Jenar Ayu

Jenar Ayu
Season II


__ADS_3

Alfa yang sudah bekerja menjadi dokter umum di sebuah rumah sakit swasta, mulai disibukkan dengan pekerjaannya dan dia hampir tidak pernah memiliki waktu untuk Jenar Ayu.


Jenar yang sudah bekerja menjadi seorang jaksa juga mulai disibukkan dengan aktivitasnya bolak-balik dari kantor ke pengadilan, pun tidak memiliki waktu untuk Alfa.


Hingga di suatu petang yang cerah dengan lahir berhiaskan bulan penuh dan taburan bintang, Jenar dan Alfa akhirnya bisa duduk berduaan di sebuah taman di depan rumah sakit tempat di mana Alfa berdinas menjadi dokter umum di sana.


Alfa mengajak Jenar ketemuan sejenak untuk sekadar bisa memeluk Jenar karena, tidak bisa ia pungkiri, dia sangat merindukan kekasih hatinya itu.


Setelah melepaskan pelukannya, Alfa berkata, "Maafkan aku. Aku nggak bisa ajak kamu pergi makan malam ke restoran. Aku hanya bisa belikan burger dan cola buat kamu dan kita hanya bisa makan berdua di taman ini"


Jenar menggigit burgernya dan di saat ia mulai mengunyah burger itu, ia berucap, "Nggak papa" Dengan ekspresi datar.


Alfa mengusap sudut bibirnya Jenar sambil berkata, "Kamu usah gede, makan kok masih belepotan" Lalu Alfa menggigit burgernya.


Berpacaran selama kurang lebih lima tahun dengan Alfa, Jenar merasakan perubahan yang sangat besar di diri Alfa. Alfa yang dulunya santai, ceria, penuh senyum, dan penuh guyonan, berubah menjadi Alfa yang sunyi dan tidak pernah lagi membuat Jenar tertawa lepas.


Kebersamaannya Alfa dan Jenar semakin lama semakin dingin dan mereka merasa bahwa mereka bertemu hanya untuk sekadar formalitas. Bahkan pelukan yang Alfa berikan sudah tidak bisa membuat jantung Jenar berdegup indah dan tidak mampu membuat hati Jenar menggelenyar nyaman.


"Setelah ini, kamu langsung pulang?" Tanya Alfa.


"Hmm" Jenar menoleh ke Alfa dan dengan mulut yang penuh dengan burger, dia menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri dengan paksa untuk membentuk sebuah senyuman.


Alfa mengusap puncak kepalanya Jenar dan berkata, "Maafkan aku. Aku nggak bisa mengantarmu pulang. Aku ada tugas jaga di IGD malam ini"


"Hmm" Jenar masih menyisakan senyuman di wajah manisnya dengan masih mengunyah burger yang ada di dalam mulutnya, ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Alfa memungut plastik dan gelas cola yang telah kosong untuk ia buang ke tong sampah yang bertuliskan anorganik. Setelah itu, Alfa kembali mendekati Jenar dan berkata ke Jenar yang telah bangkit berdiri, "Hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah sampai di apartemen"


Jenar melebarkan senyumannya untuk menyembunyikan rasa kecewa di hatinya sembari menganggukkan kepalanya.


Alfa menepuk pelan bahunya Jenar, kemudian pria tampan itu bergegas berlari masuk ke dalam IGD sembari melambaikan tangannya ke Jenar.


Jenar melambaikan tangannya dengan menghela napas berat meskipun senyuman masih terlukis di wajah manisnya.


Setelah punggung Alfa sudah menghilang dari kedua bola matanya, Jenar melangkah ke tempat parkir mobilnya. Dia masuk ke dalam mobil kesayangannya, memasang sabuk pengaman, namun alih-alih menghidupkan mesin mobilnya, Jenar memilih bersandar ke jok mobilnya dan bergumam, "Kenapa sejak Alfa mengajakku berciuman yang terkahir kalinya dan itu sekitar satu tahun yang lalu, dia nggak pernah lagi mengajakku berciuman? Apa napasku bau atau aku nggak menarik lagi untuk dicium? Bahkan barusan aja, dia nggak menciumku sama sekali, baik kecupan di kening, pipi, pucuk hidung nggak ada sama sekali. Huufffttt! Apa hubunganku dan Alfa ini termasuk sehat?"


