
"Bu, aku pulang..." Gadis melenggang ke bangunan samping utama di mana kedua orang tuanya berada. "Buuuu, Paaak, Sandroooo!"
Tidak ada jawaban, dia lantas mengetuk kamar satu dan dua, tak ada balasan juga, di ponselnya tak ada pesan dari orang tuanya, tidak mungkin kalau mereka pergi tanpa ada kabar sebelumnya.
Andra ada lembur hari ini, dia akan sampai malam sendirian, jenuh juga kalau tidak ada kedua orang tuanya, di bangunan utama juga tak ada maid yang bisa masuk sekalipun sekarang Andra sudah memasang satu.
Kakinya melenggang kembali ke bangunan utama, sepi tak ada kehidupan, Gadis tak mau memikirkan pertemuannya dengan Lisa tadi, tapi karena di rumah ini sepi, membuat pikirannya melalang buana dan sakit di dadanya terasa lagi.
Bagaimana kalau Andra lembur berduaan sama Lisa?
Gadis menggeleng cepat, berusaha menepis semuanya, dia yakin Andra tak akan kembali pada mantan istri cantiknya itu, semoga iman Andra kuat, tak setipis irisan bawang seperti Gadis yang mudah diombang-ambingkan.
"Helen."
Gadis membuka matanya, dia menoleh ke sisi pintu, entah sejak kapan Andra tiba di rumah, dia tak sendiri, di kanannya ada Lisa dengan tampilan seksinya, memburai rambut ke sisi kiri yang tampak lembab, wanita itu ingin menertawakan Gadis.
"Ndra, kamu pulang sama dia?"
"Iya, dia tidak tahu mau tidur di mana, jadi aku ajak saja ke sini, lagipula di sini banyak kamar kosong dan kamu sering kesepian, tidak masalah, kan?"
"Tapi, Ndra... dia mantan istri kamu, tidak pantas dia di sini, yang ada nanti malah fitnah, Ndra!" Gadis menolak keras suaminya membawa wanita ini ke rumah mereka, tidak, ini rumah Gadis karena dibeli sebagai hadiah pernikahaan mereka. "Kamu tidak boleh masuk ke rumah ini!" Gadis mencegah Lisa.
Lisa memicing, dia mendorong Gadis menjauh dari depannya, membuat Gadis tersungkur dan tak berdaya di depan Andra.
"Aku memang sudah menjadi mantan Istri Andra, tapi hubungan kami tidak akan bisa dipisahkan, aku cinta pertama Andra, dan akan selamanya jadi begitu!" Lisa mencapit dan mencengkram dagu Gadis. "Kamu cuman dimanfaatin Andra dan kakek Nuh biar aku sama Andra bisa nikah lagi, begitu kan aturannya, selamat datang di neraka, Dis. Selamat menjadi janda buat kamu!"
Gadis bergeleng cepat, dia menolak keras akan hal itu karena tidak mungkin pak Nuh mendukung keinginan bejat Andra yang mau kembali pada Lisa.
Gadis menoleh pada Andra, duda itu masih diam dan tak membelanya sama sekali, tampak mendukung Lisa yang terus menyudutkannya.
"Ndra, kamu beneran mau kita pisah? Ndra, selama ini kamu bilang itu tidak mungkin, kamu posesif ke aku, sekarang bilang ke dia kalau itu bohong, kamu milih aku, bukan dia!" pinta Gadis sudah merasa sesak, dia mau menangis hebat sekarang. "Ngomong, Ndra. Jangan diam saja!"
__ADS_1
Gadis meraung hebat, Andra bukannya mendukung dia, melainkan berjalan ke arah Lisa dan memeluk tubuh seksi mantan istrinya itu, Lisa pun membalas pelukan Andra, setelah dia mendaratkan banyak kecupan di wajah Andra yang tampan dan selalu membuat Gadis luluh.
"Ndra, sadar dong!" Gadis menarik tubuh Andra menjauh. "Kamu tahu kan kalau ini di rumah kita, ini rumah tangga kita, kamu bilang-"
"Apa, apa yang aku bilang, Helen? Apa aku pernah bilang kalau aku suka padamu?" Andra mendengus. "Aku capek, setiap kali aku bilang cinta padamu, kamu diam, tidak ada respon. Lisa mau membalasku, jadi pergi dari sini!"
