Jenar Ayu

Jenar Ayu
Tidak Layak


__ADS_3

Eyang kakungnya Jenar dan Handoko, membantu Antares mengurus pemakaman mamanya Antares. Jenar dan Alfa ada di sisinya Antares untuk terus memberikan semangat dan harapan hidup bagi Antares.


Setelah selesai mengurus pemakaman mamanya, Antares memberanikan diri untuk menemui Papanya di penjara. Antares duduk berhadapan dengan papanya dan mereka berdua dipisahkan oleh sebuah meja kotak kecil berwarna kuning yang terbuat dari plastik.


Rigel Altair menatap Antares dengan wajah datar karena, ia memang tidak pernah memiliki rasa pada apapun dan siapapun. Begitu pula terhadap pura kandungnya, darah dagingnya sendiri, dia juga tidak memiliki rasa apapun. Dia membesarkan Antares hanya karena ia mengikuti naluri alaminya saja. Seperti seekor elang hitam yang membesarkan anaknya dan tega membunuh anaknya sendiri jika anaknya itu lemah. Untungnya Antares adalah anak yang kuat sehingga dia bisa tumbuh dewasa dengan baik.


Antares mengusap air mata yang menitik di kedua pipinya, untuk bertanya, "Kenapa Papa membunuh Mama?"


Rigel Altair menyeringai di depannya Antares dan hanya menyeringai selama beberapa menit lamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Pa, tolong kasih jawaban ke Ares! Itu penting buat Ares" Sahut Ares.


Rigel menatap tajam kedua bola matanya Antares yang persis sama dengan kedua bola matanya, kemudian predator berwujud manusia itu berucap, "Karena, Mama kamu memiliki rasa ingin tahu yang besar dan Papa tidak menyukainya"


Antares menghunus tatapan tajam ke papa kandungnya sendiri, lalu ia bangkit berdiri dan berkata, "Aku kecewa sama Papa. Tapi, jangan khawatir, Pa, jika nanti Papa dihukum mati, aku akan tetap menjadi anak yang berbakti. Aku akan mengurus pemakaman Papa dengan baik" Antares lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan papanya begitu saja.


Rigel Altair menatap punggungnya Antares dengan wajah datar dan tidak ada rasa apapun di dalam hatinya. Sorot mata dan hatinya hambar sepeti biasanya.


Antares bisa kuat melanjutkan hidupnya, karena ia memiliki tanggung jawab kepada jantungnya Akamu yang sudah tertanam di dalam dirinya. Dia merasa tidak layak menghentikan detak jantung itu dan untuk itulah dia tidak ingin bunuh diri dan tetap tegak berdiri melanjutkan hidupnya. Pria berparas tampan, putra tunggalnya Rigel Altair itu, menjadi tegar, karena dia memiliki cinta di dalam hatinya. Namun, meskipun cintanya untuk Jenar menjadikannya tegar setegar baru karang, sejak mengetahui bahwa Papanya adalah The White Mask yang asi dan papanya pula yang telah membunuh mama kandungnya, Antares merasa dirinya tidak layak untuk Jenar. Dan sejak hari itu, Antares tidak pernah lagi menemui Jenar. Jenar yang sibuk dengan kegiatan kuliah dan menjadi saksi di kasusnya Rigel Altair, belum merasakan perubahan sikapnya Antares.


Di suatu pagi yang cerah, Jenar mengetuk pintu apartemennya Antares dan dia terkejut saat mendapati yang membukakan pintu apartemen tersebut bukanlah Antares.

__ADS_1


"Anda siapa?" Tanya Jenar dengan menautkan kedua alisnya.


"Saya penghuni baru apartemen ini. Saya membeli apartemen ini seminggu yang lalu" Sahut seorang pria berumur empat puluh tahunan.


"Lalu, di mana pemilik yang lama pindah? Antares Altair, di mana dia pindah?" Tanya Jenar.


"Saya tidak tahu, maaf" Sahut pria berumur empat puluh tahunan tersebut.


Jenar kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Alfa menepuk pundaknya Jenar, "Maafkan aku. Aku juga tidak tahu Antares sekarang tinggal di mana"


Di saat kasus persidangan papanya digelar, Antares terus menghindari Jenar. Dia bahkan berlari dan bersembunyi saat Jenar melihat dan memanggil dirinya.