Setelah beberapa kali menghela napas berat, Jenar menegakkan kembali kepalanya, menghidupkan mesin mobilnya dan dengan pelan ia menginjak pedal gas untuk mulai melajukan mobilnya ke jalan raya.


Antares berhasil mendarat di bandara Internasional dengan selamat. Seorang pria berparas tampan lokal menjemputnya. Setelah memasukkan semua barang bawaannya ke dalam bagasi, Antares.meminta kunci mobil karena, ia ingin menyetir mobil untuk menghilangkan jetlag-nya dan karena, ia ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum ia pulang ke rumahnya.


Jenar menyetir mobilnya dan sontak ia memegang dadanya saat ia merasakan dadanya berdetak abnormal. Jenar langsung bergumam, "Akamu? Apa Akamu udah di sini? Eh, maksudku Antares. Apa Ares berada di dekatku saat ini?"


Antares memarkirkan mobil di di pinggir taman dan seketika itu pula Leon, sahabatnya Antares, menoleh ke Antares, "Kenapa berhenti di sini?"


Antares melepas sabuk pengamannya sembari berucap, "Aku ingin melihat seseorang sebentar saja"


"Kamu janjian bertemu dengan seseorang di taman ini?" Tanya Leon.


Antares menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kau akan melihatnya di mana kalau nggak janjian? Dasar aneh!" Leon melihat Antares dengan wajah penuh dengan tanda tanya.

__ADS_1


"Dia kabarnya sudah berhasil menjadi seorang jaksa. Dan Karirnya mulai menanjak naik, jadi aku rasa ia akan pulang sekitar jam segini" Sahut Antares.


"Sok tahu. Belum tentu seorang jaksa itu punya kasus terus dan belum tentu juga seorang jaksa itu pulangnya malam terus" Leon mendelik ke Antares dengan wajah kesal.


"Tapi, aku punya feeling kalau dia belum pulang dan aku punya feeling aku akan melihatnya dari kejauhan malam ini" Sahut Antares.


"Jaksa itu, cewek?" Tanya Leon sembari menyandarkan kepalanya ke jok mobil.


"Hmm" Sahut Antares singkat dengan pandangan yang tak lepas dari apartemen yang ada di depannya.


"Dia siapa kamu? Kenapa kamu seantusias itu ingin melihatnya walupun dari jarak sejauh ini?" Tanya Leon dengan wajah penuh tanda tanya.


"Dia mantan pacarku" Sahut Antares tanpa menoleh ke Leon.


"Oooooo, pantas aja kalau gitu. Emm, ngomong-ngomong kalau aku boleh tahu, berapa lama kamu berpacaran dengannya?" Tanya Leon.


"Sehari" Sahut Antares dengan nada santai dan tanpa menoleh ke Leon.


"What?!" Leon sontak menegakkan kepalanya dan langsung memekik kesal, "Kau gila, ya, Res?! Pacaran sehari aja dan kamu segila ini menunggui dia pulang? Padahal, ya, Res, bisa aja saat ini dia sudah meringkuk di dalam kamarnya"


Antares mengabaikan ucapannya Leon dan dia memilih untuk membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari dalam mobil sambil meraih topinya.


Antares berjalan-jalan di pinggir taman yang ada di dekat apartemennya Jenar. Dia merindukan Jenar dan hanya ingin melihat Jenar dari jarak jauh karena, ia tidak memiliki keberanian untuk mendekati Jenar walaupun rasa rindu di depan hatinya sudah hampir membludak.


Antares memakai topi, kaos berwarna putih polos yang ditutupi jaket berwarna biru langit dengan celana kain berwarna cokelat susu. Pria tampan itu terus berdiri di tengah taman dengan kepala mendongak ke atas menatap apartemen dengan harapan, Jenar masih tinggal di apartemen tersebut.

__ADS_1


"Kamu sudah dekat, Jen. Aku bisa merasakannya" Gumam Antares sembari memegang dadanya.


__ADS_2