
Renata yang manis dan ramah, bisa dengan mudah memiliki teman. Anak gadis berumur tujuh tahun itu, tersenyum senang saat seorang anak gadis seumurannya mau berteman dan bermain boneka dengannya di salah satu gazebo yang ada di sekitar perkebunan teh milik ayahnya. Gadis kecil teman barunya Renata itu bernama Dewi.
Ayahnya Renata menatap senang melihat putrinya sudah bisa tertawa dan memiliki teman baru. Rafael tersenyum lega melihat Renata tidak murung lagi setelah mamanya meninggal.
Renata yang terbiasa bermain sendirian di gazebo saat ia menunggu ayahnya bekerja, kini dia memiliki teman. Renata dan Dewi bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba datanglah tiga orang anak laki-laki yang seumuran dengan Renata mendekati mereka. Salah satu dari anak laki-laki itu menggendong seekor anak anjing lucu berwarna putih bersih.
Mereka berkenalan dan bisa bermain dengan rukun. Mereka bermain petak umpet, lalu bermain A,B,C,lima dasar dengan rukun dan riang gembira. Namun, kerukunan itu tidak berlangsung lama saat Renata menemukan anak anjing yang dibawa oleh anak laki-laki yang bernama Bagus,, mengoyak boneka kesayangannya.
Renata langsung berlari naik ke gazebo dan mendorong anak anjing itu sampai anak anjing itu jatuh ke tanah dan memekik kesakitan.
Anak laki-laki itu langsung menggendong anak anjing kesayangannya dan sambil melotot ke Renata, ia berteriak kencang, "Kenapa kau dorong anjingku sampai jatuh dan kesakitan begini? Kau jahat!!!!"
Renata melotot ke anak laki-laki yang bernama Bagas itu dan berteriak sambil memeluk boneka kesayangannya yang sudah kehilangan lengan sebelah kanan, "Anjing kamu yang jahat! Dia udah mengoyak boneka kesayanganku"
"Boneka itu hanya sebuah benda. Kamu bisa beli lagi, kan? Lalu, anak anjingku ini? Dia kesakitan dan ketakutan kayak gini.
"Kau juga bisa beli anjing lagi!" Renata berteriak dan melotot ke Bagus.
Bagus mendelik lalu berteriak, "Aku menyesal berteman dengan kamu, Ren! Kau jahat!!!!!!" Setelah itu, Bagus mengajak kedua temannya berbalik badan dan pergi meninggalkan Renata dan Dewi.
Renata melompat turun dari gazebo dan berlari meninggalkan Dewi tanpa pamit.
Dewi menatap punggungnya Renata dengan wajah datar.
Renata membuang boneka kesayangannya di salah satu pematang sawah yang ia lalui dan dia melanjutkan laju larinya untuk mengejar Bagus. Dia membenci Bagus saat Bagus mengatakan ia jahat dan Bagus mengatakan kalau Bagus tidak mau berteman dengannya lagi.
Renata mengikuti Bagus sampai ke rumahnya Bagus. Dia lalu menyeringai dan melangkah masuk ke pekarangan rumahnya Bagus untuk mengetuk pintu rumah.
__ADS_1
Saat Bagus membuka pintu, Renata lanahing mengulaa senyum palsu dan bertanya, "Kau sendirian di rumah?"
"Aku mau ajak kamu ke dokter hewan kenalannya Ayahku. Kita periksakan anjing kamu itu ke sana, yuk!" Renata masih mengulas senyum palsunya yang sangat manis.
Bagus seketika itu juga tersenyum dan berkata, "Ayo!"
"Iya. Untuk apa kau ke sini?" Bagus yang masih menggendong anak anjing kesayangannya menatap Renata dengan kesal.
Di hari pertama Antares dan Leo tinggal di daerah pegunungan itu, ada kejadian mengejutkan yang menggegerkan pemukiman di daerah pegunungan nan sejuk itu. Salah satu petani kebun teh, menemukan jasad seorang anak laki-laki yang masih kecil dan mayat seekor anak anjing berwarna putih bersih. Anak kecil dan anak anjing kecil itu ditemukan bersimbah darah di bagian perut.
