Jodohku Duda Muda

Jodohku Duda Muda
Hak Suami


__ADS_3

Sudah, berhenti bermain ular kobra itu, Gadis tidak mau lagi terperangkap dalam permainan Andra.


Hari pertamanya sebagai istri, hanya ada mereka berdua di bangunan utama, Gadia berinisiatif membuka pintu samping hingga dia bisa melihat di mana kedua orang tuanya tinggal, dalam satu halaman, hanya saja beda bangunan.


"Wah, ibu lagi masak apa itu, aku mau ke sana!" gumamnya.


Namun, niatnya digagalkan pemuda di belakangnya ini, lagi-lagi memeluk Gadis tanpa permisi, mencium bahu Gadis dan leher sampai desisan tanpa sengaja ke luar dari bibir Gadis.


"Ndraaaaa, kamu ini!" tegurnya sebal.


Andra lepaskan dekapannya, "Mau ke mana?"


"Aku mau ke rumah sebelah, mau tanya ibu itu masak apa, aku tinggal ya-"


"No, Helen, tetap di sini!" potongnya menolak, Andra tarik tangan Gadis hingga merapat ke tubuhnya. "Sudah aku bilang semalam, hari ini tidak ada yang bisa mengganggu aku dan kamu, aku mau kamu fokus sama aku!"


Gadis pejamkan matanya saat Andra meniup wajahnya, mau tidak mau dia mengangguk, bagaimanapun juga pemuda duda satu ini adalah suaminya, kepatuhan Gadis adalah hak suaminya, Andra.


Langkah keduanya berhenti tepat di depan ruang kerja, tangan itu enggan melepaskan Gadis seolah menjadi tahanan yang takut kabur saja, berulang kali Gadis yakinkan dan meminta izin melepas sebentar, Andra tak menghiraukannya.


Ya, tangan itu, tangan yang semalam meremat puncak gunungnya sampai suara melirih itu terdengar nyaring, Gadis merinding membayangkan.


"Duduk di sini!"


"Iya, katanya hari libur, kok ini kamu mau kerja?"


Dan, inilah Gadis, dia selalu punya keberanian untuk bertanya dan meloloskan rasa ingin tahunya, walau sebenarnya dia takut dan tahu Andra tidak akan suka, mereka menikah bahkan tanpa dasar cinta.


Tapi, Gadis seperti sudah mengenal Andra lama.


"Ndraaa, aku tanya!" Gadis jauhkan wajah itu dari ceruk lehernya.


"Siapa yang mau kerja, aku tidak bilang begitu, aku cuman bilang kamu harus fokus ke aku!"


Ah, iya.


"Sekarang ini mau apa?" bertanya lagi.


"Terserah aku, kamu mau aku apakan itu hakku sebagai suami, Helen."


Ini pasti karena jejak pernikahan waktu itu, tingkah Andra yang sangat mengekang dan mengikatnya seolah mengartikan seberapa terlukanya dia dulu, takut endak ditinggalkan lagi dan ini sebagai bukti kalau dia sudah berubah menjadi lebih baik.


Aku yang takut dijadiin janda, kenapa dia yang posesif seperti takut aku jadikan duda saja, kenapa dia?


Gadis biarkan kedua tangan Andra melingkari perutnya, sesekali Andra mencubit perut Gadis dan membuat sesapan perih, dipukul Gadis pun, Andra justru tertawa.


"Kamu suka rumah ini?" tanyanya sambil memainkan rambut Gadis.


"Hem, bagus, aku suka. Apalagi, aku bisa dekat sama mereka, kamu suka?"


"Tidak."


"Loh, terus kalau tidak suka, kenapa dibeli, kan kita bisa tinggal di rumah-"


"Ssttt, aku mau kamu suka, Helen. Kalau kamu suka, tentu aku suka, bukan begitu?"


Blush,


Gadis palingkan wajahnya, dia semakin penasaran akan suaminya ini, inginnya untuk mencari tahu masih terus ada dan semakin meninggi, kalau bisa ingin bertemu keluarga Andra, siapa tahu ada yang membahas masa lalu itu.

__ADS_1


"Hadap sini, aku mau menciummu!"


Eh!


Gadis belum menjawab, dagunya sudah diputar dan bibirnya disambar, gigitan kecil Andra berhasil membuat bibirnya terbuka sedikit hingga lidah mereka beradu di dalam sana.


Ini ciuman pertama Gadis, dan Andra yang mendapatkannya.


"Ndra, ak-" belum selesai mengisi tabungan oksigen, bibir Andra meraupnya lagi, tak mau lepas meskipun kebas.


Sofa di ruang kerja itu menjadi peraduan keduanya, Gadis ingin mencekal suaminya, tapi sentuhan Andra sangat memabukkan.


Dia tahu ini tugas istri dan hak suaminya, tapi rasa takut disakiti dan ditinggal menjadi janda masih membayangi Gadis, dia berusaha menolak sentuhan Andra yang mulai mengikis akal sehatnya.


"Ndra, stop!" pintanya lirih.


"No!"


"Please, stop, Ndra!"


"No, Helen!" Andra terus menghujaninya dengan ciuman sampai kaos Gadis terangkat.


Tangan Andra merayap ke belakang, dia buka pengait bungkusan berwarna biru muda itu.


Ctak!


Gadis gigit bibir bawahnya, sebisa mungkin tak menimbulkan suara yang semakin memancing hasrat Andra, dia harus ingat akan rambu-rambu itu.


Mereka akan melakukan itu, maksudnya akan Gadis berikan kalau sudah yakin pada Andra.


"Stop, please ...."


