Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Beli Pil KB


__ADS_3

Andra cengkram lembut dagu Gadis, dia belum mau berhenti malam ini, terus bekerja di atas istrinya dengan gelora yang sangat besar.


Sedangkan, Gadis mau berkata apa, memberontak pun dia jelas kalah, suaminya sudah menyergap lebih dulu.


Andra angkat sedikit pinggul Gadis menjelang sengatan hebat itu mereka dapatkan, mata keduanya terpejam hingga ledakan hebat keduanya rasakan.


Bruk,


Gadis tarik selimut sampai ke dagu, malu mendarah daging, tadi dia mengejar Andra dan ingin tahu, mau menghindar dari cekalan Andra, giliran dia disentuh, lemah sudah.


Aaaarrrghh, duda satu ini!


Bibir Gadis berkedut, Andra terkekeh melihatnya, dia putar wajah itu hingga bisa dia pertemukan lagi benda lembut dan lembab mereka lagi.


"Sudah, nafasku habis, Ndra!" Gadis jauhkan wajahnya.


Andra menyeringai tipis, dia tidak menerima penolakan disaat seperti ini, mau tidak mau Gadis harus lebih giat latihan tahan nafas bila bersama Andra.


Hentikan!


Suara gemericik air membuat matanya menelisik ke pintu kamar mandi yang terbuka, Andra lebih dulu membersihkan diri sebelum mereka terlelap.


"Bisa-bisanya tidak menutup pintu, rasakan kalau ada tikus masuk!" gumam Gadis geram.


Tak lama dari itu Andra sudah tampak segar, wajah tampan yang mampu menghipnotis Gadis sampai salah tingkah, bergerak gelisah di balik selimut.


"Kamu mau mandi sekarang atau nanti?" Andra merangkak naik ke ranjang, dia tarik selimut Gadis. "Hei, jangan pura-pura tidur, mandi dulu!"


"Tidak mau," jawab Gadis sambil menarik kembali selimut ke wajahnya. "Aku lelah, tidur saja ya, Ndra."


Sret,


"Mandi atau aku ajak mandi yang lain?!"


Tap, tap, tap ...


Secepat kilat Gadis berlari ke kamar mandi, bahkan pintu itu terbanting karena takut Andra mengikutinya dan menjadikan mandi plus-plus, tulangnya sudah retak semua sekarang.


"Yang dibilang Sifa benar, menikah dengan daun muda harus siap lelah, tenaganya kuat sekali, duuhhhh ..." Gadis pejamkan matanya, ngeri sendiri melihat bekas sesapan Andra di sekitar dada. "Dia keturunan harimau!"


Sepuluh menit waktu yang Andra berikan pada Gadis, dia tak mau tidur seorang diri, bayi besar Gadis yang sangat manja dan selalu ingin diperhatikan.


Tunggu, Andra belum menjawab pertanyaan Gadis tadi, alasan apa yang membuat Andra mendadak emosi saat dia menerima dan berbicang bersama kakak lelaki pria itu.


Bahkan, Andra tak segan-segan mengajaknya pulang tanpa mau mendengarkan seruan kedua orang tuanya, Gadis jadi merasa tidak enak pada sang ibu mertua, masakan beliau belum Gadis makan tadi.


"Ndra, tangannya jangan di sini!"


"Kenapa?" tidak ada wajah bersalah di sini. "Menolak itu artinya menantangku," imbuhnya.


Gadis kembalikan tangan besar itu ke atas perutnya, terserah mau apa, sesuka Andra, mencubit dadanya pun dia biarkan saja, toh dia sudah kalah.


"Ndra, kenapa tadi, kamu belum jawab pertanyaan aku loh, kenapa?" Gadis miringkan tubuhnya, menghadap Andra.


"Kenapa tidak menolak saat kak Hikam mendekatimu?" mata Andra menajam.


Gadis terkejut samar, "Mendekati apa, Ndra, tidak ada. Dia hanya memberikan melon potong padaku, mengajak bicara sebentar, selama ini pekerja berharap bisa berbicara lama dengan kak Hikam, bukankah ini kesempatan untuk pekerja seperti aku?"


