Jenar Ayu

Jenar Ayu
Bersitatap


__ADS_3

Antares berdiri di tengah kerumunan dan menoleh ke Leo untuk berkata, "Kenapa kepalaku selaku terasa sakit kalau bangun pagi?"


"Makanya besok-besok bangun siang. Pasti nggak sakit kepala lagi" Leo meringis ke Antares.


Antares mendengus kesal dan berucap, "Dasar gila!"


Handoko dan Jaya Dwipa kaget dengan kedatangannya Alfa dan Jenar secara tiba-tiba.


"Ada apa ini?" Tanya Handoko.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Jaya Dwipa.


"Kami baik-baik saja" Sahut Alfa.


"Aku bisa melihat wong samar lagi, Kek, Om. Aku ke sini karena wong samar yang ada di apartemen sangat jahil dan aku belum siap untuk menghadapi kejahilan mereka. Untuk itulah aku ada di sini sekarang ini" Sahut Jenar.


"Masuklah dulu! Kakek dan Om akan ke balai desa dulu. Ditemukan mayat anak kecil di sini" Sahut Handoko.


Jenar masuk ke dalam rumah dengan helaan napas panjang.


Alfa mengajak Jenar duduk sambil bertanya, "Kenapa kau menghela napas panjang barusan? Kau pusing atau capek?"


Jenar menggelengkan kepalanya dan berucap, "Aku nggak pusing dan nggak capek. Aku hanya merasa di sini sepertinya sama saja. Ada pembunuhan juga dan sepertinya aku harus ikutan ke sana untuk ikut menyelidiki"


"Kamu istirahat saja dulu. Aku akan bikinkan teh" Namun, saat Alfa hendak bangkit berdiri, telepon genggamnya berdering cukup kencang.


Alfa mengangkat panggilan telepon itu dan setelah menutup teleponnya ia menoleh ke Jenar, "Maaf. Aku harus pergi. Ada situasi darurat di rumah sakit dan aku dibutuhkan di IGD. Aku akan ke sini lagi nanti malam sekalian membawakan baju dan berkas kamu yang masih tertinggal di apartemen"


Alfa mengajak Jenar bangkit berdiri dan setelah mencium kening kekasihnya, Alfa melangkah lebar dan setengah berlari menuju ke mobil.


Jenar menghela napas panjang saat ia melihat punggungnya Alfa, lalu ia berucap saat punggung kekasihnya sudah menghilang, "Dia selalu saja meninggalkan aku di saat aku sangat membutuhkannya. Dia masih dokter umum aja udah sesibuk ini apalagi kalau dia udah selesaikan S2 dan menjadi dokter spesialis. Huffftttt! Jalani aja dulu" Jenar kembali menghela napas panjang dan bergumam, "Lebih baik aku ke balai desa saja menyusul Kakek dan Om Handoko. Daripada aku bengong di sini sendirian"


Jenar menoleh ke kiri dan bertanya ke seorang pria yang tengah asyik menyiangi rumput liar. Jenar segera bertanya, "Pak, bisa antarkan saya ke balai desa?"

__ADS_1


"Bisa, Non. Emm, Non cucunya Bapak Jaya, Ya?"


"Iya. Nama saya Jenar" Jenar mengulurkan tangannya dan bertanya, "Nama Bapak siapa?"


"Nama saya Samin. Saya tukang kebun sekaligus supir di sini. Istri saya, Sri bertugas bersih-bersih rumah dan memasak di sini" Sahut pria yang bernama Samin sembari menerima uluran tangan Jenar.


"Oooooo, lalu Bu Sri di mana sekarang? Saya kok nggak lihat ada orang lain selain kita di sini?"


"Istri saya ke pasar tadi. Mungkin dia mampir ke balai desa dulu untuk menonton keramaian di sana" Sahut Samin.


"Bisa antarkan saya ke sana selayang?"


"Bisa. Mari saya antarkan. Emm, pakai sepeda motor nggak papa, kan? Karena, mobilnya dipakai sama Bapak" Sahut tukang kebunnya Jaya Dwipa yang bernama Samin itu.


"Nggak papa" Sahut Jenar.