Antares yang bersembunyi di balik tembok tidak jauh dari tempat Jenar berdiri, menitikkan air mata, memegang dadanya dan bergumam lirih, "Maafkan aku, Jen. Aku tidak pantas mencintai kamu. Papaku sudah membantai semua keluarga kamu. Aku adalah anak seorang monster tidak layak mencintai seorang peri manis seperti kamu"


Jenar refleks memegang dadanya dan dia sontak berteriak, "Aku bisa merasakan kesedihanmu saat ini, Res. Keluarlah! Aku mohon! Kita perlu bicara!"


Namun, Antares tidak keluar dari tempatnya bersembunyi. Antares memilih berjongkok, meremas dadanya sendiri dan menangis lirih di balik tembok.


Setelah menjalani persidangan yang cukup lama yang menghabiskan banyak waktu dan biaya, Rigel Altair, papanya Antares akhirnya dijatuhi hukuman tembak mati di tempat.

__ADS_1


Antares yang diminta untuk menghadiri hukuman mati papanya, memilih untuk tidak hadir. Antares merasa tidak tega melihat Papanya dijatuhi hukuman mati meskipun dia sangat membenci papanya karena, papanya tega membunuh mamanya.


Antares menjual semua aset kekayaan papanya dan dia kemudian bertolak ke luar negeri.


Jenar menangis di bandara di saat ia terlambat mencegah keberangkatannya Antares ke Thailand. Jenar sendiri masih bingung dengan perasaannya. Dia menangis karena kehilangan Antares atau karena dia, tidak bisa lagi merasakan detak jantungnya Akamu jika Antares berada sangat jauh darinya.


Antares bertolak ke Thailand karena, ia akhirnya mengambil beasiswa untuk kuliah di bidang bisnis pariwisata dan perhotelan. Kuliah kedokterannya terpaksa ia hentikan karena terbentur masalah biaya.


Alfa yang menemani Jenar pergi ke bandara memeluk Jenar dan berkata, "Kalau kita masih berjodoh dengan Ares, kita pasti akan bertemu kembali dengan Ares.


Lima tahun kemudian................


Sejak The White Mask dijatuhi hukuman mati dengan cara ditembak mati di tempat, Jenar tidak lagi diganggu oleh wong samar. Jenar bisa hidup merdeka dan tenang sejak ia bebas dari gangguannya wong samar.


Jenar telah tumbuh menjadi wanita yang dewasa dan semakin menarik sejak ia berhasil lulus dan bekerja menjadi seorang jaksa yang mulai naik daun.


Jenar pun akhirnya berpacaran dengan Alfa yang telah berhasil lulus menjadi seorang dokter. Alfa bekerja menjadi dokter umum di sebuah rumah sakit swasta.


Sementara Antares menjadi seorang bartender yang cukup terkenal di Thailand. Dia berparas tampan dan digilai banyak wanita, namun hatinya belum bisa berpaling dari Jenar Ayu. Antares banting tulang selama hidup di Thailand dan dia tidak pernah ada waktu untuk memikirkan cinta. Banyak wanita yang menyatakan perasaan ke Antares, namun semuanya Antares tolak dengan alasan kalau dia tidak memiliki sisa waktu untuk berpacaran, waktunya telah habis untuk bekerja dan kuliah. Kerja, kuliah dan hidup sendiri tanpa adanya sanak saudara di Thailand, membuat Antares yang jangkung menjadi semakin nampak jangkung karena badannya semakin kurus.


Setelah melewati masa sulit, lima tahun kemudian, Antares bisa menikmati hasil dari jerih payahnya sendiri, dia berhasil memiliki beberapa bar. Titik balik kesuksesannya adalah di saat dia berhasil menyabet juara favorit di kompetisi bartender muda tingkat nasional dan dia kemudian diajukan oleh asosiasi bartender di Thailand untuk ikut ajang kompetisi bartender tingkat Internasional yang digelar di Amerika. Di sana, Antares berhasil menyabet juara pertama dan sejak itulah, kehidupan Antares berubah total. Dari Antares yang miskin dan hidup pas-pasan dan bukan siapa-siapa, menjadi Antares yang sangat terkenal dan kaya raya.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya. Dia merindukan makam mamanya dan dia merindukan Jenar Ayu.


__ADS_2