"Tapi, kamu itu istriku!" tanganya mengerat di dada Gadis, membuat Gadis meringis.


"Iya, aku istrimu. Apa karena itu saja kamu larang dan langsung mengajak pulang, bahkan tidak mendengarkan mama, Ndra?" Gadis gosok bekas rematan Andra. "Aku ingin tahu kenapa, kalian kan saudara." imbuhnya.


Andra jauhkan tangannya, dia berbalik membelakangi Gadis, membawa wajah kesalnya, seolah dia tidak mau ada pembahasan ini.

__ADS_1


Berulang kali Gadis goyangkan punggung Andra, pemuda itu tak merespon, padahal belum tidur.


Gadis bergeser mendekat, dia harus lebih aktif memang berhadapan dengan yang lebih muda, Gadis selipkan tangannya ke pinggang Andra dan menempelkan wajahnya di punggung terbuka itu.


"Sudah tidur ya, aku kira bakal dipeluk waktu tidur, ternyata tidak. Hmm ... kasihan aku, malang sekali sih!" gumam Gadis, sengaja memancing Andra.


Andra tersenyum samar, dia suka bagaimana Gadis mendekat dan merayunya, Gadis punya cara yang bisa membuat apinya padam.


Andra tautkan jemarinya, itu sudah cukup membalas ucapan Gadis tadi sampai mereka terlelap pada akhirnya, bisa dia rasakan Gadis tersenyum dan menghela nafas lega saat tangan menggantung itu terbalas.


Aku takut hal itu terjadi lagi, aku tidak mau!


***


Hari ini, cuti pernikahan spesial itu telah usai, keduanya kembali menapaki kehidupan nyata di mana Andra masih mengizinkan Gadis bekerja di kantor yang sama dengannya.


Niat hati ingin Gadis di rumah, tapi melihat istrinya senang mengambil baju kerja, membuat Andra tidak tega.


"Ndra, kamu berangkat bareng aku kan ya?"


"Tidak, pergilah duluan, aku akan mengemudi sendiri!"


"Kenapa?" Gadis rapikan jas suaminya, berlaku selayaknya istri dan memang dia istri dadakan Andra.


"Aku ada urusan, bekerjalah seperti biasa!"


Benar, Gadis hampir meledak melihat bagaimana Andra di kantor saat bertemu dengannya, bahkan mereka ada di satu ruang meeting bersama, saat Gadis presentasi pun, tidak ada tatapan ramah dari Andra, pria itu, suaminya, si duda muda yang sudah tidur bersamanya berlaku acuh.


"Aku tidak tahu kenapa dia berbeda, semalam masih sama, pagi tadi cuman bilang ada urusan, sekarang seperti aku dan dia ini asing. Apa orang menikah itu begitu?" tanya Gadis, dia enggan makan siang kalau begini.


"Mungkin karena di kantor, dia jadi acuh begitu, menjaga posisinya sebagai tuan muda," jawab Rena.


"Iya, aku rasa begitu, jangan terlalu dipikirkan, nanti di rumah juga akan kembali lagi. Apa kalian sudah malam pertama?" timpal Sifa, dia penasaran.


"Kalau sudah, tenang saja, dia tidak akan bisa jauh darimu. Jangan dimasukkan ke hati ocehannya di ruang meeting tadi!" ujar Sifa.


Gadis lahap lagi menu makan siangnya, entah pikiran buruk dari mana sampai dia menanyakan masalah pil penunda kehamilan pada kedua temannya itu, dia hanya takut perbedaan karakter Andra ini berlaku untuk selamanya dan di mana saja.


Dia hanya pelampiasan mungkin dari sakit di masa lalu.


Tapi, keluarganya baik semua, apa mungkin begitu?


Rena dan Sifa tidak berani setuju akan ide mendadak Gadis, sebab mereka juga belum bisa memastikan alasan perlakuan Andra yang berbeda.


"Ya, Dek, kenapa?"


"Kak, hapenya kak Andra eror mendadak, aku takut kak Andra marah, bagaimana ya?"