Ibu melirik berulang kali pada Gadis, rambut anak gadisnya itu tidak basah, tapi bekas merah ada di mana-mana. Lalu, menoleh pada Andra, menantunya itu juga tampak biasa saja, asik bermain game online bersama Sandro.


"Dis, sudah dipakai belum itunya?" tanya ibu tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Itu apa?" kening Gadis mengernyit.


"Itu loh yang bawah, sudah hap-hap sama nak Andra?"


Astaga, Gadis tepuk keningnya.


Hampir, bisa dia bilang begitu, tadi Andra bahkan sudah melepas baju-bajunya, tapi terhenti karena tak sengaja Gadis menyenggol senjata Andra, pemuda itu sempat merintih kesakitan.


"Belum, kok bisa belum?" ibu tunjuk leher Gadis.


"Pemanasan, Bu. Ibu jangan tanya gitu ah, malu!"


Andra menoleh, sekilas melirik tajam Gadis, membuat Gadis salah tingkah karena dia berutang hak suami pada pemuda itu.


"Buruan, Ibu kan tidak sabar punya cucu, Dis!"


Dih, ibu ini, Gadis hanya geleng-geleng sambil senyum, bisa apa dia kalau tadi tidak sengaja membuat Andra kesakitan.


Andra ambil gorengan buatan ibu, dia selalu berhasil mengambil hati mertuanya itu, tapi tak membuat Gadis serta merta menerimanya.


"Heh, jangan pikiran buruk gitu sama suamimu!" ujar ibu. "Itu masa lalu nak Andra, kan sudah dibilang kalau jodoh ya bakal ketemu, dia berpisah ya karena sudah tidak jodoh, kamu tidak perlu tahu alasannya apa, dia baik sama kamu itu sudah bukti kalau dia baik, Dis!"


"Lah, kalau dia mendadak plin-plan, terus Gadis jadi janda cuman dua bulan, Ibu bisa terima?"

__ADS_1


"Ya ampun, Ibu bingung mau ngomong sama kamu bagaimana, yang jelas nak Andra itu tidak akan begitu ke kamu, Ibu bisa lihat dia sayang sama kamu!"


"Bu, dia sama Gadis itu cuman kenal sebulan, itupun dipaksa pak Nuh, coba tidak, pasti dia sama perempuan lain, terus apa semudah itu suka sama pasangannya?"


Ibu mengesah pelan, dia tidak bisa menyalahkan keraguan Gadis, itu ada benarnya juga, tidak ada yang tahu penyebab perpisahan Andra dengan Lisa dimasa itu.


Apa yang Gadis katakan bisa saja benar, tapi sejauh ini ibu melihat Andra tidak ada indikasi ke hal buruk itu.


"Ndra, ini di rumah ibu loh, ada bapak juga!" Gadis tahan tangan Andra yang endak merayap di pahanya.


Andra menyeringai, "Kalau aku mau di taman, aku juga akan melakukannya, Helen."


"Apanya?"


"Kamu, hakku ke kamu!"


"Heuh?"


Tak menunggu lama, Andra pertemukan lagi bibir keduanya, membuat Gadis melebarkan mata dan memukul Andra kencang.


Ibu, bapak dan Sandro memilih melipir ke kamar, setidaknya saat Andra puas dan melepaskan Gadis, tidak ada yang malu di sana.


Namun, pukulan Gadis membuatnya menyerah, terlebih lagi Gadis tahu kelemahannya sebagai pria.


Andra ajak Gadis kembali ke rumah utama, dia kunci pintu itu, lalu kembali menghimpit Gadis.


Aku tidak mau kehilangan lagi, Helen. Aku tidak mau kamu pergi sama seperti wanita sialan itu, aku tidak mau sikap ramahmu ini membuat bedebah di luar sana tertarik padamu!


Andra kuasai tubuh Gadis, membuat tubuh Gadis menggelinjang tidak karuan karena sentuhannya, dia mau Gadis tahu akan di mana miliknya, Gadis itu miliknya, hanya miliknya.


"Helen, lihat aku!"


Gadis menggelengkan kepalanya, dia tahu akan hanyut bila mata itu menelannya mentah-mentah, pandangan Andra sangat dalam dan meyakinkan.


Andra kunci kedua tangan Gadis ke atas kepala, terus menghujani Gadis dengan kecupan dahaganya sampai nafas Gadis memburu dan pandangannya buram.


"I want you, Helen." Andra berbisik.


Tidak, bukan sekarang waktunya, bangun, Dis, lawan!


Sial, apa yang dia lawan, pemuda ini terlalu kuat untuknya yang pendek dan bertulang kecil.


"Helen, berikan aku ini!"


"Ndraaa, ak-"


Andra bungkam bibir itu, dia mau membawa Gadis masuk dalam sendu yang tercipta, hanyut bersamanya.


"Now, Helen!" Andra lepas kaosnya, dia tidak bisa menahan diri, dia mau Gadis, dia mau mengikat Gadis agar tak pergi darinya. "Helen, please ... aku tidak bisa menahannya, give me it!"


Andra lucuti semua pakaian Gadis, pertahanan yang tak bisa Gadis kalahkan, menindih tubuh indah itu, bersiap untuk meneguk madunya.


Andra sejajarkan wajahnya dengan wajah Gadis, dia pandang mata sayu itu dengan dambaan yang besar, dia cium kening Gadis lama dan dalam.


"Ndraaa," panggilnya lirih disisa tenaga yang ada.


Andra kalungkan tangan Gadis ke lehernya, sedang di bawah sana kedua kakinya mengambil posisi ternyaman.


"Cakar punggungku, Helen!" Andra dorong pinggulnya.

__ADS_1


__ADS_2