"Ndra!"
"Pergi!"
TIDAK!!!!
Ibu berlarian ke ruang tengah rumah Gadis, baru saja dia tiba bersama suaminya membeli jagung kukus di depan komplek, mendadak mendengar suara histeris Gadis yang menggema keras.
Wanita itu memeluk tubuh Gadis yang gemetaran, menyeka keringat yang turun deras, mengusap punggung Gadis yang basah dan terus gemetar.
Gadis mengedarkan matanya, tak ada Andra atau Lisa di sini, bayangan pak Nuh pun tidak ada, hanya ada dia dan ibunya, kalau ada satu lagi yang berlari padanya itu jelas bapak.
Gadis masih memeluk ibunya, enggan melepas, dia takut ada yang menyakitinya.
"Bu, Gadis kenapa?" bapak membawakan air putih satu gelas. "Ini diminum dulu!"
Gadis bergeleng cepat, dia terus mendekap lengan ibunya, menangis lagi semakin menjadi-jadi, katakan ibunya dan bapak hanya tahu dia menikah dengan Andra itu baik-baik, tidak tahu kalau ada perjanjian diantara keduanya, bukan dasar cinta keduanya tentu saja.
"Dis, lihat Ibu, Nak!" Ibu menakup wajah Gadis yang dia beri jarak, wajah Gadis lembab dan pucat. "Kamu kenapa? Ibu bilang Andra sekarang ya, kamu tunggu ya." ibu meminta bapak segera menghubungi Andra, tidak ada Sandro di rumah, otomatis pelan-pelan bapak mencoba menghubungi Andra lewat telpon rumah.
Namun, bukan suara lelaki yang dia dengarkan, melainkan suara wanita yang asing di telinga bapak sebelum akhirnya ada gertakan dari belakang, disusul suara Andra.
Bapak menegang, tak mungkin menantunya berbuat yang tidak-tidak dan itu berhubungan dengan kondisi Gadis saat ini.
"Pak, ada apa?"
__ADS_1
"Nak, Nak Andra, Gadis-"
"Helen kenapa, Pak?" suara Andra terdengar panik, dia pun sempat mengumpat pada orang di dekatnya, seperti mengusir. "Pak?"
"Gadis nangis histeris, Ndra... dia pingsan!"
Andra mencengkram kuat ponselnya, tak menunggu waktu lama, dia tinggalkan semua acara hari ini, urusan kantor masih bisa diselesaikan online, tapi Gadis harus segera.
Sebelum pergi, Andra memperingati Lisa agar tak sembarangan masuk ke ruangannya dan mengambil ponsel, kalau itu Gadis yang menghubunginya, bisa saja Gadis salah paham.
"Ndra-"
"Aku pulang, Kek. Helen sakit!"
"Ah, iya." pak Nuh tak bisa menahannya, soal Gadis akan menjadi nomor satu bagi Andra, kesempatan juga membuat syok terapi pada Lisa, supaya wanita itu tahu sudah tak ada harganya lagi di mata Andra. "Gan, kerjakan tugas Andra!"
Lisa mendengus begitu pak Nuh membebaskan Andra pulang sebelum waktunya, padahal mereka mau lembur bersama di sini, semua karena Gadis, wanita sialan itu.
***
Andra bergegas berlari ke ruang tengah, istrinya masih ada di sana, kondisi Gadis sudah sadar, tapi dia lemah, melihat kedatangan Andra hanya membuat hatinya ngilu, dia seperti dikhianati sendiri.
"Helen, hei!"
Gadis tepis tangan Andra dari pipinya, mimpi itu terasa sangat nyata, bahkan dia bisa merasakan hatinya tertusuk banyak duri saat ini, dia tak mau melihat Andra.
"Aku mau ke kamar," ujar Gadis meminta Sandro yang baru pulang membantunya.
Sandro melirik Andra, dia mau menolak, tapi Gadis memintanya sambil berteriak.
"Antar dia, Ndro!" putus Andra, dia akan menyusul nanti.
__ADS_1