Jenar menyipitkan kedua kelopak mata lentiknya saat ia melihat sosok wong samar berwajah pucat pasi dan tanpa bola mata.
Tanpa berpikir panjang dan dengan degup jantung abnormal, Jenar berputar badan membuka pintu dan berlari keluar dari dalam apartemen dan langsung menutup kembali pintunya.
Jenar bersandar di tembok, lalu dengan napas tersengal-sengal ia membungkukkan badan untuk memegang kedua lututnya yang terus gemetaran.
Jenar menegakkan kembali tubuhnya saat.ia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang. Jenar sontak menoleh ke kiri dan langsung bertanya, "Anda siapa?"
Jenar memandangi wajah pria berumur lima puluh tahunan itu dengan saksama.
Pria berseragam polisi itu tersenyum kembali, lalu berkata, "Kamu masih ragu apakah aku ini wong samar atau manusia, ya, Nak?"
Jenar langsung berkata, "Maafkan saya, Pak. Saya sudah lama tidak melihat wong samar. Baru kemarin saya bisa melihat wong samar lagi. Jadi, saya........"
"Nggak perlu minta maaf! Bapak paham kok. Bapak sarankan kamu segera pindah dari apartemen ini"
"Jen!" Alfa memanggil Jenar.
__ADS_1
Jenar menoleh ke kanan dan sontak berlari ke arah Alfa.
Alfa langsung menangkap tubuhnya Jenar. Lalu ia peluk erat tubuh kekasihnya itu sambil bertanya, "Ada apa? Kenapa jantung kamu berdetak sangat kencang?"
Jenar membenamkan wajahnya di dadanya Alfa dan berucap di sana, "Aku nggak mau masuk lagi masuk ke dalam apartemenku"
"Lho kenapa?" Tanya Alfa sembari mengelus punggungnya Jenar.
"Aku bisa melihat wong samar lagi dan bukan hanya melihat, mereka mulai jahil dan sangat menganggu. Antarkan aku pulang ke rumah Kakek yang ada di pegunungan. Ada Kakek dan Om Handoko di sana, jadi aku rasa aku akan aman di sana" Sahut Jenar.
Alfa memegang kedua bahunya Jenar, mendorong pelan kedua bahu itu untuk melihat wajah Jenar dan berkata, "Tapi, kalau kamu tinggal di sana, kamu berangkat kerja bagaimana? Jarak rumah Kakek kamu ke tempat kerja kamu, tuh, cukup jauh, Jen"
Jenar menatap Alfa dan berkata, "Cuma satu setengah jam. Nggak lama"
"Tapi pulang pergi cukup melelahkan nanti. Kamu, kan, sering pulang larut malam, apakah itu tidak akan berbahaya bagi kamu, Jen?" Alfa menatap lekat kedua bola mata indahnya Jenar dengan masih memegang kedua bahunya Jenar.
Jenar yang memiliki watak keras kepala, menepis kedua tangan Alfa untuk berkata, "Kalau kamu nggak mau antarkan aku, aku akan ke sana sendiri"
"Jen, bukan begitu" Alfa menangkup kedua pipinya Jenar.
Jenar menatap Alfa dengan wajah datar dan bergeming.
"Ok, baiklah! Aku antarkan" Alfa lalu menggandeng tangan Jenar dan berjalan ke parkiran mobil.
Jenar menoleh ke belakang, dia teringat dengan bapak berseragam polisi yang memberikan saran agar dia pergi dari apartemen. Namun, bapak berseragam polisi itu telah menghilang.
Alfa menoleh ke Jenar, "Siapa yang kau cari?"
__ADS_1
"Tetangga baruku. Dia punya karunia rohani yang sama kayak aku. Dia seorang polisi. Dia yang memberikan saran ke aku untuk pindah dari apartemen ini" Sahut Jenar sambil terus melangkah ke mobilnya Alfa.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Alfa membantu Jenar memakai sabuk pengaman. Setelah mencium keningnya Jenar, Alfa menegakkan tubuh untuk memakai sabuk pengaman dan setelah itu, ia menghidupkan mesin mobil dan melajukannya.