Dua puluh lima menit kemudian, pak Samin dan Jenar Ayu sampai di balai desa, semuanya telah pergi dan balai desa sudah sepi.


"Wah, sepertinya Non terlambat" Sahut Samin.


"Baik, Non" Sahut Samin.


Saat Jenar hendak melangkah ke mobil polisi, ada suara pria memanggil namanya, "Jenar!"


Jenar refleks menoleh ke asal suara dan dia tertegun saat ia melihat Leo melambaikan tangan dan berlari menghampirinya.


"Kok kamu ada di sini?" Jenar dan Leo melemparkan kata tanya yang sama.


"Aku tinggal di sini" Sahut Leo.


"Oh" Jenar hanya ber-o.


"Pak, Anda tinggalkan saja Jenar di sini. Dia bakalan lama kalau ngobrol dengan polisi. Saya temannya dan saya bawa mobil. Saya akan antarkan Jenar pulang, nanti" Leo menoleh ke pria paruh baya yang masih nangkring di atas sepeda motor.

__ADS_1


"Baik, Mas. Makasih. Jaga Non Jenar baik-baik, ya!" Pak Samin menatap Leo dengan sorot mata serius.


"Siap delapan enam" Sahut Leo.


Setelah Pak Samin meninggalkan balai desa, Leo menoleh ke Jenar dan dia menghela napas panjang karena Jenar telah menghilang begitu cepat dari sisinya. Leo mengedarkan pandangannya dan menghela napas lega saat ia berhasil menangkap keberadaannya Jenar.


Leo berlari mendekati Jenar dan langsung menepuk bahu Jenar sambil menyemburkan protes, "Kalau mau pergi, tuh bilang. Bikin panik aja. Jangan kayak jailangkung, datang tak diundang dan pergi tak diantar


Jenar mendelik ke Leo dan petugas kepolisian yang tengah berbicara dengan Jenar sontak mengulum bibir menahan geli.


Leo dengan sabar menunggu Jenar berbicara dengan petugas kepolisian itu dan Jenar juga berbicara dengan petugas forensik. Setelah selesai, Jenar menoleh ke Leo, "Oke. Udah selesai. Antarkan aku pulang, ya?"


"Rumahku lebih dekat dari sini. Kita pulang dulu ke rumahku untuk makan dan minum. Aku kelaparan dan kehausan menunggu kamu selama dua jam, Nona!" Sahut Leo.


"Oke, baiklah! Aku juga laper dan haus. Apa aku boleh nebeng makan dan minum di rumah kamu?" Jenar tersenyum ke Leo


"Tentu saja boleh. Apa, sih, yang nggak buat Nona semanis kamu, hehehehe"


"Pujian kamu itu akan mempan untuk gadis bau kencur. Tepi, nggak akan mempan untukku" Sahut Jenar.


"Aku nggak muji dan jangan kepedean, aku juga nggak ngerayu kamu. Aku berkata jujur kalau kamu itu manis" Sahut Leo dengan wajah kesal


"Yeeeaahhh! Terserah kamu saja" Sahut Jenar.


Sepuluh menit kemudian, Leo sampai di pekarangan luas rumah dia dan Antares.


Leo mengajak Jenar masuk dan Jenar tidak menyangka kalau bakalan bertemu dengan Antares. Jenar sontak mengumpat, "Sial!" saat ia sadar ia telah lupa akan fakta penting bahwa Leo dan Antares tinggal di rumah yang sama.


Leo otomatis menahan senyum melihat reaksi kagetnya Jenar dan Antares.


Karena canggung terus bersitatap dengan Antares, sebagai pecandu kafein sejati, Jenar langsung mengambil cangkir berisi kopi di depannya dan mereguk sebanyak-banyaknya isi cangkir itu. Setelah itu ia berucap, "Aahhhh, alam semesta. Terima kasih sudah menghadirkan kopi untukku"


"Itu kopiku" Antares memberitahu Jenar dengan geli.

__ADS_1


Dan dengan santainya Leo menyahut, "Bukankah itu berarti kalian berdua sudah berciuman secara tidak langsung? Pppffttt!" Leo refleks menahan tawanya.


Jenar menepuk keras bahunya Leo dan hanya bisa menatap Antares di dalam kebisuan.


__ADS_2