
"Antarkan aku pulang! Aku sudah cukup lama keluar rumah" Ucap Jenar kemudian.
Antares melepaskan.kedua bahunya Jenar dan sambil menghela napas panjang, ia memasang sabuk pengamannya untuk mulai menyalakan mesin dan melajukan kembali mobilnya.
Dan di sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya Jaya Dwipa, Antares dan Jenar tidak saling mengobrol lagi.
Sesampainya di rumah eyang kakungnya, Jenar melepas sabuk pengamannya sambil berucap,."Terima kasih banyak untuk hari ini"
Antares hanya menyahut, "Hmm"
Jenar menyeret kakinya dan dia tiba-tiba memekik kaget saat Antares kembali membopongnya dari arah belakang dan berlari cukup cepat.maauk ke dalam rumah eyang kakungnya Jenar.
Jenar melotot ke Antares dan Antares langsung berucap sambil menurunkan Jenar di lantai, "Gerimis turun dan aku nggak pengen kamu kehujanan. Kalau jalan kamu diseret kayak tadi, kamu bisa kehujanan"
Saat Jenar hendak membuka mulut, Jaya Dwipa hadir di antara Jenar dan Antares, lalu berkata, "Nak Ares, gerimis mulai deras. Masuk dulu ngeteh sama.main catur, yuk!"
Antares menoleh ke Jenar untuk meminta persetujuannya Jenar. Namun, Jenar justru berbalik badan dan menyeret kakinya terus masuk ke dalam rumah.
"Lho, Nak Ares kok ditinggal masuk begitu saja? Piye to iki?" Jaya Dwipa.memutar.kepwla mengikut arah perginya Jenar.
Antares langsung menyahut, "Nggak papa Eyang. Jenar capek dan kakinya agak nyeri tadi. Saya pamit pulang aja kalau gitu" Antares meraih tangan Jaya Dwipa dan ia mencium punggung tangannya Jaya Dwipa lalu berbalik badan dan berlari masuk ke dalam mobilnya.
Antares meninggalkan halaman rumahnya Jaya Dwipa dan lima belas menit kemudian, mobil Alfa memasuki halaman rumahnya Jaya Dwipa.
Jaya Dwipa membuka kembali pintu rumahnya dan terkejut saat ia melihat Alfa berdiri di depan pintu. "Lho, tumben jam segini sudah ada di sini. Kamu, kan, selalu sibuk dan nggak pernah punya waktu untuk Jenar. Tumben ini kamu punya waktu ke sini"
Alfa meraih tangan Jaya Dwipa dan mencium punggung tangan Jaya Dwipa. Lalu, dokter muda yang sangat tampan itu berkata, "Maafkan say Eyang kalau saya jarang ke sini dan nggak pernah ada waktu untuk Jenar"
"Masuklah! Duduk dulu di ruang tamu, aku akan panggilkan Jenar" Jaya Dwipa masuk ke dalam menuju ke kamarnya Jenar.
"Jen, dicari Alfa" Jaya Dwipa berkata sambil mengetuk pintu kamarnya Jenar dengan pelan
Jenar membuka pintu kamar dan berkata, "Kenapa nggak Eyang ajak main catur dulu? Aku capek pengen tidur sebentar"
"Alfa nggak asyik kalau diajak main catur. Dia kalau kalah langsung merengut dan langsung diam seribu bahasa. Pokoknya nggak asyik. Beda sama Ares. Kalau Ares, menang atau kalah tetap aja senyum dan tetap aja mengajak Kakek mengobrol. Kamu temui dia! Eyang akan ke kebun lagi" Jaya Dwipa berlalu meninggalkan Jenar yang tengah menghela napas panjang.
__ADS_1
Jenar menutup pintu kamarnya dan menyeret kaki kanannya ke ruang tamu.
Alfa langsung bangkit berdiri dan berteriak kaget, "Kaki kamu kenapa?"
Jenar mendorong pelan tubuh Alfa saat Alfa ingin memapahnya dan duduk di sofa sambil berkata, "Aku kayak gini karena aku mengejar kamu. Aku melihat kamu ditarik oleh seorang wanita di kantorku kemarin siang"
Alfa seketika mematung.
Jenar menatap Alfa dengan heran, "Kenapa kamu kaget? Emangnya siapa wanita itu?"
Alfa lalu duduk bersimpuh di depan Jenar dan langsung meletakkan wajahnya di pangkuannya Jenar dan berkata, "Aku ke sini karena ingin minta maaf sama kamu. Aku benar-benar nggak sengaja melakukannya"
Jenar mendorong pelan kedua bahunya Alfa sampai ia bisa menatap wajah Alfa. Lalu, Jenar bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba bersimpuh, bersikap aneh seperti ini, dan meminta maaf?"
Alfa masih duduk bersimpuh di Jenar dan sambil menundukkan kepala, ia berkata, "Aku melakukan kesalahan besar. Tapi, aku tidak sadar saat itu. Aku mabuk. Aku tidak sengaja melakukannya"
"Jangan muter-muter terus kayak gini. Katakan ada apa?"
"Aku seharian nggak bisa bekerja. Aku terus kepikiran. Aku nggak mau kehilangan kamu. Untuk itulah aku cepat-cepat ke sini menemui kamu. Karena, aku........"
