
Alfa melangkah masuk ke dalam gang remang-remang itu sebanyak tiga langkah, lalu ia berhenti. Alfa membungkuk untuk memegang kedua lututnya yang bergetar hebat sembari mengumpat, "Sial! Kenapa harus Om Rigel Altair? Sial! kenapa juga lututku tidak mau berhenti bergetar, nih! Hei, lutut jangan jadi pengecut! Ayo tegak dan jadilah berani! Dasar Cemen!"
Alfa kemudian menegakkan kembali badannya, lalu menjulurkan satu per satu kakinya ke depan untuk ia goyangkan satu per satu kakinya itu. Alfa kemudian meraup kasar wajah tampannya dan setelah menghela napas panjang, ia berjalan pelan ke depan. Dia berusaha untuk tidak berteriak memanggil nama Jenar Karena ia takut kalau Rigel Altair menjadi tahu bahwa gadis berseragam yang ada di dalam gang, adalah Jenar.
Alfa berjalan ke depan dengan pelan dan bergumam lirih, "Jenar, kenapa kamu nekat banget kayak gini? Kamu udah bikin jantungku jumpalitan nggak karuan kayak gini, Jenar, hiks, hiks, hiks, semoga kita semua selamat malam ini dan The White Mask berhasil kita tangkap, amin"
Alfa.terus melangkah pelan ke depan dengan menyorotkan senter di ponselnya ke arah depan, ia kembali bergumam, "Oh, Mama, kenapa aku dilahirkan sebagai anak tunggal dan penakut kayak gini, hiks,hiks,hiks. Dan parahnya lagi, aku yang penakut ini harus dikaruniai kemampuan super kayak gini, hiks,hiks,hiks"
Detak jantung Jenar meningkat, semua panca indra Jenar menajam, dan membuka akses ke sumber energi dalam jumlah besar untuk bisa memikirkan sebuah cara menghadapi predator di depan matanya.
Ancaman di depan mata yang sangat besar menyerang seluruh indra di tubuh Jenar dengan sangat intensif, sehingga Jenar 'membeku'. Otak Jenar kewalahan untuk bereaksi. Begitu juga dengan tubuhnya Jenar, tubuhnya memilih untuk tidak bergerak dan memilih untuk 'bersembunyi' dari predator yang ada di depan matanya dengan cara membeku.
"Kau saat ini pasti ketakutan, kan? Kau membeku. Itu gejala awal semua korbanku di saat mereka akhirnya memiliki waktu istimewa bisa berhadapan langsung denganku" Rigel berkata di tempat ia masih berdiri dengan tegap.
Jenar ingin mengatakan sesuatu, namun tidak bisa. Lidahnya tiba-tiba terasa Kelu di saat kepalanya mulai terasa pusing dan keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya.
"Siapa kau? Kenapa kau memancingku sampai ke sini? Aku butuh tahu siapa kau sebelum aku mencabik-cabik dirimu malam ini" Rigel berucap sembari maju selangkah ke depan, lalu berhenti dan berdiri dengan sikap sempurna dia kemudian menggemakan tawa di balik topeng putihnya.
Jenar mencoba untuk membuka mulut untuk bersuara, namun tetap saja dia belum bisa untuk bersuara di saat lututnya mulai bergetar hebat.
"Aku bisa mencium bau keringat kamu, aku bisa merasakan ketakutan kamu, dan aku bisa mengendus wangi kamu dari sini. Kamu buka. bartender itu. Siapa kamu!!!???!!!" Rigel mulai berteriak kesal dan Jenar semakin membeku dengan tubuh yang bergetar hebat.
__ADS_1
Saat itulah Jenar bisa merasakan rasa takut yang sesungguhnya. Rasa takut itu, melebihi rasa takut yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Dari jarak sekitar dua meter, Jenar mengangkat kedua alisnya ke atas di saat ia bisa melihat topi putih di bawah tudung jaket saat sosok pria di depannya yang dia yakini adalah Rigel Altair, terkena sorot lampu yang tidak begitu terang yang ada di dalam gang sempit itu. Dan tepat di saat lampu itu meredup, sosok bertudung dan bertopeng putih itu menengadahkan kepalanya.
Jenar masih membeku di tempat ia berdiri. Dia seolah disihir dan dipakai di sana, karena ia sama sekali tidak mampu untuk bergerak sedikit pun. Bahkan untuk berteriak meminta tolong pun ia tidak mampu.
