
Jenar bangkit berdiri saat telepon genggamnya berbunyi cukup nyaring dan refleks kedua bola mata Antares mengikuti arah perginya Jenar.
Antares sempat mendengar Jenar menyebut nama Alfa dan tanpa sadar Antares menghembuskan napas berat di depan Eyang Kakungnya Jenar.
"Kamu masih masih mencintai cucu Kakek, ya?" Tanya Jaya Dwipa dengan senyum penuh simpati.
Antares terkejut dan langsung menoleh ke depan, "Apa, Yang? Eyang tanya apa barusan?"
Jaya Dwipa tersenyum geli dan berkata, "Eyang lihat, kamu masih sangat mencintai Jenar"
Antares tersenyum malu dan langsung menganggukkan kepala dengan penuh semangat.
"Eyang rasa, Jenar juga begitu" Sahut Jaya Dwipa.
"Eyang rasa begitu? Jenar juga mencintai saya?" Kedua bola mata Antares berpijar penuh harapan.
"Hmm. Tapi, kau tahu, kan, Jenar tidak pandai untuk jujur dengan apa yang ia rasakan. Dia selalu menyembunyikan apa yang ia rasakan" Jaya Dwipa menghela napas panjang
"Saya rasa begitu, Yang* Sahut Antares.
"Kalau kamu benar-benar mencintai Jenar, perjuangkan dia. Eyang menyuruh kamu memperjuangkan Jenar, karena Eyang bisa lihat dan rasakan kalau Jenar juga mencintai kamu" Ucap Jaya Dwipa dengan senyum bijak.
"Lalu, bagaimana perasaan Jenar pada Alfa, Yang?" Tanya Antares.
"Aku rasa, Jenar hanya memakai Alfa sebagai pelarian saja. Dia ingin melupakan sakit hatinya ditinggal pergi olehmu tanpa alasan dan dia mendekap Alfa untuk ia jadikan obat luka di hatinya itu. Tapi, obat yang sebenarnya dari luka di hatinya Jenar itu adalah kamu. Jadi, hanya kamu yang bisa menyembuhkan luka itu. Maka Eyang sarankan, perjuangkan cinta kamu. Buat Jenar sadar kalau sebenarnya ia juga mencintai kamu" Jaya Dwipa tersenyum tulus pada Antares.
Antares tersenyum lebar saat ia tahu bahwa Jenar juga punya rasa padanya. Harapannya merekah cerah saat ia mendapatkan dukungan penuh dari eyang Kakungnya Jenar.
"Bukannya Eyang nggak suka sama Alfa, tapi kasihan juga kalau Alfa kalau diteruskan hubungan tidak sehat itu. Karena, Eyang lihat, Jenar dan Alfa semakin jauh dan Eyang lihat Jenar sering melamun dan merenung. Jenar tampak tertekan dan sering tampak kekecewaan di wajahnya. Berarti, dia tidak bahagia berpacaran dengan Alfa"Ucap Jaya Dwipa.
Antares tertegun mendengar ucapannya eyang kakungnya Jenar. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Jenar dan Alfa memiliki hubungan berpacaran yang tidak sehat.
"Maafkan aku. Aku menyuruh supirku untuk mengantarkan koper dan berkas-berkas kamu. Aku tidak bisa pergi sendiri karena ada pasien darurat yang harus aku tangani. Aku pamit, ya. Love you" Ucap Alfa.
__ADS_1
"Hmm" Jenar menyahut singkat dan klik! Ia memutuskan sambungan telepon itu dengan helaan napas berat.
Alfa segera berlari ke IGD sambil memasukkan telepon genggamnya kembali ke saku celana. Dia bahkan tidak ada waktu untuk meminta balasan kata love you lagi dari Jenar Ayu.
Jenar melangkah gontai menuju ke ruang tamu dan duduk di samping eyang kakungnya dengan wajah murung.
Antares memandang wajah murungnya Jenar dengan perasaan campur aduk, namun ia tidak berani bertanya apapun. Karena tidak tega terlalu lama memandang wajah murungnya Jenar, Antares bangkit berdiri dan berkata, "Saya pamit dulu. Sudah jam sebelas malam. Kasihan Leo di rumah sendirian" Antares mencium punggung tangannya Kaya Dwipa dan tersenyum hangat ke Jenar.
Keesokan harinya, Renata pergi ke sekolah dengan diantar oleh ayahnya.
Ada satu kejadian luar biasa menghebohkan di ruang kelasnya Renata. Ada lebah pembunuh yang tiba-tiba masuk ke kelasnya Renata lewat jendela. Lebah pembunuh tang biasa disebut sebagai tawon petir oleh penduduk sekitar, hinggap dimeja salah satu siswa laki-laki.
Anak laki-laki itu tersentak kaget dan langsung bangkit berdiri, mendorong kursinya ke belakang sambil berteriak "Ada tawon petir!"