Alfa tersentak kaget dan Alfa menangis sambil berkata, "Aku nggak mau kehilangan kamu"
Jenar semakin kebingungan dan langsung memeluk Alfa. Dia usap punggungnya Alfa dan berkata, "Tenanglah dulu! Kalau kamu nggak bisa bilang sekarang, nggak papa. Tapi, jangan ngomong muter-muter terus, bikin aku penasaran"
Alfa yang masih terisak, berkata, "Aku harus bilang sekarang. Karena, kamu suka hubungan kita dilandasi kejujuran, kan?" Ucap Alfa sambil menarik diri dari dalam pelukannya Jenar.
Jenar mengusap air mata di pipinya Alfa dan hanya tersenyum. Jenar menjadi takut untuk bertanya saat ia melihat ada gurat kesedihan dan rasa bersalah yang sangat besar di wajahnya Alfa.
"Wanita yang menarik aku keluar dari kantor kamu adalah wanita yang sudah tidur denganku" Alfa berkata dengan sangat cepat dan tanpa jeda. Lalu, Alfa menundukkan wajahnya dan berkata, "Maafkan aku. Aku mabuk berat saat itu. Aku mabuk karena hubungan kita lama-lama tersadar ingin dan kau frustasi dengan pekerjaanku yang semakin hari semakin banyak yang membuat aku nggak bisa tiap hari ketemu denganmu. Sebulan sekali aja aku juga belum tentu bisa bertemu denganmu. Aku mabuk berat dan tanpa sadar aku........."
"Aku juga berciuman dengan pria lain" Sahut Jenar dengan cepat dan tanpa jeda pula.
"Yeeaaahhh. Hah?!" Alfa sontak mengangkat wajahnya dan bertanya, "Apa yang kamu katakan barusan?"
"Aku juga berciuman dengan pria lain" Sahut Jenar dengan wajah datar.
__ADS_1
Alfa bangkit berdiri dan sambil tertawa kesal ia berkata, "Oke. Ini tidak lucu. Kamu hanya ingin membalas aku dengan berkata seperti itu, kan?"
"Itu benar. Maaf kalau aku belum cerita sama kamu. Itu juga tidak disengaja. Aku juga nggak sadar saat aku membalas ciuman pria itu"
Alfa meraup wajah tampannya dan mulai berkacak pinggang dengan wajah gusar.
"Kamu marah? Aku aja nggak marah lho. Kamu udah meniduri wanita itu, aku nggak marah, sedangkan aku cuma berciuman, kamu marah?" Sahut Jenar.
"Sial! Kamu nggak marah sama aku? Aku sudah tidur dengan wanita lain, Jen?"
"Entahlah. Hatiku rasanya aneh saat aku dengar pacarku meniduri wanita lain. Tapi, aku nggak tahu itu marah atau apa? Apa kamu ingin aku marah dan kita putus?" Jenar menatap Alfa dengan ekspresi datar.
"Sial! Aku nggak ingin putus denganmu. Tapi, kenyataan bahwa kamu udah berciuman dengan pria lain, itu membuat hatiku mendidih. Aku marah. Aku sangat marah dan aku sangat cemburu, Jen"
Jenar masih menatap Alfa tanpa ekspresi.
Alfa menggebrak meja dan berkata, "Lebih baik aku pulang dulu. Aku butuh mendinginkan hatiku. Tepi, aku pesan sama kamu, jangan pergi ke rumah yang ada tawonnya. Di dalam mimpiku, aku melihat kamu dikejar seorang pria dengan wajah berlumuran darah dan memegang pisau di rumah yang ada tawonnya itu.
Jenar seketika mematung mendengar ucapannya Alfa dan saat itu juga ia benar-benar yakin kalau Rafael adalah seorang psikopat yang sudah membunuh anak kecil dan anjingnya, dan sudah membunuh wanita yang bernama Mona"
"Aku pulang dulu. Aku butuh meninggikan pikiran dan hatiku. Tapi, satu yang harus kau pegang, Jen, aku selamanya nggak akan putus dengan kamu karena satu-satunya wanita yang aku cintai adalah kamu" Alfa lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan Jenar.
Alfa mengendarai mobilnya di tengah hujan lebat dan karena jarak pandang semakin pendek, Alfa memutuskan berhenti di sebuah kedai kopi. Alfa berhenti di kedai kopi itu juga untuk menetralisir perasaannya uang kacau balau saat itu.
Ketika Alfa tengah asyik menikmati kopi dan mie instan rebus pakai telur yang ia pesan, seorang gadis kecil yang sangat cantik mendekatinya dan berkata, "Om, apa aku boleh numpang mobilnya Om? Aku........"
"Iya Mas, tolong anter Non Renata pulang. Rumahnya tidak jauh dari sini, kok. Non Rena, tadi beli roti bakar terus kejebak hujan.Non Rena ini Putrinya Pak Rafael. Dia sangat baik" Sahut si pemilik kedai kopi tersebut.
Alfa menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah. Tapi, kamu tunggu Om selesai makan dulu nggak papa, kan?"
Renata tersenyum manis lalu berkata, "Saya akan menunggu Om dengan sangat sabar"
Jaya Dwipa muncul di ruang tamu, "Lho, kok Nak Alfa udah pulang? Hujan deras banget lho ini. Apa nggak berbahaya menyetir sendirian di tengah hujan lebat seperti ini?"
Jenar yang masih kacau balau perasaannya, menoleh ke eyang kakungnya dan berkata, "Dia yang ingin pulang, kok"
__ADS_1