihkan perhatian Jenar dari hantu wanita berwajah pucat yang hanya bisa dilihat dan didengar oleh Jenar. Antares mencoba memberikan tebakan, "Jen, kalau ada dua tas, yang satu berisi kepandaian, dan tas yang satunya lagi berisi kebijaksanaan, tas mana yang akan kau pilih?"


Jenar menjawab dengan nada dan wajah datar, "Aku nggak bisa milih. Kenapa tasnya nggak ada yang isinya uang? Kalau ada tas yang berisi uang, aku akan langsung pilih tas yang berisi uang"


Antares tergelak geli, lalu berkata,"Kalau aku pilih kebijaksanaan" Sahut Antares.


"Kenapa?" Jenar menatap Antares dengan menautkan kedua alisnya.


"Orang cenderung memilih yang tidak ia miliki. Karena aku udah punya kepandaian, maka aku pilih kebijaksanaan" Antares menatap lekat wajah Jenar dan berharap Jenar bisa tertawa lepas atau paling nggak tersenyum, tapi Jenar memasang wajah datar, menatap kembali ke depan dan menghela napas panjang.


Antares langsung panik dan segera berkata, "Maafkan aku kalau aku nggak lucu dan nggak bisa membuatmu tersenyum. Aku bukan pacar yang baik, ya?"


Antares tersentak kaget dan langsung berkata dengan nada heran, "Lho, emang iya, kan? Aku udah menyatakan cinta ke kamu dan kamu udah menerima cintaku. Itu berarti, kamu pacar aku dan aku pacar kamu, kan?"


Jenar kembali menghela napas dan menatap ke depan.


"Ada apa? Aku salah, ya?" Antares menatap Jenar dengan wajah penuh tanda tanya.


Jenar kembali menghela napas panjang dan berucap, "Kamu nggak salah. Dan, aku nggak bisa senyum atau ketawa, bukan karena kamu nggak lucu. Aku cuma merasa lelah dengan segala apa yang aneh yang terjadi di sekitarku sejak aku masih kecil"

__ADS_1


"Apa kau mau berbagi kisah masa kecil kamu denganku?" Antares terus memandangi Jenar dari arah samping"


Jenar refleks menoleh ke Antares untuk berkata, "Aku masih belum bisa berbagi denganmu saat ini. Maafkan aku!"


"Baiklah. Tapi, aku akan selalu ada untukmu. Kapan pun kamu ingin cerita, aku akan siap untuk mendengarkannya. Seperti biasanya, aku selalu menjadi pendengar yang baik untuk keceriwisannya Alfa" Ucap Antares dengan nada dan wajah yang sangat tulus.


Jenar memandangi kedua bola mata indahnya Antares, lalu ia menghela napas panjang dan kembali menatap ke depan.


Antares sontak berdiri ketika Jenar dengan tiba-tiba menoleh ke kanan dan sambil bangkit berdiri, Jenar memekik kesal, "Oke! Apa yang bisa aku bantu?!"


"Jen?" Antares menepuk pelan punggungnya Jenar dengan bulu kuduk yang mulai berdiri.


Jenar lalu berputar badan, berjalan lebar meninggalkan Antares sembari berkata, "Kita tolong wong samar ini dulu karena dia terus saja berisik dan aku risih. Setelah itu, kita ke rumah kamu"


Antares sontak berputar badan dan langsung berlari kecil menyusul langkah lebarnya Jenar.


Antares memasang sabuk pengamannya dengan tangan bergetar saat Jenar berkata, "Kita ke danau yang letaknya tidak begitu jauh dari sini. Wong samar yang duduk di jok belakang mobil kamu, meminta tolong ke aku untuk menemukan jasadnya dan meminta tolong aku untuk menghubungi keluarganya dan pihak berwajib setelah aku berhasil menemukan jasadnya


"Oke" Sahut Antares dengan tangan yang masih gemetar dan bulu kuduknya pun masih berdiri.


Satu jam kemudian, Jenar dan Antares sampai di danau yang terus digumamkan oleh wong samar yang masih ada di dekatnya Jenar.


Jenar keluar dari dalam mobilnya Antares dan langsung melangkah ke arah timur dengan langkah lebar dan muka cemberut karena, kesal, wong samar di dekatnya terus bergumam, "Tolong aku, tolong aku!"

__ADS_1


Antares mengunci mobilnya sembari berlari kecil menyusul langkahnya Jenar dengan bulu kuduk yang terus berdiri. Antares mengerem langkahnya dan ia hampir menabrak punggungnya Jenar saat Jenar berhenti secara dadakan dan berkata, "Jasadnya udah ketemu"


Antares maju ke depan dan berdiri di sebelahnya Jenar. Pria tampan itu refleks mengangkat kedua alisnya ke atas dan menarik rahang bawahnya lebar-lebar saat ia benar-benar melihat jasad seorang wanita dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


__ADS_2