Guru kelas yang tengah mengajar di hari itu, segera berteriak, "Anak-anak berlarilah ke sini! Dan usahakan jangan berisik! Cepat!
Seluruh isi kelas sontak bangkit berdiri dari kursi mereka dan berlari meninggalkan meja mereka masing-masing tanpa berani mengeluarkan suara. Semua siswa menuju ke pojok kelas. Mereka tidak berani bergerak untuk berlari karena takut lebah pembunuh itu menjadi kaget dan mengejar mereka semua.
Hanya Renata yang berjalan santai ke meja di mana lebah pembunuh itu masih berdiam diri di sana sambil nungging. Renata lalu membuka tempat pensilnya, menempatkan tempat pensil yang terbuka itu di pinggir meja. Kemudian gadis kecil berparas sangat cantik itu, memakai secarik kertas gambar yang tebal untuk mendorong lebah pembunuh sampai jatuh ke tempat pensil dan dengan cepat Renata menutup tempat pensilnya.
Renata kemudian berjalan santai dan menjatuhkan tempat pensilnya ke bawah dari lantai dua kelasnya dengan wajah datar. Lalu, ia menoleh ke guru dan semua temannya untuk berkata, "Sudah beres"
Guru yang mengajar kelasnya Renata itu mengucapkan kata terima kasih ke Renata dengan wajah heran bercampur takjub.
Renata duduk kembali di mejanya sambil berkata ke semuanya, "Kata Ayahku, tawon hanya akan menyerang kita kalau mereka kaget"
Jenar menelepon pihak forensik yang menangani kasus dugaan pembunuhan di pegunungan tempat tinggal eyang kakungnya.
Jenar tersentak kaget, "Luka tusuk di perut anak laki-laki dan anjing itu akibat tusukan garpu? Seharusnya tusukan itu tidak mematikan, bukan?"
"Iya, Anda benar Bu Jaksa. Yang membuat anak laki-laki dan anak anjing itu mati buka tusukan garpu itu, melainkan gigitan tawon petir" Sahut dokter Johny, dokter forensik yang ditelepon Jenar pagi hari itu.
"Tawon petir? Siapa yang berani mengusik sarang tawon petir? Bukankah itu jenis lebah yang sangat mematikan?" Tanya Jenar.
__ADS_1
"Benar sekali. Apakah ada peternak lebah di sana?" Tanya Dokter Johny.
"Saya akan tanya Kakek saya. Saya juga akan menyelidikinya lebih lanjut nanti" Jenar berucap sembari berlari kecil menuju ke depan untuk segera masuk ke mobilnya. Dia harus bergegas berangkat ke persidangan yang akan digelar jam sepuluh padahal jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan.
"Astaga!" Jenar sontak mengerem langkahnya saat ia melihat pria yang ada di halaman rumah eyang kakungnya.
Antares bersandar di mobil pickup mewahnya dan sambil tersenyum lebar ia berkata, "Aku akan antarkan kamu"
"Nggak usah. aku bisa sendiri" sahut Jenar.
"Mobilku bisa melaju lebih cepat dari mobilmu. Dan aku rasa, cowok juga lebih masih ngebut daripada cewek. Kamu tergesa-gesa, kan?" Antares tersenyum penuh kemenangan saat ia melihat Jenar melangkah ke mobilnya dan melompat
masuk.
"See! Aku bisa mengantarmu ke sini lebih cepat dan aman, kan?"
Jenar melihat jam tangannya dan menghela napas lega. Dia masih punya waktu setengah jam untuk bersiap-siap.
Saat Jenar melompat turun, Antares berteriak, "Jam berapa kamu selesai?"
"Jam satu siang" Sahut Jenar sambil menutup pintu mobil dan berlari meninggalkan Antares tanpa mengucapkan kata terima kasih.
Antares tersenyum geli melihat tingkahnya Jenar. Lalu, ia mutuskan untuk balik ke pegunungan. Dia akan mulai mempraktekan ilmu yang diberikan oleh ayang Kakungnya Jenar semalam.
Saat membeli pupuk dan vitamin untuk tanaman teh dan kopi yang baru ia tanam kemarin bersama dengan Leo, ia bersenggolan dengan seorang pria gagah yang lumayan tampan.
Antares sontak berkata, "Maafkan saya"
"Oh! Tidak anak muda. Saya rasa, Om yang salah. Om jalan sambil melamun tadi"
"Anda juga suka berkebun?" Antares melirik isi kantong plastik yang ditenteng oleh pria tersebut.
"Hmm. Kamu juga, ya?"
__ADS_1
Antares tersenyum, "Iya" Lalu ia mengulurkan tangannya, "Nama saya Antares Altair dan siapa nama Om?"
Rafael terkejut mendengar ada nama Altair. Dia menatap pemuda tampan di depannya dengan lebih saksama dan refleks ia menutup mulutnya yang ternganga saat ia menemukan kemiripan di wajah Antares dan wajahnya Renata.