Astaga, itu harganya mahal, mereka baru saja menikah, sudah ada masalah.


"Nanti, Kakak bilang ke kak Andra, masih kerja." putus Gadis, sepulang nanti dia akan berbicara dengan suaminya itu.


Namun, waktu seakan tak berpihak pada Gadis, di depannya berjalan dua orang yang salah satunya amat dia kenal, tak lain suaminya sendiri.


Staff itu meninggalkan mereka berdua yang berpapasan, Gadis kikuk, tidak tahu harus menyapa bagaimana pada suaminya.


Bapak Andra atau Andra atau suami, duh!


Andra hanya melihatnya sekilas, lalu kembali mengambil langkah tanpa mengucapkan apapun.


Dih, kan benar begitu, padahal lagi berdua juga dikacangin sama dia, kesel!


Beberapa detik Gadis tunggu, tapi suaminya tak kunjung berbalik atau sekadar menoleh padanya, terus berjalan seolah tak kenal siapa dia di sini.

__ADS_1


Fix, dia akan mengibarkan bendera perang di rumah nanti.


Tapi, aku takut, hapenya rusak lagi, mahal tahu!


Begitu Gadis melanjutkan langkahnya, Andra berhenti, dia menoleh ke belakang, tersenyum samar dan menjulurkan lidahnya, kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


Brak!


"Apa, Ren?" Gadis berjengit, mejanya dipukul Rena begitu saja.


Rena sibakkan rambut panjangnya, dengan wajah yang entah tak bisa Gadis gambarkan, intinya Rena terlihat panik campur aduk.


"Benar kamu lihat itu?"


Rena mengangguk, "Aku tidak salah lihat dan dengar, dua gadis itu berdiri di depan Andra dan mereka tertawa bersama, staff di sana bilang kalau mereka teman dari mantan istri Andra, Dis!"


Slink,


Mata Gadis mengkilat seketika, jadi itu alasan Andra berpaling darinya di kantor menjadi acuh, padahal di rumah membuat tulangnya remuk semua.


Sialan!


***


"Ampuni aku, tapi ini jalan terbaik, dia terus saja mengajak aku melakukan itu, bisa hamil cepat aku nanti," gerutu Gadis sepanjang perjalanan.


Mereka berhenti tepat di apotek tak jauh dari kantor, Gadis sudah meminta supirnya diam.


"Ya, Tuan." diam sebentar. "Nona sedang membeli sesuatu di apotek, saya tidak tahu obat apa, Tuan."


Maaf, Nona. Nasib saya juga bergantung dari laporan tentang Anda.


Supir itu bergegas menyimpan ponselnya begitu Gadis ke luar apotek, tidak ada obat yang jelas di sana, Gadis tampak tak membawa apapun, hanya tas kerja.


Mereka kembali melaju pulang, Gadis merasa mendapatkan angin segar di sini.


Sungguh, dia hanya ingin semua jelas, jangan sampai menikah mendadak, lalu berpisah mendadak juga.


Di kantornya,


"Sudah dapat info Helen membeli apa tadi?" Andra menatap tajam pesuruhnya.


"Nona membeli obat KB, Tuan."


"Cih, pintar sekali dia. Baru dia cuekin begitu saja sudah berani nakal, awas kamu!"


Pesuruh itu segera pergi, ngeri sendiri melihat mata tajam dan gertakan geram Andra, selama ini Andra lebih dikenal santai dibandingkan kedua kakaknya.


Pil penunda kehamilan, Andra tak menyangka niat Gadis begitu kuat dan termasuk berani, dia tersenyum samar.


"Dia sudah sampai di rumah?"


"Iya, Tuan. Nona baru saja ke kamarnya, sebentar lagi mau ke rumah sebelah."


"Biarkan dia kalau ke rumah sebelah, panggil dia kalau aku pulang!"


"Baik, Tuan."


Andra kemasi barangnya, dia akan pulang cepat dan mengejutkan Gadis.


Lihat saja, aku atau kamu yang menang, Helen!


"Ahahaahahh, aku suka jiwa beraninya itu."

__ADS_1


__ADS_2