
Gadis sedikit menurunkan egonya hari ini, tidak, dia memang sudah menurunkan egonya setiap hari saat menikah dengan Andra.
"Andra belum pulang?" ibu datang membawa sambal terong, nikmat kalau makan terong bersama Andra, sayangnya duda itu belum pulang.
"Dia ada urusan, Bu. Oiya, tumben sekali masak begini, tahu kalau Andra suka sambal terongnya Ibu ya? Kalau begini, aku yakin dia akan makan sampai nasi habis!" Gadis cekikikan. "Bu, tadi Andra bilang kalau hapenya Sandro rusak, kebiasaan dia nurutin apa maunya Sandro kayak anaknya saja, menurut Ibu, dibelikan tidak?"
Ibu berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk, tapi dengan syarat membelikan yang biasa sesuai kebutuhan, sudah tahu riwayat anaknya itu buruk soal barang elektronik.
Makanan yang seharusnya enak menjadi tidak enak, pikiran Gadis tertuju pada Andra tanpa henti, takut bila dudanya itu trauma membahas soal masa lalu yang kerap tenang di pelukannya.
Kalau di sana, Andra dipeluk siapa? Diakan ada di rumah ini, sampai larut juga belum ada kabar.
Berulang kali Gadis periksa ponselnya, tapi Andra belum membaca pesan yang dia kirimkan, kegelisahan semakin menjadi-jadi, apalagi Gadis susah tidur akhir-akhir ini kalau tak ada duda itu, padahal kalau adapun dia malah tidak bisa tidur.
__ADS_1
"Helen."
Gadis sontak meloncat turun ranjang, dia sengaja mengunci kamarnya, jujur saja dia memakai baju seksi sesuai permintaan Andra, bahaya kalau keluarganya melihat, bisa mati berdiri mereka.
"Kenapa dikunci?" Andra melangkah masuk, belum melihat Gadis sepenuhnya. "Kau-"
Gluk!
"Apa yang kau lakukan saat ini? Menggodaku?"
"Eheheheh, kan kamu yang minta aku pakai baju seperti ini di malam hari, jadi aku pakai, jelek ya?" Gadis menjauhkan tubuhnya. "Aku kelihatan gemuk ya? Kamu nggak suka cewek gemuk kan? Terus, bagaimana ini kalau aku gemuk, nanti kamu-" bibir Andra sudah berlabuh di bibirnya, duda itu selalu terdepan dalam semua cumbuan, tidak akan terkalahkan oleh Gadis. "-ah, eheheheh, sudah sekarang mandi!"
Andra bingkai wajah itu, kemudian dia peluk sebentar, ingin dia sampaikan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1
"Aku bertemu keluarga dan membahas masalah pernikahan lama itu kembali, aku takut dan trauma, Helen. Mereka terus membahasnya sampai detail dan aku membuka apa yang aku sembunyikan soal hubungan kak Hikam dan Lisa, semua keburukan mereka, awalnya aku berat, tapi sekarang aku lega ..." Andra semakin mengeratkan pelukannya, Gadis yakin duda itu menangis tanpa mau dia lihat. "Aku punya kamu, jangan tinggalkan aku, Helen. Kalau aku bisa kuat waktu itu, tidak lebih karena kakek mengenalkan aku padamu, bila itu terulang, aku bisa mati!"
Gadis usap punggung Andra, dia kecup ringan bahu suaminya itu, dia memang memimpikan kata cinta dari suaminya, tapi seperti ini rasanya cukup, dia akan bersama duda ini selamanya.
"Mereka akan membersihkan namaku segera, walau aku sebenarnya tak butuh itu, aku menolaknya tadi," akunya.
"Kenapa ditolak?"
"Aku tidak mau jadi pusat perhatian, itu artinya mereka akan menyorotmu, aku tidak suka begitu, itu mengintimidasi dunia bebasmu, Helen, biar saja di rumah dan aku yang mengenalnya!"
Ah, tetap posesif ternyata ... Gadis masih setia mengusap punggung Andra sampai duda itu tenang, lalu menemani Andra mandi.
Iya, mandi, sungguh hanya mandi!
__ADS_1