Jenar Ayu

Jenar Ayu
Kenyataan Mengejutkan


__ADS_3

Sejak mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya tentang kecelakaan yang dialami oleh ayah, Akamu, dan mamanya, Jenar tumbuh dewasa dengan rasa takut. Dia tumbuh menjadi gadis penakut dan bakat spesial yang masih melekat di dirinya justru sering ia hindari karena, rasa takut. Rasa takut yang beda dengan rasa takut yang dimiliki oleh orang normal, membuat Jenar sering merasa kelelahan. Rasa takut yang Jenar miliki lebih ke denial (penyangkalan) akan bakat spesial yang dia miliki dan itu tidaklah mudah bagi seorang Jenar Ayu.


Seperti yang dialami oleh Jenar di salah satu ruang kelas yang ada di dalam Gedung E, Gedung Fakultas Hukum. Jenar datang paling pagi, dia ingin duduk di bangku paling depan karena, dia memang selalu menghindari bangku paling belakang, karena ia tidak ingin diganggu wong samar kalau dia duduk di bangku paling belakang. Namun, tetap saja wong samar yang memang sangat menyukai aromanya Jenar, muncul di sebelahnya Jenar.


Jenar bisa merasakan ada wong samar di dekatnya di saat tengkuknya terasa dingin, namun dia memilih untuk melakukan denial dan lebih memilih untuk terus fokus ke dosennya Di saat Jenar sedang asyik-asyiknya mengikuti mata kuliah pertamanya, tiba-riba dia merasakan bahunya dicolek oleh seseorang dan saat ia menoleh ke samping kanannya, spontan ia berteriak, "Aaaaaaa!!!" dengan sangat kencang karena, kaget saat ia melihat, ada wanita dengan wajah penuh darah menatap Jenar dengan jarak yang sangat dekat Wong samar itu pun kaget saat Jenar berteriak sangat kencang dan seketika itu pula, wong samar itu lenyap dari hadapannya Jenar.


Seisi kelas dan sang dosen, sontak mengarahkan pandangan mereka semua ke Jenar Ayu. Sang dosen bertanya, "Ada apa tiba-tiba teriak?"


Sial! Kenapa juga aku berteriak? Aku kan sudah sering melihat yang beginian?" Batin Jenar.


" Kenapa kamu berteriak?" Sang dosen bertanya kembali saat ia melihat mahasiswi yang dia tanya belum menjawab pertanyaannya.


"Maaf, Pak. Emm, tangan saya kena penjepit kertas" Sahut Jenar Ayu dengan senyum manisnya.


Sang dosen langsung berkata, "Oooooo. Lain kali jangan bikin kaget lagi!"


"Baik, Pak" Sahut Jenar dengan senyum manisnya. Jenar terpaksa berbohong karena, ia tidak ingin dicap aneh oleh semua teman barunya jika ia jujur kepada semuanya kalau ia seroang indigo dan dia bisa melihat makhluk tak kasat mata dalam model apapun


Seperti biasa, Jenar lebih memilih pergi ke perpustakaan di jam istirahat untuk menyalurkan hobinya membaca buku dan untuk menenangkan pikirannya. Di kota besar, dia tidak bisa secara bebas mengekspresikan dirinya sebagai seorang indigo. Dia harus menyembunyikan bakat spesialnya itu kalau tidak menyembunyikan bakat spesialnya itu, dia akan dipandang aneh, dijauhi orang, atau bahkan dia bisa dibully.


Di saat Jenar sedang asyik-asyiknya membaca buku pilihannya, dia mendengar dan melihat ada petugas perpustakaan yang terus bertanya ke seorang gadis berambut panjang, "Mbak cari buku apa? Biar saya bantu. Mbak sedari tadi saya lihat mondar-mandir di lorong ini dengan wajah panik, makanya saya menghampiri Mbak, saya ingin menolong Mbak mencarikan buku yang Mbak cari"


Jenar lalu bangkit berdiri dan menghampiri petugas perpustakaan tersebut dan dia kaget saat ia berhadapan dengan petugas perpustakaan tersebut, "Kak Melodi?"


"Jenar? Kamu udah balik ke Jakarta? Wah, senangnya akhirnya kita bisa bertemu kembali"


Jenar kenal dengan Melodi di desa Pelem-Pare-Kediri-Jawa Timur. Melodi sering menemani Jenar bermain. Walaupun Melodi lebih tua lima tahun dari Jenar, tapi mereka bisa berteman akrab. Namun, saat Jenar masuk kelas dua SD, Melodi pindah ke Jakarta.

__ADS_1


Setelah berpelukan, Jenar berkata ke Melodi, "Biar aku yang bantu Mbaknya mencari bukunya. Kakak kembali aja ke meja Kakak"


Melodi menganggukkan kepalanya dan setelah tersenyum ke Jenar, ia melangkah kembali ke mejanya.


Jenar Ayu kemudian menepuk pundak wanita yang masih tampak celingukkan di depan rak buku. Jenar Ayu kemudian bertanya, "Maaf, Mbak mencari apa? Saya akan membantu Mbak"


Wanita itu menoleh ke Jenar Ayu dan Jenar Ayu spontan menarik tangannya dari atas pundak wanita itu saat ia melihat wajah pucat wanita itu. Jenar spontan bertanya, "Mbak sakit ya? Kok pucat banget? Mbak duduk saja di sana! Saya yang akan carikan buku yang Mbak cari dari tadi. Mbak cari buku apa?"