Sosok bertopeng itu kemudian mengarahkan pandangnya ke Jenar dan dia mengumpat penuh amarah, "Sial! Kau berniat menjebakku, ya?!" Sosok bertopeng putih itu segera berbalik badan untuk berlari meninggalkan. Jenar di saat ia bisa mendengar derap langkah kaki orang mendekat ke gang tersebut.
Rigel Altair memang dikaruniai kecerdasan luar biasa, indra penciuman yang luar biasa sensitif, dan indra pendengaran yang luar biasa tajam, namun sayangnya semua karunia itu, dia pergunakan hanya untuk mendukung instingnya sebagai seorang predator.
Jenar berhasil menggerakkan langkahnya ke depan dan di saat itu pula ia berhasil berteriak, "Jangan lari! Rigel Altair, jangan lari!"
Rigel sontak menghentikan laju larinya saat ia mendengar namanya dipanggil. Rigel memutar badan dengan cepat dan refleks ia berteriak untuk bertanya, "Kenapa kau panggil aku dengan nama itu?!"
Rigel menggeram kesal dan di saat ia hendak berlari melaju ke depan untuk menusuk gadis bertopi itu dengan pisau lipatnya, Rigel sontak mengurungkan niatnya, ketika ia melihat ada dua siluet berjalan cepat di belakang gadis bertopi dan berseragam bartender itu. Rigel memilih segera berbalik badan untuk berlari menjauh.
Jenar melihat siluetnya Rigel berbalik dan berlari menjauh. Jenar refleks berlari mengejar bayangan itu dengan berteriak, "Jangan lari! Jangan pergi!"
Kedua detektif dari kepolisian yang sudah lama mengejar The White Mask, masuk ke dalam gang itu dari ujung yang berlawanan dengan Alfa. "Sinyal ponsel Jenar, ada di dalam gang ini" Sahut detektif berbadan tambun ke detektif yang berbadan jangkung.
"Oke! Ayo kita masuk sekarang!" Sahut detektif yang berbadan Jangkung.
__ADS_1
Kedua detektif itu segera berjalan dengan cepat masuk ke dalam gang dengan sinar yang semakin lama semakin meredup itu.
Jaya Dwipa menoleh ke Handoko yang berhasil mensejajari laju larinya, lalu bertanya, "Jenar ke arah mana?"
"Ke sana" Handoko menunjuk ke sisi timur dan langsung mengarahkan laju larinya ke sana dan Jaya Dwipa langsung mengikuti laju larinya Handoko sambil terus berdoa semoga cucu satu-satunya selamat. Jaya Dwipa bahkan lebih mementingkan keselamatan cucunya daripada identitas asli The White Mask.
Alfa berbalik badan saat ia melihat pria bertudung dengan topeng putih berlari ke arahnya. Alfa ikutan berlari cepat dan saat ia sampai di ujung gang, dia berputar badan dan jleb! Pisau lipat mengenai dada atas sebelah kirinya.
Antares menghela napas lega saat ia bisa berpapasan dengan Jaya Dwipa dan Handoko. Antares bertanya sambil berlari mengikuti arah larinya Jaya Dwipa dan Handoko, "Om, Kek, Jenar di mana?"
Handoko menoleh ke Antares sambil terus berlari, "Kita mengarah ke Jenar saat ini. Sinyal ponselnya Jenar menuju ke........." Handoko langsung mengerem laju larinya.
"Ada apa?" Tanya Jaya Dwipa.
"Ada orang ditusuk di depan gang" Handoko tertegun melihat pria bertudung menusuk seorang pemuda. Lalu, pria bertudung itu menendang perut pemuda itu sampai pemuda itu terjengkang dan jatuh di atas rumput yang ada di ujung gang. Lalu pira bertudung itu lari tunggang langgang meninggalkan pemuda malang itu.
Tidak begitu lama, muncul kedua detektif polisi dari dalam gang dan langsung berlari mengejar pria bertudung.
Handoko langsung berteriak, "Kita kejar pria bertudung itu, Om! Pria bertudung itu The White.Mask, aku lihat topeng putih di balik tudungnya. Dan kau, Res, kau cek pemuda itu!"
Antares langsung berlari mendekati pemuda itu bertepatan dengan munculnya Jenar Ayu di ujung gang. Jenar langsung berteriak, "Alfa!!!!! Tidak!!!!!!"
__ADS_1
Antares menunduk dan dia langsung menatap nanar dada kiri sahabatnya yang bersimbah darah.