Wanita itu menatap Jenar dengan pandangan kosong, lalu berucap dengan nada datar seperti nada yang ada di mainan robot, "Saya tidak mencari buku"


Jenar langsung menautkan alisnya dan mulai melangkah mundur selangkah sambil bertanya, "Lalu, Mbak cari apa?"


Wanita itu menatap Jenar dengan wajah dan sorot mata yang semakin menakutkan saat ia berucap seperti mainan robot, "Saya mencari kedua kaki saya yang hilang"


Jenar sontak menunduk dan melihat bahwa wanita di depannya ternyata melayang tanpa kedua kaki. Jenar langsung berputar badan untuk berlari saat wanita tanpa kaki itu melayang maju dan dengan pelan mendekatinya. Jenar menoleh ke belakang dan melihat wanita tak berkaki itu terus melayang mengejarnya.


Jenar Ayu segera membungkuk di depan toilet perpustakaan, memegang kedua lututnya dengan napas terengah-engah. Ia menghentikan laju larinya saat dirasanya sosok wanita yang tengah mencari kedua kakinya yang hilang tidak mengikutinya lagi. Jenar menegakkan badannya Kembali untuk melangkah maju meninggalkan perpustakaan, tapi bruk! keningnya menabrak sesuatu yang keras tapi sekaligus berasa empuk.


Jenar mengangkat wajahnya dan, "Aduh!" suara seorang pria mengaduh saat pucuk kepalanya Jenar tanpa sengaja menyundul pucuk hidung seorang pemuda yang sangat tampan.


Jenar Ayu dan pemuda tampan itu kemudian bersitatap cukup lama. Mereka sama-sama termenung, saat mereka merasakan rasa aneh di antara mereka. Mereka mendengar debaran jantung mereka seirama. Mereka berdua kemudian memegang dada mereka masing-masing secara bersamaan sambil terus bersitatap.



Jenar Ayu spontan berdeham untuk melepas rasa canggung, lalu mengambil sapu tangan dari dalam saku dressnya untuk ia serahkan ke pria itu, "Ini. Untuk mengelap hidung kamu. Maaf, aku tidak sengaja menyundul kepala kamu" Jenar lalu melangkah maju meninggalkan pemuda tampan itu dan dengan sigap, pemuda tampan itu mencekal pergelangan tangannya Jenar dengan berucap, Tunggu!"


Jenar memutar badan, menarik pergelangan tangannya, dan berkata, "Apa yang kau mau? Kamu ingin memeriksakan hidung kamu ke rumah sakit, ayok!"

__ADS_1


Pemuda itu terus menatap Jenar dan bertanya, "Aku tidak ingin ke rumah sakit dan hidungku baik-baik saja Aku hanya ingin bertanya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Jenar bersedekap dan menggelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa, aneh" Pemuda itu lalu menunjuk dadanya sendiri sambil berkata, "Saat kamu kesal barusan, di sini, di dalam dadaku, aku juga ikut merasakan kesal"


Jenar tertegun, lalu berkata, "Kita perlu bicara panjang lebar kayaknya. Aku tunggu kamu di kantin. Istirahat kedua, temui aku di kantin dekat fakultas hukum!"


"Baik" Sahut pemuda itu


Jenar lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan pemuda tampan itu, tapi pemuda itu mengikuti Jenar, mensejajari langkahnya Jenar dan bertanya, "Kenapa kamu berlari ketakutan tadi?"


Jenar tersentak kaget dan sambil berjalan ia menoleh ke pemuda tampan itu untuk bertanya, "Kenapa kamu mengikuti aku?"


Pemuda dengan wajah dingin tanpa ekspresi itu menjawab pertanyaannya Jenar dengan nada datar, "Entahlah. Aku merasa sangat nyaman berada di dekat kamu dan nggak ingin pisah dari kamu"


Jenar menghentikan langkahnya dan menghadap ke pemuda itu, "Aku menuju ke fakultas hukum dan........."


Pemuda tampan itu pun berbalik badan untuk menghadap Jenar Ayu, dan dengan cepat ia memotong ucapannya Jenar, "Aku akan belok kanan di ujung jalan itu. Aku di fakultas kedokteran. Namaku Antares Altair"


Jenar langsung menarik alisnya ke atas.dan tertegun karena, kaget saat ia mendengar nama Altair di belakang nama pemuda tampan yang berdiri di depannya. Jenar sontak bertanya, "Apa Papa kamu, Rigel Altair?"


Pemuda itu menganggukkan kepalanya dan Jenar langsung melangkah mundur dengan degup jantung yang sangat kencang.


Antares Altair lansgung bertanya, "Kenapa kamu melangkah mundur? Dan kenapa jantungku tiba-tiba berdegup sekencang ini. Apa jantung kamu juga berdegup sangat kencang saat ini?"


Jenar yang masih shock menerima kenyataan mengejutkan di depan kedua matanya hanya bisa mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2